Kata-kata Cinta

Kata-kata Cinta
Bab 36


__ADS_3

"kalau begitu aku harus izin ke perusahaan untuk pulang awal hari ini!". ujar layya senang.


Gerard terkekeh mendengar dan melihat wajah layya yang senang di depannya.


"segitu rindunya?! ". tanya gerard jail.


Layya mengangguk antusias.


Gerard melihat ke sisi lain restauran saat seseorang melambai ke arahnya.


"oh layya? sudah dulu ya? nanti kita bicara lagi, sepertinya klienku sudah sampai".


Layya mengangguk mengerti.


"euhmm...sampai bertemu kembali nanti, aku juga akan pergi".


Gerard sebentar melihat ke arah rayyan lalu ke reina. dua orang yang baginya asing.


'siapa mereka? teman layya? jika iya, aku sudah tahu siapa siapa temannya layya, Ahh...kliennya..? bisa saja, Ahh biar aku tanyakan nanti'. gerard bertanya tanya dalam hati.


"ayo? barengan, aku sampai situ saja! ". ujar layya mengejutkan gerard.


"kamu sudah makan siang? ". gerard bertanya karna melihat meja yang sempat layya duduki tadi masih kosong.


"aku rasa aku akan makan di perusahaan? aku sudah terlalu lama meninggalkan perusahaan".


Gerard mengangguk mengerti sembari melangkah beriringan dengan layya dan dengan obrolan obrolan mereka. di mana gerard yang menanyakan yusuf dan maryam dengan antusias.


Suara getaran hp di kantong jas rayyan menyentak kesadaran rayyan begitu juga dengan reina, yang tadinya terus memikirkan siapa pria yang bersama layya tadi. kekasihnya? teman barunya saat berada di new york. mereka terlihat sangat akrab dan juga...sepertinya sangat mengenali kedua anak layya. di tambah pria yang bernama rendra. sepertinya tidak asing...apa mungkin...rendra itu...kakak senior mereka di kampus dulu? dan jika iya...


Reina membulatkan matanya lalu sedetik kemudian reina tersenyum tidak percaya.


'mereka tidak mungkin CLBK bukan? '.


Reina tersentak terkejut saat rayyan di sampingnya yang tiba tiba bangkit berdiri.


"ray...?". panggil reina.


Rayyan menoleh menatap reina. wanita yang sangat ia cintai tersebut.


"sebentar ya rei? aku harus menerima panggilan dulu".


Reina melihat ke handphone rayyan yang terus bergetar.

__ADS_1


"baiklah! aku mengerti, kekasihku ini pria super sibuk di dunia". sinis canda reina.


Rayyan terkekeh geli lalu segera melenggang dari sana setelah mengacak acak rambut reina yang sontak membuat reina kesal.


Rayyan melangkah keluar dari restaurant namun bukannya menjawab panggilannya seperti yang dia katakan pada reina melainkan mempercepat langkahnya seperti mengejar seseorang.


Phak...


"Ah...". rintih layya saat seseorang dari sampingnya menutup kembali pintu mobilnya setelah ia membukannya dan bersiap mau masuk.


Layya menoleh melihat ke sampingnya, untuk melihat siapa dalangnya dan ternyata...


"apa yang kau lakukan?! ". tanya layya marah.


"Arghh...". rintih layya lagi saat rayyan menarik tangannya menjauh dari mobilnya.


Rayyan bukannya menjawab tapi malah menatap layya marah sebelum menarik tangan layya untuk menjauh dari sana.


"rayyan? apa yang kamu lakukan? lepaskan". ronta layya mencoba melepaskan cekalan tangan rayyan pada pergelangan tangannya.


"Ahh...". lagi lagi layya merintih sakit ketika rayyan melepaskan tangannya dengan menyentak kasar dan terlihat penuh emosi.


"rayyan? apa apaan sih kamu". teriak layya emosi yang sama sekali tidak mengerti dengan sikap rayyan.


"sampai sekarang...". rayyan menjeda kalimatnya menatap layya emosi dan tajam.


"sampai sekarang apa?! ".layya mengulang kalimat rayyan dengan jengkel.


"sampai sekarang kamu masih berhubungan dengan pria cupu itu...?!". tanya rayyan yang tidak bisa mengendalikan emosinya meski ia sudah mencoba namun tidak bisa.


Layya menyatukan alisnya menatap rayyan. pria cupu? siapa yang dia maksud?... Ahh...


"rendra! ...namanya rendra bukan pria cup...".


"kamu pikir aku peduli?...kamu belum menjawabku". geram rayyan marah.


Layya semakin menyatukan alisnya tidak mengerti dengan sikap rayyan lebih lebih yang sekarang.


"ada apa denganmu? kamu aneh tahu enggak? dan juga...kamu meninggalkan reina di sana, mengejarku ke sini? wahhh...luar biasa kau ray?! ". ujar layya sinis.


"Ahh...".


Phakkk...

__ADS_1


Karna terlalu emosi rayyan mencekal tangan layya dengan kasar lalu mendorong tubuh layya hingga punggung layya menbentur belakang mobil entah milik siapa.


"ray kau...". marah layya mendongak menatap rayyan.


"jawab apa yang aku tanyakan layya? jangan mencoba untuk berdalih". ujar rayyan di sela sela giginya yang terkatup rapat.


"aku kira kamu sudah gila! aku tidak mengerti apa maksudmu tapi iya! dari dulu sampai sekarang kami masih berhubungan lalu apa? apa ada hal yang harus membuat hubungan kami tidak baik? aku benar benar tidak mengerti denganmu". jawab layya marah dengan sedikit menaikkan nada suaranya.


Jawaban layya seketika membuat kedua manik mata rayyan membulat.


'5 tahun sudah...dan mereka...masih saling bertemu? tidak tunggu...'. rayyan terdiam dengan pikirannya yang entah kemana mana.


"belum bercerai denganku kalian...tetap berhubungan?! ". rayyan menatap layya tidak percaya. lebih lebih dengan pikirannya.


Layya yang sudah tersulut emosi menyentak kasar tangan rayyan dari tangannya.


"aku sama sekali tidak mengerti denganmu yang sekarang ray? tapi... apa maksudmu dengan belum bercerai denganmu aku berhubungan dengan kak rendra? terdengar seperti aku yang selingkuh darimu ray? ini sangat lucu dan juga...apa kita harus membahas hal tidak penting ini lagi? di tambah...masih atau tidaknya aku berhubungan dengan kak rendra sampai sekarang itu bukan urusanmu, memang siapa kamu? ". pertanyaan layya yang menohok membuat rayyan tersentak tersadar dari dunianya.


Rayyan mengedipkan matanya dan tatapannya kini terlihat lemah menatap layya.


"kamu benar!...". ujar rayyan lemah menjeda kalimatnya setelah keduanya tadi terdiam beberapa saat dan saling menatap dengan pikiran masing masing yang beda. rayyan melangkah mundur selangkah dengan tubuhnya yang terlihat sedikit limbung.


"memang siapa aku". sambungnya lemah. jika dulu aku suamimu yang tidak mencintaimu dan sekarang aku bahkan bukan siapa siapa. hanya terikat melalui yusuf dan maryam.


Layya bernafas naik turun dengan kedua manik matanya menatap rayyan.


"aku sempat berpikir layya?...". ujar rayyan lemah dengan kepalanya menunduk menatap ke bawah.


"apa aku yang salah karna hadir di antara kalian atau...dia yang salah karna hadir di antara kita! ". sambung rayyan menatap layya setelah menjeda kalimatnya.


Deg...


Detakan jantung layya yang tersentak dan matanya melebar dengan ucapan rayyan.


'apa yang dia katakan? tunggu...apa maksud dari ucapannya...?!'.


Rayyan terkekeh sendiri seperti orang gila dan layya mengernyit bingung melihat hal tersebut.


Sebentar rayyan mendongak kepalanya menatap ke atas yang memperlihatkan langit biru di siang hari lalu kembali melihat layya dengan kali ini tersenyum tipis namun terlihat sedih.


"kamu benar layya? aku bukan siapa siapa, kamu dengan hidupmu dan aku...dengan hidupku sekarang! kamu dengannya dan aku...dengan reina! tidak seharusnya kita saling mengganggu, maaf...membuatmu kesulitan". ujar rayyan lalu melenggang pergi dari sana meninggalkan layya yang masih kebingungan. mencerna kata demi kata yang rayyan ucapkan.


Membalik badan layya melihat ke punggung rayyan yang sudah menjauh.

__ADS_1


"apa dia salah makan obat? ". layya berbicara sendiri lalu kembali terdiam beberapa saat sebelum ia menggeleng menepis semua pikiran pikiran yang lewat di kepalanya yang tentu akan membuat hari harinya tidak baik.


"dia pria aneh sekaligus menyebalkan". ucap layya sebelum melenggang pergi dari sana menuju ke mobilnya.


__ADS_2