Kata-kata Cinta

Kata-kata Cinta
Bab 53


__ADS_3

Sampai di dermaga. speedboad yang di tumpangi layya dan rayyan, sudah terparkir rapi di samping deretan speedboad lainnya.


Rayyan yang membantu layya naik tanpa peduli wajah kesal layya padanya dan setelahnya ia sendiri naik, yang kemudian koper kecilnya langsung di bawa oleh anak buahnya ke mobilnya, yang sudah terparkir di sisi kanan sedangkan sebuah mobil hitam lain. dari arah berlawanan sudah terparkir indah lengkap dengan satu orang pria, menggunakan jas hitam. terlihat seorang supir mobil tersebut dan sedang menunggu tamu yang harus di jemputnya.


Rayyan sempat melihat sekilas sebelum melangkah cepat ke mobilnya sendiri. mobil hitam yang bermerek mercedes tersebut dengan satu pria bersetelan jas hitam. terparkir berlawanan arah dari mobilnya. melihat pria bersetelan itu menghampiri layya dan pria muda tadi membawa koper layya masuk ke dalam mobil hitam di sisi kirinya, rayyan tidak perlu bertanya siapa mereka. dalam dunia bisnis dan kerja. hal seperti itu tentu biasa terjadi. di jemput dan di layani dengan baik tentu akan terjadi, jika itu klien penting mereka. dan di sini. ia menebak layya klien penting dari atasan mereka. lihat saja dari kamar VIP yang di dapat layya di kapal lalu pelayanan tour oleh pria muda itu dan sekarang di jemput.


Rayyan menyeringai samping sembari melanjutkan langkahnya namun beberapa langkah rayyan berhenti. membuka kaca mata hitamnya. menaruhnya ke kantong bajunya dan raut wajah rayyan terlihat berbeda dari yang tadi. di mana tadi raut wajah rayyan terlihat bahagia sangat bersahabat tapi sekarang terlihat gelap, dingin. tidak akan ada siapapun yang berani mendekat jika menatapnya.


Gertakkan di gigi rayyan serta kedua manik matanya yang terlihat gelap, dingin dan tajam sekaligus cekraman buku tangannya yang terkepal kuat seakan siap untuk memukul seseorang.


Supirnya yang berdiri di samping mobil dengan pintu mobil yang sudah dia buka lebar merinding ketakutan merasakan aura dari atasannya.


'ia berharap dan sangat berharap...itu bukan karnanya'. si supir sibuk memikirkan kesalahan apa yang sudah dia perbuat. apa mobil belum terlihat bersih? tapi ia sudah mencucinya sebelum ke sini. yang ia tahu dari asisten atasannya kalau atasannya ini penggila kebersihan dan juga kerapian dari setiap hal apapun. apa terlambat menjemput? tapi ia sudah di sini sejak pagi tadi bahkan ia tidak sarapan pagi. ketika si supir yang umurnya sekitar 30 an sibuk dengan pikirannya. suara rayyan menyentak sekaligus membuatnya terkejut.


"kita langsung ke bandara". ujar rayyan begitu sampai di mobil.


"eh...?..tapi kata pak...".


Rayyan menatap tajam supir tersebut. ia paling tidak suka di bantah apalagi harus mengulang ucapannya.


"berapa tahun kamu sudah bekerja?". tanyanya dingin.


'******...bukankah itu bukan urusannya? pekerjaannya mengantar atasannya ini kemana pun dia bilang dan bertemu klien seperti yang di katakan pak aldrik, itu urusan pak aldrik'.


"maafkan saya pak, segera saya antar ke sana, silakan pak". sopan pria tersebut.

__ADS_1


Rayyan sama sekali tidak mendengar ucapan pria yang berumur lebih muda darinya ini supir pribadinya jika dia sesekali ke negara tersebut untuk mengecek bisnisnya. mata rayyan fokus menatap layar persegi panjang di tangannya sedangkan jemarinya meng otak atik menu di sana hingga memanggil ke panggilan nama seseorang lalu meletakkan benda pipih tersebut ke telinga kirinya sembari tubuhnya menyampingkan supirnya. matanya menatap ke depan lurus dengan tatapan tajam seperti ada seseorang di depannya dengan jarak jauh yang dia sedang rayyan tatap. picingan manik mata rayyan layaknya sinar laser yang bisa menembus tubuh seseorang jika terkena.


Di belakang rayyan dengan jarak sekitar 6 meter lebih terlihat layya, yang dari tadi berdiri di sana setelah rayyan membantunya naik ke dermaga dari speedboad lalu tanpa berkata apapun rayyan melepaskan tangan layya, melangkah berlalu meninggalkan layya yang menggeram kesal. bukan karna di cuekin rayyan. tapi...akibat dari ucapan pria itu pada wanita bule paruh baya tersebut dirinya jadi tatapan orang orang di speedboad dan bahkan harus menerima ucapan ucapan yang sama sekali tidak mau ia dengar.


Layya menghela nafas tajam. entah yang keberapa kali sudah dirinya menghela nafas. dari tadi di speedboad ia meminta rayyan untuk berbicara sebentar dengannya untuk memperjelas status mereka dan supaya rayyan tidak lagi berbicara hal yang tidak masuk akal. meski memang benar mereka memiliki anak ia akui itu tapi bukan juga ia jadi istrinya.


'ughhhh...di pikir berapa kali pun, aku akan selalu kesal'.


Dan jawaban rayyan saat ia meminta itu adalah.


"nanti saja ketika sampai di darat".


Dan ketika mereka sudah di dermaga. pria itu malah meninggalkannya begitu saja seperti sengaja pura pura lupa atau...sengaja melupakan ucapannya.


Menyentak kakinya layya melangkah ke mobil yang sudah siap sedia menjemputnya. mobil dari klien yang akan segera bekerja sama dengannya.


'tunggu...berdua?... ber-du-a...?! '. jerit batin layya begitu otaknya mengingatkannya akan sesuatu hal.


Tubuh layya sontak membalik menatap kebelakang yaitu ke rayyan, yang sedang memegang handphone di sertai jemarinya yang menari di sana sebelum sedetik kemudian benda tersebut menempel di telinga kirinya.


Menarik nafas tajam. layya melangkah cepat mendekat ke rayyan. tidak menunggu waktu baik besok, nanti atau besoknya lagi. ia tidak bisa menunggu. ini penting, lebih penting dari apapun juga, bahkan hidupnya jadi taruhan di sini.


Layya mengerang dengan pikiran pikiran yang terlintas dari kepalanya. ia berharap, sangat berharap. pikirannya ini salah.


Sopir rayyan masih berdiri di tempat yang tadi. menunggu atasannya masuk ke dalam mobil baru setelahnya dia masuk. namun sampai sekarang atasannya ini belum juga masuk dan malah menghubungi seseorang.

__ADS_1


"apa maumu hah...?!". geram rayyan di sertai gertakkan giginya ke lawan bicaranya.


Supir di samping rayyan terlonjak kaget mendengar suara sekaligus melihat raut wajah atasannya yang sangat sangat menyuruhnya untuk menjauh sebentar. pria tersebut memutuskan masuk duluan ke dalam mobil, menunggu di dalam sana untuk perintah selanjutnya.


"[ aku hanya penasaran son? santailah...]". jawab suara di seberang, yang terdengar seperti suara pria.


"seharusnya anda memegang kata kata anda, jangan main main denganku Mr. yulian? ". tekan rayyan di setiap perkatanya.


Mata tajam rayyan memicing ke depan ke sebuah bangunan di sebrang jalan. rayyan sedang melihat seseorang di sana di mana sekarang sedang bersembunyi di balik tembok dengan satu kamera di tangannya.


Menggeram, mengerang. itulah hal yang dari tadi rayyan lakukan.


Rayyan menoleh melihat ke samping saat sudut matanya menangkap kehadiran seseorang, yang mendekat padanya dengan langkah cepat.


Melebarkan matanya. kepala rayyan sontak melihat kembali ke depan ke pria yang masih bersembunyi lalu kembali melihat ke wanita yang sudah hampir sampai di dekatnya. layya.


Mematikan handphonenya yang masih terhubung secara sepihak. raut wajah rayyan terlihat menggelap menatap ke layya, yang sedikit lagi sampai di dekatnya lalu dia melihat ke seberang jalan. tanpa berkata apapun rayyan melangkah duluan menghampiri layya lalu...


"ray? kita butu...ah...ray..?...ada ap...uh...ray kau...".ringis layya saat dirinya tiba tiba di tarik paksa entah karna apa lalu di banting ke dalam mobil.


Brakhh...


"jalan! ". seru rayyan ke supirnya.


Ya. rayyan tadi meraih cepat tangan layya bahkan membuat layya tersentak terkejut, begitu dia sampai di hadapan layya. menariknya tanpa mendengar protes layya lalu menolak atau membanting layya ke dalam mobil bagian belakang di mana pintu mobil terbuka lalu setelahnya ia masuk dan duduk di samping layya di sisi kanan layya.

__ADS_1


Layya menatap keluar jendela sebentar sebelum kembali melihat rayyan di sampingnya.


__ADS_2