
Rayyan menyatukan keningnya dengan kening layya. Setelah tadi habis memberikan nafas buatan buat layya. lalu ia meraih tubuh layya dan memeluknya erat.
Nafas rayyan terlihat ngos ngosan sedang batin dirinya di dalam sana, berteriak memanggil layya. Namun layya tidak kunjung juga sadar.
'layya ku mohon jangan begini!'. Batin rayyan lemah sekaligus lelah.
Detak jantungnya yang kacau sudah di dalam sana tidak ia pedulikan. Ketakutan lah yang sangat menguasai dirinya sekarang.
'bangunlah!Aku mohon...ini terlalu sulit untukku layya. Kamu harus menjelaskan ini untukku layya. Kenapa aku begini. Kenapa aku ketakutan begini. Kenapa aku gemetaran begini. Kenapa detak jantungku tidak seperti biasanya layya'.
'bangun layya. Jawab aku'. Rayyan semakin merapatkan keningnya dengan layya.
'Yang aku ketahui layya aku tidak mencintai mu layya. Aku mencintai Reina. Aku tidak membencimu, mungkin dulu ya. Sebelum aku tahu yang sebenarnya. Tapi sekarang sungguh tidak layya. Perasaan yang sama seperti dulu sama kamu. Masih sama sampai sekarang. Nyaman dan selalu menyenangkan jika berada di dekatmu. Bisakah aku katakan layya. Kamu...Membawa warna tersendiri dalam hidupku yang tenang dan dingin. Baik dulu maupun sekarang. Kamu...Seperti memaksaku untuk keluar dari zona amanku. Zona tenangku. Hidup yang kakuku serta santai. Denganmu aku akui layya. Aku tahu arti daripada kata canda dan tawa. Tingkahmu yang lucu, ingin selalu membuatku tertarik untuk menggoda mu, menjailimu, serta bercanda dalam membuatmu menangis. Karna setelahnya wajahmu yang ngambek, kesal dan marah padaku. Itu menyenangkan layya. Tahukah kamu itu. Tentu kamu tahu. Aku suka menjailimu dan mengerjaimu. Bahkan masih ingatkah kamu. Kamu menamaiku dengan Zebra ,dan kamu sering memanggil ku dengan nama itu, untuk membuatku kesal, membalasku. Karna waktu dan jadwalku yang saat itu sangat padat. Kita jarang bersama. Jika pun bersama itu hanya sekitar 2 atau 3 jam. Sempat membuatku sangat merasa bersalah padamu. Kamu istriku namun sering aku tinggalin. Bahkan ketika kamu sakit, aku tidak bisa menemanimu. Karna aku harus pemotretan dan berangkat ke luar kota. Sungguh layya. Itu hal yang sangat membuat langkahku berat untuk pergi. Seumur umur hidup ku, baru kali itu aku merasakan perasaan resah. Kamu menyuruhku pergi. Itu semakin membuatku kesal. Kenapa kamu tidak melarangku. Kenapa kamu tidak menahanku. Kenapa kamu tidak menghentikan langkahku. Kenapa kamu tidak berteriak dan mengatakan kalau kamu butuh aku dan menyuruhku untuk menunda jadwalku. Sunggu layya, akan aku lakukan itu. Tapi yang kamu lakukan malah sebaliknya. Aku kecewa saat itu layya. Kamu mendorongku pergi. Kamu menyuruhku pergi. Dan jangan berpikir perasaan ku enak saat itu layya. Selama dalam perjalanan bahkan saat melakukan pemotretan. Aku teringat padamu. Wajahmu yang pucat. Suaramu yang lemah dan panasnya tubuhmu masih bisa ku rasakan. Bahkan saat itu aku mendapat teguran beberapa kali dari fotografer karna tidak fokus'.
Rayyan menjauhkan wajahnya menatap wajah layya yang tenang, seakan sangat nyaman dalam pejaman matanya.
"apa...? Sekarang kamu sedang membalasku layya? Tapi ini terlalu menakutkan layya? Balas aku dengan cara lain layya. Bangun lah dan pukuli aku semaumu. Aku janji tidak akan melawan. Aku janji tidak akan membalas. Aku janji tidak menghindar. Aku janji...hiks...". Isak tangis rayyan yang tidak bisa lagi menahan dirinya.
Rayyan menatap kedua mata layya sedang keningnya masih menyatu dengan layya.
"kamu mau surat ceraimu? Bangunlah, akan aku berikan. Kamu mau aku tidak tidak mengganggu hidupmu lagi? Bangunlah, akan aku lakukan. Kamu mau....Layya?". Suara rayyan yang nyaris seperti berbisik memanggil nama layya.
Rayyan menjauhkan wajahnya dari layya dan menatap wajah layya, yang sudah sangat dingin serta tubuh layya yang terkulai lemah. Menangkup kedua tangannya di wajah layya. Rayyan berbicara. Hingga suaranya bisa di dengar oleh beberapa orang di sana. Termasuk papi, mami dan Reina yang masih di sana.
"kamu mau aku menjauh dari hidup mu juga kedua anak kita kan? Baiklah. Akan aku lakukan itu...Tapi syaratnya kamu harus bangun dulu. Ayo bangun dan mari bicara. Kita perlu bicara banyak hal layya. Ayo bangun dan bicara. Beri aku surat entah apapun itu untuk aku tanda tangani. Bukankah Yusuf dan Maryam harus sekolah? Itu artinya biayanya harus aku yang tanggung bukan? Juga...juga...kebutuhan mereka sehari hari, bulan bulan, tahun tahun, sampai mereka dewasa sampai mere...". Suara rayyan seketika melemah saat mengingat akan ucapannya selanjutnya.
__ADS_1
"...Sampai mereka menemukan pasangan mereka...Bukankah sampai saat itu mereka butuh aku? Terutama Maryam bukan? Ya itu benar layya? Mereka masih membutuhkanku jadi ayo bangun layya dan mari kita bikin surat perjanjian itu. Aku janji aku tidak akan mengganggu hidupmu juga tidak akan muncul di depan anak kita tapi...Tapi izinkan aku...Melihat mereka dari jauh ya?!". Racau rayyan entah apa sendiri dan hanya ketiga orang di sana yang setia mendengar.
Papi rayyan yang menggepal kedua buku tangannya sembari menatap rayyan geram akan marah. Sedangkan imelda menutup mulutnya di sebabkan shock dengan apa yang dia dengar. Reina yang gelisah. Tidak tahu harus melakukan apa.
Tadinya ia mau maju ingin menenangkan rayyan dan mau mencoba menyadarkan layya tapi...Ucapan dingin dari pak Andryatama, yang menyuruhnya berhenti. Membuat dirinya seperti sekarang. Berdiri mematung, diam, dengan perasaan gelisah. Ia sangat yakin. Setelah ini. Rayyan akan tidak baik baik saja.
Pak Andryatama terkenal sangat kejam dan bengis. Dalam mendidik rayyan. Bolos sekolah saja rayyan bisa di pukuli sampai kakinya bengkak apalagi setelah nanti tahu apa yang sebenarnya terjadi antara layya dan rayyan. Dan bagaimana rayyan yang telah menyakiti layya. Tidak akan sulit bagi pak Andryatama jika ingin mencari tahu. Ia yakin hanya butuh 2-3 hari. Semua nya akan dia ketahui.
Ia tidak mengkhawatirkan dirinya tapi rayyan. Dia bisa babak belur di hajar pak Andryatama. Mungkin beberapa tulangnya bisa patah jika tidak ada yang bisa menghentikannya. Jangan berharap dan berpikir. Tante imelda bisa menghentikan kemarahan pak Andryatama. Tidak! Tidak sama sekali. Bahkan salah salah. Tante Imelda sendiri bisa kena marah sama pak Andryatama jika menghalangi nya.
Ia sangat yakin pak Andryatama menghentikan nya. Karna sangat ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi pada putranya sekaligus. Hubungan sebenarnya apa yang mereka miliki. Melihat dari wajah rayyan panik, cemas sekaligus ada ketakutan di sana. Ia rasa semua yang melihat juga akan merasa sangat aneh.
"aku bilang bangun layya! Apa kamu tidak mendengar?!". Teriak rayyan frustasi di depan wajah layya sembari mengguncang kuat tubuh layya.
Nafas rayyan terlihat naik turun.
Rayyan setia menatap layya. Menanti layya bangun. Melihat pergerakan bulu mata lentik layya yang bergerak. Namun. Rayyan mendesah berat sambil menjatuhkan pundaknya lemah.
Menggepal kedua buku tangannya rayyan menatap ke 2 maid, yang berdiri dengan gugup. Ya. Mereka yang di tugaskan untuk menjaga kedua anaknya.
"kalian...". Desis rayyan menatap keduanya tajam.
"Kalian tidak bisa berenang?!". Tanya rayyan menahan emosinya. Sedang manik matanya memerah akan marah.
Jika keduanya bisa berenang. Layya tidak mungkin seperti sekarang. Jika mereka bisa berenang. Layya dan kedua anaknya tidak akan mungkin lama ada di dalam air. Dan layya tidak akan lama menahan tubuh kedua anak mereka. Dan layya sekarang sudah bangun.
__ADS_1
Keduanya menggeleng gugup.
Rayyan menggertakkan giginya.
"hal dasar itu kalian tidak bisa? Dan mendaftarkan diri untuk menjadi babysitter?! Haruskah aku tenggelamkan kalian juga di sini?!".
"maaf tuan. Kami benar benar minta maaf!". Keduanya terjatuh ke lantai meminta maaf.
"maaf?!". Desis rayyan dengan getaran kemarahan.
"apa itu bisa membuat istriku baik baik saja?!". Teriak rayyan murka.
"bungkus pakaian kalian dan enyah dari sini?!". Teriaknya lagi.
"dan kalian! ". Rayyan berteriak ke maid lain yang hanya berdiri mematung.
"apa kalian tunggu huh? Cepat ambil handuk dan panggil ambulance kemari?! ". Teriaknya sehingga membuat maid di sana saling bertatapan satu sama lain.
Soalnya. Tuan besar bahkan mendatangkan pihak rumah sakit kemari dan beberapa alat rumah sakit untuk Yusuf dan Maryam di periksa dan di rawat di rumah saja. Lalu kalau handuk. Sedang di ambilkan.
Rayyan menurunkan pandangannya menatap layya kembali. Rayyan perlahan menurunkan emosinya. Menarik nafas pelan pelan hingga membuatnya kembali tenang. Membaringkan layya kembali ke lantai. Memejamkan matanya sesaat sebelum kembali terbuka.
Rayyan membuat permintaan.
Dan permintaan itu adalah.
__ADS_1
"ya Allah...kembalikanlah istriku lagi ke padaku. Dan aku janji. Aku tidak akan pernah menyakitinya lagi. Nyawaku...Sebagai taruhannya'.
Rayyan kembali menurunkan tubuhnya, mendekatkan wajahnya ke wajah layya. Kembali memberikan layya nafas buatan lalu menekan dada layya sebisanya dan sekuat tubuh layya dalam menahan Berat kekuatannya. Hatinya tidak berhenti memohon. Matanya terus menatap wajah layya. Berharap dan terus berharap.