Kakak Biologis Love Story

Kakak Biologis Love Story
Ngapain Aja?


__ADS_3

Karena situasi yang panas, Ara memilih untuk diam. Ia tidak ingin menjadi penyebab mereka bertengkar lagi, karena suasana yang nyaman baru saja tercipta.


Mereka menunggu terlalu lama, dengan Ara yang sama sekali tidak mengatakan apa pun. Karena terlalu kesal dengan Ara, Bisma pun segera menarik lengan Ara, untuk masuk ke dalam mobilnya.


Sebenarnya Morgan tidak rela melihat keadaan ini, tetapi dia juga tidak ingin membuat keributan di rumah Ilham.


"Awas aja Bisma, nggak akan gue biarin kalau lain kali dia ngelakuin itu lagi!" gumam Morgan yang kesal.


***


Bisma dan Ara masih dalam perjalanan menuju ke rumah mereka. Sepanjang Jalan Bisma hanya melirik ke arah kaca spion mobilnya, karena ia penasaran apakah Morgan akan mengejar mereka atau tidak.


Namun ternyata, Morgan sama sekali tidak mengejar mereka dan hal itu membuat Bisma sedikit tenang.


'Aman, ternyata Morgan nggak ngejar kita,' batin Bisma, yang saat ini bisa menghela napasnya dengan panjang.


Ara merasa perutnya kini terasa sakit kembali. Hal itu terjadi karena dampak dari dirinya yang terlambat makan. Sepanjang jalan ia hanya bisa memegangi perutnya saja dan tidak memedulikan apa yang Bisma lakukan.


Pandangan Bisma tak sengaja tertuju pada Ara yang sedang memegangi perutnya. Hal itu membuat Bisma heran dan penasaran dengan apa yang terjadi pada Ara.


Bisma segera menepikan kendaraannya, membuat Ara tersadar dan memandang ke arah Bisma.


"Lho, kenapa berhenti Bis?" tanya Ara bingung.


"Gue lihat lo dari tadi megangin perut aja. Kenapa perut lo? Sakit?" tanya Bisma, membuat Ara heran karena Bisma yang ternyata mengetahui sesuatu yang sudah ia ditutupi sejak tadi.


'Bahkan Morgan pun nggak tahu hal ini. Kenapa Bisma sadar ya?' batin Ara yang merasa heran dengan yang Bisma rasakan.

__ADS_1


“Kenapa diam aja? Gue nanya lho!” ujar Bisma, yang merasa kesal dengan Ara, yang seharian ini hanya diam saja dan tak mengatakan apa pun.


Ara tak sengaja menelan salivanya, “Ara nggak apa-apa kok, Bis!” ucapnya, membuat Bisma memandangnya dengan sinis.


“Kalau perut lo sakit, bilang dan jangan ditutupin kayak begitu. Emangnya lo mau nanti tiba-tiba lo drop, terus masuk rumah sakit terus dokter bilang kalau lo tuh punya penyakit yang ganas dan nggak bisa disembuhin!” ujar Bisma, tang berusaha menakut-nakuti Ara.


Mendengar ucapan Bisma, Ara pun merasa sangat takut dan memandang Bisma dengan rasa khawatir.


“Bisma mah, jangan ngomong begitu! Iya, Ara ngaku deh, kalau perut Ara tuh sakit dari kemarin karena telat makan,” ujar Ara mengaku kepada Bisma. “Apa nanti bakalan jadi penyakit kronis?” tanya Ara yang merasa sangat takut dan khawatir dengan keadaan dirinya sendiri.


Bisma menghela napasnya dengan panjang. “Ayo kita ke dokter, sekarang!” ajaknya, sontak membuat Ara menolak ajakannya.


“Aku nggak mau ke dokter, Bisma! Aku takut ... kalau misalkan nanti aku disuntik gimana?” rengek Ara, yang benar-benar takut dengan apa yang Bisma katakan tadi.


Bisma mengerutkan dahinya, “Wah, gimana sih? Katanya mau jadi dokter? Sama jarum suntik aja takut!” ledek Bisma, yang tetap ingin membawa Ara ke rumah sakit.


“Tapi beneran tuh Ara udah nggak apa-apa. Kita nggak usah ke rumah sakit ya? Ara nggak mau kalau sampai nanti Ara disuntik,” ujar Ara yang berusaha untuk menahan Bisma, agar tidak membawanya ke rumah sakit.


Bisma mempertimbangkan apa yang menjadi keinginan Ara. Ia memandang Ara dengan tegas, karena ia peduli dengan kesehatan Ara.


“Oke, kita nggak jadi ke rumah sakit, asalkan lo makan di depan muka gue dan makan dengan lahap. Itu syarat supaya lo nggak masuk ke rumah sakit,” ujar Bisma, membuat Ara merasa bingung karena ia baru saja makan di rumah Ilham.


Bukannya Ara menolak apa yang menjadi syarat dari Bisma, tetapi perutnya sudah tidak bisa menampung makanan lagi, karena sudah terlalu kenyang.


Ara memandang Bisma dengan sendu, “Bisma ... Ara baru makan di rumah Ilham. Tadi Bisma ‘kan lihat Ara makan. Perut Ara tuh masih penuh sama makanan, masa sekarang Bisma nyuruh Ara buat makan lagi?” ujar Ara, berusaha agar Bisma mempertimbangkan kembali apa yang menjadi syarat baginya.


Bisma menghela napasnya dengan panjang, “Ya udah kalau nanti perut lo sakit lagi, kasih tahu gue jangan diam aja! Itu syaratnya kalau lo nggak mau makan sekarang,” ujarnya, berusaha untuk memberikan kebijakan untuk Ara.

__ADS_1


Ara mengangguk kecil, dan tanpa pikir panjang menyetujui syarat dari Bisma.


Suasana mendadak sunyi, Ara merasa sangat bingung dengan apa yang harus ia katakan lagi di hadpaan Bisma.


Karena Bisma masih harus mengatakan hal yang mengganjal di hatinya, Bisma pun memandang Ara dengan dalam. Di sana, tak sengaja Ara juga memandang ke arah Bisma, membuat suasana semakin canggung jadinya.


Bisma menghela napasnya dengan panjang, “Ra, gue mau ngomong sama lo. Ini soal lo yang di-bully Ilham,” ujarnya, Ara mengangguk kecil mendengarnya.


“Lo gak perlu khawatir soal gue. Gue gak masalah kalau harus jadi bahan tertawaan mereka. Gue bisa jaga diri gue sendiri, tapi lo ... gue harap lo juga bisa jaga diri lo. Gue gak selamanya ada di samping lo. Masalah dengan Ilham pun, itu karena gak sengaja aja. Gue nyusulin lo ke sekolah dan ternyata gue lihat lo lagi di-bully sama Ilham,” ungkap Bisma menjelaskan.


Mata Ara membulat, “Kenapa Bisma gak langsung nolongin Ara aja? Kenapa harus ribut begitu?” tanyanya sendu, Bisma menatapnya datar.


“Gue gak mau dianggap pahlawan. Lagipula kalau gue langsung nolongin lo, gak akan seru jalan ceritanya. Pasti bakalan gampang ketebak,” ucap Bisma dengan datar, malah membuat Ara jengkel mendengarnya.


Namun, Ara berpikir kalau ternyata Bisma melindunginya dengan cara yang lain. Ara sedikit senang mendengarnya, karena Bisma sudah mengatakan hal yang jujur padanya mengenai hal ini.


Ara menatapnya sinis, “Tapi tetap aja, Ara gak suka kalau Bisma main pukul-pukul aja. Otot itu gak akan menyelesaikan masalah, malah semakin banyak masalah yang timbul setelahnya,” ucap Ara, Bisma hanya diam mendengarnya.


Bisma bukan hanya sekadar diam, tetapi juga memikirkan apa yang Ara ucapkan. Ia merasa apa yang Ara ucapkan ada benarnya juga, sehingga membuatnya lebih berhati-hati lagi dalam bertindak pada kasus lainnya.


Karena sudah menganggap masalah ini selesai, Bisma pun menghela napasnya panjang dan mulai menanyakan hal yang lain kepada Ara.


Bisma memandang Ara dengan tajam, “Masalah Ilham udah selesai, sekarang masalah Morgan,” ucapnya, sontak membuat Ara mendelik kaget mendengarnya.


“Hah?” gumam Ara terkejut.


Bisma semakin menajamkan matanya di hadapan Ara. “Udah ngapain aja lo sama Morgan?”

__ADS_1


__ADS_2