Kata-kata Cinta

Kata-kata Cinta
Bab 109


__ADS_3

"aku nggak tahu hubungan se-romantis apa yang kamu miliki dengan kekasih mu, sehingga wanita yang tidak tahu apapun jadi korban kalian!".


Tap...


Seketika langkah rayyan berhenti. Sedang kedua tangannya masih berada di kantung celananya, tanpa bergeser sedikit pun. Saat wajahnya yang dingin. Menoleh melihat ke sumber suara.


Seorang wanita dengan menggunakan pakaian kasual. Celana jeans di padu dengan baju kaos biasa, warna hitam. Dan tidak lupa jaket kain berhodi di karenakan cuaca di negeri tersebut sedang musim dingin.


Menatap malas sekaligus tidak suka ke pria di hadapannya, yang membelakangi dirinya. Dengan jarak ke duanya sekitar 2 meter lebih.


Wanita tersebut menyandarkan punggungnya di dinding putih di belakangnya, sedang kakinya tersilang ke depan.


Kerutan muncul di dahi rayyan saat meneliti sosok wanita di depan matanya.


Ia sama sekali tidak mengenalinya.


".... Kamu siapa? ".


Ekspresi wajah wanita tadi seketika saja berubah menjadi geram.


'si-a-pa?'.


'apa pria ini serius...?... Tidak, apa sebegitu berniat dia mempermainkan layya. Sehingga sahabat dari istrinya sendiri dia tidak tahu...? '.


'ingin rasanya aku menerjangnya dan memukuli wajahnya itu dengan sepatu sportku ini... Ugh...Aku sangat benci pria ini'.


"Aku selalu... Tidak!". Ayrin menjeda ucapannya sejenak saat dirinya menggeleng pelan.


"aku sering terlihat dan bersama dengan istrim...Ah...Bisa aku katakan mainan kalian pasangan B***?!". Sinis wanita tersebut yang tidak lain adalah ayrin. Sahabat sekaligus teman satu satunya layya.


Rayyan menaikkan satu alisnya. Saat kedua manik matanya masih menatap wanita di depannya.


'sering bersama... Apa? Istriku... Wanita itu...? Cih...'.


"lalu?!". Tatapan acuh dan dingin rayyan saat dirinya bertanya balik. 'apa urusannya denganmu?'.


Ayrin sejenak membulatkan matanya tidak percaya sebelum kemudian menggeram marah.


"jauhi layya. Hentikan entah apapun itu yang sedang mau kau lakukan itu. Apapun itu. Tentu saja sebelum layya tahu dan dia tersakiti!". Ujar ayrin yang nyaris seperti memohon.


Raut wajah rayyan terlihat mengelap saat manik matanya yang semakin tajam menatap wanita di depannya.


Rayyan yang sudah membalik badan. Menatap lawan bicaranya dengan jelas.


Ekspresi raut wajah rayyan. Membuat aura di sekitar ayrin menjadi dingin. Sehingga ayrin bisa merasakan kengerian tatapan tajam rayyan.


'meninggalkan, jauhi, tinggalkan... Mereka suka ikut campur...'.


"bagiku... Kalian seperti lalat lalat pengganggu! Lalu... Jauhi? ...1 hal yang tentu kamu tahu. Jika memang kamu, seperti yang kamu katakan. Dia... Wanita itu...Temanmu itu...Istriku, masih istriku! Jauhi atau meninggalkannya itu urusanku, bukan kalian!". Kecam rayyan tajam dengan nada suaranya yang dingin.


Rayyan berbalik pergi dari sana. Meninggalkan ayrin yang begitu syok dan terkejut.


Namun. Baru beberapa langkah berjalan. Rayyan kembali berhenti karena di cegat oleh suara ayrin.


"lalu kalian akan bermain ini sampai akhir? Menyakiti wanita yang sama sekali tidak bersalah pada kalian? Se**** itu kalian? ".


Menggeram di sertai merapatkan kedua giginya dengan rapat.


Rayyan menjawab tanpa berbalik.


"lebih baik kalian yang tidak tahu apapun. Diam dan jangan ikut campur! ...". Rayyan menjeda kalimatnya saat dirinya menoleh melihat ayrin dengan ujung mata kirinya.


"ini peringatan! Camkan itu". Rayyan seketika melenggang dari sana tanpa peduli teriakan frustasi seorang ayrin. Bahkan Umpatan ayrin pada dirinya.


Flassback off...


Kembali ke sekarang.


Di mana rayyan berdiri mematung. Dengan tatapan matanya yang kosong ke depan. Serta dirinya masih dengan lilitan handuk persegi panjang di pinggang.


Rayyan masih dalam lamunannya. Bahkan suara dua manusia di sekitarnya, terdengar samar samar tidak jelas bagi rayyan.


Sebelum kemudian dirinya tersentak sadar. Saat suara jelas wanita yang sangat ia kenali bahkan ada lamunanya masuk ke gendang telinganya dengan jelas.


'layya'.


Sontak saja rayyan membalik badan melihat ke sumber suara, yang berada tepat di belakangnya.


Ya layya.


Layya yang sedang merapikan rambut putranya yusuf. Sedang dirinya, menumpu kedua lututnya di lantai. Menyamakan tinggi tubuh putranya yusuf.


Obrolan ringan keduanya. Dapat di dengar oleh rayyan, yang berada di belakang layya. Dengan jarak Rayyan sekitar 2 meter lebih.


Salah satunya adalah. Aduan Yusuf ke layya. Karna Ia tidak menggunakan baju bertelanjang dada dan hanya menggunakan handuk sebatas di atas lutut.


Rayyan bukannya marah. Tapi malah menyungging senyum geli.

__ADS_1


Jika saja Yusuf putranya tidak ada di sini. Ia akan tertawa lebar.


Putranya tidak tahu. Bagaimana bundanya. Sangat memuja tubuh suaminya ini.


Mungkin ya. Layya akan marah jika pria lain melakukan ini. Tapi ini? Aku, suaminya.


Tunggu... Memuja?.


Aku yakin dan sangat yakin dengan ini. Tapi kenapa...


Aku meragukan layya? Cintanya...


Tanpa sadar. Rayyan menggepal kuat buku tangannya.


Ia kembali menatap punggung layya. Saat sejenak beralih ke tempat lain.


Mendengar kembali ocehan putranya.


Oh ya. Tentu saja tidak membahas lagi tentang tubuhnya. Tapi sekarang. Tentang semua koleksi mainannya di sini.


Dari mimik wajahnya. Sangat terlihat. Putranya, sangat menginginkan dan menyukai tempat ini.


Rayyan menyungging senyum tipis.


'ya! Memang ini sudah harus menjadi milikmu son? ...Semua...'.


Rayyan menarik nafas berjalan mendekati layya dan yusuf.


"sejak kapan kamu sudah di sini?!". Ia tidak tahu sejak kapan.


Apa semenjak amarahnya naik memuncak karna ucapan Yusuf tadi? Atau saat ia. Masih dalam lamunan.


Ia tidak akan bertanya bagaimana layya bisa tahu yusuf di sini. Karna jawabannya tentu saja. Mami yang memberitahu layya yusuf di sini dan ia sangat yakin. Mami jugalah yang mengantar layya masuk ke sini.


Menoleh layya melihat rayyan. Sebelum kemudian dia bangkit berdiri dan berbalik menatap rayyan.


Deg..


Suara jantung layya seketika di sertai dengan kerjapan kedua matanya yang tersentak. Di karena kan terkejut sekaligus shock berat, sangat berat. Melihat penampilan pria di depannya, yang tidak lain dan sialnya masih suaminya.


Handuk dan...


Ughhh...


"seharusnya kamu bisa...".


Layya sontak saja membulatkan kedua matanya.


Itu artinya... Pria ini sedang mandi dan Yusuf.


Layya menurunkan kepalanya. Menatap yusuf yang berada di bawahnya. Dan ternyata yusuf yang pintar melihat menatap bundanya juga. Tanpa rasa takut atau pun bersalah.


"yusuf kamu melakukan itu?!". Tanya layya terkejut dengan tidak percaya.


"Yusuf see it, Follow him, then arrived in this room. Yusuf look for it and... I do not know, He bath!". Yusuf menaikkan nada suaranya di ujung kalimat yang nyaris hampir seperti berteriak.


Layya sama sekali tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.


Putra nya mengikuti rayyan sampai ke kamar pria ini?.


Untuk apa?.


"Untuk apa kamu melakukan itu? Itu bukan dirimu putraku?!". Layya sedikit menekan kata dirimu. Untuk yusuf.


"I know..? He my daddy. Yusuf want see a close look?!".


Layya seketika saja ternganga dengan ucapan putranya. Seharusnya di saat seperti ini dia shock sekaligus terkejut bukan. Karna putranya. Sudah mengetahui siapa papanya yang sebenarnya tapi...


Ia bukannya shock atau terkejut tapi malah. Tidak percaya dengan ucapan putranya.


Dia... Mau lihat daddynya dari dekat? Maksudnya mau melihat jelas? Begitu...? Tapi kenapa?.


Tunggu...


Berbeda terbalik dengan layya. Rayyan malah berdiri santai. Melihat tatapan mata putranya tadi di kamar mandi apalagi meneliti semua bagian tubuhnya. Entah kenapa ia bisa tahu. Kenapa bocah ini mengikuti nya.


"yusuf...? Dari mana kamu tahu pria ini daddy mu?!". Aku tidak pernah memberitahunya dan sama sekali tidak berniat untuk memberi tahu.


'ah pertanyaan bagus layya? Aku juga ingin tahu'. Batin rayyan girang sekaligus penasaran.


Hahhh...


Mendengar helaan nafas lelah yang keluar dari mulut Yusuf. Rayyan dan layya keduanya berekspresi bingung.


"photo in front, That is not yusuf, then he similar yusuf and... Photo that this home then...of course photo of him, right...?".


Layya dan rayyan. Keduanya terdiam. Tidak tahu harus menjawab apa.

__ADS_1


'apa putranya sejenius ini? Berpikir sampai sebegitu panjang? Ia bahkan tidak menyangka...'.


"then...Now yusuf will play again, what can?". Tatapan mata yusuf meminta persetujuan dari layya. Membuat layya tersentak kaget.


"ah...". Layya melihat ke sekitarnya.


Sejenak tadi ia sempat melupakan. Mereka ada di mana sekarang.


"euhmmm...hhh.. Okay? ....". Angguk layya menyetujui setelah menarik nafas berat sejenak.


'ya! Meski begitu...Dia tetaplah, masih anak kecil'. Batin layya.


Dan setelahnya, ia harus berhadapan dengan pria di sampingnya ini.


Ekspresi wajah Yusuf di luar ekspektasi layya. Dimana yang tadinya dingin dan datar. Namun sekarang. Tersenyum sumringah kesenangan. Layaknya anak kecil yang mendapat es krim. Setelah sekian lama tidak mendapat kannya.


"thanks bunda?...". Sumrigah yusuf sembari mendekat membentangkan kedua tangannya mau memeluk layya.


Sedang layya. Segera menurunkan tubuhnya memeluk tubuh kecil putra satu satunya dan tidak lupa juga ciuman kecil penuh cinta. Mendarat di kening, pipi kanan kiri yusuf dan berakhir dengan pelukan sayang.


Melepaskan pelukan. Layya di kejutkan dengan sikap yusuf yang tiba tiba dan seketika. Yaitu yusuf mencium pipi kiri layya dengan menekannya beberapa detik di sana sebelum dia berlari masuk ke lorong mainan sebelahnya.


"I will miss bunda! Love bunda forever!". Ujar Yusuf ditengah lariannya dan dia melenggang pergi dari sana.


Layya yang di tinggal tersenyum bahagia. Sembari bangkit berdiri dari posisinya yang memeluk putranya yusuf tadi.


"oh baiklah!... Entah kenapa aku menginginkan nya juga".


"akh...".


Rayyan Secara tiba tiba. Menarik tangan layya dan menyentaknya. Hingga tubuh layya menabrak tubuh rayyan. Lebih tepat. Dada rayyan yang bidang, tegap sekaligus lebar. Membentur dengan tubuh layya.


Brugh...


"ah...Ray...?". Tanpa menunggu waktu atau menikmati pemandangan indah di depan matanya. Atau memegang menyentuh nya. Menikmati pahatan karya seni di depannya.


Layya menolak tubuh rayyan, yang sangat sangat dekat dengan tubuhnya dengan kedua tangannya.


"Rayyan Andryatama apa yang kau lakukan?!"


"bukankah tadi aku sudah mengatakannya? Aku menginginkan nya juga".


"me-menginginkan apa? ". Layya sedikit berteriak bingung. Benar benar tidak tahu. Apa yang dimaksud rayyan.


"lepaskan dulu ini? Yusuf bisa saja tiba tiba kembali dan tidak bagus bagi dia untuk melihat hal ini".


Rayyan tersenyum licik.


"itu artinya di tempat yang yusuf tidak bisa lihat, itu bisa?!".


"itu artinya aku menolakmu dengan halus bodoh? Lepaskan ini ray...?". Ronta layya mencoba melepaskan tangan rayyan dari pinggangnya.


Dengan senyum tipis. Yang menampilkan pesona seorang Rayyan Andryatama. Tiada bandingan dengan aktor atau model apapun.


Rayyan berbicara sembari menatap wajah layya lekat, yang berada sangat dekat dengan dirinya.


"kamu belum menjawabku layya...? Kenapa kamu ada di sini!".


Layya berhenti meronta. Memandang menatap wajah rayyan di depan matanya. Sebelum kemudian menjawab pertanyaan rayyan yang tertunda. Dengan mengalihkan tatapannya ke samping. Lebih tepat membuang muka ke samping.


"aku kesini mau mengambil tasku dan handphone ku di sana. Lebih tepat aku membutuhkan handphone ku".


Rayyan mengedipkan kedua matanya. Ia tahu dimana letak tas layya berada.


"ah...Begitu rupanya!". Jawab rayyan santai.


"baiklah, karna kamu sudah tahu. Sekarang lepaskan aku". Layya kembali mencoba bergerak menarik tangan rayyan untuk lepas dari tubuhnya.


"aku belum mandi!".


"ugh...Itu tidak ada urusannya dengan ku ray? Lepaskan!". Kesal layya karna rayyan tidak mau melepaskannya juga.


"tentu saja ada! Coba pikir, tadi saat aku sedang mandi, tiba tiba yusuf hadir dan di sinilah aku sekarang!".


"maksudmu aku harus bertanggung jawab untuk itu?!".


Berbeda dari layya yang sangat ingin menonjok wajah rayyan sekarang. Apalagi melihat ekspresi rayyan saat ini.


Lihat.


Dia hanya bersikap santai dan acuh.


Sedangkan aku?. Ughhh...


Seandainya ada pisau. Sungguh aku akan memotong tangan pria ini. Agar aku bisa lepas.


"bisa di katakan...Euhmmm... Karna kamu sudah ada di sini. Kenapa tidak sekalian kamu temani aku mandi. Aku suami mu! Right...?!".

__ADS_1


"ralat, suami di atas kertas ray. Ingat itu dan cepat lepaskan ini ray?". Geram layya menekan suaranya agar tidak berteriak dan putranya yusuf bisa mendengarnya.


__ADS_2