Kakak Biologis Love Story

Kakak Biologis Love Story
Perubahan Ara


__ADS_3

Mereka yang mendengar suara teriakan Bisma, hanya bisa saling melempar pandangan. Morgan tak memedulikan, tetapi Ara sangat peduli mengenai itu.


‘Bisma kenapa?’ batin Ara sendu, yang heran dengan teriakan Bisma itu.


Morgan yang sudah paham dengan teriakan Bisma itu, berpura-pura tidak mendengarnya dan sama sekali tidak memedulikan apa yang Bisma katakan.


“Nanti kalau mau tidur, tidur duluan aja ya. Gak usah nunggu gue sampe rumah,” ucap Morgan, yang baru pertama kali mengatakan hal ini pada Ara.


Biasanya memang Ara tidak pernah menunggu Morgan sampai ke rumah. Ia segera tidur, ketika Morgan sudah mengantarkannya kembali ke rumah.


Namun, kali ini sudah berbeda. Mereka sudah menjalin hubungan, yang sebenarnya sama sekali tidak pernah terpikirkan di benak Ara. Ara yang tidak memiliki pengalaman berpacaran, sampai tidak tahu apa yang biasanya mereka lakukan ketika menjalin hubungan.


Ara memandang Morgan dengan bingung, “Memangnya kalau orang yang udah pacaran, harus nunggu sampai si cowo sampai ke rumah dulu ya, baru tidur?” tanyanya yang benar-benar tidak tahu mengenai hal ini.


Morgan menyeringai kecil, karena ia lupa dengan Ara yang memang belum pernah menjalin hubungan dengan siapa pun. Pastinya Ara tidak pernah melakukan hal selayaknya orang berpacaran lainnya lakukan.


‘Morgan bodoh, dia yang polos mana tahu itu?’ batin Morgan, yang memaki dirinya sendiri karena Ara yang tidak tahu dengan hal itu.


“Biasanya orang yang pacaran pasti nunggu sampai pacarnya sampai rumah, baru teleponan. Setelahnya baru sleep call,” ujar Morgan menjelaskan, membuat Ara semakin bingung mendengarnya.


“Apa itu ... sleep call?” tanya Ara heran.


Morgan kembali menyeringai, “Nanti kita sleep call. Tunggu gue sampai di rumah, ya!” ujarnya, yang tak ingin menjelaskan lebih dulu tentang sleep call kepada Ara.


Karena merasa heran, Ara pun hanya bisa diam sembari memandang manik mata Morgan yang indah.


‘Ya sudahlah, hitung-hitung belajar gimana rasanya pacaran ala anak zaman sekarang di kota ini,’ batin Ara, yang memang sangat kaku dalam menjalin hubungan.

__ADS_1


Morgan pun turun dari mobilnya, dengan pandangan yang memandang ke arah tempat Bisma berada. Pandangan mereka saling bertemu, dengan Bisma yang memandangnya dengan sinis. Namun, Morgan sama sekali tak menghiraukan, lalu segera membuka pintu mobilnya untuk Ara.


Ara keluar dari mobil, dengan tangan Morgan yang ia ulurkan ke hadapannya. Ara meraihnya dengan tegas, membuat Bisma merasa sangat kesal melihatnya.


“Waktu itu lo ngasih gue permen, sekarang lo bisa ngeraih tangan Morgan. Apa lo cuma polos bohongan di hadapan gue, hah?” pekik Bisma kesal, tetapi tak membuat Ara mendengar ucapannya.


Kini Morgan dan Ara saling berhadapan satu sama lain. Tangan Morgan mengelus lembut rambut Ara, dengan mata yang sedikit melirik ke arah Bisma. Bisma menyadari apa yang Morgan lakukan, dan segera menutup tirai pada jendela tersebut, dengan perasaan yang sangat kesal.


“Sialan Morgan! Dia sengaja ngelakuin itu!” gumam Bisma dengan kesal, lalu segera meninggalkan tempat itu untuk menuju ke depan ruangan kamar Ara.


Sementara itu Ara masih memandang Morgan dengan dalam, membuat Morgan juga memandangnya dengan dalam.


“Selamat malam,” ucap Morgan dengan datar, Ara mengangguk kecil mendengarnya.


“Selamat malam.”


Karena sudah terlalu lelah, Ara pun segera beranjak ke ruangan kamarnya. Namun, tak disangka ternyata Bisma sudah menunggu di depan ruangan kamar Ara. Hal itu membuat Ara menjadi canggung, mengingat Bisma yang tadi berteriak entah apa alasannya.


“Bisma,” gumam Ara, Bisma yang semula menyandarkan tubuhnya pada dinding sebelah pintu kamar Ara, segera membenarkan posisinya dan berdiri di hadapan Ara.


Pandangannya sinis, menatap tajam ke arah Ara yang hanya bisa diam itu.


“Dari mana aja lo?” tanya Bisma sinis, Ara tak sengaja memandang ke arah tangan Bisma yang memar dan berdarah.


Pandangannya mendadak sendu, karena Ara merasa tangan Bisma terluka seperti itu, karena dirinya.


“Tangan Bisma ....” Ara secara tak sadar menunjuk ke arah tangan Bisma.

__ADS_1


Bisma hanya memandang sinis ke arah Ara. “Jangan mengalihkan topik pembicaraan! Dari mana aja lo sama Morgan? Kalian ngelakuin apa?” tanya sinisnya lagi, membuat Ara tersadar dari lamunan sendunya itu.


Karena masih mengingat kejadian Bisma bersama dengan Gladis di kamarnya, rasa kesal Ara mendadak kembali meluap. Ia merasa kesal dengan Bisma, dan malah memandang Bisma dengan sinis.


“Kamu gak berhak nanya Ara dari mana! Kamu urus aja urusan kamu sama Gladis!” bentak Ara sinis, membuat Bisma mendelik kaget mendengarnya.


‘Dari mana Ara tau nama Gladis? Apa Morgan yang kasih tau?’ batin Bisma, merasa bingung dan heran dengan ucapan Ara itu.


Ara pun pergi dari hadapan Bisma, menuju ke dalam ruangan kamarnya. Namun, Bisma tersadar dan langsung mencengkeram lengan Ara dengan kuat, sehingga Ara tertahan karenanya.


“Gue nanya, harusnya lo jawab!” bentak Bisma, Ara berusaha untuk menahan rasa berdebar di hatinya, karena bentakan Bisma.


Ara memiliki tekad untuk tidak akan pernah kalah lagi dengan Bisma. Jika Bisma membentaknya, Ara tidak akan tinggal diam, dan itu semua akan ia terapkan bukan hanya dengan Bisma, tetapi seluruh orang yang bersikap tidak baik di hadapannya.


“Bisma, jangan begini! Ara gak suka! Jangan ngurusin hidup Ara, kalau hidup kamu gak mau diganggu!” bentak Ara, yang membuat Bisma mendelik kaget mendengarnya.


Bisma tidak menyangka, Ara akan mendadak berubah seperti ini, dan menjadi sangat berani di hadapannya.


Bisma mengangguk kecil dengan mata yang melotot. “Udah berani lo sekarang sama gue? Diajarin apa lo sama Morgan, sampai lo berani bersikap begini sama gue?” tanyanya sinis, Ara tidak senang karena Bisma sudah membawa Morgan ke dalam permasalahan ini.


“Ini semua gak ada hubungannya sama Morgan! Ara gak mau jadi orang yang terus-menerus ditindas, dan Ara gak akan jadi Ara yang dulu lagi!” bentak Ara, sontak membuat Bisma mendelik tak percaya mendengarnya.


Hanya dalam beberapa hari Bisma tidak masuk ke sekolah, ternyata sudah membuat kemajuan yang pesat dari sikap Ara dalam menghadapi sekelilingnya. Hal itu membuat Bisma kaget, tetapi bingung juga karena sikap Ara tadi pagi tidak seperti ini. Ara malah lari dari Ilham, sehingga membuat Bisma menghajar Ilham habis-habisan.


Ara memandang sinis Bisma, “Oh ya satu lagi. Bisma jangan pernah lagi bersikap yang aneh-aneh sama orang lain, apalagi sampai bikin orang lain terluka. Ara gak akan senang, dan gak akan simpatik kalau Bisma menyelesaikan masalah dengan kekerasan. Masalah Ara dengan Ilham, biar Ara sendiri yang selesaikan. Bisma gak perlu ikut campur lagi dengan apa yang ada!” ujar Ara lagi, sontak membuat Bisma semakin mendelik karenanya.


“Apa?”

__ADS_1


__ADS_2