
Brakh...
Rayyan seketika menegakkan tubuhnya begitu suara pintu di banting dan terbuka lebar. di sertai tarikan nafasnya pelan sebelum bibirnya menyungging senyum tipis kemudian menutup layar laptopnya.
Menaikkan padangannya menatap ke wanita yang dari tadi sudah ia tunggu kehadirannya. bahkan ia membatalkan semua jadwalnya hari ini. dari meeting dengar karyawan, meeting dengan para pemegang saham dan pertemuan penting dengan para pemegang saham, pertemuan dengan klien yang sangat penting baginya, proyek kerja sama yang ia batalkan karna tidak bisa mengikuti. ia bisa menebak berapa kerugiannya hari ini namun itu tidak akan seberapa dengan meluangkan satu harinya untuk wanita ini. untuk mendengar kemarahannya. besok ia harus terbang ke kanada untuk urusan bisnis dan akan di sana selama seminggu.
"sudah datang sayang...?!". kekehnya ringan.
Selancar ucapan itu keluar dari mulut rayyan yang layya kira hanya satu kalimat ejekan. secepat itu juga kepala tangan layya menggepal kuat. sedangkan tatapan matanya menatap rayyan tajam.
"baiklah lex? kamu bisa keluar sekarang". ucapnya pada alex yang masih di landa rasa terkejut.
Beberapa detik yang lalu. setelah merapikan berkas di atas meja. menyatukannya dan membawa kedalam pelukannya. alex berbalik bersiap siap mau keluar. namun suara bantingan pintu di sertai seorang wanita yang sangat ia kenali masuk setelahnya. membuat dirinya sangat terkejut. apalagi melihat wajah layya. ia yakin ini keadaan yang tidak baik baik saja. bisa jadi layya sudah mengetahuinya.
Alex melihat layya sekilas sebelum berpamit ke rayyan dan alex sempat memberi rayyan tatapan kasihan, yang di balas oleh pria itu dengan kekehan dan gelengan seakan akan dirinya sangat bodoh.
Mengernyit kan kening. itulab yang bisa ia lakukan untuk menebak isi dari otak pria yang ada di hadapannya sekarang.
Layya tersentak dengan ucapan rayyan. ia mengedipkan matanya. menoleh melihat ke samping kanannya. kepalanga miring saat kedua manik matanya menatap alex dan sedetik kemudian ia mendengus. melipat tangan di dada memerhatikan alex yang sedang melangkah ke arahnya. lebih tepat ke pintu di mana ia berdiri sekarang di ambang pintu.
Kriet...
Dengan membelakangi pintu. layya menarik kedua daun pintu tersebut dengan kedua tangannya lalu menarik dan setelahnya membiarkan kedua daun pintu tersebut melayang bersamaan dan
Brakhh...
Alex terlonjak terkejut. beralih menatap layya bingung sebelum andrenalinnya menyuruhnya untuk waspada saat melihat senyuman layya untuknya.
Rayyan menopang dagu menatap layya dan alex secara bergantian seakan akan itu tontonan yang sangat menarik.
"kak alex di sini?..kebetulan sekali...pagi kak...?". sapa layya. masih di tempatnya berdiri tadi.
Alex membalas dengan senyum ramah dan sopan khasnya, yang di sebut sebut wanita laki laki yang lembut.
"pagi juga! oh..ya, aku balik dulu, silakan kalian mengobrol dengan bebas". balas alex. lalu kembali melanjutkan langkahnya meski jantungnya berdetak tidak normal.
Tidak ada yang bisa menebak isi pikiran layya sekarang terkecuali seorang pria yang sekarang sedang terkekeh geli melihat kebodohan temannya alex.
Layya membalik badan melihat alex, yang sedang memutar knop pintu.
"kak alex bawa mobil ke sini? ". tanya layya lembut bahkan sangat lembut hingga tidak bisa membuat siapa pun curiga dengan niatnya yang sebenarnya.
Alex berhenti berbalik menatap layya. ia mengangguk mantap.
"...kamu tidak bawa? apa mobilmu dalam masalah?".
__ADS_1
Layya menjawab dengan tersenyum tipis.
"mobilku baik baik saja, apa bisa pinjam mobil kak alex sebentar? ".
"...untuk? ". tanya alex tidak mengerti setelah ia terdiam beberapa detik dan dengan kepalanya yang miring.
"jika pinjam bukankah perlu? ".
"ah..". alex melebarkan mulut lalu mengangguk mengerti.
Layya mendekat hingga jaraknya dengan alex hanya beberapa jengkal dan menjulurkan tangannya, yang membuat alex tersentak.
"a..pa? ". tanya kebingungan melihat tangan layya.
"jika kak alex sudah memberi bukankah kak alex harus memberi kuncinya? ".
"ah...ya...ini...". ujar alex setelah menganga lebar dan mengambil kunci mobilnya di saku celananya.
Layya mengambilnya beberapa detik kemudian dia melangkah melewati alex dan berkata.
"kakak boleh melihat jika mau". ujarnya sebelum menghilang dari sana.
Alex yang kebingungan beralih melihat rayyan meminta penjelasan atas kebingungannya. alisnya menyatu saat tawa pria itu meledak.
"kau serius...?!". kernyit alex saat dirinya teringat akan ucapan. ralat, peringatan rayyan padanya.
"oh ya lex?...jika kamu tiba tiba bertemu layya di mana pun itu...jika bisa menghilanglah...". rayyan menjeda ucapannya.
"sebelum dia melihatmu!". rayyan mengedipkan satu matanya ke alex lalu melenggang pergi di sertai bantingan pintu ringan.
Kembali ke sekarang.
"shit! ". umpat alex sebelum berlari ke pintu dan membukanya tanpa menutup kembali.
Di luar lebih tepat di parkiran mobil perusahaan rayyan terdengar bunyi mobil yang cukup membuat telinga orang yang mendengar kesakitan dan di sana. terlihat layya yang sedang mengitari setiap mobil mencari di mana suara tersebut.
Ia berhenti tepat di depan mobil yang bersuara sembari berkacak pinggang. mobil hitam dengan merek mercedez-benz masih terlihat baru dan mengkilat. namun layya tidak mempedulikan itu.
'salahkan pemilik mu saja mobil'. ucap layya dalam hati.
Layya mencari sesuatu di sekitarnya. sebelum matanya berhenti di satu titik dan ia melangkah ke sana. berjongkok meraih benda berat tersebut batu. membawanya ke hadapan mobil alex.
Tersenyum keji. sekuatnya layya melempar batu yang ukurannya sedikit besar dengan berat sekitar 2 kilo tersebut ke kaca depan mobil alex.
Prang...
__ADS_1
Suara benturan kaca di iringi suara mobil alex yang otomatis memanggil pemiliknya.
Tidak cukup itu. layya membuka pintu mobil alex bagian belakang. meraih satu benda panjang, terlihat seperti besi berbentuk seperti tongkat pemain bola. menutup pintu kembali dengan bantingan yang cukup keras.
Layya melanjutkan aksinya. layya bersyukur karna masih jam kerja. jadinya tidak ada satupun manusia di sana baik lewat maupun yang datang.
Bhakk...trang...
Bhakk...trang...
Bhakk..bhakk..bhakk
Suara hantaman demi hantaman yang di pukul layya ke kaca mobil alex baik pintu maupun kaca depan. sudah berhasil membuat mobil tersebut masuk ke tempat perbaikan dalam jangka waktu lama dan alex seharusnya sudah siap dengan biaya atau mendapatkan yang baru.
Langkah alex nyaris seperti berlari karna sebegitunya cepat di setiap langkahnya yang lebar.
Langkahnya berhenti ketika manik matanya melihat mobil kesayangannya, yang sedang...
"oh tidak! ". keluh alex sembari memegang kepalanya dengan kedua tangannya.
Mulutnya terbuka lebar sedangkan kedua manik matanya membulat.
Alex melangkah pelan nyaris seperti dirinya tidak bernyawa lagi sembari ia melihat aktifitas layya.
Trang...bhukk...bhak...
Itulah suara yang terus mengalun indah di telinga alex. mau menghentikan, percuma. semua...hancur sudah.
"layya?...apa...bagaimana...mobilku". alex terlihat frustasi menatap sayang mobil kesayangannya.
Trang...
Layya menghentikan gerakannya. melempar tongkat besi tersebut ke ke bawah. menoleh menatap alex, yang berdiri di sampingnya. setelah menepuk kedua telapak tangannya. membersihkan.
Layya memaksa tersenyum tipis menatap alex.
"ada yang salah? ini terima kasihku lho untuk kak alex? kak alex berhasil membuatku dan rayyan satu kamar...". layya mendekat dan berdiri di depan alex dengan tangan ia lipat di dadanya.
"jangan bermain main denganku kak? dan...". layya mundur selangkah setelah mendesis tajam ke alex.
Layya melirik mobil alex yang sudah babak belur sebelum melangkah pergi dari sana.
"berikan saja untuk ******** itu perbaiki, teman kak alex,...aku rasa beberapa hari ini dia sangat menikmati harinya". 'setelah membohonginya dan membuatnya seperti wanita bodoh selama ini'. sambung layya dalam hati setelahnya layya menggeram dalam hati. melenggang pergi dari sana. hilang dari pandangan alex.
Layya melangkah masuk kembali ke dalam lobby perusahaan rayyan. masuk dan menekan tombol lift lantai di mana ruang kerja rayyan.
__ADS_1
'saatnya ia memberi pria itu pelajaran'. mata layya menatap tajam ke pintu lift yang terbuka.