
Pukul 10:11 waktu setempat.
Masih di kapal pesiar dengan kemeriahan pesta yang masih berlangsung hiruk pikuk kesenangan di dalamnya, gemerlipan lampu kecil yang menghias setia sudut kapal dan setiap pasangan yang bersenang senang. dinner party untuk pasangan pengantin dan teman serta rekan rekannya.
Layya melangkah gontai perlahan menuju ke kamarnya. karna entah kenapa kepalanya tiba tiba pusing seperti mau pecah saja. dalam perjalanan layya berpikir apa ia salah makan atau minum sesuatu? tapi menurutnya tidak ada yang salah pada makanan maupun minuman yang ia minun malam ini atau...anemianya kambuh? tapi ia meminum obat dengan rutin setiap pagi apalagi untuk vitaminnya, selalu tidak pernah ia lupakan.
"hahhhh...". layya bernafas lelah sembari menyandarkan punggungnya ke dinding kamar kamar yang ia lalui.
Nafas layya terlihat lelah juga berat di sertai wajahnya yang hampir kemerahan.
Layya menggeleng untuk menepis rasa pusing tersebut namun tetap saja mendera dirinya.
"maaf nona...?..ada yang bisa kami bantu? sepertinya anda kurang sehat? ". tanya seorang wanita dengan bahasa ingrisnya yang fasih dan pakaiannya juga terlihat sangat seksi.
'modelkah? '. layya memerhatikan wanita tersebut dari 3 yang lainnya.
"euhmmm...terima kasih, saya bisa sendiri! ". layya menolak sopan sembari kembali bergerak untuk melanjutkan langkahnya kembali kamar namun belum selangkah dirinya sudah hampir jatuh jika saja ketiga wanita di sana tidak memeganginya.
"sepertinya nona butuh bantuan? biar kami bantu! di mana kamar nona? kami akan antar sampai di pintu saja, bagaimana? ".
Layya mengernyit bingung.
'siapa mereka? dan kenapa...ahhh...pikir positif saja, tidak mungkin ada perampokan di tengah pesta mewah para anak konglemerat'.
Dengan suara lirih layya menyebut no kamarnya serta menujuk lemah ke arah pintu kamarnya.
Ketiga wanita di sana tersenyum ramah dan mengangguk sopan sebelum membantu layya melangkah namun tanpa layya lihat dan ketahui. ketiga wanita tersebut berbelok ke arah koridor yang berlawanan arah dengan yang di tunjuk layya tadi.
Sampai di pintu kamar yang jelas bukan no yang di sebut layya. mereka membuka pintu dengan satu kunci yang sudah mereka persiapkan, membukannya lalu secara perlahan memasukkan layya, yang kesadarannya tinggal 20% lagi ke dalam kamar tersebut.
"sampai di sini saja bisa nona?". tanya salah satu ketiganya.
Dengan kesadaran minim layya melihat ke sekitar kamar tersebut namun ia tidak menyadari kalau itu bukan kamarnya. karna sekarang ia yang berada di ambang pintu dan dekorasinya sangat sama dengan kamarnya.
Layya mengangguk lalu berterimakasih ke 3 wanita yang terlihat sebaya dengannya tersebut.
Pintu tertutup bahkan terkunci dari luar layya bahkan tidak mendengar hal iltersebut karna sibuk bergerak melangkah lemas untuk masuk ke dalam. kakinya yang lemas membuat seorang layya jatuh terduduk di lantai 1 meter dari pintu kamar.
Layya memilih untuk memejamkan matanya saja. siapa tahu ia akan ketiduran lalu ketika terbangun kepalanya tidak pusing lagi dan tubuhnya tidak akan lemas begini lagi.
Setelah beberapa menit kemudian, bukannya tertidur nyenyak. layya bergerak gelisah sendiri sembari mengusap ngusap lengannya yang berlapis kain.
Dengan pandangan kabur layya mencoba membuka mata.
"kenapa...tubuhku...aneh? ". layya melihat ke sekelilingnya.
"apa AC nya mati?...ini sangat panas". layya mencoba yang pertama membuka hijapnya dan terlepas hanya dengan sekali hentakannya lalu ia beralih membuka resleting gaunnya dari depan dengan terburu buru.
"ini sangat panas?...aku harus mandi...ya...aku butuh air". layya bergumam sendiri sembari bergerak cemas sedangkan wajahnya yang. memerah entah karna apa.
Di sisi lain kamar tersebut lebih tepat di dalam kamar mandi. seorang pria yang sedang menikmati siraman air shower dari atas kepalanya dengan nafasnya yang seperti habis mengikuti lomba lari jarak jauh, begitulah kira kira. terlihat dari raut wajahnya serta nafasnya yang berat. tidak cukup dengan siraman air di atas kepalanya. pria tersebut mencoba menghidupkan keran dari arah lain, menapung air dan meminunya dengan rakus.
"sial!...ini tidak akan mempan". suara umpatannya memenuhi kamar mandi tersebut.
Pria itu adalah rayyan. seorang pengusaha asal Australia yang terpaksa berada di kapal tersebut karna menghadiri undangan dari klien papinya.
Mematikan air. dengan tubuhnya yang tanpa sehelai benang pun. rayyan menarik handuk persegi panjang warna putih yang sudah di siapkan di kamar mandi tersebut lalu melingkarkannya di pinggang.
Tubuhnya yang sedikit ke coklatan namun sangat menggoda bagi para wanita di tambah otot otot setiap bagian tubuhnya seperti di latih dan dia jaga dengan baik. ketinggian tubuhnya layaknya para aktor hollywood di sertai jambang tipis yang halus, wanita mana yang tidak akan menjerit ketika melihat ketelanjangan tubuh seorang rayyan?, yang sangat sangat menggoda dan menggiurkan.
Ckleck...
Rayyan membuka pintu kamar mandi dan melangkah keluar. rayyan melangkah ke kopernya yang berada di sisi ranjang setelah pintu kamar mandi ia tutupi.
Sret...
Rayyan membuka koper, menutupnya kembali membawa koper tersebut ke ranjang dan kembali membuka untuk mencari baju santai yang bisa ia kenakan malam ini.
Setelah mengatakan kata kata yang membuat layya kebingungan di ballroom tadi. rayyan melangkah lemas menuju ke kamarnya namun di sela langkahnya ke kamar rayyan menghubungi reina untuk mengatakan kalau dirinya tidak akan ikut acara dinner party malam ini dengan alasan kalau dirinya ada hal penting yang harus ia kerjakan di kamar dan meminta reina untuk tidak mengganggunya dan juga tidak lupa rayyan menyuruh reina menikmati saja acara dinner party tersebut dengan para teman dan sahabatnya tanpa dirinya.
Tuk...
Rayyan kembali membuka kopernya, memilah milah baju yang mau ia kenakan.
Gerakan tangan rayyan terhenti saat mendengar suara halus sayu sayu dari gerakan seseorang dari arah belakangnya. rayyan membalik tubuhnya melihat ke belakang dirinya. mengeryit dengan alis yang menyatu. rayyan melangkah pelan ke arah sumber suara.
'tidak ada yang masuk ke kamarnya kan?...ia sudah menguncinya...'. ucapan batin rayyan terhenti saat manik matanya melihat sesosok wanita yang bertelanjang tidak, masih dengan bra dan celana dalam di depan pintu kamarnya.
Mata rayyan sontak saja membulat sebelum ia mengalihkan matanya melihat ke arah lain yaitu ke sisi kiri tubuhnya.
'sial...ini...benar benar...jebakan! ini benar benar...sudah di rencanakan...tunggu...siapa wanita itu? '. rayyan kembali melihat ke wanita yang setengah berbaring tersebut namun wajahnya tidak kelihatan karna tertutupi oleh rambut hitam dan panjangnya.
Berdecak kesal rayyan melangkah ke sana. paling tidak, ia harus melihat siapa wanita itu. jika dia bukan wanita yang ia kirakan berarti ini bukan ulah alex...tapi jika ini wanita yang ia perkirakan berarti ini ulah alex dan akan lebih baik ini ulah alex. karna jika ulah orang lain. ia tidak akan bisa membayangkan berita panas besok hingga sampai ke telinga mami papinya lalu...akan merambas ke dunia bisnisnya.
Jarak rayyan dan gadis terbaring itu hampir 1 meter. rayyan bahkan bisa mendengar suara nafas yang lemah dan juga memacu seperti butuh bantuannya. rayyan seharusnya tidak melihat tubuh wanita tersebut namun...ia harus. terutama untuk memastikan sesuatu.
Dengan pelan rayyan berjongkok, menjulurkan tangan untuk menyikapi rambut yang menutupi wajah wanita di depannya namun terhenti bahkan manik mata rayyan hampir saja keluar sembari ia terlonjak kaget kebelakang saat wanita yang terbaring tersebut tiba tiba membuka matanya, melihat rayyan lalu wanita tersebut duduk secara tiba tiba yang membuat rayyan terlonjak ke belakang.
"la-la-layy-layya...kamu...". suara rayyan yang terbata karna terkejut lalu kedua manik mata rayyan melihat ke penampilan layya dan sontak saja itu membuat rayyan membuang pandangannya ke samping.
__ADS_1
"kenakan pakaian mu...".
Plak...
Mata rayyan kembali membulat saat mendapat tamparan ringan tidak sakit dari layya, yang kini sudah duduk di hadapan rayyan.
"kemana saja kamu...? aku...aku merindukanmu tahu?... kamu...enggak pulang dan juga...tidak membalas pesanku, kamu...jahat ray...?". layya menitikkan air matanya entah karna apa.
Rayyan yang masih membulat matanya menatap layya bingung.
'ada apa dengan wanita ini?...tunggu...dia...tidak sedang mabukkan?'.
"layya?..kamu sadar sekarang aku siapa? ".
Layya terkekeh geli sebelum menjawab.
"tentu saja tahu? Rayyan Atau Zeki si model ternama dan tertampan...suami layya zunaira hehehe...". layya tertawa kecil namun bodoh sendiri.
Rayyan mengerutkan keningnya.
'apa maksudnya ini? '.
Layya memayunkan bibirnya layaknya anak kecil yang sedang merajut.
"kamu tahu tidak? bagaimana perasaanku mempunyai suami tampan? dan juga...di sukai banyak orang...terlebih... para wanita...dan...para model model di sana...mereka juga cantik cantik". suara layya yang lemas di ujungnya sembari ia menatap ke lantai.
Rayyan hanya memerhatikan itu dengan bingung.
'apa ini?...masa lalu?...wanita ini...mengenang...tidak, kembali ke masa lalu?...dia pikir...ini...masih...dulu? '. batin rayyan.
'tunggu...dia...'. mendadak wajah rayyan memerah. rayyan menutupi mulutnya dengan tangan kanannya. diam diam ia tersenyum senang.
"ahhh...". ringis rayyan yang terlonjak kebelakang saat layya yang tadi duduk di depannya kini meloncat ke pangkuan rayyan.
Sontak saja hal tersebut membuat mata rayyan membulat belum lagi...dengan serangan layya yang tiba tiba dan berhasil mengejutkan rayyan.
Layya mengecup bibir rayyan dan membiarkannya di sana tanpa bergerak sedangkan dirinya memejamkan matanya namun tidak bagi rayyan yang kedua manik matanya semakin melebar.
Nafas rayyan sontak saja terhenti sampai layya melepaskan kecupannya lalu kembali menatap rayyan.
Plak...
Layya kembali menampar halus namun ringan wajah rayyan.
"ini...bukan mimpi kan?...kamu...benar ada di sini kan? ...'. layya menatap rayyan penuh harap.
"tidak seperti waktu itu kan?...kamu menghilang...ketika aku...terbangun di pagi hari dan...". layya menunduk menatap lantai.
Rayyan yang tadinya terkejut kini malah di buat bingung oleh ucapan layya.
"mimpi?...kamu...memimpikan aku?...dulu? ". tanya rayyan terbata bata sembari menatap layya.
Layya kembali menaikkan padangannya menatap rayyan. air matanya begitu saja keluar mengalir membasahi pipinya yang kini menjadi merah.
"malam itu...acara party yang di adakan oleh perusahaan xx dan juga, menyambut kesuksesanmu sebagai model mereka,... aku kira...aku melihatmu dan bersama denganmu malam itu setelah selesai acara...". layya mendengus sinis.
"tapi paginya...aku mendapati diriku di sebuah kamar hotel...sendiri...dan aku baru sadar... ternyata...tadi malam, aku mengingau melihatmu bahkan...ahh...aku kira aku menciummu oh tidak, kita berciuman...". layya terkekeh.
"bahkan sangat mesra dan... panas! ". layya menaikkan pandangannya menatap rayyan.
Mata rayyan menatap layya namun tidak pikirannya.
'malam itu...ia ingat betul malam itu! malam...yang bahkan...tidak pernah bisa...ia lupakan...bahkan sampai sekarang...mengingat malam itu... bahkan sampai sekarang bisa membuat air matanya keluar, entah karna apa'.
"oh...?...kamu...menangis ray?...kenapa?... apa aku salah bicara? ahh...kamu sakit? ". layya bangkit dari pangkuan rayyan memeriksa kening rayyan.
Ia menggeleng. "kamu tidak sakit tapi...wajahmu...merah hm...". layya kembali terduduk lemas di hadapan rayyan.
Rayyan yang baru kembali sadar karna ternyata dari tadi layya hanya menggunakan pakaian itu. bangkit dari duduknya melangkah ke ranjang lebih tepat kelemari kecil di sana. berharap ada sesuatu yang bisa ia kenakan untuk layya.
Pertama rayyan mencari baju handuk namun tidak ada dan tidak mungkin ia melilitkan handuk kecil persegi panjang ke tubuh layya. pandangan rayyan jatuh ke kaos santainya yang tergeletak di ranjang, rencana mau ia pakai tadi. meraihnya dengan cepat rayyan kembali ke tempat layya.
"ayo pakai ini dulu, nanti kamu masuk angin".
Layya melihat ke baju di tangan rayyan lalu menepisnya.
"aku panas ray? aku tidak mau pakai baju, aku mau mandi...aku...mau mandi". layya mencoba berdiri namun kakinya yang lemas membuatnya hampir jatuh jika saja rayyan tidak memeganginya.
Rayyan menggeram saat merasakan kulit keduanya bersentuhan.
'tidak tahukan wanita ini?...dari tadi ia melarikan diri dari rasa ini dan sudah mencoba berbagai cara dan sekarang... '. lagi lagi rayyan menggeram.
"jawab aku layya? kamu...memakan atau meminum sesuatu yang salah? ". karna tubuhmu mengatakan itu sekarang. dan sekarang, kita dalam bahaya.
"makan? minum? ah...maksudmu...minuman itu?... aahhh...minuman yang mau mereka berikan padamu? hehehe...". layya terkekeh geli.
Rayyan mengernyitkan keningnya.
"apa maksudmu? ".
__ADS_1
Layya mendongak menatap rayyan.
"model cantik itu...dia menyukaimu...tapi kamu tidak menyukainya, aku dengar itu! lalu?...dia menyuruh orang untuk memberikanmu minuman yang di dalamnya dia taruh obat perangsang untukmu lalu...kalian akan bersama deh? tapi siapa yang tahu? he he he". layya terkekeh keji.
Rayyan kembali mengerutkan keningnya semakin dalam.
"apa yang sedang wanita ini bicarakan? ". gumam rayyan bingung.
"aku mendengar semuanya?... kamu pernah dengar kata ini? jangan membicarakan sesuatu rahasia apapun di toilet? karna dinding bisa mendengar dan saat itu? he he he". layya lagi lagi terkekeh.
"aku yang istrinya tentu saja? tidak akan membiarkan hal itu? ha ha ha mereka tidak tahu ya? kalau istrinya mendengar dari bilik toilet hi hi hi". layya terkekeh dan tertawa kecil sendiri.
Menghela nafas. rayyan memilih pasrah dan mendengar kan saja. keduanya duduk di lantai setelah memakaikan baju ke layya meski layya tadi tidak mau. tapi di saat layya berbicara rayyan mengambil kesempatan itu dan layya pun menurut.
"baiklah, kapan itu?...kamu menjadi pahlawan untuk suamimu dan suami tidak tahu? lalu...kemana kamu bawa air itu?...jangan bilang kamu meminumnya hm...?".
Layya mengangguk sembari mendongak menatap rayyan.
"aku meminumnya!". jawab layya dengan mimik wajah yang polos layaknya anak kecil.
Kedua manik mata rayyan sontak saja membulat terkejut.
"apa?! ". rayyan berteriak marah dan hampir saja bangkit berdiri jika saja kedua tangan layya tidak berada di lututnya.
'apa dia bilang?...dia meminumnya?...minuman...yang di berikan obat perangsang itu? '.
Rayyan memejamkan matanya menahan marah dan kekesalannya.
'saat ini dia di berikan obat perangsang tidak sadarkan diri dan malah menciumku lalu...kembali ke masa lalu ingatannya lalu... bagaimana dengan saat itu...?'.
"siapa yang kamu cium waktu itu?...setelah meminum air itu, aku yakin...tubuhmu persis seperti sekarang". ujar rayyan sembari menyungging senyum di buat buat namun nyatanya ia sangat marah dan kesal.
Layya mengedipkan matanya beberapa kali. wajahnya yang sekarang persis seperti anak kecil yang sangat polos.
"bukankah aku sudah bilang tadi? aku menciummu tidak, kita berciuman...mesra...dan juga...panas...tapi...ketika pagi...ternyata itu mimpi". layya menunduk sedih.
Lagi lagi rayyan membulatkan matanya.
"maksudmu...malam party itu? ".
layya mengangguk polos.
Rayyan merapatkan giginya menggigitnya geram tambah kesal dan juga marah.
"aaahhh...aku tidak mau pakai baju? panas ray? ". srek...prak...
Layya melepas baju rayyan dan membanting nya asal lalu ia bangkit berdiri berbalik mau melangkah pergi dari sana.
"aku mau mandi ray? tubuhku sangat panas tidak, aku butuh air, aku minum dulu". layya terlihat gelisah.
Rayyan mencekal pergelangan tangan layya menariknya hingga keduanya merapat ke dinding samping mereka.
"ray? ".
"kiss me! ".
"apa?!". layya dengan wajah bingung dan polosnya.
"cium aku layya? bagaimana kamu menciumku saat itu". ucap rayyan yang terserat kemarahan.
Layya mengedipkan matanya beberapa kali sebelum ia paham maksud ucapan rayyan lalu.
Cup...
Lama layya mendiamkan kecupannya di bibir rayyan sembari matanya yang terpejam sedangkan mata rayyan terbuka dengan degupan jantungnya yang menderu. menunggu...saat saat menyakitkan baginya. hal yang tidak bisa ia lupakan bahkan...sampai sekarang.
Pergulatan batin dan pikiran rayyan terhenti saat layya menjauhkan bibirnya dari bibir rayyan, sontak hal tersebut membuat rayyan terkejut.
"hanya itu? ciuman...saat itu?! ". tanya rayyan tidak percaya.
Layya mengangguk.
Rayyan menggeleng tidak percaya sembari ia terkekeh keji.
"tidak layya?...kamu bilang tadi mesra...dan panas! ". rayyan menatap layya marah.
Layya menunduk malu.
"aku menciummu...lalu kamu menciumku dan...itu...mimpi! ".
Mata rayyan sontak kembali membulat.
"maksudmu...aku...menciummu?...setelah kamu...menci tidak, itu kecupan layya bukan ciuman, maksudmu...setelah tadi? aku...langsung menciummu dan kita...berciuman mesra? ".
Layya mengangguk.
"itu mimpi".
Rayyan menggertakkan giginya, menggeram marah dengan kepalan buku tangannya yang menggepal erat.
__ADS_1
'******** pria itu, berani beraninya dia...'. suara batin rayyan terhenti dan matanya melotot lebar dengan apa yang sedang layya lakukan pada tubuhnya.
Ya. layya sedang menggesek gesekkan hidungnya di lekukan leher rayyan di sertai jemarinya yang lentik bermain main di otot perut sampai ke dada rayyan. hal tersebut sontak membuat pertahanan rayyan tadi runtuh seketika.