
Mendengar tawaran Morgan, Ara hanya bisa menggelengkan kepalanya. Ia tidak ingin merepotkan Morgan, karena Ara terbiasa makan sendiri.
“Ara bisa sendiri kok,” tolak Ara, Morgan memandangnya dengan datar.
“Cukup cinta gue aja yang lo tolak. Jangan keinginan gue untuk nyuapin lo,” ujar Morgan, Ara jadi merasa tidak enak hati dengan Morgan.
“Maaf ya Morgan. Ara mutusin Morgan waktu itu,” ujar Ara, yang benar-benar terdengar sangat polos.
Morgan tersenyum mendengarnya, “Gak apa-apa. Lagipula, gue gak ngerasa lo putusin, tuh! Gue masih belum setuju, dan kita masih pacaran,” ujarnya, Ara mendelik kaget mendengarnya.
“Gimana bisa? Ara udah gak mau sama Morgan,” ujar Ara, bingung dengan maksud dari Ara.
Morgan memandang dalam ke arah Ara, “Ra, memangnya benar, sudah gak ada lagi gue di hati lo?” tanyanya, merasa penasaran dengan jawaban dari Ara.
Ara memandang Morgan dengan sendu, ‘Sejak awal, memang gak ada Morgan di hati Ara. Sejak awal sudah ada Bisma, tapi Ara sama sekali gak menyadarinya,’ batin Ara, yang tidak akan mungkin mengatakan hal ini kepada Morgan.
“Ara makan sendiri aja,” ujar Ara, yang mencoba mengalihkan topik pembicaraan dengan Morgan.
Morgan menghela napasnya panjang, sembari memandang Ara dengan datar. Ia merasa Ara kurang pandai mengalihkan pembicaraan mereka.
‘Masih perlu belajar untuk bisa mengalihkan topik pembicaraan di depan gue,’ batin Morgan, merasa heran dengan Ara yang masih terasa amatir baginya.
Ara berusaha untuk duduk dari posisi semulanya yang berbaring. Morgan pun membantunya, berusaha agar Ara bisa duduk dengan sikap yang sempurna.
Morgan mempersiapkan makanan yang akan Ara makan, lalu menyodorkan sendok dan mangkuk itu ke hadapan Ara. Ara menerimanya, tetapi ia hampir saja menjatuhkan mangkuk tersebut.
“Aww ...,” gumam Ara, yang tak sengaja hampir saja menumpahkan bubur buatan Morgan.
Morgan sempat terkejut, tetapi bisa menangkap bubur tersebut. “Gue bakalan sedih banget sih, kalau sampai bubur ini jatuh. Dari jam 5 pagi gue buat bubur ini, sampai tangan gue kena panci,” ujarnya, membuat Ara merasa kaget mendengarnya.
__ADS_1
“Hah? Ya ampun ... terus tangannya gimana, gak apa-apa?” tanya Ara kaget, merasa sangat kasihan dengan Morgan.
Morgan menyembunyikan lengannya yang terkena panci, dan tersenyum di hadapan Ara.
“Gak apa-apa, kok!” jawab Morgan, yang diselimuti oleh senyuman yang sangat membuat Ara bertambah sendu melihatnya.
‘Morgan beneran nutupin banget apa yang dia rasain. Kasihan dia, dia tegar banget,’ batin Ara, merasa sangat simpatik dan kasihan dengan sikap Morgan yang seperti itu.
Karena Ara tidak bisa memakan makanannya sendiri, Morgan berinisiatif untuk menyuapinya dan memaksanya dengan penuh kelembutan.
“Biar gue bantu suapin lo, ya,” ujar Morgan, dengan nada bicara yang sangat lembut.
“Ara bisa sendiri, Gan ....”
“Udah, jangan banyak gerak dulu. Lo masih dalam proses pemulihan. Biar gue aja ya yang bantu suapin,” paksa Morgan, dengan nada yang masih sangat lembut.
Ara mendengarnya sampai merasa tidak enak, karena Morgan yang sudah memaksanya dengan penuh kelembutan.
‘Jadi gini rasanya disuapin sama cowok?’ batin Ara, yang baru merasakan sensasi disuapi oleh seseorang.e
Namun, Ara hanya memandang Morgan sendu karena tidak bisa membalas cintanya. Ia merasa sangat sedih, karena perasaannya ternyata hanya untuk Bisma.
‘Maafin Ara ya, Morgan. Perasaan ini hanya untuk Bisma. Ara baru sadar, setelah sekian lama tinggal bareng Bisma. Walaupun Bisma kakak tiri Ara, tetapi perasaan ini sudah gak bisa ditahan lagi,’ batin Ara, sendu karena memikirkan hal ini.
Morgan menyuapi Ara dengan teknik tangan yang dia layangkan seperti pesawat terbang, lalu ia belokkan ke arah sebelah kanan. Ara tertawa kecil, karena Morgan yang berusaha untuk membuatnya tertawa.
Di samping itu, Bisma kembali ke ruangan kamar rawat Ara. Ia merasa sangat sendu, melihat kedekatan Ara dengan Morgan. Hal itu membuatnya benar-benar sangat tidak keruan saat ini.
Bisma memegang dadanya yang terasa ngilu, ‘Ah ... kenapa sakit banget ngeliat mereka bercanda begitu?’ batinnya, heran dengan apa yang terjadi pada Ara dan juga Morgan.
__ADS_1
Namun, karena rasa tanggung jawab Bisma terhadap Adele, ia pun rela mengesampingnkan perasaannya terhadap Ara, dan berusaha kuat jika berhadapan dengan Ara nanti.
‘Gue harus kuat!’ batin Bisma, yang berusaha untuk menguatkan hatinya sendiri melihat Morgan yang sedang menyuapi Ara.
Bisma menghela napasnya dengan panjang, lalu mengetuk pintu ruangan kamar Ara. Sejenak mereka menghentikan aktivitas bercanda mereka, dan mengalihkan fokus mereka ke arah pintu masuk. Bisma pun masuk ke dalam kamar ruang inap Ara.
Melihat kedatangan Bisma, Ara pun merasa heran dan terkejut. “Bisma? Bisma dari mana aja?” tanya Ara, Bisma sama sekali tak memandang ke arah Ara, dan hanya berfokus ke arah Morgan saja.
Ara merasa terabaikan, dan malah memandangnya dengan sinis. “Bisma, Ara ngomong sama Bisma. Bisma dari mana aja? Ara nyariin dari tadi padahal,” ujar Ara lagi, yang merasa sangat merindukan Bisma.
Karena tujuan Bisma adalah Morgan, ia jadi tidak memedulikan apa yang Ara katakan. Ia memandang Morgan, dan tidak sekalipun melihat ke arah Ara.
“Gan, bisa ikut gue bentar, gak? Penting,” pinta Bisma, Morgan berpikir sejenak.
‘Ada apa ya? Gak biasanya Bisma mau bicara penting begini,’ batin Morgan, lalu mengangguk setuju di hadapan Bisma.
Karena sudah mendapatkan persetujuan dari Morgan, Bisma pun keluar ruangan tanpa memandang ke arah Ara. Hal itu membuat Ara merasa kalau Bisma berusaha untuk menghindarinya.
Morgan memandang ke arah Ara, “Ra, gue ke depan sebentar,” pamitnya, yang mendapatkan anggukan dari Ara.
Morgan pun pergi dari sana, membuat Ara semakin sendu melihat ke arah mereka yang pergi meninggalkannya di sana.
“Bisma kenapa begitu, ya? Kenapa dia gak mau jawab pertanyaan Ara? Dia bahkan sama sekali gak mau ngelihat Ara,” gumam Ara, merasa sangat sendu mengingat sikap Bisma yang acuh di hadapan Ara.
Morgan menghampiri Bisma, yang kini sedang berada di taman rumah sakit yang cukup sepi. Bisma berdiri sembari menatap ke arah kolam ikan, lalu Morgan menghampiri dan berdiri di sebelahnya.
Pandangan mereka sejenak sama-sama memandang ke arah hadapan mereka, sampai akhirnya Morgan siap untuk membicarakan sesuatu yang penting ini dengan Bisma.
Morgan menoleh ke arah Bisma, “Ada apa lo manggil gue ke sini?” tanya Morgan, penasaran dengan apa yang ingin Bisma katakan padanya.
__ADS_1
“Adele hamil, dan itu adalah anak gue,” ujar Bisma, sontak membuat Morgan mendelik kaget mendengarnya.
“Apa?”