
"leca..? Kamu lihat yusuf? Di kamar tidak ada". Tanya imelda begitu menutup pintu kamar.
Dimana yusuf dan maryam semalam tidur di dalam sana. Dengan tangan imelda masih memegang gagang pintu. Raut wajah terlihat sedikit panik.
Ia sudah mencari ke sekitar kamar yang cukup luas tersebut bahkan sampai ke kamar mandi.
Yusuf tidak ada.
"saya tadi sempat melihat yusuf turun ke bawah nyonya?!". Jawabnya suster yang menjaga maryam, lirih dan sopan.
"oh begitukah! Terima kasih ya leca. Maryam di mana? Kenapa tidak bersama mu?!".
Seingatnya tadi. Setelah selesai sarapan. Maryam minta untuk jalan jalan di luar rumah.
Dan ia sangat bersyukur. Maryam bukanlah gadis kecil yang suka merengek atau nangis sekaligus manja. Ketika tahu kalau bundanya sedang di rawat di rumah sakit. Bahkan Maryam bersikap sebaliknya.
Ya. Tadi pagi. Ketika bangun. Hal pertama yang maryam dan Yusuf tanyakan adalah. Bundanya. Dan ketika ia menjawab kalau bundanya ke rumah sakit dan tidur di sana karna butuh di rawat.
Tanpa memberitahu lebih jelas. Keduanya mengangguk mengerti serentak. Lalu keduanya meminta makan karna lapar.
Ia sedikit khawatir. Seperti nya, keduanya memaksakan diri mereka untuk mengerti ke adaan layya.
"non maryam ada di taman samping nyonya. Tidak mau masuk dulu. Katanya mau lihat lihat bunga. Saya mau ambil minum. Non maryam minta minum". Suara suster di hadapannnya. Menyentak lamunan imelda.
Sebelum kemudian alis imelda menyatu dan raut wajahnya terlihat tidak suka ke suster di depannya. Sedang mimik wajah imelda memperlihatkan ke cemasan.
"lalu kamu tinggalkan Maryam sendiri di sana?!".
Tersentak terkejut. Leca buru buru membantah.
"tidak nyonya? Non maryam bersama nami nyonya?!".
Imelda menurunkan tatapan tajamnya. Namun, masih menatap menginterogasi leca.
"benarkah? ".
Ya. Sejak kejadian kemarin. Ia tempatkan 2 suster dalam menjaga maryam. Sedang yusuf. Sangat tidak suka akan hal begitu. Jadinya...Tama. Papi rayyan. Memilih akan menjaganya sendiri. Lalu di mana keduanya sekarang.
"ya nyonya? Nyonya bisa memastikan sendiri".
Imelda menarik menghela nafas kasar.
"tidak perlu! Kamu tahu kan bagaimana kejadian kemarin?".
Leca mengangguk mengerti dan dengan rasa bersalah.
"saya tidak mau hal kemarin terjadi lagi. Jaga keduanya dengan baik, jangan pernah lalai dan hilang dari penjagaan kalian. Kamu mengerti?!".
Leca mengangguk mengerti.
"ya nyonya?!".
Imelda menarik nafas sembari melihat ke arah lain.
"baiklah. Saya akan cari Yusuf dulu. Kamu cepat kembali ke sana. Bawa obat anti nyamuk juga. Saya tidak terima jika satu saja nyamuk menggigit kulit putihnya. Gajimu taruhannya". Imelda melenggang pergi dari sana.
Ke arah tangga dan turun tanpa berbalik melihat ke belakang.
"ini juga mau ambil obat anti nyamuk nya nyonya?!". Ceklek...
Keluh leca sebelum membuka pintu di depannya.
Menjadi babysitter. Bukanlah pekerjaan yang mudah. Apalagi...Di rumah. Orang terpandang di negeri ini.
💚💚💚💚💚
Rumah dengan gaya klasik eropa. Di depannya terparkir satu mobil berwarna putih.
Rayyan yang sedang berjalan menuju ke pintu rumah. Setelah memarkirkan mobil nya asal di sisi samping kiri rumah. Menoleh menatap mobil putih di hadapannya tanpa menghentikan langkahnya.
Hingga sampai tepat berada di depan rumah dan bersisi dengan mobil putih tersebut. Rayyan sejenak menghentikan langkahnya.
Mobil putih dengan merek yang tidak asing baginya. Tentu ia juga sangat mengenali si pemilik mobil tersebut.
Kepalanya memutar ke kiri melihat ke rumah di hadapannya. Lebih tepat pikirannya berada di dalam rumah tersebut.
Rayyan mencekram kuat buku tangannya. Di sertai tatapan tajamnya yang entah kemana. Sebelum kemudian ia menarik nafas setenang mungkin.
Menenangkan dirinya. Setenang mungkin.
__ADS_1
Rayyan kembali melanjutkan langkahnya.
'paman Austin!'. Batin rayyan.
Rayyan masuk ke dalam rumah dan memberi kan salam. Yang di jawab sopan oleh bibi kepala pelayan di rumah tersebut.
'jika paman Austin sekarang berada di sini...Itu artinya...'. Lagi lagi rayyan mencekram buku tangannya.
"tuan muda? Nyonya mencari anda, dan berpesan untuk segera menemui beliau".
Langkah kaki rayyan seketika berhenti lalu ia menoleh melihat ke belakang.
Ke seorang wanita paruh baya. Yang selama ini telah setia merawat dirinya ketika ia bayi.
"papi di ruang kerjanya?".
Bibi yang bernama Mariah tersebut mengangguk membenarkan.
"ya tuan muda!".
"...baiklah, mami di mana bi?!". Tanya rayyan di sertai senyum tipis nya. Namun tidak dengan hati dan perasaan nya sekarang.
"Tadi di ruang makan bersama maryam".
Rayyan menyatukan alisnya.
'maryam?!'.
"Yusuf tidak ikut? Apa belum bangun?!".
"Yusuf bersama tuan besar tadi. Lalu ketika ada tamu tuan besar. Yusuf berada di ruang samping dengan gamenya. Namun tiba tiba saja enggak ada di sana. Bibi dan nyonya sedang mencarinya tuan muda!".
"... Maksud nya dia menghilang di dalam rumah?!".
Bibi Mariah tersebut lembut.
"ini bukan rumah yang kecil tuan muda. Bahkan tuan muda sendiri dulu pernah tersesat!".
Rayyan tersentak terkejut dengan ucapan bibi paruh baya di depannya. Ia membuang muka ke samping karna merasa malu.
"baiklah! Aku akan bantu cari, setelahnya baru menemui mami! Sampaikan itu ke mami ya bi? ". Rayyan melangkah pergi dari sana. Namun beberapa langkah.
Rayyan kembali berhenti dan membalik badan. Melihat bibi mariah.
"sudah di pastikan tuan muda? Di sana tidak ada. Saya sendiri yang mencari nya di sana!".
Lama terdiam. Rayyan menghela nafas lega.
"baiklah! Terima kasih bi". Rayyan memutar langkahnya ke kanan. Mencari di sayap kanan rumah. Di mana dulu ia pernah tersesat di sana.
Baru beberapa langkah. Belum jauh dari bibi Mariah yang juga melangkah di belakang rayyan.
Rayyan berhenti melangkah.
Kedua manik matanya menatap ke depan. Sedang kedua tangannya berada di kantong celana. Berdiri santai di ambang pintu.
'yusuf... Putranya... Ada disini, di hadapannya'.
'manusia yang sekecil itu...Dan sedang berdiri dengan menatap ke depan...Entah apa yang sedang di tatap di depannya. Hingga tidak bergeming begitu.... Tidak terlihat oleh bibi dan mami...?'.
"bibi sudah mencarinya ke sini?". Suara rayyan yang lirih dan pelan takut Yusuf menyadari ada orang lain di sana. Dapat di dengar oleh bibi Mariah.
Mariah menghentikan langkahnya, yang berjalan berlawanan arah dengan rayyan.
"tidak, belum tuan muda!". Ya. Di sana belum ia cari dan juga. Ia sama sekali tidak kepikiran di sana.
Tanpa mengalihkan matanya. Rayyan berbicara.
"katakan pada mami kalau Yusuf ada di sini bi?!".
Mariah tersentak terkejut lalu memiringkan kepalanya. Melihat ke ruang tersebut. Namun, sama sekali tidak terlihat yusuf.
Menyerah. Mariah menjawab sopan.
"baiklah tuan!". Mariah melenggang dari sana.
💚💚💚💚💚
Imelda celingak celinguk di lantai bawah mencari keberadaan yusuf.
Dan kali ini ia tidak bertanya lagi. Padahal banyak pelayan yang mondar mandir dengan segala aktivitas mereka ketika pagi.
__ADS_1
Saat Imelda hendak masuk ke dalam ruang kerja suaminya. Andryatama. Imelda mengira mungkin yusuf sudah ada bersama Tama.
"nyonya? Tuan muda sudah kembali!".
Suara dari arah belakangnya. Menghentikan gerak langkah nya dan tangannya yang mau meraih gagang pintu.
Imelda membalik.
Kepala pelayan di rumahnya, yang umurnya lebih kurang sama seperti dirinya dan sudah setia menjadi asisten dalam rumahnya dari sebelum ia melahirkan rayyan.
Sekilas imelda melihat ke arah pintu utama rumah sebelum kembali melihat Mariah di depannya.
Ya. Tadi ia berpesan pada mariah. Kalau melihat rayyan pulang. Untuk segera memberitahunya.
"dia sendiri?!".
"...ya nyonya... Sepertinya!". Iya. Ia tidak lihat sosok nak layya. Mariah menyambung di dalam hati.
Nak layya. Entahlah. Yang jelas, nak layya melarangnya untuk memanggil dirinya dengan non layya atau bu layya.
Imelda menyatukan alisnya. Sendiri? Lalu nak layya bagaimana? Di tinggal?.
"baiklah. Di mana dia sekarang?!".
"tadi masih di depan nyonya!".
"oh ya nyonya. Yusuf sudah di temukan dan sekarang ada bersama tuan muda". Lanjut Mariah. Saat dirinya, hampir saja lupa.
"benarkah?!". Seru imelda girang.
Mariah hanya menjawab dengan tersenyum ringan.
"baiklah. Terima kasih Mariah!". Imelda memutar arah tujuannya tadi. Dan melenggang pergi dari sana. Dengan perasaan bahagia.
Bahkan mariah yang melihatnya ikut tersenyum bahagia. Ia berpikir, mungkin sebentar lagi. Rumah ini tidak akan sunyi lagi. Siapa yang tahu. Kalau ternyata, diam diam. Tuan muda sudah memiliki anak. Dua sekaligus. Dan juga, istri yang sangat cantik juga baik serta sangat sopan. Ia hanya bisa berharap. Kedepannya berjalan dengan baik dan semua bahagia.
Sampai di sayap kanan rumah.
Imelda menghentikan langkahnya. Begitu melihat putra dan cucunya dari arah samping. Karna ia berdiri di ambang pintu. Jarak antara mereka sekitar 5 meter dari tempatnya berdiri sekarang.
Menghela nafas lega.
Sebelum melangkah pelan. Menghampiri keduanya.
Posisi ketiganya di dalam ruang yang biasa di sebut imelda. Ruang tengah atau ruang family. Yang cukup amat luas tersebut.
Yusuf yang berdiri di depan. Dengan menatap ke satu foto yang terpajang besar di hadapannya. Serta rayyan yang berdiri di belakang yusuf dengan jarak lebih kurang satu meter. Namun, sejak dari tadi. Rayyan berdiri di sana. Yusuf belum menyadari kehadiran rayyan. Sedang imelda berdiri di samping putranya dengan menatap takjub dan bangga ke gambar di depannya.
Jika mata yusuf tanpa beralih menatap ke foto semasa kecil rayyan. Maka rayyan. Sesekali akan melihat putranya Yusuf. Lalu kembali melihat lukisan di depannya. Sebelum kemudian kedua manik mata rayyan. Lebih tertarik melihat yusuf, putranya.
Imelda tanpa bersuara. Melihat memperhatikan sikap yusuf di hadapannya. Tanpa bisa dirinya menahan senyum bahagia di bibirnya.
'mereka benar benar sangat mirip. Ini seperti keajaiban baginya. Alhamdulillah ya allah. Engkau berikan aku...Cucu yang begitu tampan!'.
Biasa ia selalu bersedih. Dan selalu berharap jika saja Yusuf dan maryam cucunya. Namun, siapa tahu? Keduanya benar benar cucunya. Pertama ia tidak percaya sekaligus shock. Tapi setelahnya. Saat menyadari. Kalau Yusuf dan Maryam cucu kandungnya. Ia benar benar sangat senang dan bahagia. Ternyata tidak sia sia selama ini ia menantikan seorang cucu. Eh...Allah kasih aku 2 sekaligus.
Kebahagiaan yang tidak biasa ia gambar atau ia ungkapkan dengan kata kata.
Kedua manik mata imelda sibuk dalam menatap dua hal di hadapan matanya sekarang.
Dua hal. Yang sangat sangat berarti dalam hidupnya mulai sekarang. Jika dulu, satu dan sekarang...Dua.
Imelda melipat kedua tangannya menatap ke Yusuf dan rayyan secara bergantian. Ralat, ke foto ketika rayyan seusia yusuf terpajang di dinding. Yang ukurannya benar benar sangat besar.
Bibirnya lagi lagi menyungging senyum bahagia.
Rayyan menoleh ke samping. Dan saat itu juga dirinya tersentak tersadar.
"mami sudah di sini? Sejak kapan?!".
"baru beberapa menit!". Jawab imelda acuh tanpa melihat rayyan.
Kedua matanya hanya tertarik, dalam menatap Yusuf.
Yusuf yang mendengar ada suara di belakang nya. Berbalik melihat ke belakang dan saat itu juga. Imelda tersenyum tipis namun senang.
Ia kemudian baru membalik badan. Menatap rayyan.
Nenek cantik dan...
Kedua manik mata Yusuf menatap rayyan. Sedang kepalanya mendongak ke atas. Karna tinggi rayyan. Yang menjulang bagi nya.
__ADS_1
Rayyan. Dengan penampilan nya yang acak acakan. Terutama rambut.
"kamu tidak tidur semalam? Penampilanmu sangat mengerikan ray...?!".