Kakak Biologis Love Story

Kakak Biologis Love Story
Ada Titipan


__ADS_3

“Iya. Gue sengaja bawain makanan buat lo. Nyokap gue kebetulan masak tadi pagi,” jawab Morgan dengan datar, Ara terlihat masih kebingungan dengan yang Morgan jelaskan.


“Lho, kalau ini dimasakin ibu, harusnya kamu makan dong?” ucap Ara, yang sama sekali tidak Morgan mengerti.


Morgan hanya diam memerhatikan Ara, dengan Ara yang kemudian menundukkan kepalanya tiba-tiba.


“Ara aja ... seneng banget kalau ibu masakin makanan buat Ara,” ucap Ara, membuat Morgan menjadi kesal mendengarnya.


‘Dia memang tidak mengetahui permasalahanku dengan keluargaku,’ batin Morgan, lalu segera melangkah menuju ke arah pintu keluar.


“Sekarang udah gak bisa. Karena ibu udah ada di surga sekarang.”


Ucapan Ara kali ini membuat Morgan menghentikan langkahnya. Ia baru tahu, kalau ibu Ara sudah meninggal. Morgan jadi melupakan hal yang Bisma katakan padanya.


‘Kalau dipikir kembali, memang betul sih. Bisma bilang, kalau dia adalah adik tirinya. Dengan kata lain, Ara memiliki ibu yang berbeda dengan yang Bisma miliki. Aku jadi sedikit iba padanya,’ batin Morgan.


Pandangan Morgan tak sengaja melihat ke arah jendela. Ternyata, Ilham masih saja menguntit, membuatnya muak dan sengaja untuk berbuat sesuatu yang mungkin saja membuat Ilham merasa jengkel melihatnya.


Morgan kembali ke hadapan Ara dan duduk di sebelah Ara. Terlihat Ara yang selalu mendelikkan matanya pada Morgan, tetapi Morgan sama sekali tidak menghiraukan ekspresinya itu.


Morgan meletakkan tangannya di atas kepala Ara, sembari mengelus lembut rambutnya yang tergerai, tak seperti biasanya. Morgan pun menoleh ke arah Ilham di sana. Wajahnya terlihat sangat tidak senang. Ilham pun lantas pergi dari sana, sehingga Morgan juga menyudahi drama ini. Ia menarik kembali tangannya yang berada di atas kepala Ara.


Mengetahui sikap Morgan yang seperti itu padanya, Ara pun merasa sangat kaget dan malu. Bahkan saat ini wajahnya terlihat memerah karena merasa malu dengan Morgan.


‘Dia kenapa begitu, sih? Kenapa jadi makin mirip kayak Bisma?’ batin Ara, bingung dengan apa yang Morgan lakukan padanya.

__ADS_1


“Makan aja. Anggap aja, ibu gue adalah ibu lo,” ucap Morgan dengan datar.


Perkataan Morgan membuat Ara merasa sangat senang. Terlihat matanya yang berbinar, karena ia sudah tersentuh dengan ucapan Morgan yang mengharukan tadi.


Morgan menjadi iba dengannya. ‘Mungkin ... rasanya sakit sekali karena harus ditinggalkan orang tersayang. Aku tidak sekuat dirinya. Aku mulai memahami sedikit sisinya, ternyata ... rasa iba ini berubah menjadi rasa tanggung jawab. Aku merasa bertanggungjawab atas dirinya sekarang. Entah mengapa perasaanku padanya, menjadi sedalam ini hanya dengan waktu yang singkat. Apa ini perasaan yang Bisma rasakan?’ batin Morgan merasa heran dengan apa yang ia rasakan pada waktu yang sangat singkat ini.


“Makasih ya, Morgan!” ujar Ara dengan sangat bersemangat, tetapi Morgan hanya bisa diam mendengarnya. “Ayo sini, makan bareng!” ajak Ara.


Morgan menggelengkan kepalanya, “Gak. Makan aja sendiri,” tolak Morgan dengan dingin, Ara memandangnya dengan tatapan yang sendu.


“Yah ... ayo makan. Temenin Ara makan, ya?” ujarnya yang terlihat begitu imut di mata Morgan.


Morgan menutupi wajahnya yang sudah terlihat memerah, saking imutnya sikap Ara di hadapannya.


Akhirnya, merkea pun makan bersama. Walaupun Morgan agak malas untuk memakan masakan ibunya, tetapi ia tidak akan membiarkan Ara mengetahui latar belakangnya. Ara pasti akan sangat terpukul jika mengetahui hal yang terjadi di rumah Morgan. Mendengar Morgan tidak mau memakan masakan ibu saja ... Ara sudah sangat sedih.


Ara terlihat manis, saat sedang makan seperti ini. Ketika tengah asyik menyantap makanan bersama, Morgan tak sengaja melihat sebutir nasi yang menempel di sudut bibir Ara. Morgan pun menarik pipi Ara dengan tegas.


Ara mendelik kaget dengan gerakan Morgan yang tiba-tiba. “Eh ....”


Morgan langsung saja mengambil nasi itu, tanpa mengihiraukan reaksi dari Ara. Karena khawatir dengan pemikiran buruk Ara, Morgan pun menunjukkan nasi itu padanya, tanpa melepaskan tangan sebelahnya yang sedang mencengkram pipi Ara.


“Ada nasi,” ucap Morgan dengan datar, membuat Ara semakin mendelikkan matanya, dan membuat Morgan semakin merasa bahwa Ara bertambah manis jika sedang malu seperti ini.


‘Ternyata ada nasi,’ batin Ara yang merasa sudah terlalu khawatir dengan apa yang akan Morgan lakukan padanya.

__ADS_1


“Cium, boleh?” tanya Morgan, yang tentu saja tidak serius menanyakannya pada Ara. Ia hanya ingin menggodanya saja.


Mendengar pertanyaan dari Morgan, Ara merasa sangat bingung. Ia segera membuang pandangannya dari Morgan, dan berusaha melepaskan tangan Morgan dari wajahnya. Morgan yang khawatir jika Ara merasakan sakit karena tangannya, pun segera melepaskan tangannya dari wajah Ara.


“Morgan apaan sih ....” gerutu Ara dengan lirih, sembari memanyunkan bibirnya.


Karisma Ara sudah di tingkat paling akhir, membuat Morgan merasa sudah jatuh cinta terlalu dalam padanya. Ara terlihat jauh lebih imut dari biasanya. Tak disangka, Morgan yang terkenal tidak pernah membalas perasaan gadis mana pun, kini takhluk dengan gadis polos seperti ini. Entah bagaimana cara Ara melakukannya, ia selalu bisa membuat Morgan merasa tidak ada yang jauh lebih penting darinya.


***


Ara merapikan semua barang-barangnya, untuk dimasukkan ke dalam tas. Saat ia memasukkan barang-barangnya, ia tak sengaja membuat tasnya menjadi rusak. Ia berusaha untuk membetulkan sleting tas, tetapi ternyata memang sudah tidak bisa diperbaiki lagi.


Ara pun menghela napasnya panjang, ‘Sepertinya ... memang harus sudah mengganti tas baru,’ batinnya merasa harus melakukan hal tersebut.


“Siti, mau pulang bareng, gak?” tanya Reza dari tempat duduknya, membuat Ara bingung mendengarnya.


‘Pulang bareng? Bisma tidak menyukai Reza. Apakah tidak masalah jika Reza mengantarkan aku pulang?’ batin Ara yang merasa bingung dengan apa yang harus ia lakukan.


Perhatian Ara tiba-tiba teralihkan pada Morgan, yang tiba-tiba saja masuk ke dalam kelasnya. Ia mendekati Ara dengan spontan, tak menoleh sedikit pun ke arah yang lain.


Ara memandangnya dengan bingung, karena setelah Morgan mengantarkan ia pulang waktu itu, kini Morgan terus berusaha mendekatinya dengan datang ke kelasnya setiap ada kesempatan.


Morgan meletakkan sebuah kotak yang cukup besar ke atas meja Ara. Ara yang bingung, langsung menatap ke arahnya. Seperti biasa, Morgan memandangnya dengan tatapan yang datar. Ara harus berusaha untuk mengerti dengan sikap Morgan yang dingin itu. Sikap dinginnya itu, hampir sama seperti yang Bisma miliki. Jadi tidak memerlukan banyak waktu untuk Ara bisa beradaptasi dengan Morgan.


“Gue baru inget, ada titipan dari Bisma,” ucap Morgan dengan datar, sembari menoleh ke arah Reza.

__ADS_1


__ADS_2