
Ara sangat tidak tenang dan gelisah, melihat respon Bisma yang seperti ini terhadapnya.
‘Kalau tahu akan seperti ini, aku tidak akan memaksanya untuk mengantarkan aku ke tempat ini,’ batin Bisma, yang masih memiliki sedikit rasa prikemanusiaan terhadap Ara yang sangat polos itu.
Ara memandangnya dengan sangat ragu, “Anu ... Bisma—”
“Udah deh ah!” pangkas Bisma, karena merasa kesal dengan keadaan.
Bisma sama sekali tidak kesal dengan Ara, hanya saja ... ia sangat kesal dengan dirinya sendiri.
‘Kenapa aku harus menyakitinya dengan cara seperti ini?’ batin Bisma, yang benar-benar merasa sangat bersalah terhadap adik biologisnya itu.
Ara terlihat memandang ke arah Bisma, dengan tatapan takut. Bisma sungguh tidak bisa bersikap lembut pada wanita ini, tetapi jauh di lubuk hatinya, ia sama sekalu tidak bermaksud untuk menakuti Ara seperti ini.
Dengan inisiatif yang tinggi, Bisma pun langsung membalikkan tubuhya menjadi membelakangi Ara. Ia berjongkok, sehingga membuat Ara mendelik kaget melihatnya.
‘Aku berharap, dengan cara seperti ini, aku bisa menebus kesalahanku padanya,’ batin Bisma, yang hanya bisa berharap demikian.
Pandangan Bisma teralihkan, karena ia yang melihat Ara yang juga mengikutinya berjongkok. Bisma kaget bukan main.
‘Kenapa dia tidak peka sekali? Aku ingin sekali menggendongnya, kenapa ia malah mengikuti posisiku sekarang?’ batin Bisma, yang menepuk keningnya lumayan kencang.
‘Dari mana sih, datangnya wanita tidak jelas ini? Jelas-jelas, aku ingin menggendongnya, tapi mengapa dia malah ikut melakukan hal seperti ini?’ batin Bisma, yang sedang menahan rasa kesalnya terhadap Ara.
Ara merasa sangat bingung melihat reaksi Bisma yang seperti itu, “Lho ... Bisma kenapa?” tanyanya dengan nada yang terdengar selalu polos.
Ara menoleh ke kiri dan ke kanan, seperti sedang mencari sesuatu, membuat Bisma semakin bingung dibuatnya.
“Anjingnya mana?” tanya Ara lagi, semakin membuat Bisma mendelik kaget mendengarnya.
‘Apa dia bilang? Anjing?’ batin Bisma bertanya-tanya.
__ADS_1
Bisma memandang sinis ke arah Ara, “Apa maksudnya?” tanyanya menahan kesal pada Ara. Lagi-lagi Bisma gagal memahaminya. Ara terlihat melongo menatapnya.
“Lho ... Bisma jongkok karena ada anjing, ‘kan? Kalau di kampung, kalau ada anjing galak, pasti kita selalu jongkok. Biar anjingnya mikir, kalau kita lagi megang batu, terus dia lari deh karena takut!” ujar Ara menjelaskan panjang lebar, masih dengan nada polosnya.
Bisma malah melongo kaget, karena sudah kehilangan kata-kata lagi, jika berhadapan dengan Ara.
‘Kenapa dia terlihat sangat menjengkelkan?’ batin Bisma, sebisa mungkin menahan rasa kesalnya di hadapan Ara.
“Arasha ....” panggil Bisma dengan nada dan tatapan yang datar.
Melihat Bisma yang seperti itu, Ara pun berubah sikap menjadi sangat takut. Tatapannya seolah menyorotkan kalau dia sangat malu.
Bisma hanya menghela napasnya dengan panjang, “Naik, sekarang!” perintahnya, sembari tetap menahan emosinya itu.
Bisma benar-benar tidak ingin membuatnya takut. Ia hanya ingin menolongnya, karena merasa iba pada Ara. Ia sama sekali tidak ingin melihat Ara terluka. Ia ingin sekali menggendongnya agar Ara tidak merasakan sakit saat berjalan.
Mendengar perintah Bisma yang mengejutkan, Ara hanya bisa diam, melongo kaget karenanya.
Beberapa saat berlalu, Ara masih saja tetap diam, seperti sedang memikirkan sesuatu. Tanpa pikir panjang, Bisma yang sudah tidak sabar langsung menarik tangan Ara, agar ia bisa menggendongnya.
‘Aku sudah tidak sabar, tindakannya selalu saja bertentangan dengan yang aku inginkan,’ batin Bisma yang menggendongnya dengan perlahan.
‘Ternyata, dia berat juga,’ batin Bisma, sembari tetap menggendong Ara dengan perlahan.
Ara hanya bisa diam, dengan wajah yang sudah memerah sejak pertama kali Bisma memintanya untuk naik ke punggungnya. Ia merasa tindakan Bisma terlalu berlebihan, hanya untuk seukuran kakak beradik.
‘Ini gak apa-apa?’ batin Ara, merasa malu dengan apa yang terjadi di antara mereka.
***
Setelah selesai bersenang-senang, Bisma berbaring di atas ranjangnya, dengan tangan melipat dan menyangga kepalanya. Ia memandang kosong ke arah langit-langit kamarnya, sembari memikirkan sesuatu yang sangat gila menurutnya.
__ADS_1
‘Apa aku sudah gila? Apa yang sudah aku lakukan hari ini? Aku membuang semua rasa benciku ketika melihat dia datang ke rumah ini. Padahal, dulu aku sangat membenci papa karena sudah melakukan kesalahan besar ini. Kenapa seketika, perasaan benciku terhadap gadis itu perlahan hilang? Apa aku sudah termakan dengan sikapnya yang polos itu?’ batin Bisma, merasa sangat aneh dengan apa yang ia lakukan dengan Ara.
Perasaan bencinya kini, sudah berubah menjadi rasa simpatik. Entah apa yang akan terjadi setelahnya, Bisma tidak bisa membayangkan itu semua terjadi pada mereka.
“Ah, ngaco deh!” bentaknya pada dirinya sendiri, sembari menghela napasnya dengan panjang.
Bisma teringat dengan sesuatu yang ia lupakan. Ia merogoh kantung jaketnya, untuk mengambil semua yang ia dapatkan hari ini.
Terlihat beberapa permen dan uang receh yang gadis itu berikan tadi. Ia juga melihat kembali selembar foto mereka, yang tidak sengaja diambil oleh pelayan salon itu.
Bisma memandangnya dengan saksama. Baginya, foto itu terlihat sangat lucu.
‘Untung saja, dia tidak menyadari kalau aku menyimpan foto ini dan diam-diam mengalihkan suasana supaya ia tidak mengingatnya. Aku suka memandang foto ini. Ada apa ini? Apa yang aku rasakan saat ini?’ batinnya, merasa seperti sudah tersihir oleh kepolosan gadis yang seharian ini sudah bersama dengannya.
Bisma menghela napasnya panjang, kemudian menutup matanya menggunakan lengan tangannya.
“Huh ... gadis bodoh. Jelas-jelas, gue selalu malu pas ngeliat tingkahnya yang polos. Wajah gue pun selalu merah, dan dia tahu itu. Tapi dia gak sadar, kalau gue begini tuh gara-gara dia. Dia terlalu lugu,” gumam Bisma lirih, lalu kembali memandangi foto tersebut, dengan senyuman yang selalu merekah.
Namun, senyuman itu tiba-tiba luntur ketika mengingatnya kembali.
“Tapi, dia itu kan adik tiri gue ...,” gumam Bisma lagi, yang sudah bingung harus berbuat apa.
‘Apakah mungkin, untuk menjalin hubungan dengan adik tiri? Aku merasa, dia adalah gadis yang aneh. Dan ... aku baru sekali bertemu dengan gadis seperti dia. Apa aku bertindak terlalu gegabah? Apa perasaanku ini boleh dilanjutkan?’ batin Bisma, yang merasa benar-benar sudah tersihir oleh kepolosan yang dimiliki Ara.
“Haaaa ....”
Bisma menghela napasnya dengan panjang. Diletakkan foto tersebut beserta barang-barang yang lainnya, kembali di saku jaketnya.
‘Aku tidak ingin memikirkan hal ini terlalu lama. Lama-lama, aku bisa menjadi gila,’ batin Bisma, yang merasa tidak ingin memikirkannya lagi, dan bergegas untuk tidur, dan menyongsong hari baru yang lebih indah daripada hari ini.
***
__ADS_1