Kakak Biologis Love Story

Kakak Biologis Love Story
Sleep Walking


__ADS_3

Gladis, seorang gadis yang sangat tergila-gila pada Reza. Namun, Reza sama sekali tidak memiliki perasaan padanya. Bisma juga tiba-tiba saja teralihkan dengan seseorang yang juga mencintai Reza. Sungguh, tiada kisah cinta tanpa ada Reza di dalamnya. Dunianya benar-benar selebar daun kelor.


‘Aku tidak bisa mencintai wanitaku dengan tenang. Reza selalu ada dalam bayanganku. Sampai sekarang, ia juga bersikap demikian pada Ara. Walau akhirnya aku yang mendapatkan hati Adele. Tetap saja, dia meninggalkanku pergi kembali ke tempat asalnya, Amerika,’ batin Bisma, benar-benar sangat tidak percaya dengan hal ini.


Gadis cantik blasteran bernama Adele itu, sempat membuat Bisma sangat down untuk beberapa waktu. Dia sempat mengatakan, dia tidak bisa hidup bahagia dengan Bisma, karena masih ada bayang-bayang Reza di pikirannya. Walau, Bisma sudah sempat ....


“Ah ... sudahlah. Gue gak mau inget dia lagi. Gue udah bikin kesalahan dengan melakukan hal itu sama dia. Gue gak harusnya berbuat itu sama dia. Gue bener-bener kotor.”


Bisma merasa menyesal karena sudah melakukan hal yang tidak wajar dilakukan untuk anak seusianya. Ia sudah tidak bisa berpikir secara rasional saat itu. Belum lama, kira-kira ... satu bulan sebelum Ara datang ke sini, Adele meninggalkan Bisma karena merasa terbebani.


‘Aku tidak bermaksud demikian. Aku juga tidak memaksanya untuk kembali lagi padaku. Aku sudah memiliki pengganti dirinya. Aku tahu, ini memang terdengar terlalu konyol, tapi ... aku juga belum bisa memastikan perasaanku pada Ara ini benar-benar perasaan cinta, atau hanya sekadar rasa iba saja,’ batin Bisma, benar-benar sangat bingung dengan apa yang terjadi dengannya saat ini.


Bisma menyandarkan tubuhnya di dinding kamarnya. Ia sama sekali tidak bisa memejamkan matanya, karena memikirkan hal ini.


‘Aku sudah terlalu rusak, untuk bisa berpikir dengan jernih. Aku takut ... perasaanku pada Ara, hanyalah nafsu saja. Aku sudah berusaha untuk menahan gairahku padanya. Aku tidak mau hal yang sudah terjadi dengan Adele waktu itu, juga terjadi pada Ara. Aku memang laki-laki brengsek!’ batin Bisma, benar-benar sangat menyesali apa yang ia lakukan pada Adele.


Bisma merogoh saku jaketnya, untuk mengambil selembar foto dirinya dan Ara waktu itu. Ia memandanginya dengan saksama.


‘Aku masih belum yakin dengan diriku dan perasaanku pada Ara. Mengapa jadi seperti ini? Apa ... aku bisa melewati semua ini dengan baik? Aku butuh seseorang untuk mendengarkan keluh kesahku. Aku tidak mau memendamnya sendirian seperti ini. Apa lebih baik ... mengungkapkannya saja pada Ara? Tapi ... jika aku terlalu tergesa-gesa, aku takut salah mengambil langkah. Tapi jika aku tidak buru-buru mengungkapkannya, aku akan keduluan selangkah lagi dengan Reza. Entah apa yang Reza pakai untuk bisa menggait hati para gadis itu dengan mudahnya, menjadi ketua tim basket, mendapatkan posisi sebagai orang nomor satu di sekolah, dengan cara menjadi ketua OSIS, merebut hati seluruh guru dengan satu dayung saja. Apa kurangnya diriku? Aku selalu memperhatikan dirinya yang sepertinya jauh lebih unggul dariku. Dalam hal keluarga pun ... dirinya jauh lebih beruntung dibandingkan aku. Dia memiliki ayah dan ibu yang sangat menyayanginya. Aku terlalu iri berlebih dengannya,’ batin Bisma, benar-benar sangat iri dengan sosok Reza.

__ADS_1


Seseorang tiba-tiba saja membuka pintu kamar Bisma. Bisma yang penasaran, langsung saja melihat ke arah pintu masuk. Di sana, terlihat Ara yang sedang berjalan dengan mata tertutup. Bisma pun langsung membenarkan posisi duduknya.


“Ra ...,” panggil Bisma dengan keadaan yang heran.


Ara sama sekali tidak menjawab panggilan dari Bisma. Ia malah berjalan gontai menuju ke arah Bisma. Bisma yang penasaran, mencoba untuk mendekat ke arahnya.


‘Apa dia sedang mengalami sleeping walk?’ Bisma semakin memperhatikannya dengan saksama, dengan penerangan yang juga sangat minim. Terlihat samar, wajahnya yang basah.


‘Mungkin ... dia habis menangis tadi?’ batin Bisma, yang benar-benar memikirkan hal ini.


Ara perlahan naik ke ranjang tidur Bisma, sontak saja membuat Bisma merasa risih. Bisma sangat khawatir, kalau saja Ara berbuat yang macam-macam saat ia tertidur. Ia bergerak masuk ke dalam selimut Bisma, dengan Bisma yang hanya diam sembari memperhatikan sikap Ara selanjutnya.


Ara tiba-tiba saja memeluk Bisma dengan erat. Bisma merasakan perasaan yang aneh setelah Ara memeluknya. Bisma terdiam kaget, melihat sikapn Ara yang seperti ini.


‘Sejak kapan dia mengalami hal seperti ini? Apa tidak terlalu bahaya baginya?’ batin Bisma, yang benar-benar sangat khawatir dengan Ara.


“Ibu ...,” lirih Ara yang masih terdengar jelas di telinga Bisma.


Bisma mendelik kaget mendengarnya, ‘Ternyata, dia merindukan ibunya. Aku jadi teringat dengan ibuku. Apa ... besok aku kunjungi saja?’ batin Bisma, benar-benar sangat merindukan ibunya.

__ADS_1


Ara semakin mempererat pelukannya pada Bisma, membuat napasnya sedikit sesak. Tidak ada yang bisa Bisma lakukan lagi sekarang. Ia hanya bisa menikmati pelukan hangat dari Ara.


‘Ternyata ... senyaman ini bila dipeluk Ara. Sudah lama, dia tidak memelukku. Aku jadi semakin tidak bisa tidur kalau seperti ini. Aku merasakan gairah aneh jika aku bersentuhan dengan seorang gadis. Tapi aku tidak boleh melakukan hal yang buruk pada Ara. Aku harus menjaganya seperti menjaga seorang adik,’ batin Bisma, benar-benar sanga menahan kuat nafsunya itu.


Bisma hanya bisa membelai lembut wajah Ara, yang sebagian tertutup rambutnya. Bisma tidak ingin Ara sampai terbangun dan merasa keheranan. Bisma berusaha memberikan perlindungan untuknya, sampai akhirnya matanya semakin berat saja.


***


Pagi itu, Bisma merasa terusik dengan sinar mentari yang menembus paksa dari celah jendela. Ia membuka matanya dan melihat pemandangan yang tidak biasanya. Ia melihat Ara yang masih tertidur pulas di pelukannya.


Ada perasaan yang membuat Bisma sedikit terkejut. Ia berusaha meyakinkan dirinya, kalau ia tidak melakukan apa pun pada Ara, tadi malam. Bisma sangat yakin, ia bisa menahan nafsunya.


Perlahan, Bisma pun melepaskan diri dari tubuh Ara yang masih erat memeluknya. Ia berusaha membuat dirinya normal kembali. Ia pun merenggangkan ototnya yang kaku akibat tertindih dengan tubuh Ara.


‘Heran sekali, padahal ... tubuhnya sekecil itu tapi cukup membuat sekujur ototku menjadi kaku. Aku harus memindahkannya ke kamarnya lagi, sebelum dia bangung dan menyadari dirinya tak berada di kamarnya,’ batin Bisma, benar-benar sangat tidak menyangka dengan hal ini.


Bisma pun menggotong tubuh Ara perlahan. Bisma sangat heran, kenapa Ara sama sekali tidak bangun saat ia memindahkannya ke dalam kamarnya? Bisma hanya memandangnya dengan tatapan datar.


“Dasar kebo,” lirih Bisma dengan singkat, kemudian meninggalkann Ara dan kembali menuju kamarnya.

__ADS_1


__ADS_2