
Karena merasa sangat takut, Ara pun berlarian tanpa melihat keadaan yang ada di hadapannya. Ia harus segera lari dari hadapan Ilham, karena ia sangat khawatir dengan yang mungkin nanti akan Ilham lakukan padanya, jika ia masih tetap berada di sana. Bisa-bisa semua orang akan semakin membenci dirinya.
Karena tidak hati-hati saat berlari, Ara tak sengaja menabrak seseorang yang berada di hadapannya, karena terlalu takut dengan kejadian tadi. Kejadian itu membuat Ara hampir saja kehilangan keseimbangan, tetapi orang tersebut menarik tangan Ara dengan spontan, membuat Ara tak jadi jatuh karenanya.
‘Hampir saja aku terjatuh. Kalau saja dia tidak menangkapku, aku pasti akan ditertawai oleh semua orang yang melihatnya,’ batin Ara merasa sangat lega sembari menghela napasnya dengan panjang.
Melihat Ara yang saat ini seperti ketakutan, orang yang menangkap Ara itu yang ternyata adalah Morgan, sangat khawatir dan kaget dengan yang terjadi dengannya.
“Ara, kenapa?” tanya Morgan yang terdengar seperti orang yang khawatir.
Mendengar pertanyaan dari orang tersebut, membuat Ara tersadar dengan hal tersebut. Ara pun membenarkan fokusnya, dan memandang ke arah orang tersebut.
Ara mendelik kaget, “Morgan?” gumamnya.
‘Ternyata, yang kutabrak adalah Morgan. Tak kusangka, ternyata ... kami bertemu lagi di tempat ini,’ batin Ara, merasa heran dengan apa yang terjadi dengan mereka.
Di taman samping sekolah, adalah jalan memutar menuju kantin sekolahnya. Ara menoleh ke sekelilingnya, tetapi tidak ada siapa pun di sini, selain dirinya dan Morgan. Morgan pun melepaskan tangannya dari Ara, sehingga Ara bisa membenarkan posisinya.
Ara memandang ke arah Morgan dengan heran. “Kamu ngapain di sini, Gan? Bukannya kamu harus ketemu sama temen kamu?” tanya Ara yang penasaran dengan yang Morgan buat.
‘Bukankah, ia bilang ingin bertemu temannya untuk mengambil novel yang ia pesan?’ batin Ara.
“Gue gak ngapa-ngapain kok di sini. Gue cuma lagi nikmatin hari aja, sebelum masuk sekolah,” ujar Morgan dengan datar, yang lalu duduk di sebelah kolam air mancur.
“Oh ... pantesan, jemput Ara pagi banget tadi,” ucap Ara menyimpulkan.
Morgan yang sudah duduk di tepi kolam air mancur, mengulurkan tangannya pada Ara. Ara menatapnya dengan tatapan bingung, dan berpikir sejenak.
‘Bukankah ... Bisma pernah melakukan hal ini waktu itu? Ia menginginkan aku untuk memberikan tanganku padanya. Hampir saja aku memberikannya beberapa permen, seperti yang waktu itu kulakukan pada Bisma,’ batin Ara, yang memikirkan hal itu karena tidak ingin salah lagi untuk kedua kalinya.
Ara yang sudah mengerti pun, langsung memberikan tangannya pada Morgan. Morgan meraihnya dengan lembut, membuat Ara terpaksa duduk di sebelahnya.
__ADS_1
Morgan menatapa Ara dengan dalam. “Lo kenapa? Kayaknya, loe habis nangis,” ujar Morgan yang selalu saja benar. Ara sampai tak tahu harus berkata bohong seperti apa lagi di hadapan Morgan.
‘Apa aku harus mengatakan yang sebenarnya pada Morgan? Terlebih lagi, aku sudah tidak punya tempat menaung lagi saat ini,’ batin Ara.
Ara menatapnya dengan ragu, “Anu ...,” gumam Ara dengan lirih yang ingin melihat ekspresi Morgan kali ini.
Morgan terlihat memandangi Ara dengan tatapan heran. Ia bisa merasakan, bahwa ada sesuatu yang tidak beres dengan Ara.
‘Apa yang sebenarnya terjadi padanya? Apa ada sesuatu yang terjadi sebelumnya?’ batin Morgan, yang menatapnya dengan tajam karena ingin memastikan keadaan Ara.
“Ra, lo ... baik-baik aja, ‘kan?” tanya Morgan dengan ragu, Ara terlihat sedang membuang pandangannya dengan sendu. Hal itu membuat Morgan jadi semakin gemas dengan tingkahnya ini.
‘Tenanglah! Ara bukan sedang menggoda gue. Gue tau, cewek setipe Ara, gak akan berbuat hal yang macam-macam. Kendalikan diri, Gan!’ batin Morgan menolak pikiran buruk yang terus menghantuinya, dan kembali fokus ke arah Ara.
“Ra ... kenapa?” tanya Morgan lagi, Ara pun memandang ke arah Morgan dengan sangat takut.
“Aku ... takut, Gan,” ujar Ara dengan ragu.
‘Sepertinya memang benar, ada sesuatu yang terjadi sebelumnya. Aku tidak seharusnya meninggalkan Ara tadi. Tak kusangka, kejadiannya akan jadi seperti ini. Dia membuatku khawatir saja!’ batin Morgan bingung dengan apa yang harus ia lakukan setelahnya.
Air mata Ara mulai membanjiri pipinya, membuat Morgan menjadi semakin tidak tega melihatnya seperti ini. Morgan pun bersimpuh di hadapannya, sembari tetap memegang tangan Ara yang lembut itu.
Morgan memandangnya dengan lekat, “Jangan nangis lagi. Cerita aja. Ada gue di sini yang pasti akan dengerin curhatan lo,” ucap Morgan yang berusaha untuk memberikan tempat ternyaman untuk Ara.
Rasa tanggung jawabnya pada Ara semakin besar. Morgan tidak ingin meninggalkan Ara seorang diri lagi. Ia juga tidak ingin membuatnya menangis seperti ini lagi.
Sementara itu di sisi sana, Bisma terlihat sedang kesulitan saat ini. Suasana yang tidak tepat, sedang mengguncang dirinya. Padahal, Bisma sudah susah payah merelakan untuk datang ke sekolah, di saat kakinya masih mengalami cedera seperti ini. Hal itu ia lakukan, karena sangat khawatir dengan Ara yang mungkin akan diganggu dengan orang lain ketika ia tidak ada di sisi Ara.
Namun, sesuatu yang Bisma takutkan rupanya benar-benar terjadi pada Ara. Bahkan, ternyata semua itu Ilham lakukan sejak mereka masih tinggal di desa. Saat ini Bisma benar-benar merasa sangat marah, ketika mendengarnya langsung dari mulut Ilham. Jika mereka tidak memisahkannya dari Ilham, mungkin Ilham sudah tidak bernyawa lagi saat ini. Serangan Bisma yang membabi buta, membuat Ilham kewalahan untuk menahannya.
‘Baguslah si brengsek itu tidak mengetahui hubunganku dengan Ara sebelumnya. Jadi, aku bisa dengan mudahnya mengorek informasi darinya,’ batin Bisma, sembari berjalan seenaknya saja ke arah hadapannya.
__ADS_1
Saat ia tersadar, ia pun menoleh ke segala arah. Ia merasa bingung, karena ia mengambil jalan memutar untuk bisa sampai ke ruangan kelasnya.
‘Sepertinya ... ada yang salah denganku,’ batin Bisma sembari memandang keadaan sekitarnya.
“Kenapa gue jadi jalan ke arah sini? Gue bukan mau ke kantin!” dumel Bisma dengan kesal.
Kejadian barusan membuat otak Bisma sedikit lamban. ‘Sepertinya, aku masih merasa kaget dengan kejadian tadi,’ batinnya.
“Karena udah terlanjur ke kantin, boleh deh sekalian pengen beli minum. Haus juga ngehajar si curut!” lirih Bisma, sembari berjalan pelan menuju kantin.
Saat Bisma berjalan ke arah kantin, ia tak sengaja melihat pemandangan aneh di dekat air mancur itu. Pemandangan itu menarik perhatian Bisma. Ia pun mengintip dari sela dedaunan, dan mendongak untuk bisa melihat ke arahnya dengan jelas.
Ternyata, di sana terlihat Morgan yang sedang duduk bersimpuh di hadapan Ara, sembari memegang tangannya. Bisma sampai mendelik kaget, karena tak percaya dengan apa yang ia lihat ini.
‘Kenapa kejadiannya malah menjadi seperti ini?’ batin Bisma merasa aneh dengan pemandangan yang ia lihat.
“Morgan dan Ara, apa yang mereka lakuin di sini?” lirih Bisma heran, sembari bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
‘Melihat mereka seperti ini, kenapa hatiku malah menjadi sesak?’ batin Bisma, yang sebisa mungkin berusaha untuk diam, sembari tetap mendengarkan baik-baik percakapan mereka.
“Daripada nunggu yang gak pasti ....” Morgan terlihat sedang merogoh sesuatu dari dalam saku celananya.
Ia memperlihatkan sebuah cincin pada Ara, membuat Bisma sangat terkejut ketika melihatnya.
‘Morgan? Kenapa bisa Morgan mempersiapkan hal ini dengan sangat matang? Memangnya Morgan menyimpan rasa dengan Ara?’ batin Bisma kaget.
Gejolak di hati Bisma terasa memuncak, ia sudah tidak bisa berbuat apa pun lagi saat ini.
Morgan memandang Ara dengan tatapan yang sangat dalam. “Lo mau gak, jadi ... pacar gue?”
***
__ADS_1