
Morgan melihat dengan tatapan mata yang tidak percaya, karena ia sudah melihat seseorang yang tak asing baginya. Matanya terus menatap ke arah mereka, berusaha untuk menegaskan kebenaran yang ia lihat.
Beberapa saat melihat ke arah mereka, Morgan pun menyadari bahwa dugaannya sangatlah benar. Yang ia lihat adalah Reza dan juga Adele, gadis blasteran yang beberapa bulan lalu pindah ke Amerika itu, saat ini terlihat sedang bersama dengan Reza.
Melihat mereka bersama, Morgan sama sekali tidak menyangka akan hal itu. Mereka terlihat sedang duduk bersama, sembari sedikit berbincang satu sama lain.
‘Gue gak salah lihat, bukan? Adele ... kenapa dia balik lagi ke Indonesia? Bukannya dia udah pindah ke Amerika? Kenapa dia sama Reza sekarang?’ batin Morgan, dengan pertanyaan yang terus-menerus terngiang di pikirannya.
Berbagai spekulasi muncul di pikiran Morgan, membuatnya merasa sangat aneh ketika melihat gadis itu lagi di hadapannya. Beberapa bulan lalu keputusannya sangat tepat, karena sudah pergi dari Bisma dan juga Reza. Namun, entah apa yang membuatnya kembali lagi ke tempat ini.
“Dia mau apa, sih?” gumam Morgan, yang tak sadar malah mengucapkannya.
Ara bingung dengan apa yang Morgan katakan. Ia memandang Morgan dengan tatapan bingung, berusaha mencerna ucapan Morgan tadi.
“Maksudnya?” tanya Ara, yang tak mengerti dengan apa yang Morgan maksudkan.
Menyadari ada Ara di sebelahnya, Morgan berusaha bersikap biasa saja, walaupun sebenarnya ia sangat terkejut dengan keadaan yang ada. Ia menutupi Reza dan Adele dan berusaha mengubah posisi duduknya menjadi sedikit condong ke hadapan Ara.
“Apa? Kenapa?” tanya Morgan, yang hanya bisa berpura-pura tidak mengerti dengan apa yang Ara maksudkan.
“Tadi Morgan bilang apa? Maksudnya apa?” tanya Ara lagi, yang sangat ingin tahu dengan maksud dari ucapan Morgan tadi.
“Ah ... gue gak ngomong apa-apa. Lo salah denger kali,” ujar Morgan dengan sedikit menyeringai di hadapan Ara.
Karena Ara yang merasa bingung, ia jadi tidak bisa membedakan mana yang benar-benar terjadi, dan mana yang hanya halusinasi saja.
“Ah ... masa sih Ara halusinasi Morgan ngomong tadi?” gumam Ara, masih berusaha meyakinkan dirinya akan hal ini.
Morgan tersenyum, “Ya, halusinasi mungkin. Dari tadi gue cuma diam aja, kok.”
Karena berpikir bahwa pikirannya yang kacau, Ara pun jadi tidak terlalu memikirkannya secara mendalam. Ia merasa dirinya yang salah, karena sudah salah menangkap keadaan.
__ADS_1
“Ya udah, Ara salah mungkin.” Ara mengalah, karena tidak ingin situasinya malah bertambah membuatnya bingung.
Morgan menyeringai tipis, “Kita ngapain di sini? Apa ada sesuatu yang lo mau bicarain?” tanyanya, yang khawatir jika Ara sampai melihat Reza bersama dengan gadis lain.
Akan sangat sulit menjelaskannya, karena mungkin nanti Adele akan bersikap tidak baik pada Ara.
“Engga, Ara cuma mau lari aja dari rumah buat nenangin pikiran. Ara gak mau ketemu sama Bisma dulu,” jawab Ara, Morgan pun mengangguk kecil mendengarnya.
“Ya udah, mendingan kita ke tempat lain aja. Jangan di sini. Mungkin sambil makan di tempat favorit lo,” ajar Morgan, membuat Ara sampai lupa dengan bubur yang Morgan bawakan tadi untuknya.
“Ya ampun ....” Ara mendelik kaget, sontak membuat Morgan merasa sangat kaget karena berpikir bahwa Ara sudah melihat Reza bersama dengan Adele di hadapan mereka.
“Ada apa?” tanya Morgan bingung, sembari tetap menutupi pandangan Ara dari mereka.
Ara memandang Morgan dengan mata mendelik. “Ara lupa sama bubur yang Morgan kasih tadi!” ujarnya, yang sontak membuat Morgan memandangnya dengan datar.
Melihat perubahan sikap Morgan, Ara pun menjadi bingung dengan sikap aneh Morgan yang kini terlihat di hadapannya.
“Lho, Morgan kenapa?” tanya Ara, Morgan menghela napasnya dengan panjang.
Walaupun Morgan mengatakan tidak apa-apa, tetapi hatinya masih menyimpan sedikit perasaan kesal karena Ara yang membuatnya terkejut setengah mati.
‘Gemes, kirain ngeliat Reza sama Adele,’ batin Morgan, gemas dengan apa yang Ara lakukan itu.
“Ya udah, kalau cuma mau ngobrol, ‘kan bisa di dalam mobil,” ujar Morgan, Ara menggelengkan kepalanya.
“Gak mau di dalam mobil. Di sini enak, bisa ngelihat pemandangan yang ada. Ada bunga ... ada pohon hijau ... ada ....”
Pandangan Ara membulat, ketika ia tak sengaja melihat Reza yang sedang bersama dengan seorang gadis. Hal itu membuatnya sampai bingung, karena ia yang sebelumnya tidak pernah melihat Reza bersama dengan gadis mana pun.
“Lho, itu bukannya ... Reza?” gumam Ara, heran dengan apa yang ia lihat.
__ADS_1
Walaupun sudah berusaha untuk menghalau Ara untuk tidak mengetahuinya, tetapi akhirnya Ara mengetahui juga apa yang Morgan tidak ingin beri tahu. Kalau sudah seperti ini, Morgan sudah tidak bisa menutupinya lagi.
“Kenapa memang?” tanya Morgan, berusaha untuk bersikap baik-baik saja di hadapan Ara.
“Dia ... sama siapa?” tanya Ara, heran dengan gadis yang sama sekali belum pernah ia lihat sebelumnya.
Morgan menghela napasnya dengan panjang. “Kepo banget sih jadi orang? Jangan suka kepo,” ujarnya dengan ketus, membuat Ara memandangnya dengan heran.
“Ara mah heran, Morgan ketus banget ngomong ke Ara,” ujar Ara, sedikit kesal mendengar nada bicara Morgan yang seperti itu.
Morgan menghela napasnya dengan panjang. “Maaf ya, Sayang.”
Hati Ara seketika langsung berdebar, karena mendengar Morgan yang mengatakan kata ‘Sayang’ padanya. Ia sama sekali belum pernah mendengar siapa pun memanggilnya dengan sebutan sayang, dan baru kali ini ia mendengarnya dari Morgan.
Wajah Ara memerah, malu mendengar panggilan Morgan untuknya itu.
Ara mengalihkan pandangannya dari Morgan, “Apa sih Morgan,” gumamnya, Morgan malah jadi gemas melihat tingkah Ara yang salah itu.
“Cie salah tingkah,” goda Morgan, Ara berusaha menepiskan ucapan Morgan.
“Apaan sih, Morgan? Ara gak salah tingkah, kok!” tepis Ara.
Morgan pun tersenyum, ‘Ya, jangan sampai lo ketemu sama Adele. Itu gak akan baik buat lo, karena itu menyangkut tentang Bisma juga,’ batinnya, berusaha untuk tidak membiarkan Ara untuk bertemu dengan Adele.
“Ya udah, ayo kita ke tukang bubur lagi. Jangan sampai lo telat makan, karena mungkin akan bikin lo sakit perut nantinya,” ujar Morgan, Ara hanya bisa menyeringai kecil mendengarnya.
‘Memang sebelumnya sudah telat makan, dan sudah sakit perut,’ batin Ara, merasa sangat tidak enak jika harus mengatakannya pada Morgan.
“Ya udah, ayo.”
Ara menyetujui ajakan Morgan, untuk menuju ke tukang bubur langganan Ara. Untuk sementara ini, Morgan aman karena sudah mengajak Ara pergi dari sana, dan mengalihkan perhatian Ara menjadi teralihkan padanya.
__ADS_1
Namun, Morgan masih belum bisa tenang, jika sampai Adele berhadapan dengan Ara langsung nantinya.
‘Semoga saja tidak terjadi,’ batin Morgan.