
Phakkk....
Cekalan erat. Sebuah tangan putih ke tangan kulit yang sawo matang. Rayyan.
Rayyan menoleh melihat ke bawah. Lebih tepat ke tangan kanannya yang di cekal dan di cekram kuat oleh layya.
Beralih menaikkan pandangannya melihat wajah layya.
Ia menghela nafas.
"aku harus ke toilet dulu layya...? Dari tadi lho aku nahannya? Dari kita masuk ke rumah sakit lho...? Kebelet banget nih
..?!". Pinta rayyan, yang nyaris seperti memohon ke layya.
Soalnya. Dari dokter dan perawat keluar dari kamar tersebut. Setelah mengantar layya ke kamar. Layya tidak melepaskan tangannya.
Dan ya. Tadi sempat lepas. Karna wanita bernama layya Zunaira tersebut tadi. Membetulkan letak kancing bajunya, yang tidak beraturan terpasang.
Dan sekarang?. Beginilah.
"bodoh! Enggak mau...Bukannya kamu tadi yang kebelet suruh aku di rawat? ...Sekarang jangan banyak komentar. Aku juga nggak mau gini! Apa lagi satu ruangan denganmu".
Rayyan mau tidak mau menghela nafas.
'seriusly...'.
"memang kamu butuh di rawat untuk semalam saja layya?!".
"dan aku tidak suka menginap di rumah sakit! Dan juga... Kondisi tubuhku baik baik saja...".
"kamu lihat tadi hasil Rontgenmu layya? Dan kamu juga sudah dengar apa kata dokternya? ...".
"...". Layya terdiam. Yang artinya. Rayyan benar.
Tapi tetap saja. Ia tidak mau di rawat.
"terserah! Pokoknya kamu enggak boleh ke mana mana. Temani aku!".
"aku tahu layya? Tapi sebentar saja. Aku mau ke toilet. Hanya toilet!".
"...". Layya diam tidak menjawab sambil membuang wajahnya ke samping.
"layya? Please...?".
Layya kembali menatap wajah rayyan. Namun, dengan kekesalannya.
"Tidak! Enggak mau. Pokok nya enggak mau! Tahan saja". Bersikeras layya masih dengan mencekal tangan rayyan. Dan sama sekali bagi layya tidak berpikiran untuk melepaskannya.
Rayyan mendesah sebelum kemudian menarik nafas panjang.
"serius layya? ...Hanya kamar mandi lho? ...beberapa langkah saja? Tuh lihat sana pintunya". Tunjuk rayyan ke pintu kamar mandi, yang tidak jauh dari ranjang di mana layya duduki sekarang. Hanya beberapa langkah saja. Maka ia akan sampai di sana.
Layya menggeleng cepat tanpa melihat ke arah yang di tunjuk rayyan. Sedang dirinya kini sudah memeluk lengan rayyan.
"serius...?". Lagi lagi rayyan bertanya tidak percaya dengan ketakutan layya yang menurut nya...Tidak masuk akal.
Layya menarik nafas naik turun sembari sesekali melihat ke sekitarnya.
Melihat hal tersebut mau tidak mau. Rayyan menghela nafas frustasi.
"ayolah layya? Kamu bukan anak kecil yang takut dengan hal begitu begitu an?!".
Layya beralih melihat rayyan, memohon. Sedang mimik wajahnya masih ketakutan.
Lagi lagi rayyan mendesah. Melihat hal di depan matanya. Dan ini sudah terjadi semenjak satu jam yang lalu. Setelah pertengkaran kecil dan adu mulut mereka, yang tidak ada berhenti. Sebelum ia mengalah.
__ADS_1
Dan seperti inilah ia sekarang.
Syukurlah ia. Karna tidak ada pekerjaan penting untuk besok pagi yang harus segera ia tangani. Terkecuali hanya satu. Rapat dengan karyawan, yang menangani proyek. Yang baru baru ini di ia serahkan.
"ini rumah sakit ray...? Pokoknya enggak mau".
"kita sudah bicarakan ini layya?... Dan di pikir berapa kalipun. Sama sekali tidak masuk akal layya?...Seriuslah...?".
Layya memilih menarik nafas panjang dan diam. Ia ngantuk, Namun tidak berani untuk menutup mata. Ia tidak mau menahan rayyan di sini bersamanya, untuk menemaninya. Tapi terpaksa harus ia lakukan itu.
'ayolah ini rumah sakit. Dimana baginya. Tempat paling horor di dunia. Dari kecil ia sama sekali tidak menyukai rumah sakit. Apalagi masuk ke dalamnnya dan sekarang...? Aku sudah di dalamnnya. Hal yang tidak pernah aku impi impikan apalagi bercita cita...Euhhh...'.
'sekalipun aku ke rumah sakit. Baik itu mengunjungi teman atau karyawan perusahaan atau apapun itu. Aku hanya akan ke sini jika siang hari. Dan Aku anti ke rumah sakit jika malam hari. Di rawat melahirkan saja. Aku memilih di rumah. Dan ini pertama kali baginya bermalam di rumah sakit. Dan itu...Karna pria ini'.
Terlihat selang di tangan kanan layya, yang terhubung ke botol infus tergantung di samping ranjang dengan ukuran satu orang. Ranjang rumah sakit.
Rasanya ia mau menangis tapi ada rayyan di sini. Tidak...Ia mau menangis. Sangking begitu dirinya ketakutan begini.
Tidak! Tangan rayyan. Tidak mau ia lepaskan.
Walau apapun yang pria ini katakan.
Terdengar suara nafas rayyan yang mendesah.
"layya..?..".
"Tunggu aldi datang!...Bukankah kamu menyuruh aldi tadi ke sini? Setelah itu baru ke kamar mandi".
"...". Rayyan terdiam.
Rayyan mengalihkan matanya melihat ke ranjang di sisi layya.
"baiklah! Sana dikit lagi. Beri aku tempat duduk".
Rayyan mendesah.
"ayolah layya? Kakiku tidak akan kuat selama menunggu aldi tiba! Paling tidak biarkan aku duduk".
"....". Layya masih bergeming di tempat. Sembari melihat ke sampingnya sebelum kemudian kembali melihat rayyan.
Rayyan mendengus sambil tersenyum tidak percaya.
*Dalam ke adaan seperti ini. Masih saja wanita ini tidak mempercayainya.
Kamu benar benar luar biasa layya*.
"kamu tidak membiarkan ku duduk di tempat lain kan? Dan jika tidak. Lepaskan tanganku. Biar aku duduk di sofa sana". Tunjuk rayyan sekilas ke sofa dengan melihat sesaat ke sana. Sebelum kembali melihat layya di depan matanya.
Menurunkan pandangannya. Layya kembali melihat ke sisi ranjangnya. Setelah beberapa detik berpikir lagi.
Dan kemudian. Secara mengejutkan. Layya memilih mendengar rayyan dan bergeser ke samping. Memberikan tempat duduk ke rayyan. Dan tanpa melepaskan tangannya ke rayyan.
Ia tidak akan mempercayai pria ini. Bisa saja setelah ia lepaskan. Dan pria ini akan mengambil kesempatan itu untuk ke kamar mandi. Dan ia tidak bisa melakukan itu.
Mungkin jika rayyan tidak di sini. Mungkin ia masih bisa menghadapi ketakutan+kepanikannya sendiri ini jika yang ada di sini itu. Ayrin atau rendra.
Baginya. Tidak masalah jika orang itu ayrin dan rendra atau Gerard. Selain dari mama ayrin juga pamannya sendiri. Melihatnya meringkuk ketakutan dengan menangis sesegukan. Tapi tidak dengan memperlihatkan dirinya yang begitu kepada pria ini. Rayyan.
Tidak. Ia tidak akan pernah mau memperlihatkan itu. Maka begini lebih baik.
Lagi lagi rayyan mendesah.
"aku tidak bisa mempercayai ini!".
Layya diam. Menahan kantuknya.
__ADS_1
"kamu ngantuk?!". Tanya rayyan. Saat melihat mata layya yang mengedip ngedip seperti mau tidur serta kepala layya. Yang sesekali mau jatuh ke bawah.
Menarik nafas. Layya menatap rayyan.
"tidak! Sama sekali tidak. Aku tidak akan bisa tidur".
"karna takut aku akan keluar?!".
Layya kembali mendongak menatap wajah rayyan, yang juga sedang menatapnya dengan dingin.
Layya menggeleng.
"tidak!?...".
"tidak perlu berkata bohong layya? Aku sudah sangat mengenalimu. Terkecuali ini...Tunggu...Apa ada hal lain lagi yang tidak aku ketahui? Dan nanti akan mengejutkan ku lagi seperti hal ini". Rayyan menatap layya. Setelah tadi mengalihkan matanya saat berucap dengan nada lelah ke layya.
"...". Layya diam. Menatap rayyan kesal.
'memang apa yang aku lakukan? Dan ini terjadi juga karna salahnya. Meskipun...Arghhh...Bodoh. Pokoknya ini salahnya'.
"aku bahkan sangat yakin. Sekarang kamu sedang menyalahkan ku!".
"apa bukan?!". Kesal layya. Yang tidak bisa ia tahan.
"menurutmu?!".
"Kamu tahu jawabannya!".
Rayyan mendengus.
Wanita ini benar benar.
"ini tidak akan terjadi, jika kamu tidak tenggelam layya? Dan tentu saja jika kamu bisa berenang. You know...?!".
"aku tidak membicarakan itu". Geram layya kesal.
Rayyan mendengus.
"tentu saja tidak! Karna itu salahmu".
Ckck...
Layya mau menimpali ucapan rayyan. Namun, ia tidak tahu harus menjawab apa.
"kita membicarakan ini ray?!". Geram layya.
"dan kita sudah beradu mulut untuk ini beberapa menit yang lalu layya! Jadi hentikan. Aku tidak dalam kondisi mau mengalah sekarang".
Layya mengambil nafas naik turun dengan berat.
"yang memulai nya siapa. Yang menghentikan juga siapa".
Rayyan mau tidak mau memilih menggertak kan giginya.
Jangan bertanya. Kenapa layya tidak menghubungi orang lain yang bisa menemaninya di sini. Contohnya ayrin sahabatnya atau si pria cupu itu.
Ya. Layya sudah melakukan itu. Dan menghubunginya melalui handphone nya yang satu lagi. Layya pinjam. Karna tas dan handphone layya berada di rumahnya.
Ayrin tidak bisa datang karna dia harus berangkat lagi keluar kota dengan rekan kerjanya. Untuk pekerjaan nya yang belum tuntas. Sedang pria cupu...Yang ia dengar sepintas. Tidak berada di negara ini. Syukurlah. Dan entah kenapa ia sangat bersyukur. Sehingga jadilah seperti sekarang.
Layya sempat meminta rose atau aldi untuk menemani dirinya di sini. Jika rose mungkin ia menyetujui tapi tidak dengan aldi. Ia sudah menghubungi rose untuk menemani layya. Namun wanita itu sekarang sedang menghadiri pertemuan di acara perjamuan perusahaan. Yang seharusnya ia yang pergi ke sana. Namun, ia tidak bisa karna kejadian beberapa jam yang lalu.
Aldi? Dari awal ia tidak setuju. Jadi bagaimana mau menghubungi. Ia hanya menghubungi aldi untuk membawa berkas yang harus ia selesai kan untuk keperluan meeting besok pagi saja.
Dan ya. Meeting seharusnya di lakukan jam 8 tepat. Kini sudah ia suruh aldi untuk mengundur jam 9 saja. Karna di saat jam 8. Ia harus menemani layya dulu. Dengan berbagai pemeriksaan lagi.
__ADS_1