Kakak Biologis Love Story

Kakak Biologis Love Story
Buku PR


__ADS_3

‘Aku merasa ... aku tidak pantas untuk menerima ini semua. Ini semua sudah terlalu berlebihan bagiku. Aku bahkan tidak bisa mengendarai mobil, kenapa ayah memberikanku sebuah mobil, sebagai hadiah ulang tahunku? Aku tidak tahu harus sedih atau senang. Bahkan, handphone yang Bisma berikan semalam pun, aku tidak mengerti cara pakainya. Aku baru tahu, akan seberat ini menjadi orang yang terlalu kaya. Aku sama sekali tidak bisa beradaptasi pada hal ini. Ini sudah terlalu berlebihan,’ batin Ara, yang berpikir panjang lebar mengenai masalah ini.


Ara kembali meletakkan kunci yang ia pegang di dalam kotak kecil itu. Ia kembali merapikan semuanya seperti semula, dan memberikannya lagi pada Ayah. Ia tanpa kata menerimanya.


“Maaf, Pah. Ara sama sekali gak bisa nerima ini,” ucap Ara dengan berat hati, membuat ayahnya menatap tajam ke arahnya.


“Ada apa, Ara? Apa kamu tidak suka?” tanya ayahnya terdengar seperti kecewa.


Ara seketika berubah gimik, menjadi lebih tidak enak hati dengannya. Ia pun menghela napas untuk mengontrol dirinya sendiri.


“Ara rasa ini udah berlebihan. Dengan tinggal di sini, dan mendapatkan pendidikan yang layak, itu udah jadi suatu kebahagiaan buat Ara. Gak perlu pakai mobil, handphone , atau fasilitas yang lain. Asal ada kalian, Ara udah seneng banget kok,” ucap Ara dengan nada yang sangat mengharukan.


Suasana seketika berubah menjadi mellow. Ara hampir tidak bisa menahan air matanya, dan malah membuat mereka juga ikut sendu karenanya.


“Selain itu ... Ara juga gak bisa ngendarai mobil,” ucap Ara dengan ragu, yang membuat Bisma menjadi kesal, dan ayah pun tertawa kecil mendengar kejujurannya.


Ara pun menyeringai ke arah mereka, dengan senyuman tak enak. Ara terlihat menunduk setelah mengucapkan bahwa ia tidak bisa mengendarai mobil.


Mendengar hal itu, sudah cukup membuat Bisma kesal mendengarnya. Ia yang sudah terharu, mendadak jadi ingin sekali mencubit ginjal Ara itu.


“Gemes, mau cubit ginjalnya,” gumam Bisma, Ara dan Ayah tertawa kecil mendengar ucapan Bisma.


***


Jam pelajaran pertama tiba. Ara mulai panas dingin karena buku PR-nya yang sudah mati-matian ia kerjakan kemarin, tiba-tiba saja hilang entah ke mana.


‘Aku harus mengatakan apa pada guru tersebut? Aku tidak mau dihukum dan dipermalukan di depan semua orang!’ batin Ara, benar-benar sangat bingung dengan keadaan ini.


‘Aku gak mau dihukum ....’ batin Ara yang terus menolak. Ara tidak ingin merasa malu di hadapan mereka.

__ADS_1


“Pagi semua ....” Seseorang masuk ke dalam kelasnya. Ara menyadari, kalau dia adalah guru bidang studi yang ia pelajari. Tubuhnya semakin gemetar, ketar-ketir.


‘Apa yang harus aku lakukan?’ batin Ara, benar-benar sudah ketakutan kali ini.


“Pagi, Bu.”


Perlahan, dia pun duduk pada kursinya, membuat Ara semakin tidak ingin melihatnya.


‘Jangan ingat, jangan ....’ Ara hanya bisa berharap, semoga dia melupakan tugas yang sudah ia berikan senin lalu pada mereka.


Matanya memandang ke arah mereka, “Silakan kumpulkan tugas yang sudah saya berikan, Senin lalu. Bagi yang tidak mengerjakan, silakan berdiri di depan kelas.”


Deg!


Ara benar-benar lemas, karena kaget mendengar ucapannya itu. Ara sudah tidak bisa lagi mengelak untuk saat ini, dan hanya punya satu pilihan.


Di sana, terlihat Fla yang sedang kebingungan sembari mengobrak-abrik tasnya. Ia tidak bisa menemukan buku PR-nya di dalam tasnya. Ia sudah mencarinya, sampai ia menumpahkan seluruh isi tasnya ke atas meja belajarnya. Namun, ia sama sekali tidak menemukan buku tersebut.


Fla melihat gadis culun itu maju ke depan kelas. Kemudian, disusul oleh Reza di belakangnya. Hal itu membuat Fla merasa sangat bingung melihatnya.


‘Kenapa Reza tidak mengerjakan PR-nya? Aku pikir ... ini pertama kalinya Reza tidak mengerjakan PR. Tapi ... aku jadi lega! Karena aku tidak hanya sendirian saja. Ada Reza, dan juga ... gadis culun itu!’ batin Fla yang kemudian langsung saja berdiri, dan menuju ke depan kelas untuk menyusul Reza.


Terlihat Reza yang sedang menghampiri ke arah Ara, membuat Ara terkejut melihatnya.


‘Kenapa Reza juga maju ke depan kelas? Apa ... dia tidak mengerjakan PR-nya? Fla pun menyusul kami untuk maju ke depan kelas. Aku heran, kenapa momennya bisa pas seperti ini?’ batin Ara, benar-benar merasa bingung.


“Lho ... Reza, kamu tidak mengerjakan PR?” tanya guru itu pada Reza.


“Sepertinya tertinggal, Bu,” jawab Reza dengan sangat santai, berbeda dengan Ara yang mendadak panas dingin setelah mendengarnya.

__ADS_1


“Arasha ....”


Mendengar guru itu memanggil namanya, Ara pun langsung terkejut mendengar pekikannya. Dengan rasa takut, Ara berusaha memandang guru itu.


“I-iya, Bu,” jawab Ara dengan terbata-bata.


Terlihat sorot matanya yang sangat tajam, yang berusaha menembus masuk ke dalam lensa kacamata Ara. Ara hanya bisa menunduk, sambil sesekali melihat ke arahnya.


“Kamu murid baru di sini, seharusnya kamu bisa memberikan kesan yang baik pada semua teman-teman kamu. Ini malah tidak mengerjakan PR!” bentaknya dengan nada yang lebih tinggi, dari nada yang ia lontarkan pada Reza. Sikapnya berubah lebih marah ketika berbicara dengan Ara, sehingga membuat Ara bingung menghadapinya.


‘Aku harus bagaimana menghadapinya?’ batin Ara, benar-benar bingung mendengarnya.


“Ma-ap, Bu. Saya sudah mengerjakan, tapi saya lupa meletakkan bukunya di mana.” Ara berusaha membela dirinya di hadapan guru tersebut, agar tidak terlihat terlalu salah.


Guru itu semakin memelototi Ara, “Itu sama saja kamu tidak tanggung jawab sama tugas kamu!”


Ara menunduk takut, karena wajahnya yang kini sudah berubah menjadi seperti naga api yang sedang menyemburkan apinya.


“Permisi ....”


Ara menoleh ke arah pintu masuk kelas. Di sana, sudah terlihat Bisma yang sedang berdiri menghadap mereka. Ia masuk ke dalam kelas tanpa menunggu persetujuan dari guru yang ada di dalam ruang kelas Ara.


‘Ada apa Bisma sampai harus datang ke sini?’ batin Ara heran dengan keadaan ini.


“Ada apa, Bisma?” tanyanya dengan nada yang lebih halus daripada saat berbicara dengan Ara tadi.


‘Kenapa dia terlalu nampak sentimen pada yang sesama jenis dengannya? Kenapa dengan lawan jenis, ia selalu bersikap sangat baik?’ batin Ara, benar-benar tidak habis pikir dengan keadaan ini.


“Saya mau balikin buku PR Arasha, Bu. Tadi sepertinya terjatuh di kantin. Saya khawatir kalau dia nyariin bukunya, jadi saya ambil saja,” tutur Bisma menjelaskan.

__ADS_1


Ara mencoba mengingat kembali hal tersebut, ‘Apakah aku ke kantin tadi? Sepertinya ... aku belum sempat singgah di kantin,’ batin Ara, benar-benar tidak melakukan hal itu.


__ADS_2