
Saking girangnya, Ara langsung saja menghampiri Bisma yang ada di belakangnya.
Ara sudah berhadapan dengan Bisma.
“Bisma, gimana penampilan Ara? Cantik gak?” tanya Ara, sembari menghampirinya dengan riang.
Ara merasa sudah lebih percaya diri sekarang. Karena alat ini membuatnya tidak harus mengenakan kacamata lagi.
Melihat penampilan Ara tanpa mengenakan kacamata, Bisma memandangnya dengan tatapan aneh lagi. Ia bergeming, tak mengatakan apa pun dan hanya memandangnya saja.
‘Apa ia tidak mendengar pertanyaanku tadi?’ batin Ara bingung, sembari melipat dan menyedekapkan kedua tangannya dan mengerucutkan bibirnya.
Ara heran, ‘Kenapa Bisma menjadi aneh seperti ini?’ batinnya lagi.
“Bisma kenapa sih, aku ‘kan nanya ...,” rengek Ara, tetapi Bisma masih saja tidak merespon ucapannya itu.
“Bisma mah pelit! Ara lagi nanya bukannya dijawab malah diem aja!” Ara mendumel kesal, sembari membuang pandangannya dari arah Bisma.
Terdengar suara seperti seseorang yang sedang memotret ke arah Bisma dan juga Ara.
Ara sangat terkejut dan menoleh ke arah sumber suara. Terlihat wanita itu sedang mengarahkan sebuah kamera ke arah mereka.
Ara membulatkan matanya karena bingung, ‘Kenapa ia memotret aku dan juga Bisma?’ batinnya, merasa heran dengan yang wanita itu lakukan padanya.
Wanita itu tersenyum manis ke arah Ara dan Bisma. Sesuatu keluar dari dalam kamera itu. Ia mengambilnya lalu mengibas-ngibasnya, kemudian melihat hasil dari jepretan yang ia ambil.
“Wah kalian berdua so sweet banget sih! Aku jadi iri!” ucapnya, yang kemudian memberikan selembar foto itu pada Ara.
Ara menerimanya dengan rasa penasaran, dan melihatnya dengan saksama.
Terlihat gambar Ara yang sedang kesal pada Bisma, dan Bisma yang hanya terdiam sembari menatap kaget ke arah Ara.
Melihat foto yang ia pegang itu, Ara hanya bisa menahan tawanya. Menurutnya, foto ini cukup lucu karena diambil dengan keadaan yang tidak sengaja.
“Lucu banget sih ....” gumam Ara teriring tawanya yang terdengar renyah.
__ADS_1
Bisma tak tahan mendengar Ara menertawakan foto kebersamaan mereka, dan segera mengambil foto yang sedang Ara pegang itu. Karena merasa gerakan Bisma yang tiba-tiba, Ara pun merasa kaget, dan spontan melihat ke arahnya.
“Eh ....” Ara terkejut, Bisma kemudian memperhatikan foto itu dengan saksama.
‘Tatapannya biasa saja! Malah menurutku, dia sangat datar memandangnya,’ batin Ara, merasa sedikit kesal melihat responnya yang seperti itu.
“Apa sih? Jelek banget!” ucap Bisma kasar, Ara menjadi malas setelah mendengar Bisma mengatakan itu.
‘Apa aku terlalu buruk di mata Bisma?’ batin Ara kesal.
Ara memandang sinis ke arah Bisma, “Jadi maksud Bisma, Ara jelek gitu? Terus percuma dong, Ara dandan menor kayak begini, tetep aja Bisma masih ngatain Ara jelek!” bentak Ara dengan kesal, yang lalu kembali menyedekapkan tangannya dan mengerucutkan bibirnya.
Ara terus-menerus menggerutu pada Bisma, tetapi Bisma sama sekali tidak menghiraukannya. Ia mengeluarkan sesuatu dari dompetnya, semacam kartu lalu memberikannya kepada pelayan itu.
Karena merasa penasaran, Ara pun menghentikan aktivitasnya, bingung melihat sesuatu yang Bisma keluarkan dari dompetnya itu.
“Itu apa?” tanya Ara dengan nada polos.
Bisma terlihat mengambil kembali kartunya dari tangan wanita itu, “Kalau loe mau, ambil aja! Gue punya banyak yang kayak gitu,” ucap Bisma dengan datar, kemudian melemparkan kartu itu ke arah Ara.
Ara menatap Bisma dengan tatapan kesal, “Ih Bisma mah apaan sih? Main lempar-lempar aja! Gimana kalau kartunya jatuh terus hilang? Pasti Ara yang disalahin lagi!” bentak Ara dengan geram.
Beberapa orang terlihat sedang berbisik dari arah belakang Ara. Ara yang menyadarinya, seketika melirik sedikit ke arah mereka, yang memang benar sedang berbisik sembari melihat ke arahnya.
“Itu ‘kan, kartu yang katanya unlimited!” lirih orang itu yang masih terdengar samar oleh Ara.
“Apa dia orang kaya?”
“Kelihatannya sih gitu ....”
“Siapa itu di sebelahnya? Kayaknya penampilannya biasa aja!”
“Iya! Kok dia mau ya sama orang kayak gitu?” ucap kedua orang itu, membuat Ara menunduk sendu mendengarnya.
‘Kenapa aku tidak lepas dari cibiran mereka semua? Di mana pun aku berada, aku pasti selalu dicibir. Aku menjadi tidak percaya diri kembali. Apa orang sepertiku tidak boleh berbahagia, walau hanya sedikit?’ batin Ara, yang merasa sedikit kesal, banyak sedihnya, karena mendengar ucapan yang menyakitkan hatinya itu.
__ADS_1
Tak ingin membiarkan mereka mencibir Ara, Bisma pun menghela napasnya dengan panjang. Ia melangkah dan tiba-tiba saja berdiri di sampingAra. Ia merangkul bahu Ara hingga membuatnya sampai terkejut.
“Ayo kita pergi, Sayang!” ucap Bisma dengan datar, membuat Ara kembali melirik ke arah mereka yang telah mencibirnya.
Wajah mereka terlihat kesal, sesaat setelah Bisma merangkulnya dengan mesra.
‘Ada apa ini? Kenapa mereka tidak senang jika Bisma merangkulku? Aku bahkan tidak mengenal mereka. Tapi, apakah Bisma mengenalnya?’ batin Ara, kebingungan dengan apa yang mereka lakukan padanya.
Ara berjalan bersama Bisma, keluar dari salon tersebut. Sepatunya ternyata terlalu sempit, membuat kakinya terasa sangat sakit.
“Aww ...,” gumam Ara, yang seketika berhenti saat sedang berjalan bersama dengan Bisma. Bisma pun ikut berhenti, dan melihat ke arahnya dengan bingung.
“Loe kenapa?” tanyanya.
Ara memandangnya dengan bingung, ‘Apa aku harus jujur saja padanya? Tapi, nanti dia marah dan malah tidak mau mengajakku lagi ke mall,’ batin Ara, yang merasa bimbang untuk memberitahu kepada Bisma tentang kakinya itu.
Alhasil, Ara hanya bisa menggelengkan kepalanya saja, sembari tetap melihat ke arah kakinya.
Bisma merasa bingung, karena ia melihat ke arah Ara yang sedari tadi hanya bisa mengalihkan perhatiannya saja.
‘Sepertinya, ada sesuatu yang terjadi. Ia terus-menerus melihat ke arah kakinya. Apa ada yang salah dengan kakinya?’ batin Bisma, yang merasa sangat heran dan penasaran dengan apa yang terjadi dengan Ara.
Bisma yang penasaran, langsung saja bersimpuh di hadapan Ara dan membuka paksa sepatu yang ia kenakan.
Ara sontak terkejut, dan salah tingkah ketika Bisma melakukan hal itu padanya.
“Bisma, mau ngapain?” tanya Ara, yang terdengar agak takut mendapatkan apa yang Bisma lakukan padanya.
Mendengar pertanyaan Ara, Bisma sama sekali tidak menghiraukannya dan tetap berusaha membuka sepatu yang ia kenakan.
Sepatu tersebut sudah berhasil terlepas dari kaki Ara. Bisma sontak terkejut, saat melihat luka dan lecet di sekitar kaki Ara.
‘Kenapa dia tidak memberitahukannya padaku?’ batin Bisma, yang menatapnya kesal, karena merasa sudah dibohongi.
Melihat reaksi Bisma yang seperti itu, Ara terlihat sangat tegang.
__ADS_1
“Kenapa loe gak bilang kalau kaki loe sakit?” tanya Bisma dengan datar.