Kakak Biologis Love Story

Kakak Biologis Love Story
Melihat Dia


__ADS_3

“Emm ... sebenarnya ... saya cuma mau ngajak Ara jalan-jalan aja sih, Om. Gak ada buku yang guru suruh untuk kami beli. Tapi ... saya memang berniat untuk membeli buku kedokteran. Saya ingin belajar tentang kedokteran, sebelum melanjutkan perkuliahan saya, Om,” ucap Reza dengan terpaksa jujur padanya.


‘Baiklah, aku tidak mau lagi memulai kebohongan di sini. Ternyata ... aku melupakan Siti yang tidak bisa diajak kompromi,’ batin Reza, benar-benar tidak menyangka hal seperti ini.


Kening ayahnya mengerut, “Kamu mau melanjutkan kedokteran?” tanya ayahnya dengan spontan, dan tatapan yang tajam.


“Iya, betul Om. Karena ... ayah saya adalah seorang dokter, jadi ... saya terinspirasi dari beliau,” jawab Reza dengan spontan, tanpa ragu. Reza memandang ke arah Ara yang sepertinya hanya diam.


“Jadi ... nanti kita bakal masuk kampus yang sama, dong?” tanya Siti, membuat Reza menjadi sangat terkejut mendengarnya.


‘Jadi ... dia ingin menjadi dokter juga? Baguslah ... secara akademik, Siti memang tidak terlalu buruk,’ batin Reza, benar-benar sangat senang mendengarnya.


“Bagus ... Ara jadi ada yang menemani, bukan?” tanya ayahnya, Ara hanya tersenyum sembari mengangguk mendengarnya.


***


Setelah melakukan drama yang panjang, akhirnya Reza bisa membawa Ara untuk sekadar jalan-jalan ke mall.


‘Betapa senangnya hatiku, saat ini bisa berjalan bersama dengan wanita pilihanku. Entahlah ... aku masih belum yakin tentang perasaanku padanya. Tapi ... berada di dekatnya saat ini saja, sudah membuatku nyaman. Sadarlah, Za! Ini manusia, bukan spring bed,’ batin Reza, yang benar-benar sangat bingung dengan apa yang ia pikirkan.


“Kita mau kemana, Za?” tanya Ara yang nampak bingung dengan tujuan.


Reza menunjuk ke arah sebelah kiri, “Ke sana aja,” ucapnya, berusaha memberikan arahan padanya.


Mereka pun berjalan bersama menuju toko buku. Sepanjang mereka berjalan ke arah toko buku, Reza terus melihat-lihat keadaan sekitarnya. Pandangannya tidak sengaja melihat ke arah Bisma, yang kini sedang berjalan bersama dengan gadis yang sepertinya Rezaz kenal.

__ADS_1


Reza menatap tajam ke arah mereka, ‘Bukankah itu ....’


“Za, kita mau ke mana sih?” tanya Ara yang spontan membuat Reza kaget.


Reza pun langsung mengubah fokusnya ke arah Ara. “Ke toko buku, Siti,” jawab Reza dengan spontan, Ara hanya mengangguk-angguk ke arahnya saja.


Reza melihat Bisma yang tak sengaja juga melihat ke arah dirinya dan juga Ara. Dengan sigap, Reza pun langsung merangkul tubuh Ara. Reza melirik sedikit ke arah Bisma yang nampaknya sudah sangat terbakar api cemburu.


‘Aku tidak menyangka akan bertemu dengan Bisma di sini. Baguslah ... aku tidak perlu repot lagi untuk memperlihatkan ini padanya,’ batin Reza, benar-benar sangat diuntungkan dengan hal ini.


Bisma terlihat seperti sedang kebakaran jenggot. Reza merangkul Ara kembali dan mengalihkan pandangannya dari Bisma.


‘Aku tidak mau, Siti sampai melihat Bisma di sini. Cukup Bisma saja yang melihat kami,’ batin Reza, yang mengajak Ara pergi dari sana.


Sementara itu di sana Bisma terlihat sedang menahan amarahnya, karena sudah melihat Ara yang sedang berjalan-jalan dengan Reza. Hatinya merasa sangat kesal, entah bagaimana dan tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.


‘Kenapa mereka bisa ada di sini? Kenapa hatiku merasakan sakit saat melihat mereka bersama? Apa aku sudah keduluan selangkah lagi dari Reza?’ batin Bisma merasa kesal dengan keadaan ini.


Namun, Bisma seketika membantah perasaannya pada Ara, ‘Tidak! Aku belum cukup yakin dengan perasaanku. Aku masih belum yakin, bahwa ini adalah cinta. Aku hanya perlu meyakininya beberapa saat lagi. Tapi ... apakah aku sanggup? Melihatnya seperti ini saja ... hatiku sudah terbakar. Apa aku sanggup, untuk melihat mereka berdua lebih lama? Mereka ingin ke mana? Apa yang ingin mereka cari di sini? Apa ... aku harus mengikuti mereka?’ batin Bisma, yang benar-benar tidak habis pikir dengan keadaan ini.


“Kayaknya ini bagus deh, Bis,” ucap Gladis tiba-tiba, yang berhasil mengalihkan pandangan Bisma ke arahnya. “Menurut lo gimana?” tanyanya yang merasa sangat bersemangat, membuat Bisma hanya mengangguk kecil mendengarnya.


“Bagus kok, Dis,” jawab Bisma dengan singkat, ia tidak terlalu memedulikan Gladis.


“Ya udah gue mau pilih ini, ya?”

__ADS_1


Bisma melihat ke arah mereka, yang sudah berjalan meninggalkannya dan juga Gladis. Bisma melakukan ini karena khawatir kehilangan jejak mereka.


“Kayaknya ... nanti dulu deh, kita lihat yang di sebelah sana dulu ya,” ucap Bisma, yang berusaha untuk mengalihkan fokusnya.


Terlihat kekecewaan mendalam di wajah Gladis. Namun, Bisma sama sekali tidak memedulikan itu. Ia hanya peduli ke mana Reza membawa Ara pergi.


“Ya katanya ini bagus?” tanya Gladis dengan nada yang memelas.


Bisma memandangnya dengan kesal, ‘Kenapa berhadapan dengan wanita akan sesulit ini? Kenapa mereka hanya bisa mempersulitku saja?’ batin Bisma, benar-benar sangat kesal dengan keadaan ini.


Bisma menghela napas dan berusaha tenang di hadapan Gladis. “Kita lihat di sana dulu, kalau emang cocok kita ambil yang di sana tapi kalau misalkan gak cocok ya kita balik lagi ke sini. Yang penting lihat-lihat dulu aja. Masih banyak model yang lebih bagus. Gimana?” ujar Bisma, yang berusaha untuk memberikan sugesti padanya.


Geraham Bisma menyatu, ‘Kenapa sangat sulit untuk meyakinkan dirinya?’ batin Bisma, kesal dengan keadaan ini.


“Ya udah deh, kita lihat dulu di sana.” Gladis pasrah dan mengalah dengan Bisma.


‘Memang harus seperti itu! Aku tidak ingin kehilangan jejak Ara karena wanita ini. Ara jauh lebih penting darinya!’ batin Bisma, yang tidak mungkin mengatakannya pada Gladis.


Bisma berjalan menuju arah yang Ara dan Reza tuju. Ia sampai tidak memedulikan Gladis yang tertinggal jauh di belakangnya.


“Aduh Bisma ... tungguin sih! Buru-buru banget, mau ke mana emangnya?” tanya Gladis membuat Bisma tak tega melihatnya berjalan dengan high heels yang ia kenakan.


Bisma berusaha menunggu dirinya, sembari tetap melihat ke arah mereka. ‘Sepertinya mereka masuk ke dalam toko buku. Tidak akan sulit untuk mencarinya di sana,’ batin Bisma, yang benar-benar tidak ingin kehilangan jejak mereka.


Bisma memandang ke arah Gladis, “Maaf ya, gue kebelet banget soalnya. Makanya buru-buru,” ucap Bisma yang tentu saja berbohong pada Gladis, sehingga membuatnya menatap ke arah Bisma dengan sinis.

__ADS_1


“Lho ... bukannya toilet ke arah sana ya?” ujar Gladis dengan nada ynag bingung, sembari menunjuk ke arah belakang.


Mendengar ucapan Gladis, Bisma pun diam bergeming dibuatnya. ‘Kenapa sampai tidak terpikir?’ batin Bisma, benar-benar sangat tidak memikirkan hal itu.


__ADS_2