Kata-kata Cinta

Kata-kata Cinta
Bab 107


__ADS_3

Terkejut...


Bergeming di tempat dengan nafas yang terhenti tertahan...


Otaknya se akan akan, akan berhenti bekerja. Begitu juga dengan aliran darah dalam tubuhnya. Seketika berhenti mengalir ke seluruh tubuhnya....


Detik ini...


Saat ini...


Akibat beberapa kata dari putra nya.


Rayyan.


Masih mencoba mencerna dan mengejanya kembali.


3 kata yang di ucap putranya.


Namun, berapa kalipun ia mengulang. Baik di dalam hati maupun pikirannya.


Berapa kalipun ia mencoba mencerna dan mengeja satu demi satu huruf.


3 kata putranya 'No your daddy'. Mampu membuat dirinya...


Mati rasa!.


Dia...


Putranya!. Titik tidak pakai koma.


Dia...


Darah daging nya!.


Benihnya!.


.....


Apa...Pengakuan itu sangatlah sulit?.


Apa Aku harus merasakan sakit begini.


Kenapa?


Kenapa harus pria itu.


Kenapa tidak Aku.


Apa lebih dari pria itu.


.............


Karna dia ada saat kamu mengenal dunia?.


Karna dia ada saat kamu mulai bisa bicara?.


Karna dia ada saat kamu mulai merangkak dan berjalan?.


Bukankah itu juga hal yang akan aku lakukan jika kamu ada di sisi ku saat itu?.


Aku yang tidak tahu kamu sudah berada di dalam rahim bundamu.


Aku yang tidak tahu Kamu telah lahir ke dunia ini.


Aku yang tidak tahu Kamu yang sudah mulai bisa melihat dan mengenal.


Aku yang tidak tahu Kamu... Yang sudah mulai bisa bicara.


Aku yang tidak tahu Kamu... Yang sudah mulai merangkak, berjalan lalu berlari.


Aku yang tidak tahu...


Haruskah?.


Haruskah ia berteriak di depan putranya ini. Kalau pria itulah penyebab ia tidak bisa melihat dia lahir kedunia ini?. Ia yang tidak bisa merasakan dia berada di dalam rahim bundanya?.


Dan karna pria itu juga...?.


Yang membuatnya dengan gila.


Tidak mempercayai istriku sendiri.


Dengan gampangnya aku beranggapan layya bermain di belakang ku.


Dengan gampangnya aku menobatkan layya selingkuh di belakang ku.


Menjalin cinta dengan pria yang tidak lain adalah... Cinta pertama nya.


Dengan sepelenya aku merasakan jijik kepada layya saat itu.

__ADS_1


Benci dan marah kepada layya.


Tanpa bertanya ke layya atau mencoba mencari tahu kebenaran.


Dia...


Nama yang sama sekali tidak mau ia dengar. Baik sekarang maupun masa depan. Baik yang keluar dari mulutnya sendiri, lebih lebih dari mulut putranya. Saat ini tapi apa...


Putranya, darah dagingnya, benih yang ia tanamkan ke dalam rahim wanita yang sudah ia ucapkan kata menikahinya.


Namun, ia mendengar kata daddy Rendra.


Itu artinya. Daddy nya adalah...


Rendra.


Bukan ia, tapi dia.


Dia pria yang sudah menghancurkannya.


Yang sudah membuatnya melakukan hal bodoh, menyakiti layya dan yang lebih parah.


Ia tidak percaya pada layya.


Garis bawahi Ia yang tidak percaya pada layya. Suami yang tidak percaya pada istrinya sendiri.


Hati wanita mana yang tidak sakit. Hati istri mana yang tidak sakit dan kecewa. Jika istrinya atau dirinya yang sangat tulus dan setia pada suaminya. Tapi...


Seorang suami. Dengan kotor nya berpikir. Dia bermain di belakang. Dia berselingkuh dengan cinta pertamanya. Dia mengotori yang namanya pernikahan. Dia mengkhianati suaminya. Dia mengkhianati kata kata cintanya. Dia berbohong padaku. Cintanya bukan untukku, tapi akan selalu untuk cinta pertamanya.


Tanpa aku mencoba berpikir. Layya tidak mungkin melakukan itu. Tanpa aku mencoba mencari tahu, apa yang sebenarnya terjadi di belakangku dan terlebih di malam itu.


Kenapa mereka berciuman?.


Kenapa layya membalas ciuman pria itu?.


Apa yang mereka lakukan di kamar hotel malam itu?.


Apa mereka sudah melakukannya?.


Apa layya... Benar benar berbuat begitu di belakangku...?.


Kenapa?


Apa salahku?.


Apa aku terlalu sibuk hingga tiada waktu untuk layya?.


Kenapa? Mengapa?.


Bahkan kata kata pertanyaan tersebut tidak pernah terlintas di pikirannya.


Layya mempermainkannya.


Layya bermain di belakangnya.


Layya diam diam menjalin kasih dengan cinta pertamanya.


Layya wanita yang menjijikkan.


Aku membencinya.


Aku marah.


Aku tidak mau melihatnya lagi.


Aku yang lari dan selalu membelakangi itu. Dengan hal yang aku percaya dan ingin aku percaya sendiri.


Terkadang aku berpikir.


Seandainya ketika aku melihat ke bersamaan mereka dulu. Bukannya pergi tapi aku mendekat ke mereka dan bertanya...


"apa yang kalian lakukan? ".


Atau kalimat.


"sedang apa kalian berdua?".


Atau kalimat.


"layya, aku tidak suka melihatmu bersamanya. Apalagi kamu tersenyum dan tertawa begitu, aku tidak suka. Menjauh darinya".


Mungkin.


Kami masih baik baik saja. Dan hal itu tidak akan pernah terjadi.


Aku akui. Aku tidak mencintai layya. Aku yakin itu. Tapi... Untuk hidup bersama layya, menghabiskan hari hari kami, menghabiskan masa muda dan sama sama menjemput masa tua. Pernah terpikir olehku. Untuk menjalani itu bersama layya.


Berada di samping layya membuatku nyaman. Bersandar di bahu dan punggungnya layya membuatku selalu merasa aman. Seperti semua beban atau masalah yang selalu muncul di hidupku hilang seketika. Memeluk serta menggenggam tangan layya membuat tubuhku hangat dan tentram. Aku...

__ADS_1


Seperti mengetahui arti dari kata pulang yang sebenarnya.


Dia rumahku. Dia tempat teraman dan ternyaman di dunia ini. Sebelum...


Hal itu terjadi.


Bahkan sangat ku sesali hingga detik ini.


Aku sangat bersyukur. Dokter itu. Dokter yang aku bayar untuk menyuntik obat, yang bisa membuat wanita hamil keguguran dan tidak akan bisa hamil lagi.


Tidak melakukan itu. Tapi malah menyuntik obat kesuburan ke dalam rahim layya. Yang ternyata di saat itu, layya sudah mengandung dua benihnya.


Menyuntik obat tersebut. Tidak lain adalah. Ia tidak mau layya mengandung anak dari pria itu.


Bohong ketika ia mengatakan menyuntik layya dengan obat tersebut ketika hari pertama mereka menjadi suami istri karna nyatanya. Ia menyuntik obat tersebut. 3 bulan setelah mereka menikah. Yaitu ketika layya saat itu pingsan akibat kelelahan kecapean kerja. Itulah yang dokter di rumah sakit katakan.


Saat itu...Ia masih ingat. Layya pingsan di lokasi pemotretan. Tapi bukan pemotretan dirinya. Melainkan pemotretan pria cupu itu. Sedang ia saat itu berada di italia untuk acara ulang tahun brand ternama. Kebetulan waktu itu. Ia menjadi salah satu model brand tersebut. Calvin Klein.


Mendengar layya jatuh pingsan yang di hubungi oleh paman layya langsung. Ia buru buru menyelesaikan pekerjaan nya di sana dan segera terbang kemari tanpa menunggu alex.


Namun sampai di sini apa yang ia lihat? . Kekhawatiran nya, kecemasannya, gemetaran pada tubuhnya, yang ia sendiri tidak tahu kenapa. Di gantikan oleh kemarahan dan kebenciannya pada layya.


Flash back...


Berpakaian rumah sakit. Warna biru pudar.


Layya berada di atas ranjang dengan posisi duduk. Sedangkan rendra berada di samping ranjang dengan duduk di kursi.


Layya yang wajahnya sangat kelihatan pucat dan lemas. Dengan satu tangannya terpasang selang infus. Sedangkan Rendra dengan telaten dan penuh kasih sayang. Menyuapi suap demi suap bubur nasi ke dalam mulut layya.


Tanpa keduanya sadari. Kehadiran rayyan di balik pintu kamar rumah sakit. Melihat semua hal tersebut.


Kedua tangan rayyan terkepal erat. Wajah rayyan terlihat gelap. Sedang manik matanya menatap gelap penuh amarah ke satu pasangan yang berada di dalam.


Membuang mukanya ke samping. Menarik nafas berat dan cepat.


Rayyan berbalik dan melangkah pergi dari sana. Dengan perasaan campur aduk. Kecewa, sedih, marah sekaligus terhinggap rasa benci terhadap layya.


Saat beberapa langkah jauh dari pintu kamar yang di rawat layya. Langkah rayyan berhenti. Manik matanya menatap ke depan. Ke sosok wanita yang mengunakan dress maron sedang mendekat ke arahnya. Atau mau ke kamar layya. Reina.


Sekilas reina melirik rayyan si sampingnya sembari berlalu melewati rayyan. Tapi tidak dengan rayyan.


Rayyan menatap reina intens. Seperti suatu rencana telah tersusun di otaknya.


Saat reina sudah sampai di samping rayyan tanpa reina menghentikan langkahnya. Rayyan menurunkan pandangannya tidak melihat reina lagi.


"kamu memintaku untuk meninggalkan layya bukan?!".


Tuk...


Suara high heels reina yang terhenti.


Reina berbalik melihat rayyan.


"apa?!". Tanya reina terkejut dan tidak mengerti.


Rayyan membalik badan menatap reina sedang kedua tangannya berada di kantong celananya.


Rayyan diam... Tidak memperjelas lagi ucapannya. Karna ia yakin, reina mendengarnya.


Reina berpikir sejenak sebelum menjawab.


"aku memintamu menjauhi layya ray? Bukan meninggalkan layya! Apa apaan dengan ucapan mu itu? Terdengar seperti kamu benaran sudah jatuh cinta sama layya, apa aku salah?!".


Rayyan berjalan mendekat ke reina.


"ya! Salah, sangat salah! ...". Rayyan menghentikan ucapannya begitu tiba di depan reina.


"seorang Rayyan Andryatama...Tidak mungkin jatuh ke seorang perempuan seperti itu. Dia bukan levelku. ".


Reina menggeram tidak suka.


"b***** kau ray...?".


"Zeki!".


"siapa yang peduli?! ...Aku tidak mau tahu, menjauh dari layya ray. Dia wanita baik baik, tidak pant...".


"ha ha ha... Baik baik? Ha ha ha...Kamu sedang berjanda? hah?... Huhhh...". Dengus Sinis rayyan setelah berhenti tertawa.


Rayyan menatap reina dengan matanya yang melotot penuh benci sekaligus jijik di saat bersamaan.


Reina yang melihat raut wajah rayyan begitu. Sama sekali tidak mengenali lagi sosok rayyan yang ia kenali dulu.


"ray kau!".


"ayo kita menikah...Jika kamu mau aku menjauhi wanita itu".


Reina seketika matanya membulat mendengar ucapan rayyan.

__ADS_1


"a-apa?!".


__ADS_2