
'Maaf! Aku sudah begini. Dan juga, bukan kalimat itu yang mau aku dengar,' Layya mencekram kuat selimut di kedua tangannya.
Layya merapatkan kedua giginya. Sedang kedua matanya terpejam geram.
"Aku-tidak-butuh-kalimat-maaf mu-Ray," Layya menekan setiap kata perkata nya. Menatap Rayyan geram.
"Tidak ada kalimat lain yang bisa aku sampaikan Layya! Selain kalimat itu. Dan juga,,," Rayyan tiba tiba mendekatkan wajahnya ke tepat di depan wajah Layya dan berkata.
"Akting mu sangat bagus Istri ku. Kamu cocok jadi pemeran utama sebuah film. Mau mencoba masuk ke sana sayang! Suami mu ini dengan senang hati akan membawa mu masuk ke sana." Senyum di buat buat Rayyan hingga nyaris kedua matanya tertutup rapat.
Dengan kedua mata yang melebar terkejut. Layya menatap Rayyan di depannya. Yang sudah turun dari ranjang dan sedang menggunakan bathrobe putih. Sedang kedua matanya mengedip ngedip masih bingung. Padahal jelas, ia sudah ketahuan.
'Di lihat lihat kamar ini lengkap semua ya! Tunggu, bukan itu yang perlu sekarang. Tapi pria ini,,,' Hahhh
Layya menghela nafas.
'Dia terlalu jenius atau apa sih?' Kesal Layya. Sedang kedua matanya masih setia menatap gerak gerik Rayyan.
Ia kehilangan kata kata. Ah,
"Bagaimana kamu bisa tahu?" Itu adalah pertanyaan bodoh,
Rayyan menghentikan sejenak pekerjaan yang sedang mengikat tali baju di pinggangnya dan menoleh melihat Layya di belakangnya tanpa membalikkan tubuhnya.
"Niat mu sudah terbaca jelas, Layya! Kamu ingin mengetahui kenapa aku memukul Pria cupu itu. Kamu mengecewakan Layya! Setelah apa yang kita lakukan,"
Rasanya Layya mau mendengus jijik mendengar ucapan Rayyan.
'Kecewa? Lalu apa peduli ku,'
"Ku rasa semua wanita akan bersikap yang sama jika di tempat di posisi ini. Kamu tiba tiba membawa ku ke sana. Lalu setelahnya kamu memukul orang dengan alasan tidak jelas. Namun yang jelas satu hal, Setiap kamu terlihat sangat tidak suka dengan Rendra. Bisa beritahu aku alasannya Tuan Andryatama! Karna bagiku hanya punya satu jawaban. Yang tentu saja jawaban itu sama sekali tidak mungkin,"
Rayyan berbalik melangkah mendekati Layya yang duduk di ranjang.
__ADS_1
Sampai di hadapan Layya. Satu kaki Rayyan terangkat. Ia meletakkan lututnya ke kasur. Sedang wajahnya mendekat ke Layya.
"Bisa beritahu aku apa alasan itu? Setelahnya biar aku yang membenarkan,"
Layya mendongak membalas tatapan Rayyan.
"Beberapa waktu lalu, sedikit lama. Teman mu, entah siapa itu namanya. Yang jelas, aku bertemu dengannya di lobby perusahaan mu. Tidak banyak yang dia katakan. Hanya saja, setiap ucapannya mengandung teka teki yang harus aku pecahkan. Kejadian demi kejadian setiap aku kumpulkan membuat ku bingung tentang mu Ray. Dan aku selalu bertanya-tanya. Apa yang sebenarnya terjadi. Padahal jelas jelas kamu yang menyakiti ku. Tapi kenapa ucapan dari teman mu itu. Seolah aku yang sudah berselingkuh dari mu? Bukankah dia itu gila?"
Rayyan yang tersentak sedikit melebarkan matanya terkejut. Ia tidak tahu soal ini. Siapa pria itu, temannya. Siapa dia. Mirza? Tidak. Ah,,,Alex.
"Aku nggak ingat lagi siapa namanya. Tapi seingat ku, dulu dia ada di dekat mu selalu. "
"Alex."Beritahu Rayyan sembari dirinya berpikir.
"Ah benar, Alex. Dia asisten sekaligus manajer mu dulu kan?"
Rayyan menarik nafas. Mengacuhkan kalimat pertanyaan Layya.
"Jangan pikirkan apa yang dia katakan Layya. Seperti yang kamu katakan. Dia gila,"
"Kamu mau meninggalkan ku di sini sendiri? Dan aku tidak tahu di mana ini dan ke arah mana pintu keluar,"
Rayyan menoleh tanpa berbalik.
"Nanti akan ada bibi yang ke sini. Dia akan memberi tahu mu,"
Ckleck,
Pintu tertutup dan hanya menyisakan Layya sendiri di dalam sana.
Sepeninggal Rayyan.
Layya kembali menundukkan wajahnya membenamkannya ke selimut di antara dua kakinya. Dan bergumam di sana.
__ADS_1
"Aku bisa gila sekarang,"
Yang ia katakan tadi. Semuanya benar, perlakuan Rayyan padanya, perhatian Rayyan padanya dulu, semuanya benar.
Dirinya yang menepis itu karna rasa sakit yang Rayyan berikan tiba tiba. Dan juga, ia takut mendengar kan kebenaran yang sebenarnya.
Seharusnya ia tadi bisa mencegah Ray keluar dan tetap meminta penjelasan. Meski di awal niatnya seperti yang Rayyan tebak. Ia mau tahu kenapa dia memukul Rendra.
Tapi entah kenapa. Sebagian hati kecilnya di dalam sana. Sangat ingin tahu kenapa Rayyan begitu dulu. Berubah tiba tiba dan bersikap kasar begitu tiba tiba. Tapi di lain tempat, di sudut hatinya yang terdalam. Ia tidak mau tahu. Ia membencinya dan menyesali sudah jatuh cinta padanya. Bahkan sampai sekarang ia membenci dirinya sendiri. Yang tidak bisa melupakan pria itu. Bahkan tidak bisa menolaknya dengan dingin. Dan ya, ia berhasil melakukan itu tadi pagi di rumah sakit.
Saat dirinya yang tersadar dari mimpi. Yang Ray katakan akibat ia tenggelam di kolam renang dan traumanya kembali. Dalam ke adaan tidak sadar, entah apa yang ia lakukan pada Ray. Ia tidak mau bertanya atau tidak mau tahu. Yang jelas saat ia tersadar. Ray yang sudah tidak berpakain lagi. Hanya menyisakan celana Ray, yang sudah tidak berkancing lagi dan rambut Rayyan yang sudah acak acakan. Sedang junior Ray,,,
Hah...
Layya mendesah. Ia mengangkat satu tangannya dan meletakkan di depan kedua matanya. Menutup kedua matanya.
Ia tidak mau mengingatnya lagi. Bagaimana bisa ia bermimpi hal erotis begitu. Lalu selanjutnya terbawa ke alam nyata. Jawabannya adalah ia sudah pasti sudah gila. Posisi mereka saat itu. Ia yang duduk di atas ranjang sedang Rayyan berada di bawah berdiri tepat di hadapan nya. Nafas Rayyan seperti habis berlari berkilo kilo meter dan dirinya pun tidak jauh beda.
Ia yang sudah sadar seketika mendorong kuat tubuh Rayyan. Hingga membuat tubuh Rayyan menjauh darinya hingga beberapa langkah. Selanjutnya ia segera memperbaiki diri. Lebih lebih pakaiannya dan selanjutnya lagi. Ia mengomeli Ray dan berteriak teriak memarahinya hingga mengusir pria itu keluar dari kamar rawatnya.
Ray benar, dia tidak salah. Dia hanya mengikuti apa yang ia lakukan pada pria itu. Tapi tetap saja, seharusnya pria itu meninggal kannya dan menghiraukan saja ia di sana sendiri. Meskipun ia menangis dan meraung raung sedih di dalam sana.
Sekarang juga, hah.
Lagi lagi Layya mendesah.
Layya menelungkup kan wajahnya ke kedua tangannya.
'Seperti nya aku tidak bisa, Ayrin.' Gumamnya pelan.
'Apa ini efek dari kurang sentuhan? Aku jadi liar begini? Jika iya, maka selamat Layya. Kamu benar benar sudah gila. Arghhhh,,,' Batin Layya menjerit.
Layya menendang selimut ke bawah kakinya dan merutuki dirinya sendiri.
__ADS_1
'Ia sudah mencoba apa yang di sarankan Ayrin. Nyatanya ia tidak berhasil. Ia gagal,'