
“Gila ... omongan lo makin lama makin kerasa damage-nya,” ujar Bisma tak habis pikir dengan Morgan.
Morgan terlihat menutup novel yang sedang ia baca, dan mengarahkan pandangannya ke arah Bisma. Mendadak, Bisma merasa sedikit takut padanya.
“Udah deh ... mending lo cerita kalau lagi ada masalah,” ucap Morgan dengan bidikan yang tepat, membuat Bisma mendelik mendengarnya.
‘Kenapa dia bisa sampai tahu kalau aku sedang ada masalah?’ batin Bisma heran, lalu menghela napas panjang dan berusaha mengontrol emosinya.
“Ketahuan ya? Ya, gue tadi ngelihat Ara sama Reza lagi jalan berdua di mall.”
Mendengar ucapan Bisma, membuat Morgan tertawa kecil ke arahnya. ‘Aku jadi penasaran, sebenarnya ... seperti apa penampilan adik tiri dari Bisma itu? Dia dengan mudahnya bisa membuat Bisma sampai seperti ini padanya. Bagiku sih ... tidak masalah jika Bisma mempunyai perasaan padanya, karena dia hanyalah adik tirinya saja,’ batin Morgan, yang benar-benar sangat penasaran dengan sosok Ara.
Morgan menopang tangannya di atas lututnya, sembari menatap Bisma dengan tajam. Entah kenapa Bisma selalu terlihat takut saat Morgan memerhatikan dirinya dengan saksama.
“Jadi intinya, lo cemburu sama Reza?” Morgan berusaha menggunakan trik psikologi untuk membuat Bisma mengakui perasaannya itu. Sejujurnya, Morgan sudah bosan mendengar Bisma dan Reza terus-menerus merebutkan seorang gadis.
Bisma terlihat kaku saat Morgan pandang seperti ini. Namun, Morgan sama sekali tidak memedulikannya. Justru, dengan cara seperti inilah Morgan bisa mengetahui isi hati Bisma.
“M-maksud lo apa? Gue cemburu sama Reza dan Ara gitu? Haha.” Bisma tertawa setelah mengucapkan kata itu. Tawanya terdengar sangat memaksa, sehingga membuat Morgan berusaha bersikap tenang sembari menyedekapkan tangannya.
“Ngapain gue cemburu sama adik gue sendiri? Apa untungnya buat gue coba?” ucap Bisma terdengar sangat angkuh, membuat Morgan menjadi sangat malas menatapnya.
Morgan pun membuang pandangannya dari Bisma, “Oh ya? Gue jadi penasaran sama adik tiri lo itu. Mungkin aja kalau gue yang deketin, dia mau nerima gue,” ucap Morgan yang tanpa melihat ke arahnya. Ia hanya memandang ke arah hadapannya dan mengatakannya dengan datar.
Bisma mendelik kaget mendengarnya, “Apa-apaan loe?” bentak Bisma terdengar sangat sinis.
Terlihat sekilas wajah Bisma yang memandang Morgan dengan pandangan yang sinis. Morgan melontarkan senyum remeh ke arahnya.
“Kenapa lo marah? Apa gua kurang tampan, buat jadi adik ipar lo?” Morgan benar-benar berusaha menekan keadaan, agar Bisma mengakui perasaannya. Namun, Bisma terlihat sangat menjaga image-nya itu.
__ADS_1
Bisma mengalihkan pandangannya karena malu, membuat Morgan memandangnya dengan tatapan yang tajam.
“Jangan bilang, gue gak pernah peringatin lo ya, Bis,” tambah Morgan, mencoba menggodanya.
Terlihat sangat jelas bahwa reaksi Bisma yang sangat kesal mendengar ucapan Morgan. Tentu Morgan tidak benar-benar berpikir demikian. Ia hanya penasaran saja tanpa ingin menjadikan Ara sebagai kekasihnya.
Untuk mengurus dirinya saja ia sudah sangat kerepotan. Apa lagi harus mengurus orang lain? Itulah yang Morgan pikirkan.
***
“Hah, makan siang bareng?” Mata Ara tiba-tiba saja membulat kaget mendengarnya. Reza yang tiba-tiba saja datang ke rumah Ara, mengatakan hal demikian yang membuat Ara benar-benar kaget mendengarnya.
‘Apa yang dia pikirkan tentangku?’ batin Ara, benar-benar tak habis pikir dengan apa yang Reza pikirkan.
“Gue berharap sih, lo bisa dateng. Karena gue mau ngenalin lo ke ayah sama bunda gue,” ujar Reza, yang semakin membuat Ara merasa resah.
‘ Aku harus meminta izin pada siapa? Ayah sudah berangkat sejak pagi tadi, tak tahu ke mana. Bisma juga belum pulang sejak pagi kemarin. Apa aku boleh meninggalkan rumah ini tanpa meminta izin lebih dulu?’ batin Ara lagi, yang benar-benar memikirkannya.
***
Sementara itu di sana, suara dering handphone Bisma terdengar sangat keras. Bisma sampai merasa terusik karena mendengar dering handphone-nya, yang terus-menerus berbunyi. Perlahan Bisma membuka matanya, dan menoleh ke sekelilingnya.
‘Ternyata aku tertidur di atas ranjang Morgan. Tapi aku tidak melihat keberadaan Morgan di sini. Ke mana perginya Morgan?’ batinnya, benar-benar sangat bingung dengan keadaan ini.
Bisma menggapai handphone-nya yang berada di atas meja sebelah ranjang Morgan. Jam sudah menunjukkan pukul 10 pagi. Bisma harus segera pulang ke rumah untuk menemani Ara, karena kemarin ayahnya mengatakan kalau dia ingin mengunjungi kerabatnya pagi-pagi buta. Bisma khawatir, Reza akan datang lagi dan mengambil kesempatan saat Ara sendirian di rumah.
Bisma pun mendelik, “Ya ampun ... udah siang banget! Gue harus buru-buru balik!” ujar Bisma dengan tergesa-gesa, sembari mencari barang-barangnya yang mungkin saja tertinggal di dalam kamar Morgan.
Setelah memastikan barang-barangnya aman, Bisma pun keluar dari ruang kamar Morgan dan melihat Rafael dan Morgan sedang menyantap makanannya di depan televisi.
__ADS_1
Melihat kedatangan Bisma dari dalam kamar Morgan, Rafael pun langsung melirik ke arahnya dengan tatapan yang hendak menggodanya.
“Tuan raja baru bangun,” sindir Rafael, yang sukses membuat Bisma sedikit tersindir.
“Sialan lo.”
“Mau ke mana pagi-pagi udah rapi?” tanya Morgan tiba-tiba, Bisma yang merasa lapar, merampas mie gelas yang sedang Rafa makan, kemudian dengan segera melahapnya.
“Eh ... punya gue tuh!” Terdengar Rafa yang sepertinya tidak rela makanannya Bisma rebut.
“Bagi dikit yaelah ... gue laper.”
Hanya butuh 5 detik untuk Bisma melahap setengah porsi makanannya. Bisma pun mengembalikannya ke atas meja dan pergi dari hadapan mereka.
Terdengar suara Rafa yang sedang menyumpahinya. Namun Bisma sama sekali tak menghiraukannya, dan malah pergi dari tempat ini dengan segera.
‘Aku harus segera sampai di rumah. Jangan sampai Reza datang di waktu yang tidak tepat!’ batin Bisma, benar-benar harus segera kembali ke rumahnya.
***
Sementara itu di rumah, Ara masih bingung dengan apa yang harus ia ambil. Ia tidak ingin keluar rumah tanpa izin dari ayahnya ataupun Bisma. Ia sudah terbiasa keluar rumah dengan izin ibunya, jadi ia terbawa bahkan sampai ke rumah ini.
“Ara bingung, Za. Papa lagi nggak ada di rumah. Ara nggak tahu mau izin sama siapa buat keluar rumah. Sementara ... Bisma aja belum pulang dari kemarin pagi,” papar Ara menjelaskan, yang sepertinya tanpa sadar sudah menarik perhatian Reza.
Mendengar ucapan Ara, sontak membuat Reza menatap tajam ke arahnya. “Hah, Bisma? Emangnya ... Bisma tinggal di rumah ini?” tanya Reza, benar-benar sangat kaget mendengarnya.
Ara sampai lupa, kalau tidak ada yang tahu mengenai hal ini selain dirinya dan juga Bisma. Itu semua karena ia tidak bisa berbicara dengan siapa pun di kelasnya, selain Reza. Dengan Reza pun terbatas, Ara tidak selalu bisa berbincang dengan Reza.
__ADS_1