
Penyesalan memang selalu datang di akhir. Bisma sangat menyesal, karena sudah melakukan hal itu kepada Ara. Sekarang, ia bahkan tidak berani untuk menampakkan wajahnya di hadapan Ara, karena kebodohannya sudah melakukan hal seperti itu pada adiknya sendiri.
Ekspetasinya waktu itu tidak akan membuat Ara marah, dan malah membuat Ara mengakui perasaannya. Namun, saat melihat reaksi Ara tadi, Bisma merasa Ara sama sekali tidak menyukainya.
“Ara gak suka sama gue, ya? Kenapa dia marah saat gue cium?” gumamnya, yang malah menjadi over thinking sendiri.
Perasaannya pada Ara sudah mendalam, tetapi melihat reaksi Ara yang seperti itu, Bisma malah jadi ragu untuk mengutarakan perasaannya terhadap Ara.
“Apa ... gue urungkan aja niat gue buat deketin Ara?” gumam Bisma, yang malah merasa down dengan apa yang sudah terjadi padanya.
Sementara itu, Ara dan Morgan sedang menuju ke sebuah tempat. Karena tidak ada rencana untuk pergi ke tempat ini, mereka jadi tidak tahu harus melakukan apa.
Mereka tiba di sebuah taman, yang tak jauh dari rumah Bisma dan Ara. Mereka duduk bersebelahan di kursi taman, tanpa saling memandang satu sama lain.
Untuk beberapa saat mereka hanya memandang ke arah hadapan mereka saja, tanpa mengatakan apa pun. Namun, karena sudah terlalu lama, akhirnya Morgan menoleh ke arah Ara.
“Ra,” panggil Morgan, dengan suara yang hampir terdengar sendu.
Ara menoleh ke arah Morgan, tetapi pandangannya terlihat sangat sendu dan gelisah. Ia sama sekali tidak mengatakan apa pun kepada Morgan, hanya memandangnya dengan pandangan yang penuh dengan kegelisahan.
“Apa yang lagi lo pikirin sekarang?” tanya Morgan, berusaha untuk menempatkan dirinya sebagai kekasih Ara.
Tak bisa dipungkiri, Ara masih marah karena Morgan yang menyerang Bisma dengan membabi buta seperti tadi. Namun, Ara masih tidak bisa menyingkirkan pikirannya soal Bisma yang tiba-tiba saja mencium bibirnya tadi.
__ADS_1
Menyadari Ara yang hanya diam saja, Morgan merasa Ara masih marah padanya tentang kejadian tadi. Ia pun menghela napasnya panjang, lalu meraih tangan Ara dan menggenggamnya dengan erat.
“Lo masih marah sama gue?” tanya Morgan, Ara hanya memandangnya dengan bingung.
‘Gimana ini? Ara gak bisa berhenti mikirin Bisma saat nyium Ara tadi. Tapi Ara gak mungkin kasih tau Morgan masalah ini. Bisa-bisa mereka berantem lagi, hanya karena masalah kecil begini. Ara gak mau mereka kena imbasnya, hanya karena Ara,’ batin Ara, merasa berada di dalam keresahannya.
Morgan masih penasaran, dengan apa yang membuat Ara diam sejak tadi. Namun, ia tidak bisa memaksakan, jika Ara tidak ingin mengatakan kepadanya.
“Maafin gue, tadi gue udah bentak lo. Itu semua karena gue emosi. Gue minta maaf,” ujar Morgan, Ara jadi teringat tentang Morgan yang membentaknya tadi.
“Ara aja sampai lupa kalau Morgan bentak Ara tadi. Itu semua karena Bisma—”
Ara teringat bahwa ia sudah keceplosan mengatakan hal seperti ini di hadapan Morgan. Ia tidak seharusnya mengatakan hal ini, tetapi ia tidak sengaja mengatakan hal ini.
“Bisma kenapa?” tanya Morgan, Ara mendelik kaget tak bisa melanjutkan ucapannya.
Walaupun Ara tak bisa melanjutkan ucapannya, ia juga tidak bisa menyimpan hal ini sendirian. Perasaannya mendadak kesal, saking kesalnya sampai membuatnya merasa tidak harusnya mengatakan hal ini kepada Morgan.
“Ih, enggak apa-apa. Kita gak kenapa-napa, kok!” bantah Ara, Morgan memandangnya dengan tajam, karena ingin sekali tahu apa yang Ara sembunyikan darinya.
“Kasih tahu apa yang terjadi sama kalian tadi. Bisma kenapa?” tanya Morgan, kembali mendesak Ara untuk mengatakan hal itu.
Ara menelan salivanya, saking takutnya ia dengan ucapan Morgan. “Bisma ... tadi nyium bibir Ara,” ujarnya, yang benar-benar terdengar sangat polos.
__ADS_1
Kepolosan Ara membuat Morgan merasa kesal. Entah ia kesal dengan Ara atau Bisma, yang jelas ia sangat kesal sekali mendengarnya. Namun, sebisa mungkin ia menahan semua rasa kesal itu, dan memilih untuk tidak meluapkannya lagi di hadapan Ara. Ia tidak ingin, jika Ara sampai marah lagi dengannya, hanya karena ia membentak Ara lagi.
‘Sialan Bisma, dia gak rela kalau gue nyium Ara, tapi dia nyium Ara juga. Sialan!’ batin Morgan, tak bisa menerima apa yang Bisma lakukan pada kekasihnya itu.
Ara ketakutan di hadapan Morgan. “Tapi kalian jangan ribut! Ara udah marahin Bisma, karena udah seenaknya nyium Ara tadi. Jadi, Morgan gak usah marah-marah lagi sama Bisma, apalagi sampai berantem tonjok-tonjokkan,” ujar Ara, Morgan memandang Ara dengan dalam.
‘Dia kelihatannya gak bohong. Tadi juga tiba-tiba aja Ara narik tangan gue, dan langsung pergi dari Bisma. Mungkin memang bener Ara udah marah sama Bisma,’ batin Morgan, yang mempertimbangkan ucapan Ara, untuk tidak menghajar Bisma lagi.
Walaupun Ara kesal dengan Bisma karena sudah menciumnya, tetapi ia tidak mau sampai Morgan menghajarnya lagi. Ia mengerti, kondisi Bisma yang masih belum pulih, karena permasalahan dengan Reza dan Ilham waktu itu. Oleh karena itu, Ara tidak sampai hati melihat Morgan menghajar Bisma lagi, seperti yang Morgan lakukan tadi.
Morgan menghela napasnya dengan panjang. “Oke, gue gak akan mukul Bisma lagi kayak tadi. Asal lo janji satu hal sama gue,” ujarnya, Ara sedikit penasaran dengan yang Morgan katakan.
“Satu hal? Apa itu?” tanya Ara.
Tatapan Morgan menajam, “Jangan pernah lo deket-deket Bisma lagi. Jangan pernah lo menghilangkan jarak di antara lo dan Bisma, saat lo lagi gak bareng sama gue. Gue gak mau sampai dengar lo dicium lagi sama Bisma. Lo ‘kan tau, gue orangnya cemburuan banget. Jangan sampai si Bisma gue bikin jadi oncom!” ujarnya, membuat Ara menjadi sangat takut mendengarnya.
Karena Ara juga khawatir Bisma sampai terkena masalah lagi, ia hanya bisa mengangguk kecil dan menyetujui apa yang Morgan katakan padanya. Melihat respon Ara cukup membuat Morgan lega, karena sedikitnya sudah berhasil menjaga Ara dari Bisma yang maniak itu.
Morgan teringat dengan hubungan Bisma dan juga mantan kekasihnya yang bernama Adele. Morgan sangat mengetahui masa lalu Bisma, yang sudah melakukan hal buruk bersama dengan Adele. Walaupun mereka masih di bawah umur, mereka melakukan sesuatu yang buruk karena pergaulan mereka. Tidak heran jika mereka menjadi dewasa sebelum waktunya.
‘Gak akan gue biarin hal buruk yang Adele rasain, terjadi pada Ara! Gue gak akan lepasin Ara!’ batin Morgan, yang juga berjaga-jaga dari Bisma.
Pandangan Morgan tak sengaja teralihkan, dan tertuju kepada seseorang yang ada di hadapannya. Matanya mendelik kaget, karena tidak percaya dengan seseorang yang ia lihat.
__ADS_1
‘Hah? Dia bukannya ....’