Kakak Biologis Love Story

Kakak Biologis Love Story
Menantang Reza


__ADS_3

Karena Morgan menoleh ke arah Reza, Ara pun menoleh ke arah Reza, yang ternyata diam-diam sedang memerhatikan mereka dari arah kursinya. Melihat kejadian itu, Ara pun merasa tak enak dengan Reza.


Reza yang sudah ketahuan dengan Morgan, segera membuang pandangannya dari mereka.


‘Reza perhatiin kita?’ batin Ara, heran dengan apa yang Reza lakukan.


Ara pun kembali memandang ke arah Morgan. “Bisma?” tanyanya yang berusaha untuk meyakinkan diri sendiri, dengan Morgan yang hanya mengangguk.


Tanpa pikir panjang, Ara pun langsung membuka kotak tersebut. Di dalamnya, terlihat sebuah tas yang sangat bagus. Ini adalah kali pertama Ara melihat tas seperti ini. Biasanya, ia hanya melihat dari majalah saja.


‘Wah ... tas! Kebetulan tas Ara udah rusak!’ batin Ara, yang merasa sangat senang menerima hadiah seperti ini dari Bisma.


Ara yang senang, membukanya dan mencocokkannya. Ternyata, ia merasa tas ini bagus juga.


‘Bisma sangat pandai dalam memilih barang. Seleranya sangat bagus, membuatku sangat senang. Tak kusangka, Bisma sebaik ini padaku,’ batin Ara, benar-benar sangat senang menerima hadiah ini dari Bisma.


“Udah lama dia mau kasih, tapi gak pernah sempat,” ujar Morgan, yang menarik perhatian Ara.


‘Hah? Apa Bisma benar-benar ingin memberikanya padaku sejak lama? Aku tidak tahu, kalau dia tidak mempunyai kesempatan. Padahal, aku dan dia tinggal di rumah yang sama. Harusnya, dia bisa memberikannya kapan saja. Tapi, baguslah! Aku jadi bisa memindahkan barang-barangku ke dalam tas yang Bisma berikan ini,’ batin Ara yang merasa sangat senang karenanya.


Melihat kedekatan Ara dengan Morgan, Reza pun teringat dengan saat terakhir kali ia mengajak Ara pulang bersama. Morgan tiba-tiba saja langsung datang, dan menarik tangan Ara sehingga Ara terpaksa mengikuti ke mana Morgan melangkah.


‘Jangan sampai mereka pulang bareng lagi!’ batin Reza, yang benar-benar tak rela melihat mereka pulang bersama kembali.


“Gimana, Ti? Mau pulang bareng gue gak?” tanya Reza tiba-tiba, membuat Ara mengalihkan fokus ke arahnya.


Ara bingung, saking bingungnya ia hanya bisa memandang Reza saja. ‘Aku harus menjawab apa? Sudah terlalu sering aku menolaknya,’ batinnya.

__ADS_1


Morgan memandang datar ke arah Reza. “Biar gue yang anter Ara,” ucap Morgan terdengar sangat gentle.


Ara tak mengerti dengan kejadian ini, ‘Mengapa mereka semua memperebutkanku seperti ini? Tidak ada Bisma, tapi ada Morgan,’ batinnya sembari menghela napasnya dengan panjang.


“Gak bisa gitu dong, kita belum tau jawaban Siti apa!” tepis Reza terdengar seperti orang yang tidak terima dengan apa yang Morgan katakan.


Morgan memandang ke arah Ara dengan tegas. “Lo mau pulang bareng dia, atau bareng gue?” tanya Morgan dengan tegas, sontak membuat Ara bingung mendengarnya.


“Eh ....” Ara menyeringai tipis karena bingung, tak paham harus mengatakan apa kepada mereka.


Keadaan ini benar-benar membuat Ara menjadi sangat bingung. Ia tidak bisa memilih, karena Morgan dan Reza sama-sama memaksanya untuk pulang bersama mereka.


“Pulang bareng gue aja, Ti! Rumah lo kan deket sama rumah gue!” sambar Reza, membuat Ara merasa tidak mungkin lagi untuk membawa Reza ke rumah, mengingat Bisma yang masih sakit akibat ulah Reza waktu itu.


Tak bisa Ara pungkiri, ia juga masih menyimpan amarahnya pada Reza. Namun karena Reza sudah menyelamatkannya dari Ilham tadi, Ara jadi sedikit melupakannya.


Ara menghela napasnya dengan panjang, “Maaf ya, Za ...,” lirih Ara yang berusaha membuat Reza mengerti.


Di sana Reza terlihat diam, dan hanya bergeming mendengarnya. Ara terpaksa mengatakan ini pada Reza. Ia tak ingin jika Bisma marah lagi padanya. Ara terpaksa harus menjauhi Reza sebisa mungkin, karena ia tidak ingin sampai Bisma mengalami hal-hal yang bisa membahayakan keselamatannya lagi. Ara sungguh tidak tega melihatnya.


Morgan menatap datar dan dingin ke arah Reza. “Lo udah denger Ara ngomong, ‘kan?” Morgan tiba-tiba menarik tangan Ara, sampai berjalan melewati Reza.


Ara tidak bisa berkata apa pun saat melewati Reza. Ia hanya diam, sembari memandangi Reza ketika sedang melewatinya.


Melihat kepergian Ara, Reza sungguh-sungguh tidak rela. Ia merasa sudah kalah oleh Bisma dan juga Morgan.


“Kenapa gak ada Bisma, malah ada Morgan sekarang?” gumam Reza yang geram dengan apa yang terjadi di antara dirinya dan juga Ara.

__ADS_1


Kini Ara sudah berada di dalam mobil Morgan. Ia merasa sangat canggung. Ara melirik ke arah Morgan, yang sedang fokus mengendarai mobilnya.


Percakapan Morgan dengan Reza tadi, selalu terngiang di kepala Ara. Ia jadi merasa, kalau dirinya adalah seorang pembuat masalah. Belum habis masalahnya dengan Bisma, sudah muncul masalah baru lagi, antara Reza dan juga Morgan.


‘Kalau dipikir kembali, apa ada yang salah denganku, sehingga mereka terus memperebutkanku?’ batin Ara merasa heran dengan apa yang terjadi dengannya.


Ara pun menoleh ke arah Morgan, dan memerhatikannya dengan saksama. Matanya membulat, ketika melihat sesuatu yang ada pada diri Morgan secara dekat.


‘Ternyata, Morgan terlihat sangat manis ketika sedang diam seperti itu,’ batin Ara yang baru menyadari hal ini.


Morgan mengetahui Ara yang sedang memerhatikannya. Ia merasa sedikit senang, karena Ara yang memerhatikannya seperti itu.


“Gak usah ngeliatin gue,” ujar Morgan dengan sangat percaya diri, membuat Ara terkekeh mendengar respon darinya.


“S-siapa juga yang liatin kamu!” tepis Ara dengan kaku, lalu langsung membuang pandangannya dari Morgan, berharap Morgan tidak memerhatikannya lagi.


Ara merasa suasana menjadi canggung, padahal Morgan bersikap biasa saja di hadapannya. Ara memang tidak bisa berhadapan dengan lelaki mana pun, karena hal itu bisa membuatnya canggung.


Dalam diamnya, Ara teringat tentang Bisma. ‘Kalau dipikir kembali, aku belum sempat mengenal Bisma secara keseluruhan. Apa ... aku bisa bertanya pada Morgan?’ batinnya yang merasa harus melakukan ini.


Jika bukan dengan Morgan, harus dengan siapa lagi ia bertanya mengenai Bisma?


Ara kembali memerhatikan tas yang Bisma berikan padanya. Tas ini sesuai dengan selera Ara, dan terlihat sangat manis menurutnya. Tak sadar, Ara pun tersenyum karena melihat tas pemberian Bisma ini. Hal itu disadari Morgan, dan ia hanya bisa diam sembari mempersiapkan untuk meledek Ara.


“Cie ... senyum sendirian aja,” ledek Morgan tiba-tiba, membuat Ara terkejut dan spontan menoleh ke arahnya.


‘Apa benar aku tersenyum? Aku tidak menyadari kalau aku tersenyum, sembari memandang tas ini,’ batin Ara, yang tidak menyadari akan hal itu.

__ADS_1


“Emangnya ... tadi aku senyum, ya?” tanya Ara dengan ragu, Morgan hanya diam tak merespon pertanyaannya.


__ADS_2