Kakak Biologis Love Story

Kakak Biologis Love Story
Menjenguk Bisma


__ADS_3

“Mungkin,” gumam Ara lirih, Morgan hanya diam tak merespon membuat Ara mengedarkan kembali pandangannya ke segala arah yang ingin ia lihat.


“Udah lama?” tanya Morgan lagi.


Pertanyaan yang sama dengan yang baru saja Morgan ucapkan. Ara kembali menoleh dan memandang Morgan dengan tatapan bingung.


“Bukannya ... tadi udah Ara jawab, ya?” tanya Ara balik, karena tak paham dengan ucapan dan maksud dari Morgan.


“Udah lama, suka sama Bisma?” tanya Morgan yang meneruskan pertanyaannya, sukses membuat Ara mendelik kaget mendengarnya dengan dada yang berdebar kencang.


‘Kenapa hatiku langsung berdegup kencang, saat Morgan bertanya seperti itu? Kenapa pembicaraan kali ini, tiba-tiba saja mengarah ke Bisma?’ batin Ara, merasa sangat bingung dan berdebar saat ini.


Ara tidak menyangka, Morgan akan bertanya demikian padanya. Padahal, Ara sama sekali tidak berpikiran demikian.


“Ngo-ngomong apa kamu? Aku, suka sama Bisma?” tanya Ara dengan sedikit menarik nada bicaranya.


Morgan tiba-tiba saja menepi, dan menghentikan laju kendaraannya. Ara hanya bisa diam sekarang, melihat Morgan yang saat ini menoleh ke arahnya, dengan tatapan yang terlihat sangat mematikan.


‘Rasanya ... aneh sekali. Aku tidak pernah mengenal Morgan sebelumnya. Kenapa bisa, Bisma berteman dengan orang aneh seperti ini?’ batin Ara.


“Apa lo masih mau bohongin perasaan lo?” tanya Morgan yang semakin membidik ke arah Ara.


Entah kenapa, setiap Ara berbincang dengan Morgan, ia tidak pernah bisa berbohong dan selalu salah tingkah di hadapannya.


“Bo-bohongin gimana?” Nada suara Ara mulai bergetar, karena merasa takut padanya.


“Gue aja sebagai sahabat Bisma, marah atas kejadian ini. Apa lo gak tahu, kejadian yang sebenarnya terjadi di lapangan tadi?” tanya Morgan.


Ucapan Morgan kali ini membuat Ara tertegun. Ara memang mengetahui, kalau Reza yang membuat onar tadi dan berusaha membuat Bisma celaka. Ara juga tahu, apa yang Morgan maksud.


“Aku tau, kok—”

__ADS_1


“Terus lo gak ngerasain apa-apa?” potong Morgan dengan spontan, membuat Ara merasa semakin tersudut.


“Maksudnya gimana?” tanya Ara tak mengerti.


“Kalahin egois lo! Gue tahu, dan bisa baca keadaan. Gue tau fase lo sekarang. Bohong, kalau lo sama sekali gak ada rasa ke Bisma,” ujar Morgan dengan tegas, yang berusaha membuat Ara mengerti dengan keadaannya.


Namun, apalah daya Ara, ia sama sekali tidak paham maksudnya.


“Ara gak paham!” bentak Ara, berusaha memberitahu kalau ia tidak mengerti dengan yang Morgan ucapkan.


Morgan mengambil jeda napasnya, dengan Ara yang berusaha menahan tangisannya. Akan tetap, Ara sama sekali tak bisa menahan tangisannya. Ia menangis tersedu, karena Morgan terlalu keras berbicara padanya. Ara sama sekali tidak terbiasa, mendengar ucapan keras dari mereka. Ara memiliki hati yang sangat lembut, sampai tidak bisa dibentak sama sekali.


‘Kenapa aku cengeng seperti ini? Aku sama sekali tidak bisa menerima bentakkan kecil dari orang lain. Aku ini terlalu lemah,’ batin Ara, sembari menyeka air matanya yang sudah terlanjur keluar dari pelupuk matanya.


Ara menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Ia menangis tersedu, berusaha meluapkan emosinya yang sempat tertahan. Ara tak menyangka, bahwa dirinya terlalu lemah dalam menghadapi kejamnya cacian mereka. Hatinya tidak kokoh, dan sangat ringkih.


Melihat reaksi Ara yang menangis seperti itu, Morgan hanya bisa menghela napasnya dengan panjang. Ia sadar, kalau dirinya sudah berkata kasar terhadap Ara. Akhirnya, Morgan pun merengkuh Ara untuk masuk ke dalam pelukannya.


‘Apa ... tradisi orang kota memang seperti ini?’ batin Ara merasa sangat heran dengan mereka.


“Kalau loe bingung, gimana ... kalau coba pacaran sama gue?” tanya Morgan, sontak membuat Ara mendelik sembari memandang ke arahnya dengan sangat terkejut.


Ucapan Morgan yang seperti itu benar-benar tidak bisa dilupakan Ara. Ara merasa terganggu, karena ucapan Morgan yang terdengar sangat tiba-tiba baginya.


‘Kenapa Morgan bisa berkata seperti itu? Kalau dipikir kembali ... aku tak lain hanyalah gadis culun yang terlahir dari seorang pezina. Aku tak lebih dari seorang sampah. Hidupku saja, sudah sangat menderita. Kenapa mereka semua malah membuatku semakin menderita dengan perasaan yang mereka miliki?’ batin Ara, benar-benar sangat tidak habis pikir.


Lagi-lagi Ara menghela napas panjang setelah memikirkannya. Rasanya sangat sesak, hanya dengan membayangkannya saja. Ia jadi tidak bisa menampung rasa sedihnya sendirian. Tiba-tiba saja teringat dengan sosok ibunya, yang sudah tiada.


“Ibu mana, ya? Pengen peluk ibu,” gumam Ara, dengan pandangannya yang ia edarkan ke arah hadapannya.


Ara merasa heran, dan mencari-cari ibunya. Namun akhirnya, ia pun menepuk keningnya karena ia sampai lupa, kalau ibunya sudah tiada.

__ADS_1


‘Mungkin ... karena aku merindukan dirinya, aku jadi tak memakai akal sehatku,’ batin Ara, yang benar-benar sangat membutuhkan ibunya saat ini.


“Pengen ketemu ibu ....”Ara menghela napasnya, lalu memejamkan matanya dengan air mata yang keluar dari pelupuknya.


***


Mata Ara kini terasa sangat berat. Ia tak sengaja tertidur setelah memikirkan masalah Bisma, Ilham, Reza, dan Morgan. Walaupun sangat berat, Ara berusaha untuk membuka matanya lebar-lebar.


‘Kenapa mereka semua membuatku merasa tersiksa?’ batin Ara, heran dengan keempat lelaki aneh yang ia temui itu.


“Duh ... jam berapa ini?” Ara berusaha melihat ke arah jam dinding, sembari mencoba memfokuskan pandangannya yang masih rabun.


Terlihat waktu yang sudah menunjukkan pukul 9 malam. Sontak Ara terkejut, dan membuatnya bangkit dari ranjang tidurnya.


“Wah, udah jam segini!” Ara terkejut, dan seketika teringat sesuatu.


“Bisma udah makan malam belum, ya?” Ara panik, karena merasa sudah teledor dengan kewajibannya sebagai seorang adik.


Entah kenapa, Ara jadi merasa bersalah pada Bisma. Ia sama sekali belum menjenguk Bisma sejak tadi pagi. Namun, mengingat kejadian pagi tadi, Ara jadi merasa segan.


‘Aku merasa, tidak pantas untuk berada di samping Bisma. Walaupun, aku adalah adik dari Bisma, tapi aku merasa ... aku tidak pantas mengurus Bisma. Apa mungkin, para pelayan sudah mengurusnya dengan benar?’ batin Ara.


“Walaupun udah makan, udah ada yang rawat juga mungkin, tapi ... aku pengen jenguk dia,” lirih Ara dengan nada yang sendu.


Tanpa pikir panjang lagi, Ara pun langsung menjenguk Bisma ke kamarnya.


Ara melangkah dengan dada yang sangat berdebar, tak mengerti dengan apa yang ia rasakan.


“Bisma udah tidur belum, ya?” gumam Ara, yang saat ini sudah berdiri di depan kamar Bisma. Ia mendadak bimbang, antara masuk atau tidak.


‘Masuk gak, ya?’ batin Ara bingung dan sempat berdiri di depan kamar Bisma cukup lama.

__ADS_1


__ADS_2