Kata-kata Cinta

Kata-kata Cinta
Bab 34


__ADS_3

Rayyan mendesah lelah.


"berarti ucapkan saja selamat tinggal pada sebelah sepatumu". rayyan mengedikkan bahunya acuh setelah menduduki bokongnya di sofa menoleh menatap layya dengan kaki dia silangkan.


Layya memejamkan matanya menahan emosi yang mau meledak untuk pria di hadapannya saat ini.


"buk...".


"berkaki ayam! lucu juga kamu layya? aku yakin yang melihatmu di lobby akan menjadikan itu bahan lelucuan". rayyan memotong ucapan layya setelah memerhatikan kaki layya yang telanjang.


Layya melihat kakinya lalu beralih menatap rayyan.


"aku tidak mau makan siang denganmu baik makan pagi atau makan malam, lebih baik kamu ajukan yang lain saja dan...aku akan coba berpikir".


Rayyan menyatukan alisnya menatap layya.


"sepertinya...high heels ini sangat berarti untukmu layya?... ". rayyan bangkit berdiri melangkah mendekati layya.


Layya yang melihat langkah rayyan mendekat ke arahnya sontak dia memundurkan langkahnya perlahan ke belakang hingga langkahnya terhenti di sebabkan meja kerja rayyan di belakangnya dan layya menokeh kebelakang sebentar melihat hal yang menghentikan langkahnya sebelum kembali menatap rayyan yang jarak mereka sekarang hanya tinggal beberapa jengkal jari.


Rayyan mengukung layya di antara kedua tangannya dengan kedua tangannya bertopang di meja belakang tubuh layya.


"apa aku benar? ". rayyan menatap layya mengintimidasi layaknya seorang tahanan yang sedang di interogasi.


Kedua manik mata layya terlihat berputar ke sana kemari mencari alasan apa yang cocok ia gunakan. tentu tidak masalah sih sekalipun jika rayyan tahu kalau sepatu itu hadiah dari seseorang yang baginya sangat sangat spesial. toh rayyan tidak mencintainya jadi tentu itu tidak masalah tapi yang jadi masalah. pria ini akan terus menggunakan sepatunya sebagai alat untuk membuatnya kesal atau penawaran yang tidak masuk akal ketika dia tahu sepatu itu sangat sangat penting untuknya. dia pria yang licik.


"pertama kamu rela belum balik dari sini menunggu selama 2 jam untuk sepatu itu, tentu kamu meninggalkan banyak kerjamu di perusahaan karna sepatu ini! kedua, kamu sangat patuh ketika aku menyuruhmu menunggumu di sini dan coba ingat jika saja sepatu ini tidak di tanganku...aku sangat yakin kamu sudah menolak dari tadi dan...ketiga! meski berpikir keras kamu mengizinkanku untuk bebas menemui anak anak jadi...".


Layya mengedipkan matanya beberapa kali dengan ucapan rayyan dan itu benar semua.


"sepatu ini...sangat spesial bukan? untukmu...".


Layya membulatkan matanya.


Rayyan terkekeh geli.


"kamu sangat mudah di tebak layya?... siapa dia? kekasihmu? atau...seseorang yang kamu kagumi?".

__ADS_1


Layya sontak menaikkan pandangannya dengan mata membulat menatap rayyan.


Rayyan sempat membulatkan matanya melihat reaksi layya yang terkejut namun sebentar sebelum rayyan mendengus keji.


"pria... yang kamu kagumi!". tebak rayyan asal namun...


"apa yang kamu bicarakan? pria yang aku kagumi? yang benar saja...dengar ya pak andryatama, sepatu itu aku membelinya dengan harga sangat mahal tentu saja orang seperti aku yang kekurangan uang hal itu sangat berharga, mengerti? jadi hentikan kelicikanmu dan kembalikan sepatuku, kamu sudah mendapatkan apa yang kamu mau bukan? jadi kembalikan sepatu ku". layya beralasan lain berucap dengan sedikit berteriak marah ke rayyan.


"kamu benar! kamu kekurangan uang dan aku kelebihan uang jadi bagaimana...". rayyan menatap layya seperti mencari sesuatu di sana.


Aku memang tidak mengenal layya dengan sangat tapi aku...sangat tahu jika layya sedang berbohong atau sedang berdalih dari sesuatu.


"bagaimana apa? minggir sana?". teriak layya lagi menatap wajah rayyan yang jarak mereka hanya beberapa jengkal.


"aku belikan kamu yang baru! anggap saja untuk aku berterima kasih karna kamu sudah mengizinkanku bertemu anak anak". ujar rayyan setelah mundur selangkah dan meletakkan kedua tangannya di kantong celananya.


"tidak, terima kasih! kembalikan saja sepatuku itu". tolak layya spontan dan ini...layya banget.


Rayyan menyungging senyum samping. mendekat lagi dan kembali mengukung layya seperti tadi namun kali ini rayyan mengikis habis jarak di antara mereka bahkan sampai jas keduanya bertemu.


"baiklah! siapa pun yang memberinya itu tidak penting untukku tapi...bagaimana dengan makan siang? sebentar lagi siang".


"ray kau...minggir". layya semakin mendongak menatap wajah rayyan. saat rayyan merapat ke tubuh layya mengunci tatapan layya sehingga membuat tubuh layya berdiri tegang dan sontak nafas layya berhenti seketika.


Entah apa yang ada di dalam pikiran rayyan sekarang sehingga manik matanya menatap wajah layya dengan intens terlebih ke bibir layya, yang sepertinya membuat rayyan tergoda untuk segera melumatnya.


"sekarang kamu punya dua pilihan layya? yang mana yang kamu pilih? jika mengenalmu...maka aku yakin kamu akan memilih yang pertama jadi...".


"katakan apa saja apa yang lain itu, sudah aku bilang aku akan berpikir". potong layya cepat karna tidak nyaman dengan kedekatan ini.


"let's kiss!". ujar rayyan cepat dan singkat.


Namun hal itu bisa membuat kedua mata layya melebar. tunggu...apa ia salah dengar?.


"ray kau tidak...".


"waktumu 5 detik dalam menentukan".

__ADS_1


"ap...".


"1!". ucap rayyan di hadapan bibir layya.


"what?! ".


"bernafaslah dengan tenang layya? 2!". ucap rayyan lagi ketika menyadari layya menahan nafasnya dan tetap mengintimidasi layya tidak memberi waktu bagi layya untuk berpikir.


"ray...?!". layya mencoba berkomentar tidak terima.


"3! santai layya?! ". kekeh rayyan dalam hati.


Layya menggertakkan giginya dan rayyan menyungging senyum keji untuk itu.


"4! kita sudah pernah melakukannya, ingat?! ".


"ray...?".


"li...".


"okay fine...kita makan siang". potong layya cepat cepat dengan kedua matanya memejam rapat dan kedua kepalan tangannya menggepal erat.


Rayyan menyungging senyum kemenangan sembari menaikkan wajahnya menatap wajah layya sesaat dengan jarak begitu dekat lalu...


Layya mengernyit keningnya saat telinganya menangkap suara seseorang yang sedang terkikik geli.


Membuka matanya layya langsung di suguhkan dengan suasana yang otomatis akan membuatnya kesal+jengkel 100%.


Rayyan yang sedang terkikik geli menahan tawanya sembari kedua tangannya memegang perutnya.


"ha ha ha...". akhirnya tawa rayyan pecah.


Layya menatap itu dengan kedua alisnya yang menyatu. rayyan yang menertawakannya dengan tangannya memegang perutnya tubuhnya yang sedikit berjongkok.


"ternyata kamu belum berubah ya layya? ha ha ha...ekpresi mu itu..ha ha ha...ha ha ha". rayyan semakin tertawa keras.


Layya mencoba mengingat ekpresi dirinya tadi dan maksud dari rayyan, dirinya yang tidak berubah, memang apa ia di masa lalu, apa yang sudah ia lakukan? namun semua pemikiran itu buntu di karenakan kekehan rayyan yang sangat menganggu bagi telinganya.

__ADS_1


Menggertakkan gigi menggeram kesal. layya menatap rayyan marah.


'pria ini...mengerjainya'.


__ADS_2