
"euhmmm...pak andryatama...? ". panggil layya sopan dengan ekpresi canggung yang dia buat buat sembari menampilkan senyum tipisnya.
Rayyan yang dari tadi melihat layya sedikit mendongak menyambut panggilan layya. imelda yang merasa bingung dengan panggilan layya ke putranya membalik badan melihat rayyan lalu kembali melihat layya.
'kenapa aku merasa panggilan itu sangat aneh ya? '.
"bisakah kita bicara sebentar? ini masalah pekerjaan! ". senyum paksa layya melihat menunggu jawaban rayyan.
Belum juga imelda mau membuka mulut untuk mengatakan kalau tidak perlu memanggil putranya dengan panggilan sopan begitu, bisa panggil saja rayyan atau ray. karna mereka sudah saling kenal bukan? terutama ia dan mama layya sahabatan.
Rayyan mengangguk. "tentu!... dimana itu? ". rayyan melihat sekelilingnya.
Layya tidak menjawab rayyan lagi. dia melihat imelda.
"sebentar ya bu? saya ada perlu beberapa hal dengan pak andryatama! masalah pekerjaan".
Imelda mengangguk sembari menyungging senyum tipis.
"tidak masalah, lakukan sesukamu, kami akan bermain di sini".
Layya mengangguk sopan lalu melangkah ke arah rayyan namun hanya melewati saja karna dia mau ke balkon.
Melihat arah yang di tuju layya rayyan pun mengikuti dari belakang.
Ctak...
Layya menutup rapat pintu kaca tersebut setelah rayyan sudah berada dengannya di balkon. rayyan memilih berdiri di pembatas balkon melihat keindahan malam kota yang mereka tempati tersebut.
"ternyata sangat menakjubkan pemandangan kota dari sini". ujar rayyan menikmati suasana malam.
__ADS_1
Layya membalik badan melihat rayyan lalu dia melangkah ke kursi yang berada di balkon tersebut dan meletakkan bokongnya di sana. kursi yang khusus ia tempati di sana untuk sesekali bermain dengan kedua anaknya di sana.
"apa maksudmu ini ray? ". tanya layya tenang.
Rayyan menoleh melihat layya lalu kembali melihat ke jalanan kota yang menampilkan ke indahan lampu lampu jalan dan lampu kecil di setiap gedung.
"apa maksudmu? bukankah kamu sudah dengar tadi? mami merindukan yusuf dan maryam".
Layya menatap rayyan dari samping. tidak mungkinkan dia bilang, bisa saja pria ini bilang tidak tahu tempat tinggalnya?tapi dia sudah mengantar mereka malam itu.
"kamu bisa untuk tidak ke sini dan menghalangi keinginan mamimu ray? ".
"apa kamu merasa terganggu mami ku ke sini dan melihat mereka? cucunya? ". rayyan sedikit menaikkan nada suaranya karna tidak suka dengan ucapan layya.
Layya bangkit berdiri.
"itulah masalahnya ray? tidak bisa mami mu untuk terus bertemu yusuf dan maryam, bisa bisa mamimu akan tahu siapa mereka".
Layya menarik nafasnya menenangkan dirinya. di saat seperti ini ia harus tenang dan tidak boleh tersalut emosi.
"aku tahu ray? aku hanya memperingatkan, membayangkan saja aku tidak bisa bagaimana jika mami dan setelahnya papimu tahu tentang yusuf dan maryam, lebih baik kamu hentikan".
Rayyan beralih menatap ke depan.
"aku tidak bisa! dari dulu mami sangat menginginkan cucu lebih tepat anak kecil dan saat pertama melihat yusuf di bandara lalu di rumah...mami sudah jatuh cinta pada mereka, tidak akan ketahuan kamu tenang saja". rayyan berucap lembut.
Layya menyatukan alisnya. bandara? kapan itu?.
"apa maksud mu melihat yusuf di bandara? kapan? ".
__ADS_1
Rayyan menoleh melihat layya.
"hari sabtu tgl 12 se bulan yang lalu, mami dan papi baru mendarat dari perjalanan mereka, mami melihat yusuf dan maryam berlarian dan tertabrak dengannya".
Layya terdiam. ia mengerjap saat mengingat sesuatu. ah...itukah yang maryam bilang yusuf menabrak orang dan itu seorang nenek cantik.
"oh". jawab layya singkat. "lalu...". layya kembali melihat rayyan.
"bukankah kamu bisa memberikan cucu buat mami mu, apa yang kamu lakukan selama ini? aku kira kalian sudah memiliki banyak anak...tunggu...ray? ". panggil layya dengan ekpresi wajahnya yang tidak ramah.
Rayyan melihat layya dengan datar.
"kamu tidak mengalami impoten bukan? karna itu kamu belum menikahi reina".
Rahang rayyan sontak saja mengeras mendengar ucapan layya.
"jika kamu lupa aku sudah pernah menikah dengannya".
"tentu saja, bukankah aku bilang saat ini? wahhh jika itu benar, ini sungguh tidak baik untukku".
Dengan alis menyatu rayyan menatap layya tajam.
"bisa beritahu aku kenapa tidak baik untukmu? apa kamu mengharapkan kita bisa tidur lagi?".
Ucapan rayyan membuat layya menatap rayyan dengan tidak percaya.
"kemana jalan pikiran anda pak andryatama? bahkan dalam mimpipun aku tidak akan mengizinkan namamu muncul! pikiran anda benar benar kotor sir? ". sinis layya melipat kedua tangan di dadanya.
Rayyan menyungging senyum samping dan mendengus.
__ADS_1
"lalu...". rayyan melangkah mendekat ke layya sedangkan layya masih berdiri di tempat dan bersikap tenang.