
Morgan menghela napasnya dengan panjang, karena ia harus bisa mengendalikan dirinya di hadapan Ara.
Pernah pada suatu masa, Morgan sampai melakukan hal yang tidak baik dengan gadis yang ia sukai. Namun, ia menyesal dengan apa yang ia lakukan. Maka dari itu, setelah putus hubungan dengan gadis itu, Morgan tidak ingin membuka hati lagi dengan gadis mana pun. Ia tidak ingin kejadiannya sama seperti dirinya dan juga mantan kekasihnya itu.
Sampai akhirnya ia bertemu dengan Ara, yang membuatnya kembali merasakan cinta lagi. Namun, Morgan tidak ingin menggunakan nafsunya lagi, karena ia menyadari ini adalah negara yang ada aturannya. Sebelumnya Morgan melakukan hal itu, karena ia sedang tinggal di luar negeri, yang minim peraturan mengenai ****.
Asal suka sama suka, tidak masalah.
Namun, saat ini Morgan berusaha keras untuk menjaga Ara. Ia tidak ingin mendapatkan masalah lagi, apalagi Ara adalah adik dari Bisma, yang merupakan sahabatnya.
Morgan membuang pandangannya dari Ara, karena tak kuasa memperlihatkan wajahnya yang sudah memerah karena berusaha menahan hasratnya pada Ara.
‘Dia gak lihat wajah gue yang merah, ‘kan?’ batin Morgan, khawatir jika Ara mengetahui dirinya yang sedang menahan hawa nafsunya itu.
Ara masih mendelik, karena masih tidak percaya dengan apa yang Morgan lakukan padanya.
‘Dia beneran nyium Ara tadi?’ batin Ara, masih tidak percaya dengan apa yang sudah terjadi di antara mereka.
Hujan semakin deras saja, membuat Morgan tidak bisa melakukan apa pun. Untuk mengganti ban mobilnya, itu pasti akan membutuhkan waktu yang cukup banyak. Morgan tidak ingin bajunya menjadi basah, karena hujan yang masih deras itu.
“Hujannya deras banget, gimana mau ganti ban?” gumam Morgan, yang membuyarkan konsentrasi Ara.
Ara merasa malu, lalu setelah kesadarannya kembali, ia pun menunduk dengan wajah yang kini sudah memerah.
“Iya, hujan deras banget,” respon Ara dengan nada seadanya, membuat Morgan tersadar dan segera memandang ke arah Ara.
Terlihat Ara yang saat ini sedang menunduk, dengan wajah yang memerah. Hal itu membuat Morgan merasa sangat kaget, karena ternyata Ara juga mengalami perasaan yang sama dengan yang ia rasakan.
‘Dia ... malu?’ batin Morgan, heran dengan yang Ara rasakan.
Mereka akhirnya menunggu sampai hujannya reda, dengan mereka yang tidak melakukan apa pun. Mereka hanya diam, sembari melihat-lihat sekeliling mereka dengan perasaan yang canggung.
Handphone Ara berdering dengan keras, membuat mereka terkejut karena mendengar suara dering yang mengagetkan bagi mereka.
__ADS_1
Ara lekas mengambil handphone-nya, lalu segera melihat di layar handphone-nya. Tertera nama Bisma di layar, membuat Ara mendelik kaget dengan Bisma yang ternyata menghubunginya.
‘Bisma nelepon?’ batin Ara kaget.
Morgan penasaran dengan orang yang menghubungi Ara. Matanya sedikit melirik ke arah layar handphone Ara, sampai ia melihat nama Bisma tertera di layar handphone Ara.
“Bisma, ya?” tanya Morgan datar, Ara memandangnya dengan tatapan yang bingung, lalu mengangguk kecil mendengarnya.
Walaupun di hati Morgan menggebu perasaan tak rela, tetapi ia sadar kalau Bisma adalah kakaknya Ara. Biar bagaimanapun juga mereka tetap adik dan kakak. Namun, mengetahui perasaan Bisma pada Ara, Morgan jadi merasa agak canggung dengan Bisma sekarang.
“Angkat dulu aja. Bilang apa adanya, kalau ban mobil gue bocor, dan kita kejebak hujan,” ujar Morgan, membuat Ara mengangguk mendengarnya.
Ara pun menerima telepon dari Bisma, dengan hati yang berdebar.
“Halo, Bisma?” sapa Ara.
“Pulang sekarang.”
“Kita ... kejebak hujan, Bis. Ban mobil Morgan bocor, jadi Morgan gak bisa ganti ban dulu,” ujar Ara menjelaskan apa adanya, sesuai dengan yang Morgan perintahkan.
Mendengar hal itu, Bisma pun menghela napasnya dengan panjang. “Kasih handphone-nya ke Morgan,” suruhnya.
Ara pun memandang ke arah Morgan, lalu memberikan handphone tersebut ke arah Morgan. Morgan menerimanya, dan mulai mendengarkan suara Bisma dari kejauhan sana.
“Ada apa, Bis?” tanya Morgan.
“Biar gue yang jemput Ara,” ujar Bisma tanpa basa-basi, Morgan sedikit terdiam mendengarnya.
“Setelah hujan reda, gue janji langsung antar Ara sampai ke rumah,” ujar Morgan, yang secara tidak langsung menolak apa yang Bisma katakan padanya.
Bisma mengerti maksud dan ucapan Morgan. Karena ia tidak ingin berdebat di telepon, ia pun akhirnya memutus sambungan telepon dengan Morgan.
Morgan setengah bingung, langsung mengembalikan handphone Ara padanya.
__ADS_1
“Bisma mau jemput lo,” ujar Morgan datar, membuat Ara memandangnya dengan bingung.
“Jemput Ara? Terus kenapa Morgan gak ngizinin?” tanya Ara polos.
Morgan memandangnya dengan dalam, “Karena lo orangnya polos, gue kasih tau apa adanya aja ya. Gue tipe orang yang cemburuan,” ujarnya, sontak membuat Ara mendelik kaget mendengarnya.
“Cemburu? Sama Bisma?” tanya Ara tak percaya, Morgan hanya memandang Ara dengan datar.
“Kalian berdua bukan saudara kandung, bukan hal yang tidak mungkin kalau kalian memiliki perasaan satu sama lain,” ujar Morgan menjelaskan, sontak membuat Ara mendelik kaget mendengarnya.
“Apa maksudnya? Tapi Bisma gak suka sama Ara. Bisma aja melakukan hal yang gak baik sama cewek itu, jadi mungkin cewek itu adalah pacar Bisma,” ujar Ara yang masih belum menyadari kejadian yang sebenarnya.
“Itu bukan kemauan Bis—”
Ucapan Morgan terpotong, karena ia terdiam dan teringat dengan keadaan yang terjadi. Ia tidak bisa memberitahukan hal ini pada Ara, karena bisa jadi jika ia memberitahu hal ini pada Ara, Ara jadi berpikir untuk memaafkan Bisma, dan menerima Bisma untuk menjadi kekasihnya.
Morgan tidak menginginkan hal itu terjadi.
‘Jangan sampai keceplosan. Biarkan mereka seperti ini. Setidaknya, walaupun saat ini gue udah menang dari Bisma, bukan hal yang tidak mungkin kalau nantinya mereka akan bersama,’ batin Morgan, yang menyadari akan hal tersebut.
Ara mengerutkan dahinya bingung, “Maksudnya gimana, Gan?” tanyanya, Morgan kembali pada kesadarannya dan menggelengkan kepalanya di hadapan Ara.
“Ga ada apa-apa. Ya udah, kita tunggu aja hujannya berhenti. Nanti kita langsung pulang. Untuk kakiage yang jatuh, nanti kita beli lagi, ya. Yang sudah jatuh janganlah dipungut. Yang sudah hilang, janganlah dicari. Yang sudah mengecewakan, janganlah diberi kesempatan kedua,” ujarnya dengan kata-kata yang tersirat di setiap perkataannya.
Ara memandangnya dengan bingung, “Hah? Maksudnya apa, Gan?” tanyanya lagi, yang benar-benar sangat polos dan tidak mengerti apa yang Morgan umpamakan.
‘Gue lagi mengumpamakan Bisma. Jangan lo kasih kesempatan kedua buat Bisma yang udah ngecewain lo,’ batin Morgan, yang gemas dengan Ara yang terlalu polos, sehingga tidak bisa menangkap maksud dari perkataan yang ia ucapkan padanya.
“Enggak,” tepis Morgan singkat, membuat Ara memandangnya dengan heran.
‘Pasti ada yang Morgan maksud, yang gak aku ngerti,’ batin Ara, yang sudah bisa memikirkan sampai hal seperti itu.
***
__ADS_1