
Sekelebat bayangan akan kelahiran Yusuf dan Maryam muncul di alam bawah sadar layya.
*Dari layya pertama kali mengetahui bahwa dirinya hamil.
Wajahnya yang senang tersenyum sumrigah. Muncul ide untuk memberikan kejutan pada rayyan suaminya. Lalu penantiannya yang tidak kunjung tiba di sebabkan rayyan yang tidak pulang pulang. Di hubungi rayyan tidak menjawab panggilannya .Di kirim pesan rayyan tidak membalasnya hanya membaca saja*.
*lalu, naasnya pada hari itu. Temannya ayrin menceritakan hal sebenarnya yang terjadi antara dirinya, Reina dan Rayyan.
Sakit! Sangat sakit. Bahkan ia sampai tidak bisa bernafas karna dadanya yang begitu sesak. Lalu memutuskan untuk melihat dengan mata kepala sendiri untuk memastikan ucapan ayrin. Lalu bagaimana ayrin melarangnya untuk ke sana tapi ia bersikeras untuk tetap ke sana. Ke apartemen Reina.
Sampai di sana layya segera menekan tombol pintu di apartemen dengan tangannya yang gemetar. Layya tahu kode apartemen Reina. Begitu juga dengan ayrin. karna mereka sering ke tempat Reina, baik sekedar bermain atau sesekali menginap jika sudah tengah malam.
Masuk pintu depan. Jantung layya sudah mulai berdegup ketakutan. Apalagi melihat pintu kamar yang sedikit terbuka dan dari dalam sana terdengar suara erangan dan desahan dua manusia, yang sangat sangat ia kenali.
Hati hati layya membuka perlahan daun pintu, hingga kedua matanya langsung menangkap satu pasangan berada di atas ranjang dan sedang menyatukan cinta dan kasih mereka.
Layya kacau tidak bisa berpikir apapun di saat bersamaan. Kepala seperti penuh dengan jaring laba laba yang rumit. Di sana suaminya dan sahabat nya. Suaminya yang selama ini sangat layya cintai, sangat layya idolakan sosoknya. Menggantikan seseorang yang lain.
Bayangan ucapan per ucapan rayyan malam itu berjalan seiring detik demi detik, layya yang belum sadar*.
Gerakan sekilas kedua bulu mata layya, yang memberi respon akan usaha rayyan sekarang terlihat. Namun hal tersebut terlewat dari pandangan rayyan.
Rayyan terus menerus menekan dada layya sambil memanggil nama layya, berteriak serta meracau perkataan entah apapun itu asal membuatnya tenang. Namun hal tersebut rayyan sendiri sangat tahu jelas. Ia tidak akan tenang sebelum layya sadar dan membuka kedua matanya.
*Wajah layya yang tersenyum sumrigah terlihat dari alam bawah sadarnya.
Terlihat perut layya sudah besar. Layya duduk di taman sebuah rumah mewah dengan di hadapannya dua cangkir teh dan Snack kesukaannya.
"bagaimana ke adaan babynya hari ini sayang?!". Tanya sebuah suara yang datang dari belakang layya dan berasal dari seorang wanita paruh baya. Menggunakan hijap besar warna hitam, begitu juga pakaiannya yang berwarna biru.
Layya menoleh dan wanita tersebut sudah sampai di samping layya. Satu tangannya mengusap lembut sekaligus sayang ke perut besar layya.
"seperti biasa mi? Hanya saja dari semalam sangat aktif!". Jawab layya lembut dengan senyum manis melekat di wajahnya yang cantik.
__ADS_1
Layya tidak menggunakan hijap. Hingga membuat rambutnya yang hitam dan panjang terbawa angin.
Wanita paruh baya tersebut merapikan rambut layya sambil tersenyum lembut.
"lalu bagaimana dengan ibu babynya?!".
Layya merentangkan kedua tangannya. Yang artinya 'ia baik baik saja'.
Keduanya menikmati teh bersama dengan duduk bersebelahan di kursi taman.
"ah tidak terasa sebentar lagi kamu sudah akan melahirkan sayang?!". Ujar wanita paruh baya tersebut.
Layya mengusap perutnya dengan kedua tangannya.
"entah kenapa masih membuat layya gugup!".
Usapan kepala yang datang dari tangan wanita paruh baya itu membuat layya tenang.
Layya diam sejenak sebelum mengangguk dengan senyum sumringah nya.
'ya, sebentar lagi. Sebentar lagi anaknya dan rayyan akan segera lahir'. Batin layya sembari mengusap perutnya.
Meskipun penghianatan suaminya masih belum bisa ia lupakan dan masih sedikit sakit ketika teringat. Namun, entah mengapa di saat bersamaan ia senang dan bahagia. Anaknya dan rayyan. Anaknya dengan pria yang ia cintai. Anaknya dengan pria...Yang pernah membuatnya nyaman*.
*Bagaimana ia bisa menyesali pernikahan nya. Bagaimana bisa ia menyesali pertemuan nya dengan rayyan dan bagaimana ia bisa membenci rayyan. Jika di dalam perutnya ada anak mereka.
Tidak! Ia tidak akan pernah bisa menyesali pernikahan nya dengan rayyan juga pertemuan mereka.
Malah ia bersyukur dan berterima kasih ke rayyan untuk benihnya. Sehingga membuatnya sebentar lagi akan ada teman dan ia tidak sendiri lagi.
Bayangan kelahiran Yusuf dan Maryam. Di hari pertama Yusuf dan Maryam lahir kedunia. Wajah wajah senang dan bahagia dari ayrin sahabatnya dan mami ayrin yang ia panggil sebagai mami juga lalu Rendra yang ikut menemani juga.
Kita semua tersenyum bahagia melihat kedua bayi anaknya, yang satu ada dalam gendongan mami yaitu Maryam sedangkan satu lagi ada dalam gendongan Rendra, Yusuf.
__ADS_1
Wajah layya yang tersenyum bahagia melihat kedua buah hatinya. Terbayang dari alam bawah sadar layya. Lalu bayangan Yusuf dan Maryam yang sudah bisa duduk dan sudah bisa memanggil nama layya dengan sebutan 'bunda'.
Bayangan Yusuf dan Maryam belajar jalan lalu bayangan Yusuf dan Maryam berlari ke arah layya ketika layya pulang kerja. Dan bagaimana wajah layya yang tertawa lepas dengan kebahagiaan nya*.
Tidak ada sosok rayyan di sana, juga di ingatannya.
"bangun layya? Aku mohon...Bangun layya? Apa kamu dengar? Aku bilang bangun layya!".
Suara dari rayyan masuk ke alam bawah sadar layya.
"jangan seperti ini layya. Ku mohon...Kamu membuatku takut layya. Bangunlah dan balas aku..Kamu belum membalasku LAYYA! Bangun lah dan balas aku!".
Lagi lagi suara rayyan masuk ke alam bawah sadar layya.
Suara yang bisa layya rasakan kepedihan di sana. Suara lemah rayyan sebelum kemudian rayyan berteriak memanggil nama layya.
"bangun layya?! Aku bilang bangun sayang?! Kamu istriku layya. Dan sampai kapanpun itu kamu akan tetap menjadi istriku layya. Jadi cepatlah bangun, Kamu membuatku takut! Ah...layya? Kamu belum menyelesaikan kontrak mu denganku layya? Rumah ku yang kamu desain belum selesai! ...".
Terlihat rayyan yang sudah lemah tapi tidak membuatnya putus asa dalam menyadarkan layya.
Rayyan tersenyum sembari terkekeh.
"apa kamu tahu? Desain rumah itu adalah desain rumah kesukaan mu. Semuanya layya. Dari pagar, rumah, taman, kolam renang anak anak dan taman belakang!Aneh kan? Padahal kita tidak bersama lagi. Padahal, aku sudah menyakiti mu. Padahal kamu sudah pergi dariku. Padahal kita sudah berpisah. Tapi aku tetap membuat desain rumah kesukaanmu. Apa aku gila layya? Dan apa kamu tahu layya? Aku mengira selama 4 tahun itu. Kamu sudah menikah dan bersama dengan cinta pertama mu, dengan cintamu...Pria cupu itu".
Rayyan mendengus.
"pria cupu...Maaf layya. Aku tidak mau memanggil namanya. Pria cupu...Aku akan terus memanggilnya dengan nama itu!".
Racau rayyan sedangkan beberapa orang di sana masih setia mendengar termasuk Andryatama dan Imelda. Juga layya dari alam bawah sadarnya.
Layya sangat ingin sekarang bangkit bangun dan menonjok wajah rayyan. Namun apalah dayanya sekarang. Semua anggota tubuhnya sekarang. Sama sekali tidak mendukungnya akan hal itu. Matanya tidak mau terbuka meski ia coba untuk menggerakkan. Kedua tangannya tidak bisa ia angkat. Berat layaknya ditaruh batu besar di atasnya.
Layya mau minta tolong tapi suaranya tidak mau keluar. Dadanya sangat sesak bahkan sulit untuknya sekedar untuk menarik nafas.
__ADS_1