Kakak Biologis Love Story

Kakak Biologis Love Story
Tidak Sesuai Situasi


__ADS_3

“Maafin Ara ya Bisma. Ara gak makan sarapan yang Bisma buat, karena Ara takut terlambat ke sekolah. Maafin Ara ya, Bisma,” ujar Ara, membuat Bisma semakin sinis saja memandang ke arahnya.


“Lo takut telat? Lebih takut mana dibandingkan diinfus pakai jarum suntik?” tanya Bisma sinis, Ara hanya bisa memandangnya dengan sendu. “Ra, jangan sampai kejadian ini terulang lagi! Gue gak masalah kalau seandainya lo gak makan makanan gue dengan alasan masih marah, tapi kalau kejadian ini bikin lo sakit, gue gak akan pernah biarin itu semua!" ujarnya.


Ara masih saja memandang Bisma dengan sendu, membuatnya merasa sangat sedih karena ucapan Bisma yang sangat memedulikan dirinya.


“Maafin Ara ya Bisma,” ujar Ara, yang hanya bisa mengatakan hal itu di hadapan Bisma.


Bisma menghela napasnya dengan panjang, “Ya sudahlah. Ini buat pelajaran juga. Jangan sampai lo kayak gini lagi, cuma gara-gara telat makan. Mau semarah apa pun lo sama gue, tetap lo harus makan! Inget apa yang gue bilang!” ujarnya, Ara pun mengagguk kecil mendengarnya.


“Iya, Ara pasti makan kok. Walaupun nanti Bisma buat Ara marah. Ara pasti gak akan mau masuk rumah sakit lagi,” ujar Ara, yang mengalah di hadapan Bisma.


Mereka terdiam beberapa saat, membuat Bisma berpikir untuk mengatakan hal ini pada Ara. Mengingat mereka yang sudah mengatakan jujur tentang perasaan mereka, Bisma tidak ingin sampai kalah start dari mereka.


“Ra, gue gak akan pernah lepasin lo,” ujar Bisma, Ara memandangnya dengan bingung.


Walaupun ia sudah tidak ada hubungan apa pun lagi dengan Morgan, tetapi ia masih baru saja putus dengan Morgan. Hal itu membuat Ara merasa bahwa hal ini tidak seharusnya dibicarakan saat ini, apalagi di tempat seperti ini.


“Maaf, Bisma. Jangan bicarakan yang engga-engga dulu. Ara masih dalam proses pemulihan. Lagipula, Ara masih sama Morgan kok,” ujar Ara, membuat Bisma menunduk malu mendengarnya.


‘Gue cuma gak mau kalah start dari mereka, Ra,” batin Bisma, yang merasa bersalah, dan merasa ucapan Ara ada benarnya juga.


“Sorry,” ujar Bisma, Ara hanya bisa mengangguk kecil mendengarnya.


“Ya udah, Bisma ngantuk gak? Bisma tidur aja kalau ngantuk,” ujar Ara, membuat Bisma pun menggelengkan kecil mendengarnya.


“Gue gak ngantuk. Lagian, besok libur juga. Gue pasti bakalan begadang demi lo,” ujar Bisma, membuat Ara merasa sangat terharu mendengarnya.


‘Bisma itu baik, tapi dengan caranya sendiri. Dia perhatian, walaupun kadang suka marah-marah gak jelas. Beda sama Morgan yang memang membentak Ara dengan cara kasarnya, atas kesalahan Ara. Kalau Bisma yang membentak, Ara malah ngerasa Bisma lagi kasih perhatian ke Ara,’ batin Ara, yang mulai membandingkan antara Bisma dan juga Morgan.

__ADS_1


“Gue nanti suruh Ujang, buat gentian jagain lo pagi. Sekarang, biar gue yang jagain lo sampai pagi,” ujar Bisma, Ara pun sedikit terkejut lalu mengangguk kecil mendengarnya.


Mereka berbincang bersama, mengatakan hal yang bisa mereka ceritakan. Ara mulai tertawa, dan Bisma pun juga sudah mulai tertawa di hadapan Ara. Mereka sama-sama melepaskan ketegangan suasana yang tercipta, semenjak Bisma mengutarakan perasaannya terhadap Ara.


Terlebih lagi, Ara yang memang semakin menyukai Bisma, membuatnya merasa sangat senang bisa melakukan hal ini bersama dengan Bisma.


Kejadian ini ternyata juga ada hikmahnya. Ia merasa senang, karena hal ini bisa membuat mereka bertambah dekat lagi, seperti sebelumnya.


Ara pun terlelap, karena reaksi obat yang mengandung ibuprofen. Hal itu membuat Ara sangat mengantuk, dan akhirnya terlelap walaupun Bisma masih mengatakan hal yang ingin ia katakan padanya.


Melihat Ara yang terlelap di hadapannya, Bisma malah semakin gemas dengan Ara. Ia terlihat sangat polos, dengan wajah yang pucat seperti sekarang ini.


“Ra, gue suka banget sama lo. Gue gak mau hanya karena Morgan atau Reza, lo ngejauhin gue begini. Awalnya memang gue udah ada rasa sama lo, tapi gue masih ragu akan lanjut atau engga. Gue gak tahu, rasa ini boleh dilanjutkan atau tidak, yang penting gue gak bisa melepaskan lo begitu aja,” gumam Bisma, sembari mengelus lembut punggung tangan Ara.


Bisma sesekali mengecup punggung tangan Ara, membuatnya merasa sangat ingin memiliki Ara seutuhnya.


“Ra, kapan kita bisa pacaran ya? Gue udah gak bisa begini terus sama lo,” gumam Bisma lagi, yang merasa sudah tidak kuat menahan perasaan ini dengan Ara.


***


“Den Bisma, bangun Den, handphone-nya bunyi,” ujar Ujang yang sudah sedari tadi berada di ruangan kamar rawat Ara.


Bisma tersadar, dan memandang ke arah Ujang dengan bingung. Ia mendengar suara handphone-nya yang berdering, membuatnya mengeluarkannya dari saku celananya.


“Kapan dateng?” tanya Bisma.


“Baru aja Den,” jawab Ujang, Bisma pun mengangguk kecil lalu segera menerima telepon yang entah dari siapa itu.


“Halo,” sapa Bisma, tetapi tidak ada suara untuk menjawabnya.

__ADS_1


“Halo?” sapa Bisma lagi, tetapi masih tidak ada suara untuk menjawabnya.


“Ah, signal ga ada kali ya di sini?” gumam Bisma, yang lalu segera keluar dari ruangan Ara untuk mencari signal.


“Halo, ini siapa ya?” tanya Bisma, yang penasaran dengan siapa yang menghubunginya.


“Halo, Bisma. Ini gue,” ujar seorang gadis, yang membuat Bisma mendelik kaget mendengarnya.


“Adele?” gumam Bisma tak percaya.


Gadis ini menghubungi Bisma dengan nomor barunya, membuat Bisma tak menyangka dengan hal itu.


“Yes, Bisma, Ini gue, Adele,” ujar Adele, merasa sudah lama tidak menghubungi Bisma.


Mengingat perkataan Morgan kala itu menyangkut Adele, Bisma menjadi merasa sangat kesal dengan keadaan.


“Mau apa lo hubungin gue?” tanya Bisma dengan ketus, karena kesal dengan Adele yang lebih dulu menemui Reza dibandingkan dirinya.


“Jangan ketus begitu, dong. Gue mau ketemu, apa bisa?”


Bisma menghela napasnya dengan panjang, berpikir dengan apa yang akan ia putuskan. Sudah terlalu kesal dengan sikap Adele yang mencari Reza lebih dulu, Bisma jadi merasa malas bertemu dengannya. Namun, Bisma juga tidak munafik. Ia masih menyimpan perasaannya pada Adele, sehingga membuatnya menyetujui apa yang Adele inginkan.


“Ya, bisa.”


“Oke, hari ini di taman dekat rumah lo,” ujar Adele, Bisma pun mengangguk kecil mendengarnya.


“Ya, sekarang gue ke sana,” ujar Bisma, yang langsung memutus sambungan teleponnya dengan Adele.


Sejenak Bisma menghela napasnya, membuatnya merasa kesal dengan keadaan yang ada.

__ADS_1


“Adele, kenapa dia muncul lagi setelah menemui Reza? Apa yang mereka bicarakan juga saat itu?” gumam Bisma, merasa kesal dengan keadaan.


__ADS_2