Kakak Biologis Love Story

Kakak Biologis Love Story
Pilihan Tuhan


__ADS_3

Bisma kembali pulang ke rumah. ia melihat Ara di sana, dan terlihat kondisi Ara yang saat ini sedang kacau.


"Ara," panggil Bisma membuat Ara menoleh ke arahnya.


Ara yang saat ini sedang berdiam diri di kamarnya, merasa terusik dengan kehadiran Bisma yang saat ini sedang ada di hadapannya. Bisma pun masuk ke dalam kamar Ara, membuat Ara enggan melihatnya.


"Mau ngapain Bisma ke sini?" tanya Ara sinis.


Bisma pun menghela napasnya panjang, kemudian duduk di sebelah Ara yang berada di pinggir ranjang.


"Bisa bicara sebentar nggak?" tanya Bisma.


Ara memandangnya dengan sinis, "Apalagi yang harusnya dibicarain? Nggak ada yang harus dibicarakan antara kita," ujar Ara, membuat Bisma menghela napasnya dengan panjang.


"Sebelumnya gue minta maaf, karena gue sama sekali nggak bermaksud untuk membohongi lo. Gue beneran sayang banget sama lo, lebih dari seorang kakak ke adiknya. Gue beneran cinta sama lo," ujar Bisma menjelaskan.


Ara memandangnya sinis, "Tapi kenapa Bisma sampai tega hamilin cewek lain? Terus apa gunanya pernyataan cinta ini ke Ara, kalau pada akhirnya Ara tetap kehilangan Bisma? Bisma akan menikah dengan Adelia, 'kan?"


Bisma terdiam sembari menghela napasnya panjang. "Ya, gue akan menikah dengan Adelia. Tapi masalah cinta, gue emang beneran cinta sama lo. Tetep, tapi gue nggak bisa ngegugurin tanggung jawab gue sebagai orang yang udah ngehamilin anak orang lain."


Mendengar ucapan Bisma, Ara seketika meneteskan air matanya. Ia tidak kuat mendengar apa yang Bisma katakan. Perasaan sukanya terhadap Bisma, terkubur pelan-pelan karena ucapan yang Bisma katakan padanya.


"Gue bukan lelaki yang baik, Ra. Gue nggak bisa sama lo tapi gue cinta banget kalau sama lo. Gue mohon, sekarang lo pergi dari hidup gue. Lo terima aja Morgan, karena Morgan jauh lebih baik dibandingkan gue. Gue nggak pantes buat lo, Ra," ujar Bisma yang merasa sangat kesal dengan dirinya sendiri, karena sudah mengatakan hal yang membuat Ara merasa semakin sedih saja.

__ADS_1


"Terus buat apa Bisma ngomong dan nyatain perasaan cinta Bisma ke Ara? Kalau pada akhirnya gak guna kayak begini!" bentak Ara, Bisma menghela napasnya dengan panjang.


Morgan yang berada di balik pintu kamar Ara, hanya bisa mendengar percakapan mereka saja. Ia tidak bisa masuk ke dalam ruangan kamar Ara, karena ia ingin membiarkan Bisma untuk mengakhiri semuanya dengan Ara. Ia tidak ingin ikut campur, karena hal itu akan menyebabkan kesalahan yang sangat fatal baginya nanti.


"Ini semua di luar dari skenario. Gue sama sekali nggak tahu kalau ternyata apa yang gue lakuin beberapa bulan yang lalu ke Adel, ternyata jadi seperti ini. Lo datang setelah Adel pergi. Tapi saat gue udah mencintai lo, dia datang kembali ke sisi gue. Seandainya Adel gak mengandung anak gue, gue pasti nggak bakalan mau kembali lagi sama dia. Bahkan menikah sama dia," jelas Bisma secara rinci.


Ara masih tidak bisa menerimanya. "Tapi 'kan siapa tahu itu bukan anaknya Bisma. Siapa tahu aja itu anak orang lain dan dia cuma mau agar Bisma tanggung jawab atas kehamilannya," bantah Ara, tetapi Bisma hanya bisa tersenyum mendengarnya.


"Semua bukti sudah otentik. Udah gak ada yang bisa dibantah lagi. Gw harap, lo bisa ngertiin keadaan gue ya, Ra. Gue tetap sayang sama lo, sampai kapan pun," ujar Bisma, yang sudah tidak bisa mengatakan apa pun lagi.


Ara hanya bisa menangis, sementara Bisma memeluknya dengan erat. Ini bisa jadi adalah pelukan terakhir Bisma untuk Ara.


"Jangan sedih, gue tetep cinta sama lo kok. Lo adalah gadis polos yang paling sederhana dari yang pernah gue temui. Jangan hilangkan kepolosan lo itu ya," ujar Bisma yang lalu segera pergi meninggalkan Ara di sana seorang diri.


Bisma melintas melewati Morgan. Ia berhenti sejenak memandang ke arah Morgan. "Gan, titip Ara. Selebihnya gue serahin sama lo," ujarnya, membuat Morgan mengangguk mendengarnya.


"Lo bisa pakai pundak gue untuk bersandar," ujar Morgan.


Ara yang sudah sangat sendu, tak banyak kata. Ia memeluk Morgan dengan erat, karena ternyata ia sudah kehilangan cintanya itu dengan Bisma. Ketika Bisma sudah mengatakan dirinya yang akan menikahi Adel, Ara merasa sudah tidak ada lagi harapan untuknya.


Ara melepaskan pelukannya dan memandang ke arah Morgan. "Apa Morgan mau ninggalin Ara juga?" tanyanya sendu.


Morgan menggelengkan kepalanya. "Sampai kapan pun, gue gak akan pernah ninggalin lo Ra," ujarnya membuat Ara sedikit tenang mendengarnya.

__ADS_1


Ara menghela napasnya panjang. "Kalau gitu, apa Morgan mau bantu Ara, buat ngehilangin perasaan Ara ke Bisma?" tanyanya.


Morgan mengangguk, "Dengan senang hati. Gue rela jadi pelampiasan lo. Satu yang gue pengen dari lo, jangan pernah bikin gue cemburu," ujarnya yang disetujui oleh Ara.


Mereka kembali berpelukan, membuat Ara merasa sedikit tenang karena adanya Morgan.


Love story antara dirinya dan Bisma tidak bisa diwujudkan. Bukan karena adanya hubungan darah di antara mereka, tetapi karena mereka yang memang tidak ditakdirkan untuk bersama.


'Gak ada lagi yang bisa aku pertahanin. Semoga Bisma bahagia dengan pilihan hatinya,' batin Ara, merasa sangat sendu saat ini.


Setelah beberapa waktu, Bisma pun menikahi Adelia. Ara, Morgan, Reza, Ilham, Fla, dan Gladis, datang untuk mengucapkan selamat kepada mereka. Walaupun belum lulus sekolah, Bisma tetap melangsungkan pernikahannya, karena beberapa hal. Teman-temannya pun sudah mengetahui, dan membuat mereka mendukung apa yang Bisma lakukan sebagai sosok pria yang bertanggung jawab.


Terlihat Bisma yang sangat bahagia, ketika berada di atas altar bersama dengan Adelia. Ara memandangnya dengan sedikit sendu, karena ternyata Bisma tidak main-main dengan ucapannya.


'Dia beneran gak main-main. Ya sudahlah, mungkin ini memang udah jalannya untuk kita,' batin Ara.


Morgan merangkulnya, karena tahu kalau Ara saat ini sedang merasa bersedih. Ara tersenyum pada Morgan, membuat Morgan pun ikut tersenyum ke arahnya.


"Jangan sedih, ada gue di sini," bisik Morgan, Ara pun mengangguk kecil mendengarnya.


Reza memandang ke arah Ara dan Morgan, yang ternyata sudah kembali seperti sedia kala. Ia tersenyum, merelakan apa yang sudah menjadi pilihan Ara.


'Ya sudah, mau apa lagi? Kalau dia jodoh gue, dia pasti kembali sama gue,' batin Reza, merasa sangat lega saat ini.

__ADS_1


Mereka hidup bahagia bukan dengan pilihan mereka sendiri, tetapi karena Tuhan yang pilihkan untuk mereka.


TAMAT


__ADS_2