Kakak Biologis Love Story

Kakak Biologis Love Story
Bisma Kesal


__ADS_3

Ara sudah sampai di rumahnya, dengan Morgan yang mengantarkannya setelah mengganti ban yang bocor. Saat ini sudah pukul 9 malam, dan Ara masih belum makan malam.


Perutnya menjadi sakit, karena terlambat makan malam kali ini. Sepanjang jalan, Ara hanya bisa memegangi perutnya saja. Ia sudah mulai merasa sakit, setelah Morgan berhasil mengganti ban mobilnya yang bocor.


‘Aduh perut aku sakit. Telat makan,’ batin Ara, sembari tetap memegangi perutnya yang terasa sakit seperti melilit.


Karena terlalu fokus menyetir, Morgan sampai tidak memerhatikan Ara dengan benar. Ia tidak tahu, kalau Ara sebenarnya sedang menahan sakit perutnya. Yang ia pikirkan hanyalah mengantarkan Ara sampai ke rumahnya, sebelum malam semakin larut. Ia tidak ingin Ara mendapatkan ocehan dari Bisma, karena terlambat pulang ke rumahnya.


Saat tiba di pekarangan depan rumah Bisma, Morgan pun menoleh ke arah Ara, dengan Ara yang sudah berusaha untuk menahan sakit perutnya di hadapan Morgan. Walaupun terasa sangat sakit, tetapi sebisa mungkin Ara berusaha untuk menahannya.


Terlihat Bisma dari balkon kamar Ara, yang memandangi mereka yang baru sampai di rumahnya. Bisma memerhatikan mereka dari jendela lantai atas, sehingga ia bisa sangat jelas melihat mereka yang sedang bercengkerama.


“Sudah sampai,” ucap Morgan, Ara memandangnya dengan senyuman seperti biasa.


Morgan tidak curiga dengan apa yang Ara sembunyikan, membuat Ara merasa aman dengan apa yang ia sembunyikan pada Morgan. Ara berpikir, urusannya akan menjadi lebih runyam, jika Morgan sampai tahu kalau ia menahan rasa sakitnya sejak tadi.


Teringat sesuatu yang mengganjal di hati dan pikiran Morgan, yang harus ia sampaikan pada Ara. Ini menyangkut tentang Bisma, karena biar bagaimanapun juga, Ara harus tahu semuanya tentang kejadian hari ini tentang Bisma dan juga Ilham.


“Ra, gue mau bicara sebentar sama lo,” ucap Morgan dengan nada yang sangat serius, membuat Ara memandangnya juga dengan sangat serius.


“Morgan mau bicara apa?” tanya Ara.


“Ini soal ... Bisma dan Ilham,” jawab Morgan yang semula ragu, menjadi sangat tegas saat ini.

__ADS_1


Mendengar jawaban Morgan yang seperti itu, Ara pun bingung dengan apa yang akan Morgan katakan mengenai Bisma dan juga Ilham.


“Emangnya ada apa sama Bisma dan Ilham?” tanya Ara lagi, bingung dengan apa yang mau Morgan ungkapkan padanya.


“Sebelumnya gue mau nanya dulu ke lo. Apa tadi lo diganggu sama Ilham?” tanya Morgan, Ara mendelik kaget mendengarnya.


“Udah kesebar, ya?” tanya Ara balik, yang tak menyangka jika beritanya akan tersebar secepat ini.


“Kenapa gak bilang ke gue?” tanya Morgan, Ara memandangnya dengan sendu.


“Maaf, Ara masih belum terbiasa buat terbuka,” ujar Ara dengan sendu, Morgan pun hanya bisa menatapnya dengan datar.


“Mulai sekarang, apa pun yang lo rasain dan alamin, harus lo kasih tau ke gue, ya. Gue gak mau kalau sampai terjadi sesuatu sama lo. Gue akan jadi orang yang sangat gak berguna, kalau lo gak cerita apa pun ke gue,” ujar Morgan, Ara hanya bisa memandangnya dengan sendu.


Melihat Morgan yang mengelus lembut Ara, Bisma menjadi sangat bergejolak melihatnya. Ia sangat tidak bisa melihat pemandangan aneh seperti ini, dan merasa kesal dengan yang Morgan lakukan pada Ara.


“Sial, kenapa mereka romantis banget, sih? Selama gue temenan sama Morgan, emang sih gue belum pernah ngelihat gaya pacaran Morgan. Tapi kenapa dia romantis banget sama Ara?” gumam Bisma, tak terima dengan apa yang ia lakukan pada Ara.


Morgan menghela napasnya dengan panjang. “Tadi pagi, waktu gue ninggalin lo ke kelas temen gue buat ambil novel, Bisma datang ke sekolah dan ngehajar Ilham dengan membabi buta. Itu semua Bisma lakuin, karena Bisma tau kalau Ilham yang udah bully lo waktu lo tinggal di kampung,” ujarnya, sontak membuat Ara mendelik kaget mendengarnya.


“Hah? Bisma dateng ke sekolah dan ngehajar Ilham? Terus gimana kondisi mereka sekarang?” tanya Ara kaget, dengan apa yang Morgan katakan.


“Ilham udah gak keruan, sementara Bisma ... gue gak tau karena dia gak masuk ke kelas pagi tadi. Denger-denger dia juga gak pakai seragam sekolah sih. Mungkin dia langsung pulang setelah ngehajar Ilham tadi,” jawab Morgan.

__ADS_1


Mendengar jawaban dari Morgan, Ara benar-benar sangat merasa kasihan dengan Ilham dan juga Bisma. Mereka melakukan hal yang sangat merugikan bagi mereka, dan itu semua karenanya.


‘Bisma ... kenapa Bisma ngelakuin ini? Ara gak apa-apa, kok. Kasihan Ilham kalau begini caranya. Ara cuma mau ditolongin aja, bukan berarti Bisma ngehajar Ilham begitu,’ batin Ara, yang merasa sikap Bisma sudah terlalu lewat pada batasnya.


Ara memandang tegas ke arah Morgan, “Tolong antar Ara besok ke rumah Ilham ya Gan! Kebetulan besok Sabtu, jadi kita bisa jenguk Ilham ke rumahnya!” pinta Ara, membuat Morgan terdiam dengan memandangnya dengan tatapan datar.


Permintaan Ara itu membuat Morgan merasa sangat kesal, karena memang sejak awal Morgan sudah mengatakan pada Ara, bahwa dirinya sangatlah cemburuan terhadap pasangannya. Ara malah memintanya untuk mengantarkannya ke rumah seorang lelaki, yang Morgan ketahui juga sedang mengejar Ara.


Namun, Morgan memikirkan hal lain dari diri Ara. Walaupun Ilham sudah menjahili Ara, tetapi Ara masih saja bersikap baik pada Ilham dengan ingin sekali menjenguknya. Itu sebuah sikap yang jarang sekali Morgan jumpai pada siapa pun orang yang ia temui. Morgan jadi berpikir, bahwa Ara terlalu polos, saking polosnya sampai mau menjenguk musuh sendiri.


“Oke, besok gue jemput. Kita ke rumah Ilham buat jenguk dia,” ucap Morgan, yang mengalahkan egonya untuk memenuhi permintaan Ara padanya.


Sebenarnya sangat sulit bagi Morgan untuk melakukan hal itu, tetapi itu semua ia lakukan untuk Ara. Sekali lagi demi Ara.


Ara tersenyum mendengarnya, “Makasih, Morgan.”


Morgan pun mendekat ke arah Ara, lalu mengecup lembut pipi Ara. Hal itu membuat Bisma mendelik kaget melihat Morgan yang mencium Ara seperti itu.


“Sialan Morgan!” pekik Bisma, yang lalu meninju dinding yang berada di sebelah jendela.


Tangannya tak terasa sakit, tetapi kini sudah terlihat luka memar dan juga kulit yang mengelupas. Belum habis lukanya pagi tadi saat menghajar Ilham, kini Bisma sudah membuat luka baru pada tangan kanannya itu.


Hatinya sudah sangat hancur, ditambah melihat mereka yang benar-benar sudah menjalin hubungan layaknya pasangan sungguhan. Bisma yang kesal, hanya bisa melampiaskannya pada benda-benda di sekitarnya saja.

__ADS_1


Bisma menatap ke arah mereka dengan sinis, “Morgan sialan!” pekik Bisma, yang terdengar sampai ke telinga Ara dan juga Morgan.


__ADS_2