Kakak Biologis Love Story

Kakak Biologis Love Story
Make Over


__ADS_3

Ara menunduk sendu, karena malu pada Bisma. Ia tidak ingin, Bisma melakukan hal yang sama dengan yang mereka lakukan padanya.


Bisma memandangnya sendu, karena baru tau dengan apa yang terjadi pada adik biologisnya itu. Sedikitnya ia merasa sangat kesal, karena hal itu benar-benar membuat emosinya terpancing.


Bisma menyentuh dagu Ara, sehingga membuat kepala Ara mendongak ke arahnya. Pandangan mereka saling bertemu, membuat Ara merasa agak canggung karenanya.


“Kalau gue di situ, gue pasti nggak bakalan biarin loe di-bully!” ujar Bisma, terdengar sangat keren bagi Ara.


Ara sampai terharu karena ucapannya itu. Seandainya waktu itu ... ia sudah bertemu dengan Bisma, mungkin saja ia tidak akan kesepian.


Mendengarnya, Ara melontarkan senyum khasnya pada Bisma. Karena senyuman Ara yang terlihat sangat imut, Bisma pun menjadi sangat kaget, dan langsung melepaskan tangannya dari dagu Ara.


Hal itu mengundang banyak tanya di hati Ara, ‘Kenapa Bisma selalu saja bersikap aneh?’ batinnya.


Bisma berusaha untuk menahan dirinya, “Emangnya waktu itu, loe kena jahil apa sampai datang ke salon?” tanyanya dengan nada yang aneh.


“Mereka nempelin permen karet ke rambut aku. Ya walaupun udah lama banget kejadiannya, tapi aku inget banget ibu ngajak aku ke salon. Di salon keren, bisa bikin orang-orang jadi cantik,” ujar Ara menjelaskan.


Bisma hanya diam sambil menatapnya. Hal itu yang membuat Ara masih belum terbiasa dengan sikap Bisma, yang kadang dingin dan kadang juga pengertian.


Terpikir di benak Bisma, untuk membuat Ara menjadi cantik.


“Ayo ... bikin loe jadi cantik!” ajak Bisma, Ara mendelik tidak bisa mencerna kata-katanya.


“Hah? Maksudnya?” tanyanya bingung, tapi Bisma sama sekali tidak menjawab dan malah menarik tangan Ara secara tiba-tiba.


Bisma mengajak Ara masuk ke dalam salon, yang berada di mall ini. Bisma menarik tangannya kasar, dan seperti melempar Ara ke atas kursi, membuat Ara terduduk di atasnya.


“Aww ... sakit tau!” Ara merintih lirih, tetapi Bisma tidak memedulikannya.


Kacamata yang Ara paka hampir jatuh, karena benturan yang cukup keras. Ara membenarkan posisi kacamatanya.

__ADS_1


Bisma mengedarkan pandangannya, lalu melambaikan tangannya ke arah seseorang. Tiba-tiba saja, orang itu datang menghampiri mereka.


“Aduh Kakak ganteng ... mau perawatan?” tanya wanita seksi yang ada di hadapan Bisma sekarang.


Ara tak berani melihat dirinya, sampai-sampai ia hanya menutup matanya sedikit, agar ia tidak bisa melihat belahan dadanya yang dengan sengaja ia umbar.


Bisma memandangnya dengan tegas, “Saya mau make over dia!” ujar Bisma dengan datar, sembari menunjuk ke arah Ara.


Ara hanya bisa memanyunkan bibirnya, karena kesal dengan tingkahnya. Wanita itu pun melihat ke arah Ara, dan memandangnya seperti sedang melecehkan saja.


“Oh mau makeup-in cewek culun ini?” tanya wanita itu yang mempertegas penampilan Ara.


Mendengar ucapan sang pelayan, Ara sampai sedih karena perkataannya itu.


‘Kenapa semua orang menilai orang lain, hanya dari penampilannya saja? Apa orang-orang yang tidak punya kecantikan tidak boleh hidup di dunia ini?’ batin Ara, menunduk sedih setelah mendengar perkataannya.


Bisma memandang sinis ke arah sang pelayan. Ia merasa sangat kesal, karena pelayan itu sudah membuat Ara jadi rendah di hadapannya.


‘Kenapa dia ngelecehin Ara begitu, sih? Kenapa juga si Ara diam aja? Harusnya dia kesel dong, karena udah dilecehin?’ batin Bisma, yang merasa sangat kesal dengan orang itu.


Mendengar ucapan Bisma itu, Ara sampai terkejut setelah mendengarnya dan langsung melihat ke arah Bisma. Sorot matanya sangat tajam, melihat ke arah wanita itu.


Lagi-lagi, Ara dikejutkan dengan perkataan Bisma yang mengatakan bahwa aku adalah pacarnya. Ia hanya bisa diam seribu bahasa, setelah mendengarnya.


Wanita itu dengan segera mengubah sikapnya. Sepertinya, wanita itu sangat ketakutan ketika Bisma memandangnya dengan tatapan tajam. Wanita itu tiba-tiba melunak dan mengusap bahu Ara dengan lembut.


“Oh ... jadi ini pacarnya Kakak ganteng? Kalau gitu, ayo kita make over sekarang!” Nadanya masih terdengar centil, seperti yang pertama kali mereka dengar.


‘Dia sangat pandai memainkan kata-kata. Dengan lancangnya, ia menyebut Bisma ‘ganteng’ sedangkan ia menyebutku dengan sebutan culun,’ batin Ara, merasa agak jengkel dengan pelayan wanita yang aneh ini.


“Ayo, tiduran dulu,” ujar sang pelayan yang menyuruh Ara untuk berbaring.

__ADS_1


Ara merasa sangat kaget dan bingung, ‘Apa yang akan dia lakukan? Kenapa aku malah disuruh berbaring?’ batin Ara heran.


“Kok aku disuruh tiduran? Emangnya aku mau diapain? Aku ‘kan nggak lagi sakit?” tanya Ara, lagi-lagi dengan nada yang polos.


Wanita itu kemudian tertawa lepas setelah mendengar pertanyaan dari Ara, semakin membuat Ara bingung jadinya.


“Coba tolong dibuka kacamatanya,” pintanya.


Ara masih dengan perasaan yang bingung, segera membuka kacamata yang ia kenakan. Walaupun ia tidak bisa melihat apa pun, dan hanya remang-remang saja, ia tetap melakukan apa yang pelayan itu pinta.


Pelayan itu memandang ke arah Bisma, “Kakak bisa tolong tunggu di ruang tunggu aja?” tanyanya.


Bisma memandangnya dengan tegas, “Gak, saya mau nunggu pacar saya di sini aja,” tolak Bisma, membuat Ara semakin bingung saja karenanya.


‘Kenapa dia masih menyebutku dengan sebutan pacar? Apa tidak bisa mengatakan yang sebenarnya saja, kalau aku ini adalah adiknya?’ batin Ara, keheranan dengan sikap Bisma itu.


“Duh ... romantis sekali.” Suara wanita itu terdengar sangat dibuat-buat, membuat Ara semakin jengkel saja dibuatnya.


‘Apa Bisma setampan itu, sampai wanita yang bertemu dengannya langsung menyukainya? Sampai para pelayan yang bekerja di rumah pun sangat menyukainya? Kalau sudah seperti ini, apa aku manfaatkan saja situasinya?’ batin Ara, yang merasa sangat menyukai adanya kesalahpahaman.


Ara mulai menjalankan rencananya.


“Bisma ... jangan tinggalin Ara, ya?” rengek Ara dengan nada terimut yang ia miliki.


Mendengar rengekan Ara itu, wajah Bisma seketika terasa sangat panas. Ia merasa sangat malu, saking imutnya sikap Ara itu.


‘Duh ... kenapa dia imut banget, sih? Cewek kampung kayak dia, kenapa lebih imut daripada cewek-cewek yang gue temuin sebelumnya?’ batin Bisma, merasa sangat aneh dengan perasaan yang ia miliki.


Sayang sekali, Ara tidak bisa melihat ekspresinya dengan jelas, tanpa menggunakan kacamata. Pasti akan sangat menyenangkan melihat ekspresi Bisma saat ini.


“Iya. Bisma gak ninggalin Ara kok,” ujar Bisma dengan lirih.

__ADS_1


Suaranya terdengar tulus, membuat Ara merasa sedikit heran dengan Bisma. Padahal, ia hanya ingin membuat wanita itu merasa jengkel saja. Tidak ada maksudnya untuk membuat Bisma merasa salah tingkah seperti itu padanya.


“Kita mulai aja, ya!” ujar sang pelayan, yang lalu segera melakukan apa yang harus ia lakukan pada Ara.


__ADS_2