Kata-kata Cinta

Kata-kata Cinta
118


__ADS_3

"Ya Tama!" Jawab Imelda setelah mengambil alih gagang telpon dari Bibi.


"Ray masih di rumah? Rapat seharusnya sudah di mulai 20 menit yang lalu. Dimana anak itu?"


Imelda tersenyum lembut.


"Seperti nya kali ini kamu harus memimpin rapatnya Tama! Ray tidak akan sempat menghadirinya, tidak. Ray mungkin tidak bisa memimpin rapat kali ini,"


Di ruang rapat.


Meja panjang bundar. Itulah definisi meja di ruangan tersebut. Dengan lebih puluhan pasang mata sudah berada di sana. Dan terlihat ada yang berbisik bisik dan sedikit risih.


Sangat jarang bahkan bisa di katakan. Seorang Rayyan Andryatama tidak pernah terlambat sedikit pun, dalam menghadiri rapat. Apalagi rapat penting seperti kali ini.


Dahi Tama mengeryit tidak mengerti maksud dari istrinya tersebut.


"Maksud mami! Jadi , Rayyan masih di rumah! Tunggu, apa dia sakit! Tiba tiba! Anak yang dari kecil tidak pernah sakit sekalipun, kali ini dia sakit! Sakit apa! Separah apa?"


Suara Tama yang khawatir nyaris seperti berteriak di ruang rapat tersebut. Dia bahkan meloncat berdiri dari duduknya tiba tiba. Yang membuat beberapa kepala di sana. Terkesiap terkejut.


Imelda mendesah. Pria ini, semalam dia masih geram dengan perilaku Rayyan. Dan lihat sekarang, dia menghawatirkan putranya.


Sembari memejamkan kedua matanya Imelda menjawab.


"Dia tidak sakit Tama! Bahkan sebaliknya. Dia sangat prima, sangat sangat prima. Kamu tidak perlu panik begitu. Yang penting sekarang, kamu pimpin rapatnya dan lupakan kehadiran Ray di sana. Dia tidak akan datang, tidak kali ini. Ku rasa itu bukan hal sulit untukmu. Kamu sudah berada di sana setengah umur mu,"


Tama kembali menduduki bokong nya di kursi yang sudah di sediakan untuknya. Sedang kedua matanya memincing menatap layar HP.


"Jangan katakan kamu menahan Rayyan, Imelda. Dia bukan anak kecil lagi mi!"


Tama nyaris saja berteriak ke istrinya. Jika ia tidak menyadari kalau dirinya sekarang. Berada di ruang rapat perusahaan dan ada banyak pasang mata di sana.


Imelda mendesah.


"Intinya, kamu pimpilah rapat hari ini. Putra mu tidak bisa ke sana. Sekalipun bisa ke sana. Mungkin sekitar sorean. Aku tutup, aku terlalu lama meninggalkan cucu ku,"


Tama seketika menyatukan kedua alisnya.


"Bahkan sekarang dunia mu teralihkan oleh keduanya," Keluh Tama.


Imelda mengernyit tidak suka dengan ucapan Tama. Bukankah dia juga mencintai keduanya.


"Kenapa! Kau tidak suka? Kau membenci mereka. Tama? Katakan dengan jujur, Kau tidak menyukai mereka? Kau iri dengan dua cucu ku?!" Pertanyaan jengkel tersebut sukses membuat Tama mendesah. Bisa bisanya istrinya ini berpikiran demikian.


"Apa aku terlihat seperti membenci mereka? Dan juga, kenapa kita malah bertengkar? Aku hanya menanyakan Ray?"


"Siapapun yang mendengar ucapan mu barusan. Tentu semua akan berpikir demikian! Ya, sudah ku katakan Ray tidak akan datang dan kamu! Tangani rapat itu,"Klik,


Imelda mematikan sepihak sambungan nya. Beraninya pria ini.


Imelda sedikit membanting gagang telepon ketika dia menaruh nya kembali.


Di perusahaan lebih tepat di ruang rapat. Tama mendesah lelah. Kedua matanya menatap layar HPnya yang sudah mati. Menghiraukan semua orang yang ada di sana. Pikirannya,


'Apa tadi terdengar seperti itu? Padahal aku tidak bermaksud begitu. Tapi memang benar. Akhir akhir ini dunia nya semua untuk dua bocah imut itu. Bahkan tidur malam pun Imelda tidak di kamar lagi. Melainkan bersama Yusuf dan Maryam di lantai 3. Kamar Ray dulu. Ia bukannya tidak suka. Tapi,'


Tama menutup mulutnya sendiri. Kedua pipinya seketika memerah. Mengingat kedua bocah yang berada di rumah mereka.


'Aku juga mau dekat begitu? Bahkan tidur bareng,' Wajah Tama seperti merajut.


Istrinya tidak mengizinkannya melakukan itu. Ketika malam tiba dan ketika Imelda bersiap siap mau tidur di kamar Yusuf dan Maryam. Ia juga melakukan hal yang sama. Meraih dua bantal dan memeluknya. Berniat mau ke atas bareng Imelda. Akan tetapi,


Brakh,,


Kedua mata Tama mengerjap. Ia kebingungan.


Ckleck.

__ADS_1


Kepala Imelda muncul dari samping pintu yang terbuka sedikit dan dengan senyum mengerikan nya.


"Kamu tidur di sini. Memang kamu mau ke mana? Kamu sudah mengambil alih keduanya ketika hari. Bahkan aku tidak bisa mendekat. Karna sangking mereka nya tidak mau sama aku dan betah dengan mu. Dan sekarang malam, mereka milik ku."


Brakh,,


Di ruang rapat. Tama memejamkan kedua matanya saat teringat kembali ucapan dan kejadian malam itu.


Tama memegang hidungnya.


'Untung saja hidungnya yang panjang ini. Tidak jadi korban bantingan pintu malam itu. Kalau tidak, hu hu hu hidung panjang ku yang berharga,'


Semua yang ada di ruang rapat. Menatap pria setengah baya dan jangkung di depannya, yang ketampanan nya sama sekali seperti tidak di makan oleh waktu. Masih sama tampan seperti saat menjabat sebagai CEO di perusahaan ini. Sebelum putranya yang tidak kalah tampan darinya mengambil alih. Semua wajah mereka kebingungan serta saling melihat dan sesekali berbisik entah apa.


Tama seperti belum menyadari keberadaan nya sekarang dan masih terhanyut dalam pikirannya.


Deheman Dari asisten pribadi Rayyan. Menyentak menyadarkan Tama.


"Ekhem,," Tama berdehem mengusik kecanggungan.


Bisa bisanya karakter dinginnya selama ini. Di bunuh oleh ke iri an untuk dua bocah itu.


Tama menarik nafas panjang dan mulai fokus ke ruang rapat.


"Baiklah, seperti nya CEO kita tidak bisa memimpin rapat kali ini. Aku akan mengganti kannya. Jadi, bisa kita mulai sekarang! Kita sudah membuang banyak waktu," Ujar Tama mempersilakan Sekretaris Rayyan menghidupkan layar putih besar di hadapan mereka semua.


Dan rapat pun di mulai. Meski tadi sempat ada bisik bisik tidak jelas. Tentang Rayyan yang kali ini tidak kompeten dan tidak bertanggung jawab sebagai seorang CEO.


Namun, suara Tama yang dingin dan kejam. Membungkam semua mulut mereka.


'Beraninya mereka di belakang putranya. Coba saja jika di depan Ray. Di suruh jilat sepatu Ray saja. Mereka tentu tidak akan menolak. Dasar penjilat,,'


Di kediaman Andryatama. Lebih tepat, kediaman yang di tempati dua bocah kecil yang cantik dan tampan, yusuf dan Maryam.


Dari arah timur ruangan tersebut. Di lantai 2 di sudut lantai.


Hanya berisi ranjang dan satu meja nakas kecil. Terlihat kalau ruangan tersebut adalah ruangan istirahat sebentar setelah nge gym. Dan terdapat kamar mandi juga.


"Huh,,, Aku pasti sudah gila," Keluh dan desah Layya. Sedang wajahnya dia benamkan di antara kedua pahanya sembari duduk di atas ranjang. Menenggelamkan wajahnya di sana tanpa sedikitpun terusik dengan keberadaan Rayyan di sampingnya.


Jika posisi Layya duduk meringkuk dengan bagian depan tubuhnya tertutup selimut putih tebal. Rayyan malah tidur di samping Layya dengan posisi berbaring terlentang.


Satu tangannya, kiri. Mengelus ngelus lembut punggung Layya yang sama sekali tidak tertutupi kain. Dan Rayyan suka dengan hal tersebut.


Perasaan ini, situasi ini. Sudah lama ia tidak merasakan nya.


"Kenapa? Kamu menyesal hm?!" Tanya Rayyan lembut dengan elusan tangannya di tubuh Layya.


Layya yang mulai sedikit risih. Menepis tangan Rayyan, yang sukses membuat Rayyan terkekeh geli.


"Kamu tahu Layya! Pagi ini aku ada rapat penting, dan di hadiri papi juga,"


Dengan wajah lesu Layya menoleh melihat Rayyan.


"Seharusnya kau meninggalkanku begitu saja tadi."


Rayyan tersenyum lembut penuh arti. Dia bangkit duduk sehingga kain yang tadinya menutupi hampir setengah dadanya. Kini hanya berada di pinggangnya. Sedang punggungnya sama sekali tidak tertutupi kain.


Melihat menatap Layya di sampingnya.


"Mana bisa aku begitu? Kamu menginginkan ku," Kerling jail mata Rayyan menatap Layya.


Melihat Rayyan yang tidak serius. Layya mendengus dan berdecih jengkel.


"Cih,,"


"He he he,," Tawa bodoh Rayyan menghidupkan suasana di kamar tersebut. Di mana tadinya panas. Namun tidak menjadi buram. Karna hubungan keduanya.

__ADS_1


Brukh,


Rayyan kembali merebahkan tubuhnya dan mendesah di sana.


"Aku seperti tidak mau keluar dari kamar ini. Rasanya aku mau di sini terus dan hanya berdua dengan mu," Ujar Rayyan sembari menatap atap kamar.


"Aku menikmati ini,"


Mendengar ucapan Rayyan. Layya menoleh dengan malas dan memasang wajah lesu.


"Enak ya? Kamu di rumah sendiri dan tanpa memikirkan apapun dan aku, huh,," Layya menjeda ucapannya. Sebelum melanjutkan dan kembali membenamkan wajah di kedua pahanya.


"Aku harus memikirkan cara. Bagaimana aku keluar dari kamar ini, terutama rumah ini. Dan bagaimana jika tiba tiba dan bertemu tante huh, Aku bisa gila sekarang,"


Rayyan kembali melihat Layya.


"Kamu mengkhawatirkan itu dari tadi?"


Layya diam tidak menjawab.


Rayyan tersenyum.


"Jika itu yang kamu cemaskan maka buanglah. Mami seperti nya hari ini tidak akan ada di rumah. Mungkin sorean nanti pulang. Soalnya mami ada pertemuan dengan teman-teman nya. Dan kalau papi, seperti yang aku katakan tadi. Pagi ini ada rapat di perusahaan dan papi menghadirinya. Ah, mungkin papi juga akan menggantikan nya pagi ini, memimpin rapat," Gumam Rayyan di ujung kalimatnya.


Layya yang tertarik menoleh melihat Rayyan.


"Benarkah?"


Rayyan mengangguk membenarkan. Ia tahu semua jadwal maminya setiap hari. Karna, maminya akan selalu memberi nya laporan. Dia akan kemana hari ini dan hari ini.


"Tapi aku harus melewati para pelayan di rumah mu juga,"


"Kamu tidak perlu mengkhawatirkan itu. Mereka bisa menutup mulut,"


Sedikit wajah Layya terlihat lega. Tapi tunggu,


Layya mendengus tidak percaya dengan dirinya sendiri. Dan membuang wajahnya ke samping.


"Aku sudah seperti kekasih gelap mu saja,"


Mendengar kalimat tersebut dari Layya.


Sontak Rayyan menahan tawa hingga akhirnya dia tergelak tawa.


Layya yang melihat itu mengeryit tidak suka.


"Kamu sedang menghina ku! Tidak. Kamu membenarkan ucapan ku kan?"


Di tengah tawa nya Rayyan menggeleng.


"Iishhh,, memangnya ada yang lucu! Aku rasa tidak."


Di tengah tawa nya yang terhenti. Rayyan menatap Layya.


"Salah Layya! Aku lah yang jadi kekasih gelap mu di sini,"


Layya menyatukan alisnya tidak mengerti.


Detik berikutnya kedua mata Layya membulat melebar.


Rayyan yang bergerak tiba tiba. Menepis kain di tubuhnya dan dengan posisi menumpu lutut di ranjang di depan Layya. Dan tanpa satu helai benang pun di tubuhnya. Dengan dan dalam ke adaan begitu.


Rayyan berucap tepat di hadapan Layya. Yang nyaris membuat bola mata Layya melompat keluar.


"Designer Zunaira. Jadikan aku, simpanan gelap mu."


"Panggil aku jika anda membutuhkan ku. Di mana dan kapan pun itu. Anda tidak perlu membayar ku. Bagaimana? Anda tertarik dengan ku, Designer Zunaira!"

__ADS_1


__ADS_2