
Pukul 10:09 malam waktu melbourne.
Terlihat sebuah mobil berwarna hitam bermerek Aston Martin DB11 melaju kencang dengan kecepatan maksimal memecah jalanan kota melbourne tersebut.
Rayyan terlihat menyetir sendiri dengan menggunakan baju santai biasa, kaos yang sedikit kebesaran dari tubuhnya di padu dengan celana jeans berwarna navi. wajahnya yang datar terlihat dingin di saat bersamaan.
Setelah pulang dari aktifitasnya seharian yaitu perusahaan. Rayyan memutuskan kalau di mulai dari malam ini ia akan melakukan apa yang sudah ia sepakati dengan layya yaitu menemui kedua anaknya jika bukan waktu malam maka tidak ada waktu untuknya untuk bersama kedua anaknya. hari hari ia di sibukkan dengan segala jenis pekerjaan dari perusahaan maka malam lah waktunya dan ia memutuskan akan memulai malam ini.
Kejadian tadi siang. itu adalah permintaannya pada reina untuk mau bertemu dengan layya dan memberitahu layya kalau dia juga setuju dirinya menemui kedua anaknya. ia tidak mau layya bisa berpikir ia tanpa memberitahu reina atau suatu saat menjadikan reina sebagai alasan untuk ia tidak boleh bertemu dengan kedua anaknya lagi lalu.. di sana layya sudah mengetahui dari awal maka tidak ada alasan lagi bagi layya untuk ia bertemu kedua anaknya.
Ya, siang itu setelah menjemput reina dari bandara mereka pergi makan siang dan setelah makan siang. ia berbicara dengan reina menyangkut dengan kedua anaknya. reina sempat terkejut dan tidak percaya. ia pun menjelaskan kalau ia pun sempat tidak percaya namun semua nyata apalagi melihat wajah yusuf, yang sangat mirip dengan dirinya di tambah perasaannya yang begitu kuat ketika melihat atau dekat dengan kedua anak layya karna itu, ia sangat yakin bahkan tidak perlu baginya untuk melakukan tes DNA. perasaannya yang pertama ketika mengetahui ia sudah mempunyai anak bahkan sudah besar. ia senang sangat senang, bahagia sangat bahagia namun ia tidak bisa mengungkapkannnya dengan kata kata maupun dengan tindakan di karenakan beberapa hal dan salah satunya hubungannya yang tidak baik dengan layya baik dulu maupun sekarang.
Cara licik dan keji. mungkin ia bisa egois untuk melakukan itu demi bisa menemui kedua anaknya. ia sadar dengan apa yang ia lakukan dulu pada layya. itu sangat menyakitinya bahkan sangat bahkan ia rela tidak mendapat maaf dari layya tapi ia tidak akan pernah rela jika tidak mendapatkan izin dari layya untuk menemui kedua anaknya. cepat atau lambat ia dan layya akan memiliki kehidupan sendiri sendiri. layya suatu saat nanti dengan pasangannya dan ia dengan reina. lalu apa salahnya di saat dan di waktu yang sangat singkat ini ia mempergunakan itu untuk menemui kedua anaknya. jika layya mendapatkan pasangannya suamin. menemui kedua anaknya bisa di katakan itu hal yang tidak mungkin. tidak ada seorang suami di dunia ini mengizinkan istrinya berhubungan lagi dengan mantan suaminya meski dalam kata 'teman' atau 'masa lalu'demi anak. ia rasa tidak ada dan salah satunya adalah dirinya.
Tit Tut...
Mobil rayyan sudah terparkir di deretan mobil lain di samping. rayyan melenggang dari sana setelah mengunci mobilnya.
Ting...tong...ting...tong
Layya yang sedang berada di ruang tengah apartemennya yang juga ada tv di sana yang menyala satu game namun tidak ada yang mainkan.
Layya menoleh ke pintu lalu melihat ke arah depannya entah ke siapa lalu melangkah ke pintu apartementnya.
"biar aku lihat siapa, mungkin ayrin". ujar layya sembari melangkah ke pintu.
Tangan rayyan mau terangkat lagi mau menekan bel namun terhenti saat pintu di depannya terbuka.
Ckleck...
"oh?...rayyan?...". suara layya yang tidak percaya dengan apa yang dia lihat. layya berdiri di ambang pintu dengan kedua tangannya menghalangi pintu dan otomatis rayyan tidak bisa masuk.
'ngapain dia ke sini?'. batin layya.
"bisa aku masuk?! ". tanya rayyan ketika melihat layya yang berdiri dan tidak mempersilahkannya masuk.
Layya menyatukan alisnya.
"maaf? untuk? ". tanya layya tidak mengerti.
Rayyan mendesah lelah.
__ADS_1
"kamu masih ingat dengan kesepatakan tadi bukan?! ".
Layya mengedipkan matanya mencoba mengingat dan sedetik kemudian ia tersentak.
'Ahh itu rupanya'.
"tapi...". layya menghentikan ucapannya menoleh melihat ke belakang dirinya saat suara tawa yusuf dan maryam terdengar.
"mungkin kamu bisa datang lain kali karna malam ini...". layya berhenti karna tidak tahu harus bilang bagaimana. kalau anaknya malam ini sedang ada teman bermain dan tidak mungkin mereka akan memedulikan rayyan.
Suara tawa pria dewasa dari dalam masuk ke dalam gendang telinga rayyan, yang otomatis membuat rayyan menatap layya dengan tatapan bertanya.
"apa kamu sedang ada tamu?! ". mereka masih bicara di ambang pintu. rayyan dari luar dan layya dari dalam.
"ya begitulah jadi...bagaimana kalau lain kali saja".
Rayyan terlihat berpikir dan ia sempat menyetujui ucapan layya sebelum mendengar tawa riang kedua anaknya dari dalam bahkan sampai menjerit jerit.
Rayyan mencoba mengintip dari balik tubuh layya untuk melihat siapa tamu tersebut sehingga bisa membuat kedua anaknya tertawa begitu tawa yang baru ini pertama kali ia dengar dan ia suka dan juga ia cemburu ke orang yang bisa membuat kedua anaknya tertawa riang dan bahagia begitu.
"aku pikir mereka sangat akrab! ". ujar rayyan lagi setelah mengintip namun tidak terlihat apapun dan ia memperbaiki berdirinya lagi.
Layya hanya mengangguk samar.
Rayyan mengangguk mengerti namun lemah. terlihat sedih dari raut wajahnya karna harus pulang tanpa bisa melihat kedua anaknya.
"kalau begitu, aku balik dulu dan aku akan datang besok malam lagi".
Layya mengangguk mengerti. tanpa mau berniat kasihan pada rayyan karna jika itu terjadi dirinya juga yang kerepotan.
"Arghhh...daddy? geli... hentikan kyaaa...ha ha ha". itu adalah suara maryam yang menjerit lalu dia tertawa.
Rayyan yang sudah membalik tubuhnya mau melangkah pergi dari sana terhenti saat mendengar suara maryam ralat saat ia mendengar suara maryam yang menyebut kata'daddy'.
Phak...
"Ahh...". ringis layya saat mau menutup pintu namun rayyan cekal dengan telapak tangannya.
Matanya menatap tajam ke layya sebelum membuka pintu dengan lebar, yang membuat layya terkejut dan rayyan melangkah lebar masuk ke dalam apartemen layya tanpa mendengar dan peduli pada panggilan layya.
Kaki rayyan berhenti melangkah setelah apa yang mau dia cari terlihat. kedua manik matanya membulat melihat siapa yang sedang bercanda gurau dengan kedua anaknya. kedua anaknya yang tertawa bahagia begitu pun dengan pria tersebut lalu bagaimana kedua anaknya berebutan mau naik ke atas punggung pria tersebut dan bagaimana tawa bahagia yang terpancar dari wajah pria di depannya sekarang.
__ADS_1
"apa ini layya?! ". tanya rayyan ke layya begitu layya sampai di sampingnya dengan kedua manik matanya masih mematung melihat ke depan.
Layya mengedipkan matanya melihat ke depan di mana kedua anaknya sedang tertawa bahagia.
Merasa tidak ada jawaban dari layya. rayyan menoleh menatap layya dengan manik matanya merah dan tajam.
"apa maksudnya dengan daddy? ". tanya rayyan dengan kedua alisnya yang menyatu.
Layya yang tersentak kembali melihat rayyan.
"daddy? ya...rendra dadd...".
"bagaimana bisa?! ". potong rayyan tidak mau mendengar jawaban layya. yang ia tahu dari orang suruhannya layya sama sekali belum menikah dan dari mana dan bagaimana kedua anaknya bisa memanggil pria cupu itu daddy? bahkan dirinya belum mendapat panggilan apapun. bisakah ia menahan diri untuk tidak marah kali ini?. ia rasa tidak.
"...oh...kamu...rayyan bukan?! ". itu adalah suara pria itu berkaca mata yang dari tadi bercekrama ria dengan kedua anak layya.
Layya mengalihkan tatapannya melihat ke pria berkaca mata tersebut yang tidak lain rendra atau di panggil rayyan pria cupu.
Rayyan membalik dan dari raut wajahnya sangat terlihat sekali kalau dia sama sekali tidak suka pada pria yang bernama rendra tersebut.
Keduanya saling menatap dengan jarak keduanya sekitar 4 meter lebih sedangkan layya berdiri di samping rayyan.
layya melihat ke rendra lalu melihat ke rayyan lagi. dari raut wajahnya layya terlihat cemas. yang layya cemaskan bukanlah rayyan melainkan ia yang belum bilang ke rendra kalau ia sudah bertemu dengan rayyan dan bahkan sudah menjalin kerja sama.
"ira? kamu?... ".
"rendra? akan aku jelaskan dan ceritanya panjang ". sahut layya cepat memotong ucapan pria kaca mata di depannya.
Rayyan mendengus dalam hati mendengar panggilan pria cupu di depannya ke layya.
'ira? '. batin rayyan sinis.
Tentu saja ia sangat kenal betul panggilan itu. panggilan sehari hari layya di rumahnya dan pamannya memanggilnya dengan panggilan tersebut namun ia dulu tidak mau memanggil dengan panggilan itu karna tidak mau sama dengan pamannya.
Layya tiba tiba tersentak dan dengan cepat ia menurunkan kepalanya kebawah menatap ke tangannya yang tiba tiba di pegang erat oleh rayyan.
Layya sontak menghentak hentakkan tangannya agar terlepas.
"apa yang kamu lakukan?... lepaskan? ". ronta layya. bukannya terlepas malah rayyan semakin mengeratkan cengkramannya.
Kedua manik rayyan yang masih menatap rendra tajam tiba tiba rayyan menyungging senyum samping namun sinis ke rendra.
__ADS_1
"tidak! layya harus menjelaskan ini dulu padaku".
"Kyaa....". jerit layya saat merasakan tubuhnya melayang.