Kata-kata Cinta

Kata-kata Cinta
117


__ADS_3

Pull-up Bar.


Itulah yang sekarang sedang di lakukan Rayyan.


Layya yang tadinya berniat mau meninggalkan Rayyan di sana sendirian. Mengurungkan niatnya dan berhenti berbalik saat melihat apa yang sedang Rayyan lakukan.


Ia tidak munafik dengan mengatakan atau berteriak melihat hal begini rupa. Tidak, akan tetapi ia menikmatinya. Ia tidak memungkiri kalau ia menyukai pemandangan di depannya.


Pria dengan tubuh ramping dan Sixpack nya. ABS nya yang bermunculan. Otot perutnya yang membuat siapapun akan mengerang ketika melihatnya.


Dulu. Ia sering melihatnya dari televisi atau majalah majalah model fashion milik karyawan di perusahaan nya. Tidak ia pungkiri, saat itu. Ia sangat ingin memegang dan menyentuhnya.


Dan sekarang,


Layya menelan salivanya. Saat kedua matanya melihat otot otot tubuh Rayyan yang muncul dan terpampang indah layaknya sebuah karya seni di depan matanya.


Keduanya saling berhadapan. Rayyan dengan aktifitas nya. Dan Layya dengan mulutnya yang menganga dan tubuhnya yang berdiri bak patung yang tidak bergerak.


Tatapan tajam Rayyan menikmati tatapan Layya kepadanya.


Sesekali bulu mata Layya yang panjang dan lentik akan mengedip tanpa dia mengalihkan kedua matanya ke tempat lain.


Layya menikmati waktu sekarang. Seakan di sekitar nya waktu terhenti. Hanya ada dirinya dan pemandangan indah di depan matanya.


Apa ia telah menjadi manusia mesum. Ia juga tidak tahu. Dari dulu ia menyukai melihat hal begini. Sewaktu gadis ia bahkan memiliki banyak koleksi majalah majalah pria seksi begini di kamar nya. Ia sangat terobsesi untuk melihatnya langsung. Apalagi keinginan untuk menyentuh nya.


Saat menjadi seorang asisten dari seorang model dulu. Salah satu alasan nya mau jadi asisten model. Ya ini. Melihat mereka yang berpose bertelanjang dada. Bahkan ada yang hanya menggunakan bokser saja, untuk iklan ****** *****. Dan model gym yang mempromosikan produk olahraga.


Rayyan tersenyum miring melihat tatapan Layya padanya yang sama sekali tidak berkedip.


See Layya. Ini salah satu tujuan ku memintamu untuk menemani ku olahraga. Aku mau melihat reaksi mata mu. Apakah masih sama seperti dulu, atau. Kau sudah berubah.


And so sayang!


Dirimu tetaplah Layya istriku. Dan aku yakin sekarang,


Rayyan menurunkan tubuhnya dari aktifitas Pull-up dan berjalan mendekat ke Layya.


Melihat pemandangan di depannya yang tiba tiba mendekat. Dan Layya sama sekali belum tersadar kalau pemandangan yang sedang dia sangat nikmati adalah milik seorang Rayyan Andryatama. Pria yang sudah menyakitinya dan memperok porandakan hidup nya beberapa tahun yang lalu. Bahkan, sampai sekarang. Layya masih mengingat nya dengan jelas.


"Ah..." Suara Layya yang tersentak terkejut. Saat Rayyan menarik kedua tangan Layya dan membawanya ke tubuh Rayyan.


Hampir mendekati otot dada Rayyan dan sedikit lagi jika Layya turunkan kedua tangannya. Akan sampai di pusar Rayyan.


Diam diam batin Rayyan mengerang dengan perbuatannya sendiri. Ia salah sasaran. Saat ia mencoba mencari tahu Layya tentang dirinya. Ia lupa kalau ternyata dirinya sendiri juga lemah akan sentuhan Layya.


Lihatlah reaksi juniornya sekarang. Berkedut di dalam sana. Dan meminta nya untuk di lepaskan. Ah ****, sial.


Lagi lagi batin Rayyan mengerang.


Melihat dan merasakan di depan matanya, tidak. Bahkan sangat dekat. Jantung Layya berdetak berdentuman di dalam sana. Ia menggigit bibirnya. Menahan dirinya yang mau menjelajahi ABS di depannya.


Dulu, ia hanya bisa melihat dengan terpesona tanpa bisa menyentuh atau menjelajahi nya. Kehadiran seorang model Zeki, nama panggung nya saat itu. Alias (Rayyan Andryatama) ke dalam hidupnya. Pertama kali ia bisa menyentuh nya dan menjelajahi nya. Bahkan bisa menikmati nya sendiri. Tapi sekarang, situasinya sudah berbeda.


Dia,


Layya yang sudah sedikit kembali kesadaran nya. Seketika melebarkan kedua matanya. Saat jarak tubuh keduanya tidak ada lagi.


Ia bahkan bisa merasakan otot otot tubuh Rayyan yang menonjol itu menyentuh kulit tubuh nya. Meskipun sudah di lapisi pakaian.


Namun bukan karna hal itu juga, yang membuat kedua mata Layya melebar terkejut tiba tiba. Melainkan, akan bisikan Rayyan pada telinga nya.


Rayyan yang mendekatkan wajahnya ke wajah Layya. Yang otomatis tubuh kedua nya bersentuhan. Dan dengan sedikit memiringkan kepalanya. Rayyan berbisik di telinga Layya.


Kata kata yang sukses membuat kesadaran Layya yang sudah kembali kedunia nyata sekarang. Buyar seketika.

__ADS_1


Jika orang bisa melihat nya atau terlihat. Sungguh kepalanya sekarang sudah mengelurkan asap dan api di saat bersamaan.


Kata kata itu. Kata kata yang sering Rayyan bisikan padanya dulu. Kata kata, yang membuat mereka melupakan segalanya. Dan hanya fokus pada satu.


"Jelajahi Layya! Aku milikmu," Bisik Rayyan dengan suara sensasionalnya. Di tambah ******* Rayyan, yang bisa membuat Layya menggila. Jika dulu,


Masih dengan posisi yang sama dan keduanya masih terdiam mematung sama sekali tidak ada pergerakan.


Rayyan yang menantikan ke agresifan Layya padanya. Dan Layya, yang kembali kesadarannya.


Hubungan mereka. Bukanlah hubungan yang seperti dulu.


Ia tidak memungkiri. Kalau ia sekarang sangat ingin menyentuh dan menjelajahi setiap otot di tubuh Rayyan. Menikmati nya, hingga ia puas. Akan tetapi,


Dengan berusaha keras. Layya membuang wajahnya ke samping dan menurunkan kedua tangannya di tubuh Rayyan.


Merasakan hal begitu. Masih di posisi yang sama. Rayyan tersenyum pilu.


Ya. Kita tidak seperti dulu. Batin Rayyan


"Ku rasa waktunya sudah habis," Beritahu Layya setelah berusaha keras untuk bisa mengeluarkan suara.


Menjauhkan dirinya dari Layya. Rayyan melihat ke samping, dimana letak jam berada.


"No Layya! Masih tersisa 20 menit lagi."


Layya membulatkan kedua matanya. Ia sontak melihat ke arah jam dinding. Memastikan ucapan Rayyan dan,


Layya mendesah.


'Kenapa waktunya berjalan sangat lambat sih!'


Layya menunduk kan tatapannya ke bawah sembari mencekram kuat buku tangannya.


Rayyan yang melihat itu. Meneliti gerak gerik Layya tanpa terlewat sedikit pun dari penglihatan nya.


Rayyan yang tadi sudah menjauh dari Layya. Hanya berjarak satu langkah. Rayyan kembali menepis jarak tersebut.


Dengan gerakan cepat, yang bahkan Layya tidak bisa meronta.


Rayyan menaikkan kedua tangannya. Membuat Layya mendongak menatapnya dan detik berikutnya.


Rayyan sudah ******* Layya.


Awalnya Layya melebar kan kedua matanya karna terkejut. Detik berikutnya kesadaran nya kembali dan dengan kekuatan tubuhnya. Layya menolak tubuh Rayyan. Hingga ciuman sepihak itu terputus.


Dengan nafas naik turun. Rayyan menatap Layya. Sebaliknya, Layya menatap Rayyan dengan marah.


"Apa yang kau lakukan Ray? Jangan kurang ajar Rayyan Andryatama. Aku di sini menemani mu bukan untuk melayanimu,"


"Why Layya? Jangan membohongi dirimu sendiri Layya. Aku tahu kamu mau ini sekarang, bahkan lebih dari ini. Jadi apa yang salah? Kita suami istri, dan itu sah masih Layya! Masihkah ada yang salah?"


"Kau bertanya karna tidak tahu Ray? Hubungan kita tidak sama seperti dulu. Kau merusaknya, ingatkah kamu itu!" Layya menatap Rayyan emosi.


Rayyan yang membalas menatap Layya. Namun dengan tatapan lembut.


Di sini tidak ia pungkiri. Ia menginginkan Layya tapi juga, ia ingin menyampaikan hasrat Layya.


"Tapi kau mau ini Layya," Rayyan menatap Layya sendu.


Layya menepis tangan Rayyan yang merengkuh kedua pipinya.


"lepaskan," Dingin Layya saat Rayyan tidak mau melepaskan tangannya. Ia kembali menatap Rayyan dimana sejenak tadi membuang wajahnya ke samping.


"Kalau begitu, jangan anggap ku sebagai Rayyan sekarang. Tapi anggap aku sebagai barang pelampiasan mu atau teman **** mu untuk saat ini,"

__ADS_1


Rayyan tahu betul dengan hormon Layya. Jika wanita ini sudah menginginkan ini. Maka dia harus melakukan nya, karna jika tidak. Dia akan terbawa mimpi bahkan bisa melampiaskan ke siapapun itu yang mencoba membangunkannya. Contohnya tadi pagi di rumah sakit. Dan dulu, tapi untungnya. Ia lah yang selalu menjadi pelampiasan Layya.


Ia jadi bertanya tanya 4 tahun terakhir ini. Apa Layya begini juga.


Mendengar ucapan Rayyan. Entah kenapa. Sudut hati Layya sedikit tertarik. Lagian, pria ini yang memancing dirinya tadi. Tapi tunggu, apa dia sengaja.


Detik berikutnya Layya tersadar. Tidak mungkin pria ini memancing nya. Dia sedang berolahraga.


Anehnya. Ia kuat melihat pria pria di luar sana yang bertelanjang dada. Ia bahkan bertindak biasa. Layaknya wanita lain yang mengagumi hal itu. Tapi kenapa dengan pria ini.


Layya mencekram buku tangannya kuat. Menahan dirinya. Kenapa aku lemah dengan dia.


Rayyan yang melihat dan menunggu reaksi Layya. Detik berikutnya Rayyan kembali bertindak duluan. Memang dengan Layya. Harus ia yang bertindak duluan dan sedikit memaksa nya. Dan selanjutnya, hal itu akan mengalir.


Seperti sekarang.


Rayyan yang sudah merengkuh pinggang Layya. Menepis semua jarak dan merapatkan tubuhnya ke Layya sembari memperdalam ciumannya.


Keduanya saling menikmati. Tidak ada perasaan benci atau marah. Keduanya hanya mau menuruti keinginan saat ini.


Seorang pelayan wanita berada tepat di depan pintu gym tersebut. Dengan satu tangan nya membawa satu nampan. Di mana satu tangan lagi memutar knop pintu.


Dari arah yang sama di luar. Imelda bergerak mendekat ke arah si pelayan.


Cleck.


Pintu terbuka.


Dengan hati hati pelayan tersebut membukanya perlahan. Namun, baru sedikit terbuka. Pemandangan yang dia lihat di depan matanya sukses membuat kedua matanya membulat lebar.


Pelayan tersebut kembali menarik pintu untuk tertutup kembali dan berdiri di sana dengan mukanya yang memerah.


"Ada apa? Kenapa tidak jadi masuk? Ah... biar aku yang membawanya. Bawa ke sini," Imelda meminta nampan yang berisikan Dua jus tersebut ke pelayanya. Saat dirinya sudah sampai di sana.


Ia berniat mau melihat Rayyan yang berolahraga dan mau menceritakan dirinya dan tama jika berolahraga di sana.


Tapi,


Pemandangan yang ia lihat sekarang di depan matanya. Tentu ia harus mengurunkan niatnya.


"Bawa ini kembali dan... Apa yang kamu lihat hanya cukup pada kamu saja. Kamu mengerti?"


Pelayan tersebut mengangguk patuh sebelum kemudian menghilang dari sana.


Dengan pintu yang sedikit terbuka. Imelda melihat putranya. Yang sangat agresif ke Layya. Seakan memberitahukan. Kalau Layya adalah miliknya.


Imelda menutup pintu di depannya. Akan tetapi matanya masih menatap daun pintu tersebut.


"Apa yang sebenarnya yang terjadi pada kalian berdua? " Gumam Imelda selanjutnya dia mendesah.


Dari ciuman kalian. Siapapun yang melihat. Tidak ada kebencian di sana. Tapi saling kepemilikan dan,, merindukan satu sama lain.


Imelda berjalan turun ke tangga.


"Nyonya! Tuan besar mencari anda,"


Langkah Imelda terhenti di sertai tersadar dari lamunannya.


"Tuan besar?" Imelda bertanya bingung.


'Bukankah dia di perusahaan? Apa ada yang ketinggalan?'


"Tuan besar menanyakan tuan muda, saya permisi nyonya," pamit pelayan wanita muda tersebut dan melenggang dari sana.


'Ray?' Imelda melihat ke atas. Dimana letak ruangan Gym berada. Detik selanjutnya Imelda tersenyum penuh arti.

__ADS_1


'Putra mu sedang membuat cucu untuk kita lagi, ah senangnya. Rumah ku akan semakin ramai. Ah... Aku menginginkan seorang bayi secepatnya,'


'Bekerja keras lah Ray! Buat mami mu bangga,' senyum Imelda yang semakin sumringah.


__ADS_2