
“Apa? Jadi dia sengaja ngelakuin itu dan bikin gue cacat? Jadi, selama ini lo sama Reza ... selalu ketemu dan kontak hanya untuk hal ini?” tanya Bisma, Adele pun mengangguk kecil mendengarnya.
“Ya, gue yang minta Reza buat bikin kesalahan ini. Gue juga selama ini gak menetap di Amerika. Gue cuma ikut liburan bokap aja, selama seminggu. Setelah itu gue balik lagi ke sini,” ujar Adele, yang membuka kartu demi kartu yang selama ini ia sembunyikan di hadapan Bisma.
Bisma pun pusing sendiri memikirkan banyak sekali rahasia, yang sama sekali tidak ia ketahui itu. Ia merasa menjadi orang yang sangat bodoh, karena merasa sudah ditipu oleh Adele mengenai hal ini.
“Setelah gue dapat sampel darah lo, gue langsung minta tim medis buat periksa. Sembari nunggu, gue juga meriksa CCTV kamar apartemen gue, dan ternyata video rekaman saat kita bercinta, masih tersimpan di server. Gue pegang banyak bukti sekarang, dan lo harus tanggung jawab atas semua yang lo lakuin ke gue,” ujar Adele, membuat Bisma semakin mendelik kaget mendengarnya.
“Jadi, lo sebenernya gak tinggal di Amerika? Itu tandanya lo sama Reza sering ketemu?” tanya Bisma, Adele mengangguk kecil mendengarnya.
“Reza tau kalau gue suka sama dia, dan gue juga tau kalau dia sebenernya gak suka sama gue. Gue gak masalah dengan hal itu, asalkan Reza bisa bantu gue dengan masalah ini, gue janji gak akan halangi perasaan di ke Ara,” jawab Adele, membuat Bisma semakin tidak percaya saja mendengarnya.
“Apa?” gumam Bisma, semakin tidak bisa berkata apa pun lagi di hadapan Adele.
“Ah, satu lagi. Gue tau lo suka sama Ara, dari Reza. Reza yang bilang semua hal tentang kalian, dan makanya saat lo bilang gak ada perasaan apa pun sama Ara tadi, gue ragu dan lebih percaya sama Reza daripada ucapan lo,” ujar Adele, sontak membuat Bisma hancur mendengarnya.
Karena sudah seperti ini, Bisma sudah tidak bisa melakukan apa pun lagi. Ia tidak bisa mengelak, dan tidak bisa menghindari apa yang sudah terjadi dengan dirinya dan Adele. Namun, hal itu membuatnya merasa sangat sedih, karena tidak bisa lagi mengejar Ara, dan akan bertanggung jawab kepada Adele.
Bisma menghela napasnya dengan panjang, “Baiklah, gue akan bertanggung jawab. Gue akan segera bicara sama ayah lo dan orang tua gue. Gue akan bertanggung jawab, karena ayah gue yang dulu juga pernah ngelakuin kesalahan yang sama. Gue gak mau nasib anak gue nanti, sama seperti nasib Arasha yang gak keurus di desa,” ujar Bisma, yang tidak mau semua itu terjadi dengan darah dagingnya sendiri.
Sudah cukup, keluarganya hancur karena hal yang dilakukan oleh ayahnya. Bisma tidak ingin keluarga kecilnya nanti akan hancur juga, jika ia tidak ingin bertanggung jawab dengan apa yang sudah ia lakukan. Bisma juga ingin menerima takdirnya, karena selama ini ia sudah banyak belajar dari Ara mengenai takdir yang harus ia terima.
Mendengar ucapan Bisma, Adele pun merasa sangat senang, dan merasa sangat dihargai kali ini. Ia tidak menyangka, Bisma adalah lelaki yang bertanggung jawab, dan mau bertanggung jawab dengan apa yang sudah ia lakukan terhadapnya.
__ADS_1
“Makasih, Bis. Gue akan berusaha jaga bayi kita ini. Gue juga akan berusaha mencintai lo, dan akan menghilangkan Reza dari pikiran gue,” ujar Adele, membuat hati Bisma semakin teriris mendengarnya.
Ini bukan lagi masalah ringan tentang seorang remaja, tetapi ini menyangkut tentang nyawa bayi yang sama sekali tidak bersalah. Bisma tidak ingin mengulang kesalahan ayahnya, dan lebih memilih merelakan cintanya pada Ara, daripada harus melihat darah dagingnya tersiksa.
‘Maafin gue, Ra. Gue harus memilih wanita yang sedang mengandung anak gue,’ batin Bisma, yang merelakan Ara dengan cepat, karena permasalahan seperti ini.
Namun, tak dapat dipungkiri, Bisma masih memendam perasaannya terhadap Ara. Ia tidak bisa jika tanpa Ara, tetapi ia harus bertanggung jawab dengan apa yang ia lakukan dengan Adele.
Sementara di sana, Ara sudah bangun dari tidurnya. Orang pertama yang ia lihat, ternyata bukanlah Bisma. Matanya ia edarkan, karena ia ingin mencari keberadaan Bisma.
“Eh, Non Ara udah bangun,” ujar Ujang, yang sangat senang melihat Ara sudah bangun dari tidurnya.
“Mang Ujang, Bisma mana?” tanya, yang tak menghiraukan ucapan Ujang.
‘Bisma pulang karena capek? Harusnya dia nunggu Ara sampai bangun, kenapa langsung pulang aja? Pagi-pagi banget pula,’ batin Ara, yang memang merasa ada yang tidak beres dengan Bisma.
Seseorang pun datang dari balik pintu, membuat Ara melihatnya dengan tatapan yang bingung.
“Hai, Ra. Kirain masih tidur jam segini,” sapa Morgan, membuat Ara memandangnya dengan datar.
“Mang Ujang, bisa tinggalin Ara sebentar sama Morgan?” pinta Ara, Ujang pun mengangguk kecil mendengarnya.
“Baik, Non. Kalau ada apa-apa, panggil Ujang aja,” ujarnya, yang lalu segera pergi dari hadapan mereka.
__ADS_1
Karena Ujang yang sudah pergi, Ara pun memandang ke arah Morgan dengan tatapan yang sangat serius.
“Mau apa lagi Morgan ke sini?” tanya Ara dengan datar, membuat Morgan memandangnya dengan datar juga.
“Gue ke sini, jenguk pacar gue, memangnya salah?” tanya Morgan, Ara merasa risih mendengarnya.
“Apa sih? Kita itu udah putus! Ara gak mau pacaran sama lelaki yang suka bentak kayak Morgan!” ujar Ara, membuat Morgan menghela napasnya dengan panjang.
“Maafin gue ya, Ra. Gue gak seharusnya bicara bentak lo seperti kemarin. Gue beneran minta maaf, karena itu di luar kesadaran gue,” ujar Morgan, yang meminta maaf dengan tulus kepada Ara.
Namun, Ara yang tidak mau mengulang kesalahannya dua kali, hanya bisa diam mendengarn ucapan permintaan maaf Morgan padanya.
“Ra? Kenapa diem aja? Gue minta maaf sama lo,” ujar Morgan, Ara menghela napasnya dengan panjang.
“Iya, Ara maafin.” Ara berkata dengan sedikit dingin.
Morgan tersenyum di hadapan Ara, “Ini, gue bawain bubur bikinan gue sendiri,” ujarnya, membuat Ara teringat dengan sesuatu.
‘Bisma selalu bikinin makanan untuk Ara, dan kemarin gak Ara makan. Itu udah bikin dia sakit hati. Sekarang, Ara gak mau nolak pemberian Morgan, Reza ataupun Bisma lagi. Itu pasti sangat melukai mereka,’ batin Ara, yang berpikir dua kali jika ingin menolak pemberian mereka.
“Ya, terima kasih Morgan,” ujar Ara, dengan senyuman yang ia paksakan di hadapan Morgan.
Morgan menatapnya dalam, “Mau disuapin?”
__ADS_1