
Jam yang terdapat di dinding kamar tersebut menunjukkan pukul. 02:40.
Rayyan yang masih berkutik dengan lembaran putih di depannya. Sedang layya terlelap nyenyak di ranjang single rumah sakit.
Menyadarkan punggungnya ke sandaran kursi di belakangnya. Sembari rayyan melenguh, merenggangkan otot tubuh nya.
"aghhh...". Lenguh rayyan dengan suara sedikit keras. Lalu matanya beralih melihat ke jam tepat di depan matanya. Hanya saja sedikit mendongak.
Tidak sengaja. Kedua manik mata rayyan beralih melihat ke ranjang. Yang di mana di situ ada layya.
Melihat ke jam tangannya. Kembali rayyan melihat layya.
Rayyan beranjak dari sana. Mendekat ke ranjang ke layya.
Sampai di sana. Tepat di hadapan layya yang terlelap nyenyak. Sembari memperhatikan wajah layya yang tertidur. Rayyan meraih kain penutup kepala layya, yang entah bagaimana. Sudah menutupi sebagian dari wajah layya.
Srek...Sruk...
Rayyan memerhatikan wajah tertidur layya. Yang kini sudah tanpa hijapnya.
Awalnya tadi rayyan hanya berniat mau menepiskan. Kain penutup kepala dari wajah layya. Lalu karna merasa itu sangat menganggu pemandangan nya dalam menatap wajah layya. Al hasil. Rayyan membukannya, melepaskan nya. Yang entah kenapa. Rayyan juga sangat terkejut. Sangat mudah membukannya. Tidak ada yang namanya. Seperti benda kecil, yang bisa melukai leher jenjang dan putihnya layya.
Well...
Karna itu pernah terjadi...Dulu.
Rayyan bergerak dari diamnya dan duduk di tepi ranjang. Sedang tangan kirinya mengusap lembut pipi layya. Kedua manik mata rayyan menatap tajam dan intens nya wajah terlelap layya.
Ini pertama kalinya.
Ia melihat wajah layya. Yang tertidur pulas.
Dulu...Jika bukan karna ia yang selalu padat dengan jadwal nya sebagai modeling. Selalu pergi sebelum layya tertidur atau...Tertidur duluan setelah aksi panas mereka di ranjang.
Dan kemudian ketika pagi menjelang maka...Layya pertama yang selalu pertama bangun.
Saat itu. Ia sangat ingat.
Saat itu. Ia menjadi wajah dari pakaian dan celana jeans Calvin klein. Dan beberapa merek lain yang terkenal.
Ah...
Saat itu juga ia pernah menjadi model pakaian dalam.
Ia sangat ingat. Peran yang sama sekali dulu tidak pernah ia terima. Yaitu menjadi model celana dalam. Karna entah mengapa. Menampilkan bentuk tubuh yang bisa di sebut telanjang begitu. Di tatapi oleh mata semua manusia dan belum lagi oleh para kru di tempat pemotretan. Ia tidak suka. Dan saat itu? Pertama kali dalam sejarah hidupnya. Menerima tawaran tersebut. Dan itu?.
Karna wanita ini. Layya Zunaira. Yang kedua matanya sangat berbinar binar mengesalkan ketika melihat+menyaksikan pria cupu itu. Pemotretan tanpa busana dan ya. Hanya celana dalam.
Saat itu...
Layya masih berperan sebagai asisten ke 2 pria cupu itu. Ya. Dalam menyiapkan pakaian dan mengingatkan jadwal si pria cupu.
Melarangnya? Oh. Perjanjiannya sebelum menikah. Ia membebaskan layya untuk bekerja dan dimana pun itu. Tanpa ia tahu. Sangat menjengkelkan begitu.
Suami mana coba yang tidak kesal+geram. Istrinya menatap menarik pria lain. Dan pria itu bukan pria sembarangan. Akan tetapi.... Cinta pertamanya.
Ya. Karna itu...Ia mengambil tawaran mengesalkan itu. Hingga esoknya. Papi menghubunginya dan menceramahinya panjang lebar. Serta mami yang terus mengomel. Hingga mengancam akan menjatuhkan karirnya jika ia berani sekali lagi mengambil tawaran seperti itu.
Tapi well...
Berkat tawaran itu. Hubungan rumah tangganya dan layya. Menjadi semakin harmonis+manis. Tanpa adanya bayang bayang pria cupu itu. Sekaligus...Ranjang mereka yang selalu hangat dan panas. Sebelum...Badai datang. Dan...Jadilah seperti sekarang.
Helaan nafas kasar yang keluar dari mulut rayyan. Sedikit membuat layya bergerak terbangun.
Namun, dengan cepat rayyan menidurkan layya kembali. Dengan mengusap rambut layya.
Menurunkan bokongnya dari tepi ranjang. Rayyan menurunkan tubuhnya. Menumpu lutut di lantai sedang kedua tangannya ia lipat di sisi ranjang.
Memiringkan kepala, merebahkan di atas lengan tangan, menatap layya intens.
"apa yang harus aku lakukan padamu layya?!". Suara Rayyan yang cukup lirih, berbicara dengan dirinya sendiri.
"aku mau melepasmu, tapi aku... Juga tidak mau melepasmu!".
Sebentar rayyan menarik nafas dalam. Sebelum kembali melanjutkan ucapannya.
__ADS_1
"bisakah aku...Bersikap egois lagi layya?!". Rayyan melihat ke bulu mata layya, yang lentik dan panjang. Ia pun tersenyum tipis.
"haruskah aku...Menjeratmu lagi?!". Suara rayyan yang cukup amat pelan. Namun mampu memenuhi kamar VIP tersebut.
Membalik tubuhnya. Rayyan duduk di lantai dengan membelakangi layya. Sedang satu tangannya ia tempatkan di lutut kanan nya yang berdiri.
"sempat terpikir olehku layya? Untuk...Menghamilimu lagi. Mungkin itu satu satunya cara. Untukmu...Tidak pergi dariku dan meminta menandatangani surat perceraian itu. Itu artinya, aku menyakiti mu lagi bukan? ...Tapi aku tidak mau melepasmu layya?...". Rayyan menoleh menatap wajah layya kembali.
"mengingatmu di dekati pria lain saja. Aku tidak bisa terima. Apalagi...Jika kamu menjadi istri pria lain yang bukan aku. Sungguh aku tidak akan bisa membayangkan itu layya? Atau sekadar untuk memikirkannya saja. Aku tidak sanggup. Yang jelas aku tidak terima layya? ...Haruskah aku...Menjeratmu kembali layya? ".
Menatap wajah layya lama. Satu kata terlintas di benak rayyan. Cinta.
Satu kata yang terus menerus di koar koarkan oleh 2 temannya.
'aku tahu, semua wanita... Tentu menginginkan pernikahan dengan pria yang mencintainya, tapi aku? ...".
Suara mirza dan alex seketika saja terlintas di pikiran rayyan.
"kamu yakin ray? kalau kamu tidak mencintai istrimu? Karna entah mengapa... Ucapan dan tindakanmu sangat berbeda, kamu tahu?...Kamu gila!". Ucapan Mirza saat bebetapa waktu lalu ia ke apartemen mirza.
"bahkan tubuhmu bisa mengenalinya ray? Kamu harus memperbaiki hatimu yang buta itu". Timpal Alex menyetujui ucapan Mirza.
Rayyan hanya bisa menggeram tanpa mau menghentikan ucapan pedas 2 temannya. Bahkan ogah untuk menoleh. Ia capek sekaligus sangat lelah.
Beda dengan 2 manusia ini yang bisa santai santai.
Posisi rayyan sekarang. Terbaring di sofa panjang, dengan kakinya terjulur. Sedang satu tangan di dahinya. Satu lagi ia tempatkan di atas perutnya. Sedang kedua matanya menatap ke atap.
"di tanya kamu mencintai nya? Kamu selalu membantah keras ray? Bahkan tanpa perlu berpikir dalam menjawab nya". Lagi lagi mirza berkata tajam.
"diamlah lex! ". Ancam rayyan dengan suara dingin.
"aku sangat yakin dia mencintai istrinya itu! Siapa namanya lex?!". Tanya mirza, yang memang benar benar lupa.
"diam le...".
"layya? Layya Zunaira".
Ckck...
Rayyan mendecak ke alex.
"ah.. Nama yang cantik! ...Apa orangnya cantik?!". Mirza melihat alex dan bertanya padanya. Mengacuhkan tatapan tajam dan dingin rayyan.
Keduanya duduk di bawah sembari makan snack yang di beli alex. Sedang rayyan berada di sofa.
"alex?!". panggil rayyan memperingatkan untuk diam.
"Jika mampu membuat seorang Rayyan Andryatama menggila, menurutmu? Bahkan berani menikahinya".
"ah...". Mulut Mirza terbuka lebar.
" aku jadi sangat ingin melihatnya dan bertemu dengan...".
Pletak...
"awwww...Shhhh...Sakit ray...?". Mirza mengelus kepalanya yang sakit.
Rayyan yang geram serta telinga nya sudah panas mendengar. Seketika saja bangkit duduk ketika satu benda ia lihat dan bisa ia gunakan untuk membuat keduanya diam.
Satu buku. Yang cukup amat tebal. Dan buku tersebut adalah buku bacaan mirza. Buku Kedokteran nya.
Rayyan kembali rebahan dan memejamkan matanya menghiraukan ringisan sekaligus umpatan mirza ke dirinya.
"dasar pria impoten! Aku harap kamu impoten selamanya dan layya itu tidak akan mau...". Mirza menghentikan ucapannya. Saat rayyan memberinya tatapan tajam penuh peringatan ancaman.
"sialan! Apa itu di sebut kamu tidak mencintainya? Bahkan orang buta juga bisa melihatnya". Raung mirza kesal dan tidak terima. Ingin sekali ia membalas tapi apalah daya nya. Ia hanya lah seseorang yang bekerja di bawah pria ini.
Ckck...
Acuh. Rayyan kembali meluruskan wajahnya seperti tadi dan memejamkan matanya. Tapi tidak dengan peperangan batinnya di dalam sana.
"tidak! Aku mencintai reina, akan selalu begitu. Dia hanya istri sebentar saja. Ckck...Tapi kamu selalu menggila jika ada pria yang mendekati layya!". Ejek alex ke rayyan.
Rayyan mendesah lelah.
__ADS_1
'ada apa dengan dua pria ini? Apa mereka sudah bekerja sama untuk membuatku kesal hari ini?!'.
"bahkan kamu menjadi pria workaholix setelah di tinggal layya. Kamu tidak sadar itu? Benar benar deh". Kesal alex lagi.
'pria workaholix? Ayolah...Aku memang lagi sedang giat bekerja. Tidak ada hubungannya dengan layya'.
"seharusnya jika kamu tidak mencintai istrimu . Kamu tidak perlu kesal dan marah jika siapapun yang sedang dekat dengan layya terutama rendra it...".
"sialan! Kamu bisa diam tidak hahhh?!". Bentak rayyan seketika yang sontak membuat Mirza dan alex terkesiap terkejut.
Rayyan berdiri dari rebahan. Hingga dari Mirza dan alex duduk. Menatap rayyan yang berdiri di hadapan mereka. Sangat tinggi menjulang.
Mendapat tatapan tajam dan dingin dari manik rayyan. Mirza dan alex bukannya diam tapi malah semakin melanjutkannya. Untuk membuat rayyan semakin panas.
"bahkan kamu melecehkan anak orang ray?!".
Rayyan menggertakkan gigi nya sekaligus menggeram.
"aku tidak melakukan itu!".
"tentu saja! Karna sudah mendapatkan persetujuan. Tapi di berita tidak mengatakan itu, benar?!".
Ckck...
Rayyan mendecak kesal+marah ke sahabatnya tersebut.
"itu sudah berlalu!". Geram rayyan di sela sela giginya yang tertutup rapat.
Ya. Itu terjadi. Setelah 2 tahun kepergian layya. Miliknya...
"tentu saja berlalu tapi kehadiran istrimu. Membuatnya kembali berfungsi. Kamu masih belum sadar?!". Mirza bangkit berdiri menyamai tinggi mereka.
Rayyan menggertakkan giginya sembari memejamkan matanya.
"ini tidak ada hubungannya dengan layya!". Geram rayyan.
Gerah. Mirza menggeleng frustasi.
Di ikuti alex yang ikut berdiri.
"bahkan junior mu itu mengenali pemiliknya ray? Bagaimana kamu tidak?! Memang apa yang kamu takutkan untuk mengakuinya sih?!". Kesal Alex menarap rayyan menantang. Sebelum tadi sempat menunjuk ke benda berharga milik rayyan.
Ckck...
"Shit...Tidak bisakah kalian diam? Dan jangan ikut campur dalam hubunganku dengan layya". Geram rayyan kembali menatap alex tajam lalu beralih ke mirza.
Ya. Itu terjadi, setelah ia menghabiskan malam yang panas dengan layya. Di kapal pesiar malam itu.
Kembali ke sekarang. Dimana rayyan masih di kamar rumah sakit dan duduk di lantai. Sedang dirinya masih termenung.
Juniornya...Kembali berfungsi.
Layya pernah bertanya padanya. Atau dia sedang mengumpatnya waktu itu. Ia tidak tahu. Kalimat itu.
'memang apa yang kamu lakukan selama 4 tahun ini?... Seharusnya kamu sudah menikahi reina dan memiliki anak'.
Dan jawabannya adalah...
Ingatan rayyan kembali ke tadi...
Rayyan yang memilih beranjak dari sana. Tidak mau meladeni dua manusia yang bisa saja membuat darahnya naik seketika. Melangkah dari sana. Rayyan melewati kedua sahabatnya.
Mirza mengangguk menyetujui ucapan alex sebelumnya.
"tubuhnya sangat mengenali siapa wanita yang dia butuhkan tapi si pemilik tubuh. Siapa tahu sebodoh itu. Bahkan tidak mengetahui apa itu cinta yang sebenarnya".
Rayyan menghentikan langkahnya dan menoleh menatap mirza tajam. Dari sudut matanya tanpa berbalik.
"aku peringat kan kalian untuk diam!". Rayyan menarik nafas dan segera melangkah pergi dari sana.
Meninggalkan Mirza dan Alex yang hanya bisa menggeleng gelengkan kepalanya.
Kembali ke sekarang.
"cinta? ...". Rayyan menoleh menatap wajah layya.
__ADS_1
Lama terdiam. Rayyan kembali berujar.
"tenang dan nyaman! ...Ya...Itu yang aku rasakan...Saat bersama mu...Layya".