Kata-kata Cinta

Kata-kata Cinta
Bab 68


__ADS_3

Srett..


Menyipit. Itulah hal pertama yang layya lakukan di pagi ini begitu ia terbangun dari tidur nyenyaknya semalam.


Layya yang tidur dengan posisi tengkurap memiringkan kepalanya ke samping kanan menoleh melihat siapa yang membuka tirai yang ada di dalam kamarnya.


Rayyan.


Mata layya sontak terbuka sepenuhnya melihat siapa yang berdiri menjulang tinggi di hadapannya di depan jendela kaca sembari berkacak pinggang menatap dirinya.


Layya seketika bangkit bangun dan duduk lalu beralih melihat ke pintu kamarnya dan kembali lagi melihat ke rayyan, yang masih berdiri di tempatnya.


Ia mengernyit.


"bagaimana kau bisa masuk? Seingatku aku sudah mengunci pintu kamarnya". Tanyanya yang masih enggan beranjak dari kasur, yang menurutnya sangat empuk. Pantas untuk biaya yang di keluarkan oleh penyewanya.


Rayyan mendesah sembari mendekat ke layya.


"kamu mengunci dari dalam tapi kamu tidak mencabut kunci dari luar! Dan untung itu aku layya? ". Rayyan menduduki bokongnya di sofa single samping ranjang dan menyilang kakinya menatap layya.


Layya sontak melihat ke pintu kamar sebelum kembali melihat ke rayyan. Ia tersentak saat melihat pakaian rayyan sudah rapi dengan setelan jasnya dan setelan yang rayyan kenakan bukanlah yang kemarin melainkan setelan baru, yang tadi malam dia belikan dan memaksanya untuk memilih untuk dia dengan ancaman yang mengesalkan.


"kamu sudah bersiap siap, mau keluar? ". Layya yang tidak bisa membendung rasa ingin tahunya terpaksa bertanya.


"tadinya sih iya tapi sekarang sepertinya aku harus menunggu seseorang lagi karna dia baru bangun".


Layya menyatukan alisnya. Satu detik kemudian dia sadar kalau ucapan rayyan adalah untuk menyindir nya.


"maksudmu aku?! ". Layya menunjuk ke dirinya sendiri.


"jangan bilang kamu lupa dengan ucapan ku semalam! ".


Layya mengedipkan matanya.


1 detik...


2 detik...


Layya masih memikirkan. Ucapan mana yang rayyan maksudkan. Karna terlalu banyak yang pria ini ucapkan tadi malam, bahkan mengancamnya jadi yang mana?.


Rayyan mendesah lelah. Sudah ku duga.


5 detik setelahnya. Layya baru teringat dengan kata yang di maksud rayyan.


"ah...Maksudmu kamu menyuruhku untuk bersiap siap jam 8 itu?! ".


Rayyan diam menatap layya. Yang artinya itulah yang benar.


"aaah...". layya mengangguk mengerti. Kepalanya memutar ke samping mencari iphonenya namun dia tidak menemukan.


"jam berapa sekarang?! ". Tanya santai.


"10 dan waktu sarapan sudah lewat".


Kedua mata layya melotot lebar.


"kau bilang semalam kita akan kembali siang ini bukan?! ".


Rayyan mengangguk.


"tentu saja tapi karna seseorang kita harus memajukannya lagi jadinya sore nanti".


Layya mendecak kesal lebih ke dirinya sendiri. Ia sadar kalimat rayyan adalah untuknya.


"mana boleh begitu? ". Protesnya masih tidak terima meski sadar dirinya lah yang salah.


Padahal dari semalam bahkan sebelum dunia mimpi membawanya ia selalu melafalkan kalimat. 'ia akan kembali besok siang'. Dan urusannya dengan rayyan segera berakhir jika ia hari ini patuh padanya karna pria ini sudah berjanji akan memberikannya surat cerai itu.


Dan sekarang apa.


Layya menunduk menatap ke selimut yang menutupi tubuhnya dari pinggang ke bawah.

__ADS_1


Rayyan menatap helaan rambut panjang layya yang lurus ikut terbawa bersamaan dengan layya yang menunduk dan seketika itu membuatnya kesal.


Ia tidak bisa melihat raut wajah itu yang tanpa mengenakan kain penutup kepalanya.


Rayyan tersentak saat teringat sesuatu.


'ah sudah berapa lama ini?... Sejak terakhir aku melihatnya...Tanpa penutup kepala'.


Ingatan rayyan kembali ke tadi malam di mana layya yang mau tidur tanpa membuka hijabnya.


Semalam...


"kamu serius?! ". tanya rayyan dengan alisnya yang menyatu. Setelah melihat layya yang keluar dari kamar mandi di dalam kamar tersebut dengan menggunakan piyama tidur berbahan sutra halus berlengan dan berkaki panjang. Semalam keduanya ke mall yang berada di dubai'the dubai mall'. Dan baju itu ada setelah perdebatan panjang.


"kamu masih di sini? Keluarlah aku ngantuk, jika kamu masih berharap aku menjadi patuh besok".


"siapa di sini yang kamu kira tidak bisa melihatmu tanpa pembalut kepalamu itu".


Layya sontak melihat menatap rayyan tajam. 'pembalut? Ia sering mendengar kalimat itu dari evi, yang maksud evi kalau pembalut itu adalah suatu benda yang di letakkan di...Dan pria ini bilang kalau hijabku pembalut?!'.


Layya memiringkan kepalanya menatap rayyan di sertai kerutan di dahinya.


"pembalut? Maaf, kata katanya bisa di perbaiki?". ucap layya menahan kesabarannya.


Rayyan menyatukan alisnya. Ia tidak mengerti.


"memang ada yang salah? bukankah kain itu membalut kepalamu". Tunjuk rayyan ke kepala layya dengan menaikkan dagunya ke layya.


"lalu jika aku menggunakan yang besar seperti yang kamu tunjukkan di mall tadi malam, kamu akan bilang aku menyelimuti kepalaku?! ".


Rayyan berfikir sejenak. Ke kain yang ia tunjukkan semalam ke layya. Kain hitam yang biasa perempuan di sini gunakan untuk menutupi kepala bahkan sampai menutupi tubuhnya, sebelum ia menjawab.


Ia mengangguk dengan wajah polosnya.


"mungkin! Kain itu menutupi seluruh tubuh tapi aku tidak bilang kamu tidak bagus jika memakainya".


Layya menarik tajam nafasnya.


Rayyan hanya menjawab dengan gedikkan bahunya acuh.


Layya yang kesal menyentak selimut dengan kasar. Membaringkan tubuhnya ke ranjang sedang tubuhnya membelakangi rayyan.


Rayyan berkacak pinggang setelah menarik nafas tajam. Mencoba bersabar untuk tidak menyentak gadis yang ada di atas ranjang itu dan melepaskan kain itu.


"kamu perna dengar? Seorang istri tidak boleh membelakangi suaminya".


Layya memutar malas bola matanya. Hari ini entah yang keberapa ratus kali ia mendengar kata itu.


"hubungan kita tidak sedekat itu sir?! ".


Rayyan menyungging senyum licik.


"maksudmu kita belum tidur bersama?!".


Layya yang sudah menutup mata kembali membuka mendengar ucapan rayyan. Ia mendesah.


"aku yakin kamu sadar saat itu kita sama sama tidak sadarkan diri, itu karna obat, sudahlah keluar sana, aku mau tidur".


Rayyan melangkah mendekat ke ranjang.


Suara ranjang yang di duduki seseorang tentu saja terdengar di telinga layya. Yang membuat layya langsung bangkit dan duduk menatap rayyan.


"aku menyuruhmu keluar bukan duduk di sini".


"mungkin aku belum mengatakan ini padamu layya? ...". Rayyan memicing menatap layya tajam.


"malam itu aku sepenuhnya sadar". lanjut rayyan, yang seketika membuat bola mata layya membulat lebar.


Ya. Rayyan sudah mengatakan pagi itu dengan jelas. Sekalipun pria ini juga di beri obat namun rayyan masih sepenuhnya sadar. Buktinya dia sadar kalau ialah yang pertama menyerang pria ini. Namun ia menepis itu semua karna malu+tidak terima. Meski sebagian dirinya selalu menyuruhnya percaya dan mengingat.


Layya mendecak kesal.

__ADS_1


"sudahlah aku mau tidur dan jangan ungkit itu lagi". Layya mengalihkan dan itu sukses membuat kekehan keji keluar dari mulut rayyan.


Layya menyatukan alisnya. ada lagi...


"tidak jika kamu melepas kain di kepalamu".


Layya melepas nafasnya yang tertahan tadi menunggu kalimat licik rayyan selanjutnya dan ya...Ia selalu benar.


"sepertinya kamu sangat bernafsu tapi ingat satu hal ray? Kita hanya suami istri di...".


"apapun itu aku suamimu layya! Pilihanmu ada dua, aku yang melepaskan atau...kamu lepas sendiri". Potong rayyan yang tidak mau mendengat kelanjutan dari ucapan layya. Entah kenapa sudut hatinya tadi terasa sengatan yang sedikit sakit.


Layya menatap rayyan tajam.


"kamu sadar? dari tadi kamu terus mengancamku".


"dan itu berhasil"


"aku tidak ada pilihan".


Layya meloncat turun dari ranjang. Untuk melepaskan hijabnya.


Ya. semakin cepat maka semakin cepat ia bisa tidur dan ia berharap pagi segera datang dan siang segera muncul dan menghilang dari pria ini.


Rayyan melihat dan memerhatikan layya dari turun dari ranjang hingga layya meraih ujung kain penutup kepalanya pasmina dan membukanya. Rayyan tidak melewatkan sedikitpun.


Mata rayyan tersentak terbuka lebar melihat penampilan layya. Nafasnya seketika saja berhenti sedang matanya berkedip kedip beberapa kali.


Layya yang dulu dan sekarang. Sama sekali tidak berubah. Cuma.


Rayyan mengalihkan matanya melihat tubuh layya di depannya dari atas ke bawah. Ia meneliti.


'mungkin dia sedikit berisi di banding dulu. Ya, itu dia. Sekarang sedikit berisi! '.


Mata rayyan kembali ke atas melihat wajah layya yang tanpa hijab. Ia pun tersenyum.


'cantik? '. Rayyan terkekeh sebelum kembali melanjutkan ucapan batinnya.


'dulu dan sekarang...Sama sekali tidak ada yang beda ah...satu beda. Mudah marah'.


Layya melepaskan ikatan rambutnya hingga membuat rambut panjang hitam melewati pinggangnya dengan potongan depan kira kira hampir mencapai daun telinga tergerai indah.


Rayyan tidak bisa menyembunyikan senyum bahagianya yang entah kenapa.


"...yan".


"RAYYAN?! ". teriak layya kencang yang seketika menyadarkan rayyan.


Rayyan yang tersentak terkejut sadar dari pikirannya semalam sontak menoleh melihat layya, yang entah sejak kapan sudah berdiri di sampingnya.


Rayyan mengedipkan matanya beberapa kali sebelum berdehem dan beralih menatap ke depan sebelum kembali menoleh melihat layya.


"kamu mengatakan sesuatu?! ".


Layya mendesah. Benar, lama lama dengan pria ini aku bisa gila benaran.


"apa yang kamu tunggu. Sana mandi. Sarapanmu ada di luar".


'mandi? '. layya menggeram.


"kamu tidak dengar apa yang aku bilang tadi?! ".


"kamu mengatakan sesuatu?! ".


Layya mencoba bersabar. kemana pria ini tadi?.


"aku bilang keluarlah aku mau mandi dan aku sudah mengatakan kalimat ini 5 kali dan sekarang menjadi 6 kali! ".


'benarkah? '. bantin rayyan sembari menatap layya, yang raut wajahnya sudah memerah.


Eughh...

__ADS_1


"a-aku keluar sekarang! ".


__ADS_2