
"baik bu! Terima kasih bu. Maaf sekali lagi bu. Sudah merepotkan ibu!".
"kamu fokus ke dirimu dulu saja ya nak layya! Mereka sama ibu. Mereka tertidur pulas, jadi sama sekali tidak repot nak layya...?".
"baik bu. Terimakasih sekal...".
"ya ya ya ya...Ibu mengerti. Ibu tutup dulu ya? Kamu juga harus istirahat yang cukup ya? ".
"hm...Baiklah bu...". Merasa di perhatikan oleh seseorang. Membuat layya terkesiap terkejut.
Karna semenjak kedua orang tuanya meninggal. Di umurnya yang masih bisa di sebut. Kecil. Karna saat itu ia masih duduk di bangku sekolah dasar. Sejak saat itu. Ia mulai mandiri. Apapun ia lakukan sendiri. Meskipun saat itu ia tinggal dengan paman. Adik daripada ayah.
"assalamualaikum?!".
Layya tersentak tersadar dari lamunannya. Mengerjap. Menjawab salam imelda.
"Wa'alaikum salam bu! Kabari layya ya bu. Jika mereka bangun". Tetap saja. Layya terlihat cemas.
Bagaimana tidak. Kedua anaknya. Yusuf dan Maryam. Akan selalu terbangun tengah malam. Mencari diri dirinya. Dan ketika tidak ada di samping mereka. Keduanya akan langsung menangis berteriak memanggilnya.
"ya nak layya? Percayakan ibu ya?!".
"hm!". Jawab layya dengan gumaman. Karna merasa dirinya pun. Tidak yakin untuk hal itu.
Bukan karna tidak mempercayai bu imelda tapi. Sekalipun bu imelda menghubungi nya ketika mereka bangun. Tentu saat itu. Ia juga tidak akan bisa berbuat apa apa. Ia berada di sini dengan silang infus. Seperti kata dokter tadi. Harus di rawat inap untuk semalam saja.
Dan saat itu. Ia tidak akan bisa melakukan apapun. Jika mereka terbangun tengah malam. Seperti biasa biasa terjadi.
Ya. Kedua anaknya akan terbangun tengah malam. Sering biasa terjadi begitu. Dan akan menangis mencari nya. Karna itu juga. Setiap malam. Mereka akan tidur bersama di satu ranjang. Selalu begitu.
Meskipun mereka punya kamar sendiri. Kamar itu lebih tepat. Ia selalu jadikan untuk tempat baju mereka. Atau keseharian mereka bermain di dalam kamar. Sampai tertidur di sana. Itu terjadi jika siang hari tapi jika malam.
Keduanya tidak akan bisa.
Layya mendesah.
Ia hanya akan berharap. Semoga keduanya tertidur pulas dan tidak terbangun.
Klik...
Mendengar suara di matikannya sambungan telepon dari seberang.
Layya menurunkan benda tipis tersebut dari telingannya. Menatapnya sesaat sebelum beralih menatap ke rayyan.
Yang sedang sangat sangat fokus dalam mengerjakan pekerjaan nya.
Srak...
Bukaan halaman kertas, yang di lakukan oleh rayyan. Sesaat membuat layya terdiam. Memandangi aktivitas rayyan.
Suara keheningan di dalam kamar rumah sakit tersebut sangat kentara. Hanya suara lembaran kertas, yang di buka rayyan. Menjadi salah satu suara yang membunuh keheningan di sana.
Layya mengedipkan kedua bulu matanya yang panjang dan lentik. Beralih melihat ke arah lain.
Tidak mau terlarut dari hal tersebut. Ia menyadarkan dirinya.
Lama lama menatap rayyan. Bisa bisa hatinya goyah. Terutama jantungnya.
Wanita mana coba, yang bisa menolak ke tampanan pria ini. Ia rasa tidak ada. Tapi...Jika mengingat kesakitan yang pria ini berikan padanya. Tidak mungkin untuk ia jatuh cinta padanya lagi, tidak.
Menarik nafas dalam.
Layya kembali menaikkan pandangannya menatap rayyan, dalam.
Pria yang ia benci... Tapi masih ia cintai. Sangat sulit untuk melupakannya. Gila! ...Ini memang gila.
Layya meremas kuat selimut yang menutupi sebagian tubuhnya, sampai pinggang. Menepis keras. Menolak keras. Perasaan yang tiba tiba datang menghantam dirinya.
Seperti 2 panah sekaligus mengenai hati dan jantungnya.
Dengan tatapan layya masih dalam menatap rayyan. Layya mendesah ringan.
'Gila?!'.
'Tidak!?'.
'Itu tidak akan terjadi'.
'Hanya aku! Yang bisa mengendalikan diriku sendiri'.
'Cinta!?'.
'tidak mungkin untuk aku....Mencintainya lagi. Itu tidak mungkin terjadi'.
'Dari pada di sebut cinta. Mungkin sekarang lebih ke di sebut benci'.
Ya, itu benar.
__ADS_1
'aku membencinya., sangat. Tidak ada obat'.
Layya terdiam beberapa saat. Dengan matanya masih menatap rayyan. Namun, tatapan kosong.
Dalam diam. Layya menepis, membohongi dirinya sendiri.
'Ya?!'.
'Di sisi lain juga. Aku harus memaafkannya. Aku harus memaksakan diriku untuk memaafkannya'.
'Salah satu alasannya adalah... Dia...Ayah dari pada Yusuf dan maryam. Kedua anakku, yang sangat sangat aku cintai. Melebihi daripada nyawaku sendiri'.
Dan...
Layya menarik nafas dalam dan panjang, saat.
Sekelebat bayangan. Dimana Yusuf dan Maryam jatuh ke kolam renang sore tadi.
Dan yang menyelamatkan mereka tadi....
Adalah pria ini.
Ayahnya sendiri.
Miris. Sangat miris....
Bagiku...
Satu satunya manusia di dunia ini. Yang tidak mau sama sekali bagi dirinya. Untuk mengucapkan kata...Terima kasih.
Layya mengalihkan matanya ke arah lain sembari mendesah lelah.
"Desahanmu bahkan terdengar kemari layya?! ".
Menaikan tatapannya kembali. Layya menatap rayyan malas.
"ini...". Sodor layya acuh. Mengembalikan handphone rayyan, yang ia pinjami tadi. Untuk menghubungi mami rayyan. Menanyakan kabar kedua anaknya.
Rayyan mengalihkan matanya dari menatap berkas di depannya. Ke layya di ranjang.
Jarak keduanya sekitar kurang lebih 4 meter. Dengan layya di atas ranjang rumah sakit. Sedang rayyan di kursi+meja yang di rancang begitu khusus. Untuk klien yang bisa mengerjakan pekerjaan nya di kamar VIP tersebut. Meja kerja, yang lengkap dengan lampu nya juga.
"taruh saja di sana! Lalu...". Rayyan menarik nafas. Menaikkan pandangannya menatap layya. Yang masih duduk tidak berbaring.
"wajahmu terlihat tidak puas layya?! Apa akan terjadi hal serius jika mereka terbangun tengah malam?!". Tanya rayyan setelah tadi mendengar semua pembicaraan layya dan maminya.
Dan reaksi layya. Sangat mengejutkan bagi rayyan. Layya menjawab, tanpa bersikap seperti biasa padanya. Enggan memberitahu. Apalagi jika hal tersebut menyangkut kedua anak mereka.
"keduanya selalu terbangun tengah malam dan mencariku...Dan jika tidak ada di samping mereka... Mereka bisa menangis kencang!".
Desahan yang keluar dari mulut layya. Membuat rayyan melihat kecemasan layya yang sangat.
Penasaran.
Rayyan kembali bertanya. Ingin tahu.
"mereka sering kamu tinggal?".
"tidak pernah! Belum pernah sekalipun. Sekalipun aku kerja lembur di perusahaan. Sebelum tengah malam. Aku sudah berada di rumah. Itu terjadi misal aku pas ke toilet dan mereka terbangun".
Rayyan menyatukan alisnya. Saat sesuatu hal terlintas di pikirannya.
"bukankah beberapa waktu lalu! Kamu meninggalkan mereka? Bagaimana dengan itu? Kamu ke Singapura...Bahkan beberapa malam".
Layya seketika saja tersenyum lebar dengan kalimat yang rayyan lontarkan.
"itulah ke unikan mereka. Mereka akan tertidur dengan sangat nyenyak tanpa terbangun. Jika harinya sebelum aku pergi. Aku mengatakan dulu pada mereka. Lebih tepat minta izin? Dan Kompromi dengan mereka. Berapa hari mereka bisa aku tinggal!".
"jadi maksudmu yang kemarin bukan pertama kali?!".
Terlihat layya menarik nafas. Ia berpikir lalu menggeleng.
"mungkin 3 kali, tapi itu semua sudah dalam izin mereka".
Rayyan mengerjap. Itu artinya...
"waktu aku membawamu ke dubai...Itu tanpa izin mereka. benar?!".
Layya memilih mendesah.
Ckck...
Mengingatnya kembali. Ingin sekali ia menonjok wajah pria ini.
Srak...Phak...
Layya memilih mengibas kain selimut lalu di susul dengan menghentaknya keras.
__ADS_1
"sudahlah! Aku ngantuk mau tidur. Awas saja jika kamu tinggalin aku sendiri di kamar ini. Aku pastikan kamu tidak akan bisa bertemu kedua anakmu!". Ancam layya tajam setelah dirinya berbaring. Membelangi rayyan.
Rayyan mau tidak mau mendengus tidak percaya. juga sembari tersenyum.
"kenapa kamu tidak memintaku untuk memelukmu sambil tidur...? Dan tidurmu pun akan nyenyak".
"coba saja jika berani!".
Rayyan mendengus keji.
"kamu sedang menantangku sayang...?".
Membuka matanya kembali. Layya menatap ke depan dengan tatapan dingin dan acuhnya.
Mendengar kata'sayang', yang keluar dari mulut rayyan. Bukannya membuat layya senang atau...Geli. Tapi...Membuatnya marah.
Layya menjawab ucapan rayyan dengan dingin dan tajam. Setelah terdiam beberapa saat.
Bahkan hati rayyan meringis mendengar ucapan pedas layya tersebut.
"ingat satu hal ini ray? Dan jangan pernah melupakannya...". Layya menjeda ucapannya.
Membalik badan. Menatap rayyan acuh dan malas.
Sedang rayyan membalas tatapan layya dengan tatapan geli dan lembutnya. Setelah menenangkan ekspresi wajahnya. Agar terlihat tenang di mata layya.
"Aku membencimu...Sangat! Camkan itu". Mengibas selimut nya. Layya kembali membalik badan. Membenamkan tubuhnya ke dalam selimut dan membelakangi rayyan kembali.
"percaya atau tidak layya? Aku bisa membuatmu hamil kembali anakku".
Ya. Ia tidak akan bisa. Membalas kemarahan layya dengan kelembutan atau rayuan. Ia tidak bisa. Jika layya marah maka ia lebih daripada itu.
Dalam selimut. Layya kembali membuka matanya.
Merinding.
Itulah hal pertama, yang terjadi pada tubuh layya. Begitu mendengar kalimat tersebut meluncur dari mulut rayyan.
Meragukan...? .
Tidak! Ia tidak pernah berpikir pria ini. Tidak akan melakukan apa yang dia pikirkan terlebih yang dia rencanakan. Karna dia...
Pria paling egois di dunia ini. Yang bisa melakukan apapun yang dia inginkan. Jika dia mau.
Dan tentang itu?.
Ia yakin 100%. Pria ini akan melakukannya.
Memejamkan matanya kembali. Sedang batinnya mengucapkan.
'ya. Aku tidak meragukan itu'.
Layya mendesah ringan sebelum menjawab lelah.
"tidak bisakah kamu mengalah dan melepaskanku ray...?...Aku sudah capek dan...Lelah menghadapi mu. Aku merindukan hari di mana kami tanpa kamu... Seperti dulu...". Layya memejamkan matanya perlahan di dalam selimut.
Berharap. Sangat berharap. Kantuk membawanya pergi.
Tatapan tajam rayyan ke punggung layya. Seperti sinar laser yang jika tajam. Sudah menembus punggung layya dari tadi.
Dan dari balik selimut. Layya bisa merasakan itu.
"apa kata begitu...Pernah kamu berikan ke pria cupu itu layya? Aku bertaruh, tidak!".
Mendesah lelah. Itulah hal yang di lakukan layya.
'tidak bisakah pria ini membiarkannya? Bahkan untuk tidur. Dasar...'. Tunggu...
'kenapa dia membawa bawa Rendra kemari? Apa yang mereka bicarakan dan apa yang dia bicarakan? ...hahhhh...Aku benar benar tidak mengerti, apa yang dia pikirkan'.
"tadi mamimu menyuruh ku istirahat. Apa kamu tidak membiarkanku untuk melakukan itu?!".
"jika membahas pria cupu itu. Kamu sadar layya? Kamu selalu mengalihkan. Dan aku tidak sejahat itu. Kamu yang memancingku layya! Tidur lah, sampai tubuhmu kembung". Kesal rayyan. Sedang setelahnya, rayyan membuka halaman kertas di depan nya dengan keras.
'selalu pria cupu itu. Selalu pria cupu itu. Ckck...Sial...Jika dosa tidak ada. Sungguh aku sudah membenamkan pria cupu itu ke tengah laut biru. Dan...Menjadikannya santapan ikan di sana...Ckck... Sialan kau layya'.
Hahhhh...
Lagi lagi layya mendesah.
'sudahlah'.
"berhenti mendesah layya? Dan tidurlah...Itu sangat mengganggu!". Bete rayyan kesal. Menaikkan sedikit nada suaranya. Sedang kedua manik matanya menatap punggung layya.
'apa yang aku pikirkan dulu? Sehingga aku mau menikah dengan pria ini? ...Aku rasa, aku harus mencoba untuk mengingat kembali hal itu. Tentu saja, selain dari ketampanan nya'.
Dasar...
__ADS_1
'jika di ingat ingat. Dari dulu sampai sekarang...Dia selalu bikin kesal. Aku rasa itu kelebihannya. Membuat orang kesal. Rayyan *****'.