Kakak Biologis Love Story

Kakak Biologis Love Story
Berpapasan


__ADS_3

Setelah beberapa langkah berjalan, Ara tak sengaja menabrak pelan seseorang. Ara yang sudah tidak bisa merasakan dirinya, tak memedulikannya, dan malah berusaha menahan sakitnya akibat benturan yang lumayan membuat kepalanya terguncang.


Karena kehilangan keseimbangan, orang tersebut pun menangkap tubuh Ara, dan berusaha memapahnya.


“Siti ... lo gak apa-apa?” tanyanya, yang Ara sadari adalah Reza.


Ara benar-benar tak menyangka bisa bertemu Reza di sini. Kebetulan sekali, ia juga sudah tidak sanggup jika berjalan sendiri ke ruang UKS.


“Za ... bantu aku ya, ke UKS,” pinta Ara dengan nada yang sudah pasrah sekali, karena ia tidak tahu harus seperti apa lagi. Ia hanya ingin mengobati rasa sakit kepalanya saja.


Reza terlihat bingung di sana. Ia tidak tahu apa yang terjadi dengan Ara. Karena melihat Ara yang sepertinya sudah tidak bisa menahan sakitnya, Reza pun bergegas mengambil bukunya yang tercecer di atas lantai, karena tak sengaja menabrak Ara tadi. Reza kemudian memapah Ara untuk menuju ke ruang UKS.


“Sabar ya, Siti!” Reza berusaha memberikan semangat padanya.


Padalah Reza ingin sekali menggendongnya, tetapi ia sangat ragu melakukannya.


Di persimpangan jalan menuju UKS, Reza tak sengaja melihat Bisma yang sedang memapah Gladis. Hal itu membuatnya merasa terkejut, karena kejadian ini yang sangat kebetulan terjadi.


‘Kenapa bisa kebetulan seperti ini?’ batin Reza, yang lalu menoleh ke arah Ara, yang juga sedang melihat ke arah Bisma.


Reza benar-benar tidak ingin sampai Ara melihat pemandangan seperti ini. ‘Apa-apaan Bisma itu? Sudah melarang Siti untuk mendekatiku, lantas ia masih saja mendekati perempuan lain?’ batinnya, yang berpikir bahwa Bisma sangatlah tidak fer.


Karena kejadian ini, Reza pun berinisiatif untuk menggendong Ara di hadapan Bisma. Ara juga sepertinya sudah pasrah dengan apa pun yang Reza lakukan, sehingga mempermudah apa yang Reza hendak lakukan padanya.

__ADS_1


‘Baguslah ... aku tidak perlu repot untuk memaksa Siti lagi. Ini juga bisa jadi peringatan keras untuk Bisma. Jangan sampai, ia memainkan perasaan seseorang, hanya karena orang yang lebih baik darinya,’ batin Reza, dengan senyuman yang sedikit menyungging.


Reza menatap sekilas ke arah Bisma dan Gladis, yang juga sedang melihat ke arahnya. Reza hanya melontarkan tatapan sinis, sembari berlalu pergi meninggalkan mereka. Ia lekas membawa Ara menuju ruang UKS untuk diberikan pengobatan.


Melihat kepergian mereka, Bisma benar-benar sangat kesal. Ia merasa bahwa Reza sepertinya sedang mempermainkannya.


‘Sialan Reza! Gak bisa dibiarin!’ batin Bisma, benar-benar sangat kesal melihat hal yang seperti itu.


Sementara itu di sana, Reza membaringkan Ara di atas ranjang UKS, berharap ia bisa menyegarkan tubuhnya setelah ia bangun nanti. Dokter sekolah sudah memberikan Ara obat tidur, tentu saja dengan dosis yang sangat rendah, agar Siti tidak tertidur sampai sore.


Reza duduk diam, menatap ke arah Ara yang sudah terbaring lemah di hadapannya. Entah apa yang terjadi dengan Ara sebenarnya. Dokter sekolah hanya mengatakan, kalau dia terlambat makan saja pagi ini. Mungkin penyebab lainnya adalah masuk angin.


“Tenang aja ... gue di sini, kok,” ucap Reza dengan lirih, di hadapan Ara yang masih memejamkan matanya.


‘Bagaimana ini? Apa aku harus meninggalkan Siti di sini sendirian?’ batin Reza benar-benar merasa kebingungan.


Reza menghela napasnya dengan panjang, “Gimana ini? Gue dipanggil ke ruang kantor. Masa gue harus ninggalin Siti di sini sih?” Ia bergelut dengan pikirannya sendiri. Ia merasa bimbang dengan keadaan, tidak ada yang bisa menjaga Ara di sini, membuat Reza tak tenang jadinya.


“Siti ... gue janji, kalau udah selesai gue langsung ke sini lagi. Jangan ke mana-mana, oke?” Reza berbicara pada Ara yang sebenarnya sedang tidak sadarkan diri. Reza pun langsung bergerak menuju ke ruang kantor untuk memenuhi panggilan dari guru.


Dari arah jendela, Bisma terlihat sedang mengintip. Ia hendak memastikan keadaan Ara, karena biar bagaimanapun juga ia sangat khawatir pada Ara. Reza sudah pergi dari sini. Tidak ada lagi yang menjaga Ara, yang sedang terbaring lemah di ranjang UKS. Perlahan Bisma pun masuk dan menghampiri Ara.


Bisma terlihat sedang berdiri di hadapan Ara. Ia menatap datar ke arahnya, yang sedang tak sadar itu. Entah apa yang Bisma rasakan, seperti sesak karena sudah melihat Reza yang menggendong Ara tadi.

__ADS_1


‘Apa yang terjadi dengan Ara sebenarnya? Kenapa sampai ia terbaring lemah di tempat ini?’ batin Bisma, yang lalu menyentuh lembut keningnya.


Bisma merasakan suhu tubuh Ara yang cukup tinggi, membuat tangannya seperti terbakar karenanya. Bisma pun langsung melepaskan tangannya dari kening Ara.


‘Ternyata, Ara benar-benar sedang tidak enak badan. Aku pikir ... dia hanya berpura-pura saja untuk mendapatkan rasa simpatik dari Reza. Ternyata ... Ara tidak seburuk yang aku pikir. Ia membuatku semakin yakin, kalau dia adalah gadis yang sangat polos,’ batin Bisma yang benar-benar mempercayai Ara sekarang.


“Lo kenapa, Ra?” tanya Bisma dengan sangat lirih, sehingga hanya ia saja yang bisa mendengarnya.


“Enghh ....” Ara seperti sedang merasakan rasa yang tidak nyaman. Bisma tak mengerti dengan apa yang Ara rasakan. Ia hanya terus-terusan mengerang, ekspresinya seperti sedang menahan sakit.


“Za ... Reza ....”


“Za ....”


Ara terus-menerus memanggil nama Reza, membuat Bisma yang mendengarnya menjadi sangat down saat ini.


‘Kenapa di saat tak sadar seperti ini, alam bawah sadarnya malah mencari-cari sosok Reza? Kenapa ia sampai berpikiran sejauh itu? Sepertinya ... hatinya sudah dipenuhi dengan laki-laki itu,’ batin Bisma yang merasa sesak yang dalam di relung hatinya. Tak ada sepatah kata pun, yang bisa ia ucapkan kali ini. Bisma seperti hancur saat mendengar Ara menyebut nama Reza.


Sementara itu di arah pintu, Reza terlihat sangat buru-buru untuk kembali ke ruangan UKS. Tak disangka, buku yang sejak tadi ia pegang, ternyata tertinggal di sana. Hal itu membuatnya segera kembali ke ruangan UKS untuk mengambilnya.


“Ah ... buku pake segala ketinggalan,” gumam Reza mendumel kesal, sembari melangkah menuju ruangan Ara.


Matanya seketika membulat, dengan langkahnya yang terhenti saat melihat Bisma yang baru saja ingin keluar dari ruangan ini. Reza benar-benar merasa terkejut, karena melihat Bisma yang ada di sini. Bisma terlihat hanya memandang Reza dengan datar, membuat Reza tidak mengerti, dan hanya diam sembari melontarkan tatapan penuh tanya padanya.

__ADS_1


__ADS_2