Kakak Biologis Love Story

Kakak Biologis Love Story
Tidak Rela


__ADS_3

Morgan kembali memastikan keadaan, “Ra ...,” panggilnya, tetapi Ara tak menjawabnya.


“Ara ....” Morgan lagi-lagi memanggil, tetapi Ara tetap tidak menjawabnya.


“Sial ... si Ara tidur kali, ya?” gumam Morgan, sembari memandang kesal ke arah handphone-nya.


Karena sudah terlalu kesal, Morgan pun mengakhiri teleponnya dengan Ara. “Dia denger yang gue ucapin gak, ya?” gumam Morgan, yang lalu menghela napasnya dengan panjang.


“Kalau dia gak denger, bagus deh. Gue juga jadi kelihatan gak rendahan di mata dia,” gumam Morgan, yang masih memikirkan harga dirinya.


***


Pagi ini Bisma bangun cukup pagi, karena ini adalah hari pertama Bisma masuk sekolah. Kemarin Bisma memang sudah berniat untuk masuk sekolah, tetapi ia mendadak tidak mood karena Ara tidak memakan masakannya.


Bisma melangkah menuju ke arah meja makan, lalu pandangannya tak sengaja tertuju pada ayahnya yang sedang menyantap sarapannya.


“Lho, ada Papa,” gumam Bisma, ayahnya memandang Bisma sembari tetap mengunyah makanannya.


Ayahnya menelan sisa makanan yang ada di dalam mulutnya. “Ayo kita makan bersama, sekalian ajak Ara juga. Sudah lama Papa gak makan bareng sama kalian,” pintanya.


Bisma heran mendengarnya, “Lho, Ara belum bangun tidur?” tanyanya, ayahnya pun menggelengkan kepalanya kecil.


“Bangunin Ara dulu,” suruh ayahnya, membuat Bisma mengangguk kecil mendengarnya.


“Ya udah, Bisma mau bangunin Ara dulu deh,” ujarnya, yang lalu segera pergi ke arah ruangan kamar Ara.


Setelah berada di depan ruangan kamar Ara, Bisma pun mengetuk pintu kamarnya. Beberapa saat mengetuk, Ara tak kunjung membukakan pintu untuknya.


“Ra ... ayo sarapan bareng sama Papa,” panggil Bisma, tetapi tak mendapatkan respon dari Ara.

__ADS_1


Bisma masih menunggu jawaban dari Ara, dan dengan sabarnya menunggu sampai Ara membukakan pintu untuknya.


“Ara masih tidur apa lagi mandi?” gumam Bisma, yang tidak enak jika harus masuk ke dalam ruangan kamar Ara.


“Masuk gak, ya? Ah, kalau dia lagi mandi, gimana? Gak enak juga sama dia,” gumam Bisma, yang malah berpikir macam-macam mengenai hal ini.


Namun, ia tak kunjung mendapatkan jawaban dari Ara. Bisma juga tak mendengar suara apa pun di dalam ruangan kamar Ara. Hal itu membuat Bisma agak khawatir dengan Ara.


“Ara kenapa, ya? Apa belum bangun jam segini?” gumamnya lagi, masih memikirkan tentang kondisi Ara.


Karena sudah terlalu memikirkan hal yang macam-macam, Bisma pun memutuskan untuk masuk ke dalam ruangan kamar Ara.


“Ra ....” Bisma membuka tuas pintu kamar Ara, yang ternyata sama sekali tidak terkunci.


“Lah, gak dikunci?” gumam Bisma, yang lalu sengaja masuk ke dalam ruangan kamar Ara, untuk memastikan keadaan Ara.


Pandangannya tertuju ke arah Ara, yang saat ini masih tidur di ranjang tidurnya. Bisma memandangnya dengan heran, karena Ara yang masih saja tertidur.


Bisma mendekat ke arah Ara, dan melihat wajah Ara yang sangat pucat. Hal itu membuat Bisma menjadi sedikit panik.


“Ra ... kok muka lo pucet gitu, sih?” tanya Bisma, lalu segera menyentuh lengan tangan Ara.


“Aww panas,” gumam Bisma, yang merasa sangat panas ketika menyentuh lengan tangan Ara.


Jantung Bisma seketika menggebu, membuatnya panik dan langsung menyentuh kening Ara yang panasnya ternyata melebih panas pada lengannya.


Bisma mendelik kaget, “Astaga, Ra! Lo kenapa? Kenapa panas banget?” gumamnya bertanya-tanya, lalu secara sadar segera berlarian ke luar ruangan kamar Ara.


“Pah ... Ara panas banget!” teriak Bisma, ayahnya yang mendengarnya dari meja makan seketika mendelik dan dengan panik segera menuju ke arah ruangan kamar Ara yang berada di lantai atas.

__ADS_1


Bisma kembali ke kamar Ara, untuk memastikan keadaan Ara. Ayahnya datang dengan sangat panik, lalu segera meletakkan telapak tangannya di atas kening Ara.


“Astaga! Bawa Ara ke rumah sakit, sekarang!” suruh ayahnya, Bisma pun mengangguk kecil lalu segera berlarian untuk mempersiapkan mobilnya.


Ayahnya membopong Ara dari ranjang tidurnya, untuk menuruni tangga. Ia melangkah dengan sangat hati-hati, khawatir ia dapat membuat mereka jatuh.


Dengan sangat cepat, Bisma dan ayahnya membantu Ara masuk ke dalam mobil, dan segera menuju ke arah rumah sakit terdekat.


Dengan sangat panik, Bisma menyetir mobilnya dengan kecepatan yang cukup tinggi. Beruntung di jam ini belum termasuk jam sibuk, sehingga jalan mereka menuju ke arah rumah sakit tidak terganggu.


Sebisa mungkin mereka melakukan yang terbaik untuk Ara, karena merasa sama sekali tidak bisa melihat Ara sakit seperti ini. Mereka tidak ingin melihat Ara menderita kembali, dan hanya ingin melihat Ara bahagia.


Bisma memandang ke arah hadapannya dengan sendu, ‘Ra, bertahan ya. Gue gak mau lo sampai kenapa-napa. Jangan sampai lo kenapa-napa, ya!’ batin Bisma, yang tak kuasa menahan rasa sakit di hatinya, karena melihat Ara yang sedang terluka seperti itu.


***


Jam pelajaran pertama telah usai, tetapi Reza masih belum melihat kedatangan Ara ke kelasnya. Ia merasa bingung, karena Ara yang tidak masuk sekolah hari ini. Pikirannya sudah ke mana-mana, karena memikirkan Ara yang tidak masuk ke sekolah.


‘Ara kenapa gak masuk sekolah, ya? Apa karena ... gue nyatain perasaan gue kemarin ke dia?’ batin Reza, merasa sangat tidak enak hati dengan Ara.


Reza malah berpikir karena dirinya, Ara jadi tidak masuk sekolah. Hal itu membuatnya menjadi penasaran dan juga khawatir.


‘Ah, masa gara-gara itu, sih? Masa sih, dia mau jauhin gue, hanya karena masalah itu?’ batin Reza, yang tak percaya dengan dugaannya sendiri.


Waktu berlalu begitu cepat, jam pelajaran pun telah usai. Morgan beberapa kali melihat ke arah kelas Ara, berniat untuk mengajak Ara kembali padanya. Namun, ia sama sekali tidak menemukan keberadaan Ara di kelasnya. Hal itu membuatnya bingung, tetapi ia sama sekali tidak ingin bertanya pada teman sekelas Ara, karena gengsinya yang tinggi.


‘Ara ke mana, sih? Kenapa dia gak masuk hari ini, ya? Apa karena dia gak mau ketemu gue dulu?’ batin Morgan, yang juga berpikiran sama seperti yang Reza pikirkan pada Ara.


Morgan menghela napasnya dengan panjang, ‘Bisma juga gak masuk sekolah. Apa mereka jalan-jalan bareng seharian ini?’ batinnya, yang malah jadi tidak tenang memikirkannya.

__ADS_1


“Gak bisa begini, gue harus tanya langsung ke Ara!” gumam Morgan, yang sedari tadi berusaha menahan diri untuk tidak menghubungi Ara.


Namun, kini ia berniat untuk menghubungi Ara, karena ia tidak ingin melihat Ara dan Bisma bersama. Ia tidak rela, dan tidak akan pernah rela.


__ADS_2