Kakak Biologis Love Story

Kakak Biologis Love Story
Alasan Berangkat Sekolah Duluan


__ADS_3

“Padahal, aku menganggap Bisma adalah sosok yang sangat berharga sebagai pengganti Ibu. Tapi kenapa dia bersikap acuh padaku, jika aku dekat dengan Reza? Seharusnya ... dia senang, jika adiknya selalu dijaga oleh orang lain, saat dirinya tidak ada di samping adiknya,” gumam Ara lagi.


Tak akan habis jika Ara selalu berpikir yang tidak ia ketahui. Akhirnya ia pun memilih melupakan kejadian ini, dengan menghela napas panjang.


“Mendingan, Ara makan,” ujarnya lirih, yang kemudian langsung menyantap makanan yang sudah Bisma siapkan tadi.


Ara senang sekali, mendapatkan perhatian seperti ini dari Bisma.


***


Pagi ini, Ara sudah siap untuk pergi ke sekolah. Ia melangkah menuju ke arah ruang makan untuk sekadar sarapan, mengisi perutnya yang sudah keroncongan.


“Aduh ... laper juga ya!” Ara mendumel lirih, karena merasakan lapar yang tak seperti biasanya.


“Pagi, Non,” sapa para pelayannya.


Mendengar sapaan mereka, Ara pun melontarkan senyum ke arah mereka. Namun, seketika senyumannya sirna, karena ia tidak melihat keberadaan Bisma di sana. Ara bingung bukan kepalang, tak tahu ke mana perginya Bisma.


“Lho ... Bisma mana?” tanya Ara, mereka semua hanya diam menunduk dan tidak mau menjawab pertanyaannya.


Aku menatapnya bingung, “Oh ... Bisma masih di kamarnya ya? Oke deh Ara ke kamarnya dulu—”


“Non ....” Seorang pelayan berhasil membuat Ara menghentikan langkahnya.


Ara pun menatapnya dengan heran. “Loh ... kenapa?” tanyanya heran.


Mereka saling melempar pandangan satu sama lain, membuat Ara merasa seperti ada keanehan di sini.


Ara mengerutkan dahinya, “Ada apa sih? Kok kalian tiba-tiba jadi aneh gini?” tanya Ara yang sedikit sinis pada mereka.

__ADS_1


“Maaf Non, Den Bisma ... tadi pagi-pagi sudah berangkat. Tuan Bramantyo juga ... sepertinya belum pulang sejak kemarin, Non,” ujar kak Yiyi menjelaskan dengan sangat ragu.


Mendengar penjelasan pelayan, Ara mendelik tak percaya dengan apa yang ia dengar.


‘Ada apa ini? Apa harus, Bisma meninggalkanku seperti ini? Apa Bisma benar-benar marah padaku?’ batin Ara, yang benar-benar tak habis pikir dengan Bisma.


***


Karena tidak tahu lagi harus bagaimana, Ara pun terpaksa berangkat dengan diantar oleh sopir yang bekerja di rumahnya. Sepanjang jalan Ara hanya berpikir, tentang Bisma yang baru pertama kali ini meninggalkannya pergi ke sekolah.


‘Kenapa Bisma sampai hati seperti itu padaku? Apa ... dia sengaja, ingin membuat jarak di antara kita?’ batin Ara, masih terus memikirkan hal ini.


Setelah sampai di pelataran gedung sekolahnya, Ara pun memandang ke arah sang sopir dari arah kaca spion yang berada di hadapannya.


“Pak, pulangnya jangan dijemput ya. Siapa tau Bisma mau bareng lagi sama Ara,” ucap Ara, membuat sangat sopir mengangguk kecil mendengarnya.


Ara pun keluar dari mobilnya, lalu melangkah gontai menuju ke arah kelasnya. Setelah keluar dari lift, ia tak sengaja melihat Bisma yang sedang bersama dengan seorang gadis, yang sangat asing baginya. Pandangan mereka bertemu, sampai membuat Ara mendelik tak percaya melihatnya.


‘Bisma? Sedang sama siapa dia? Sepertinya ... mereka terlihat sangat mesra, walaupun Bisma tidak melakukan apa pun. Pergerakannya pun, hanya didominasi oleh gadis itu saja. Ternyata, alasan Bisma meninggalkanku tadi adalah ... demi gadis ini? Tak heran, kenapa ia lebih mementingkan kepentingan gadis itu daripada kepentinganku,’ batin Ara, yang kini sudah mengetahui alasan Bisma meninggalkannya pagi-pagi sekali, tak seperti biasanya.


Bisma dan Gladis menoleh ke arah Ara, membuat Ara terkejut, dan langsung melewati ruang di antara mereka. Ara keluar dari lift setelah lift terbuka, dan meninggalkan mereka di sana dengan perasaan yang kesal.


‘Kenapa ... seperti ini saja sudah cukup membuat hatiku sakit? Ada apa dengan hati ini? Tiba-tiba saja, napasku terasa sesak. Apa sekarang, aku sedang terkena serangan jantung mendadak? Kenapa aku sakit melihat gadis itu menggandeng lengan Bisma? Aku tidak mengerti dengan perasaanku ini. Entah apa yang aku rasakan sekarang. Aku hanya tidak ingin bertemu dengan Bisma untuk sementara waktu,’ batin Ara, benar-benar sangat bingung dengan keadaan yang ia lihat.


Ara tidak mengerti, perasaan yang ia rasakan adalah rasa cemburu dan bukan serangan jantung. Ia hanya tidak tahu arti dari gejala yang ia rasakan saja.


Beberapa saat berlalu, Ara pun kini telah sampai di kelasnya. Ia kemudian duduk dikursinya seperti biasa, dengan perasaan yang tidak enak.


‘Kenapa aku merasa sangat kesepian? Padahal di kelas ini, ada banyak sekali siswa yang membuat keributan. Aku seperti kesepian dalam keramaian,’ batin Ara, yang hanya bisa duduk diam sembari memandang ke arah mereka yang sedang berbincang seru bersama.

__ADS_1


“Pagi semua.” Tiba-tiba saja seorang guru pun masuk ke dalam kelas. Ara mendadak merasa sangat tidak enak badan.


‘Aku gak enak badan. Apa mungkin karena tidak sempat sarapan tadi? Entahlah,’ batin Ara.


“Apa ada tugas yang belum dikoreksi?”


“Tidak ada, Bu.”


“Baiklah, mari kita lanjutkna ke halaman selanjutnya.”


Ara mencoba mengikuti pelajaran yang beliau berikan. Ia sama sekali tidak ingin terlewat satu jam pun, untuk menimba ilmu di sini. Itu sama saja sudah membuang-buang kesempatan untuk menjadi yang terbaik. Dalam hati kecilnya, Ara ingin membuktikan kepada semua orang, bahwa gadis desa sepertinya pun bisa mengalahkan mereka.


“Jika diketahui ‘a’ per ‘b’ sama dengan ....”


Ara terus mendengarkan perkataan yang gurunya ucapkan, walaupun ia sama sekali tidak fokus dengan keadaan yang ia lihat saat ini.


‘Aneh sekali, hari ini ... kenapa aku tidak bisa sama sekali fokus pada pelajaranku?’ batin Ara, yang juga terus-menerus merasa pusing dan sesekali merasakan kepala yang tertusuk-tusuk. Karena merasakan hal seperti itu, Ara pun berusaha membenarkan fokusnya dengan membuka-tutup matanya dengan cepat.


Beberapa saat berlalu, tetapi fokusnya belum juga kembali.


‘Aku harus bagaimana? Aku sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi,’ batin Ara, yang benar-benar tidak tahu harus bagaimana lagi.


Ara pun mengambil sikap untuk meminta izin kepada gurunya. “Bu ... saya izin ke toilet sebentar.”


***


Ara berjalan gontai menyusuri balkon ruangan kelasnya, karena ia sudah tidak kuasa menahan rasa sakit yang ia rasakan. Ara terpaksa untuk meminta izin, untuk menuju ke toilet. Ara tidak mau mengatakan yang sejujurnya, karena ia tidak ingin mereka berpikir bahwa dirinya hanya mengada-ada, dan tidak mau mengikuti pelajarannya.


Langkah Ara lamban sekali, membuatnya sangat kesal karena tidak bisa cepat mendapatkan pertolongan pertama, untuk rasa sakit yang ia derita saat ini. Tangannya merambah, dan berjalan sembari memegangi pinggir dinding. Tak ada cara lain lagi, Ara harus melakukan ini, supaya ia bisa menjaga keseimbangannya saat berjalan.

__ADS_1


__ADS_2