Kata-kata Cinta

Kata-kata Cinta
Bab 51


__ADS_3

Plak...


Suara tamparan yang begitu nyaring terdengar di dek kapal pesiar mewah tersebut. di tengahnya sebuah kolam renang besar dan ada beberapa pasangan yang sedang asik berenang di sana di pinggiran dek kapal terlihat dua wanita yang sedang bersitegang. satu menatap di wanita di depannya sembari memegangi pipinya yang terkena tamparan oleh si wanita di depannya. sedangkan wanita di depannya menatap lawannya geram sekaligus marah.


"kamu membuat semuanya seperti lelucon bagimu reina? apa menyenangkan? ". layya mendesis marah.


Ya. reina dan layya, yang berada di pinggiran dek kapal tersebut terpisah dari orang orang yang sedang menikmati suasana laut dengan minuman nikmat dan snack yang di layani oleh para pelayan di sana serta yang sedang menikmati renangan mereka bersama pasangan masing masing.


Reina menarik nafas tajam terlihat gelagapan.


"layya aku...".


"aku tidak mau dengar alasan apapun itu reina?... kamu tahu? tidak! kalian sangat sangat ingat bagaimana kalian berkerja sama menyakitiku dulu dan sekarang apa kamu bilang?...mau menyatukanku lagi dengan rayyan?... demi yusuf dan maryam?...reina?...aku peringatkan! jangan pernah...ikut campur dalam hidupku...".


Reina tetap tenang menatap layya di depannya sedangkan kedua manik matanya terlihat sayu dan lemah.


"aku kira setelah beberapa tahun hubungan kita bisa jadi baik meski tidak membaik namun siapa kira...kamu kembali membuatku kecewa reina? ". sambung layya lagi setelah diam beberapa saat.


"layya? kamu...".


Layya mengangkat satu telunjuknya pertanda menyuruh reina untuk diam.


"aku tidak mau dengar apapun reina, dengan pembelaanmu!..yang aku tahu dan aku mengerti kamu...sudah sangat sangat keterlaluan tahu enggak! seharusnya...jika saja, jika saja sedikit saja kamu...masih menganggap ku temanmu, kamu harusnya...menjauhkan ku darinya dan bukan...mendorongku lagi ke sana! kamu pikir...4 tahun...hal yang mudah bagiku untuk melupakannya? melupakan semua apa yang dia lakukan padaku?...".


"layya...?...dengarkan aku dulu...". lagi lagi ucapan reina terpotong oleh layya.


Layya menggeleng keras. ia tidak akan menangis. ya, ia tidak akan menangis lagi. sekuatnya layya menahan dirinya untuk tidak menangis meraung di depan wanita ini. wanita...yang sudah bersekongkol menyakiti dirinya dan hari ini. dia...


"aku benar benar membencimu reina? sekarang...? aku benar benar...sudah membencimu! ". layya menatap reina tajam dan manik matanya terlihat kemarahan terpendam di sana sebelum ia melenggang pergi dari sana tanpa menoleh ke belakang bahkan tanpa peduli panggilan reina.


"bagaimana jika aku katakan kalau sebenarnya rayyan dari dulu memang sudah mencintaimu layya? ".


Tak...


Suara high heels layya yang beradu dengan lantai kapal berhenti setelah telinganya mendengar teriakan reina, yang mengucapkan kata kata tersebut dalam satu tarikan nafas bahkan beberapa orang yang berada di sana melihat ke arah mereka.


Layya membalik menatap reina. ia mendengus tersenyum keji.


"bisa kamu ulangi lagi reina?...ucapan bodohmu itu? ". desis layya tajam dengan tatapan dinginnya ke reina.


Reina menarik nafas. masih membalas tatapan layya. tidak ada rasa takut atau...penyesalan dengan apa yang sudah dia lakukan pada layya. karna baginya, apa yang sudah dia lakukan, itu sudah benar.


"aku yakin layya?.. kamu bisa melihat jelas itu semua...".


Tak...tak..

__ADS_1


Layya membetulkan berdirinya melihat menatap reina dengan tangannya terlipat di dada.


"tentu saja!... tentu saja aku bisa melihat dengan jelas, lelucon kalian, permainan kalian dan...pengkhianatan kalian! apa perlu aku sebut satu satu reina? untuk meyakinkan seperti yang kamu katakan perasaan rayyan untukku? cinta? tentu saja! jika tidak ada kata itu mana mungkin seorang layya mau menikah dengannya? cinta? tentu saja! karna kata itu juga...aku tidur dan menyerahkan diriku untuknya jadi...apa pembicaraan ini sudah selesai? jika iya, jangan pernah panggil aku atau temui aku di masa depan! di mana pun kita bertemu...anggap saja. kita...tidak pernah saling kenal, ingat itu reina dan ah...doaku...selalu untuk kalian, supaya cepat bersama dan berhenti mengusik hidupku". geram layya di ujung kalimat sebelum ia melenggang pergi dari sana.


Reina masih berdiri di tempatnya tadi. menatap punggung layya yang terus melaju. hingga hilang dari pandangannya. reina mendesah lelah. berbalik menatap ke hamparan laut dengan tatapannya yang kosong namun tidak dengan pikirannya.


Flashback...


Beberapa menit yang lalu.


Cleck...


Layya menutup pintu di belakangnya setelah menarik satu koper kecil keluar dari kamar tersebut.


Ya, seperti rencana awalnya ke negara tersebut. ia hanya akan menghadiri acara resepsi lalu menginap semalam mengikuti acara dinner party lalu besoknya pagi pagi ia akan kembali ke darat untuk mensurvei pekerjaannya, yang mau ia ambil.


Jam sudah menunjukkan pukul 9 pagi, yang artinya. sedikit melenceng dari waktu yang ia rencanakan.


Trrrrkkkk...


"layya...?".


Langkah serta tarikan koper layya terhenti saat sebuah panggilan memanggil namannya. berbalik melihat ke orang tersebut, yang memang sudah ia kenal. ia tadinya berniat akan menyelesaikan pekerjaannya dulu baru setelahnya ia akan mengurus wanita, yang sudah membuatnya bodoh tersebut.


"jika aku jadi kamu...aku memilih menghilang atau melarikan diri saat melihatku tapi melihatmu datang langsung aku kira...jauh hari sudah kamu rencanakan reina?! ". sinis layya ke reina di depannya. reina hanya memakai baju piyama berlengan dan berkaki panjang, yang berwarna hitam. hanya saja belahan dadanya sedikit terbuka.


Reina menarik nafas tajam sebelum berbicara.


"kita butuh bicara! dan aku yakin...banyak hal juga yang mau kamu tanyakan bukan? terlebih kejadian semalam".


Layya sontak mendengus tajam.


"bukankah seharusnya kamu minta maaf?...itu yang harus kamu lakukan dulu...reina! ". desis layya tajam.


"aku mengira apa yang aku lakukan tidak salah! jadi tidak perlu meminta maaf".


"apa rencana mu?! ".


"seperti yang kamu pikirkan".


"ha ha ha...aku tidak tahu harus mengatakanmu bodoh atau... idiot? ". desis layya lagi dengan tatapan tajamnya.


"terserah kamu mau mengatakan aku apa layya tapi yang jelas...jalan untuk kalian bersama sudah terbuka lebar dan juga aku dengar kamu sangat di sukai oleh mami dan papinya rayyan jadi...".


"maksudmu dengan alasan itu aku harus kembali dengan kekasihmu? atas hak apa? sekalipun seluruh dunia mendukungku itu hal yang tidak akan pernah terjadi reina jadi... percepatlah tanggal pernikahan kalian dan berhenti mengusik hidupku".

__ADS_1


"pernahkah kamu berpikir kenapa rayyan sampai sekarang belum menikah".


"maksudmu belum menikahimu".


"kamu tahu aku tidak bisa bersama rayyan layya".


"dan itu membuat ku gila reina?". tidak bisa bersama? tapi kamu menusukku sahabatmu dari belakang, apa maksudmu? ingin sekali ia menanyakan hal itu tapi...ia tidak mau. ia tidak mau menerima jawaban lain dari pada kenyataan yang selama ini ia pikirkan untuk reina. terkadang ia berpikir tidak baik menuduh orang yang bukan bukan termasuk reina tapi di saat kejadian menyakitkan itu memikirkan dia mengkhianatinya lebih baik. dari pada berpikir menolongnya.


Ah. dulu, dulu sekali. saat mereka bertiga jadi sahabatan. aku, ayrin dan reina. reina sempat cerita kalau dia mempunyai kekasih sekaligus cinta pertamanya. keduanya sudah menjalin hubungan semenjak duduk di bangku SHS hingga ke universitas pun mereka bersama namun...tiba tiba reina yang memutuskan untuk terjun kedunia permodelan. reina memutuskan berhenti dari studynya dan saat itu juga dia dan kekasihnya berpisah. keputusan reina terjun ke dunia modeling ini merupakan tawar menawarnya dengan papanya yang terkenal kejam dan dingin.


Papa reina keturunan cina, jepang dan juga merupakan seorang mafia besar di dunia gelapnya dan tidak banyak yang tahu tentang ini terkecuali klien klien penting atau kerabatnya. papa reina tidak menyutujui hubungan rayyan dan reina lebih tepat papa reina tidak menyukai rayyan bukan karna apa tapi karna papa reina sudah menjodohkan reina dengan anak rekan bisnisnya, yang sesama mafia dan perjodohan itu sudah ada dari reina belum lahir. hingga keluarga reina dan keluarga calon suami reina menentang hubungan reina dan rayyan, hingga ancaman akan membuat bisnis papa rayyan bangrut jika mereka tetap berhubungan. reina yang mengenal papanya tentu termakan akan ancaman itu dan reina meminta papanya untuk memasukkannya dalam dunia modelling alih alih untuk dirinya meninggalkan dan melupakan kekasihnya. dan setelah beberapa tahun ia baru sadar, yang ternyata kekasih yang reina ceritakan dulu itu adalah...rayyan. dia meninggalkan kesan pada kekasihnya yaitu... mencampakkan.


Namun siapa sangka. cinta seorang rayyan membuat rayyan ikut reina yaitu terjun kedunia modelling hingga mereka bertemu kembali dan ia?...jadi korban mereka. eughh...


Lalu...jika di tanya. untuk apa selama ini mereka berhubungan?...yang bisa ia tebak...mereka bermain main mungkin bagi reina tapi tidak bagi rayyan. melihat bagaimana rayyan sudah memantapkan dirinya menikahi reina. mengembangkan bisnisnya hingga sampai ke beberapa negara mungkin supaya bisa sebanding dengan keluarga reina yang terkenal melebihi dari kekayaan papi rayyan. bahkan rayyan sudah membuat rumah mewah dan besar untuk reina dan anak anak mereka nanti lalu...apa yang salah?.


Arghhh...itu bukan urusannya.


Berpikir berapa kalipun, ia sudah seperti pahlawan cinta saja, yang menyatukan dua hati tapi pahlawan sendiri tersakiti lalu...sekarang apa?...menyatukannya kembali? atas dasar apa.


"jauh dari lubuk hatimu aku yakin layya? kamu mempercayaiku".


Layya mendengus. haruskah? haruskah mereka mengungkit hal itu sekarang.


"siapa tahu? ".


"jika kamu bertanya tanya kenapa sampai sekarang aku tetap bertahan di samping rayyan jawabannya hanya satu layya?... ".


"kamu mau rayyan yang mencampakkanmu! ". sambung layya pada ucapan reina.


Reina tersenyum miris lalu mengangguk. bohong, sangat bohong jika ia katakan kalau ia tidak mencintai rayyan nyatanya...ia sangat mencintai pria itu bahkan...sangat sangat. memikirkan menghilang darinya, menyakitinya lagi, menikah dengan pria yang sama sekali tidak ia sukai tapi ia harus. itu sangat sangat membuatnya sakit dan bahkan membuatnya harus menangis selalu ketika mengingat. terkadang ia mau melarikan diri menghilang dari dunia papa dan rayyan. tapi percuma. sangat mudah bagi papanya untuk menemukannya meski ia ke antartika sekalipun.


"karna itu kamu melakukan hal gila itu?! ".


Reina menatap layya di depannya lalu menunduk tidak menjawab.


"karna aku kira...dari awal...kalian...memang di takdirkan bersama".


Layya sontak tertawa bodoh dengan ucapan reina.


"kalian sudah mempunyai yusuf dan maryam jadi...".


Plak...


Sebuah tamparan keras melayang ke pipi putih dan mulusnya reina. layya menatap reina tajam dan dingin serta nafasnya yang cepat karna marah.

__ADS_1


"jangan...membawa bawa anakku dan menjadikan alasanmu reina! ". geram layya.


Flashbak off...


__ADS_2