Kata-kata Cinta

Kata-kata Cinta
Bab 77


__ADS_3

Bukannya takut melihat raut wajah rayyan sekarang atau merasa gugup karna jarak kedekatan keduanya sekarang sangat sangat dekat. Layya malah sebaliknya. Menatap menantang tatapan rayyan kepadanya.


"siapa yang gila, aku? Bukankah seharusnya kalimat itu untuk kamu Ray? lihatlah kamu, sama sekali seperti tidak terjadi apapun. Pergi begitu saja se akan akan yang kamu lakukan bukanlah suatu masalah. Aku rasa semua hal bagimu itu sepele ya Ray? Seperti angin yang berlalu, yang sama sekali tidak penting. Tapi ketahui satu hal Ray? Yang kamu lakukan ini sangat penting untuk hidupku juga untuk kedua anakku!".


Rayyan menyatu kan alisnya setelah amarahnya mereda saat mendengar ucapan layya dan saat melihat raut wajah layya, yang mengartikan'aku membencimu'.


"apa maksudmu?!".


"Aldi, rose... Reina. Lalu setelahnya siapa lagi Ray? Yang mau kamu kasih tahu? Ah... Tante Imelda dan pak Andryatama?... Seberapa jauh kamu akan membuat hidup ku seperti tercabik cabik Ray? ...". Layya menjeda ucapannya. Tatapannya menatap rayyan sedang nafasnya terlihat naik turun.


"sudah ku duga! Bertemu denganmu lagi adalah hal yang paling buruk dan paling sial dalam hidupku". Gumam layya namun bisa di dengar oleh rayyan.


"apa?!".


Layya kembali mendongak menatap rayyan saat tadi menunduk menatap aspal di bawah kakinya.


"jika satu orang lagi yang tahu tentang kita! Aku pastikan satu hal untukmu Ray? Aku tidak akan pernah membiarkanmu melihat kedua anakmu seumur hidupmu meski aku harus lewat jalur hukum, akan aku lakukan itu! ".


Rayyan mengerutkan keningnya tidak mengerti. Ia sama sekali tidak mengerti dengan maksud ucapan layya. Memang apa yang sudah ia lakukan. Reina, Aldi, rose...Ada apa dengan mereka? .


Blizt...


Rayyan sedikit menyipitkan matanya saat kilatan cahaya kamera mengambil gambar keduanya. Mungkin layya belum di kenal oleh masyarakat di sini, untuk mereka haus akan gambar layya atau beritanya, tapi tidak untuk dirinya.


Mengerang. Rayyan menoleh ke samping dan mendapati satu pria dengan kamera juga beberapa gadis muda dan juga dewasa sedang memotret mereka.


Yang masyarakat di negeri ini tahu. Ia adalah tunangan dari Reina dan ketika melihatnya dengan wanita lain serta posisi mereka yang sekarang tidak bisa di katakan normal. Kedua telapak tangannya menopang ke mobil, berada di kedua sisi tubuh layya mengurung layya dan jarak tubuh keduanya tinggal sejengkal lagi maka menepis semua jarak.


Ia pastikan besok akan ada dirinya dan layya di berita utama. Ia tidak akan masalah jika Reina tahu karna Reina memang sudah tahu. Hubungannya dengan layya. Dan bagaimana ia yang mau kembali lagi dengan layya. Kehidupan berumah tangga dan hidup bersama kedua anaknya dan istri yang sudah ia salah pahami. Ini ia lakukan bukan karna ia mencintai layya sehingga tidak bisa jauh dari layya atau layya di miliki pria lain atau... Rasa itu sudah ada, tidak. Itu ia lakukan untuk kedua anaknya. Cukup sudah kedua anaknya lahir tanpa diri nya di samping mereka, bahkan sampai sekarang sudah melewati umur 3 tahun mereka tanpa ada sosoknya.


Tunggu. Apa yang di katakan layya tadi?.


Satu lagi orang tahu maka ia akan.


Rayyan menoleh melihat ke samping dan sekitarnya. Ia mendapati beberapa orang sudah mulai berkerumun melihat ke arah mereka dan ada yang lagi berbisik bisik.

__ADS_1


Rayyan kembali menurunkan pandangannya melihat layya.


"dan menurutmu sekarang cuma satu orang lagi yang tahu? Kamu harus berpikir ulang untuk itu".


Layya menarik tajam nafasnya sebelum memperbaiki berdiri nya agar tegak mendongak menatap rayyan. Menjulurkan tangan menolak dada rayyan menggunakan telunjuk nya, menjauhkan jarak mereka.


"itu urusanmu Ray? ingat, satu orang lagi yang tahu!". Kecam layya dingin.


Rayyan menyatukan alisnya lalu menoleh melihat ke sampingnya dan beralih ke sekitar nya. Ini bukan lagi satu orang tapi lebih. Rayyan kembali melihat layya.


"kamu menyalahkan ini untukku? Bukankah seharusnya kamu yang salah? Kamu menghentikan mobil kita di pinggir jalan dan di tengah kota".


"jika kamu berhenti tadi tepat di depan gerbang perusahaan mu maka tidak akan begini?".


'berhenti di depan gerbang? Apa tadi layya sudah berniat bicara di sana?'.


"mana aku tahu layya? Kamu mau bicara dan juga, kamu tidak mengatakan untuk mobilku berhenti".


"bagaimana aku katakan? Kamu membawa mobilmu seperti seseorang yang sudah kebelet pup dan juga... Kamu marah padaku bukan?".


"marah padamu? Bagaimana kamu bisa berpikir begitu?".


"sejak di sana kamu terus diam, Kamu marah karena aku tidak mematuhimu bukan? Aku tidak mendengarkanmu dan pergi ke Rendra! Aku melukai egomu bukan?!".


Rayyan kembali mendekat ke layya setelah tadi menjauh selangkah. Menatap memerhatikan wajah layya sedang raut wajahnya terlihat tenang. Kedua tangan rayyan kembali mengurung tubuh layya dan ia tidak peduli lagi pada tatapan dan bisik bisik sekitarnya.


"apa kamu bisa membedakan antara marah dan kecewa?!".


"jadi kamu mau mengatakan kalau kamu diam karna kamu kecewa?! Untuk siapa? Aku? Jangan bercanda Ray? Dan...". Layya menjeda dan melihat ke sekitarnya.


"tangani ini jika kamu masih mau melihat anakmu !". lanjut layya lalu mendorong tubuh rayyan perlahan dengan telunjuknya dan beranjak dari sana.


"ah...". Ringis layya saat tangannya di tarik lalu di sentak oleh rayyan hingga berada di hadapan rayyan.


Layya mencoba menarik tangannya dari cekalan rayyan dengan menyentak nyenyak tangan rayyan.

__ADS_1


"apa yang kamu lakukan? Lepaskan, semua melihat kita".


"aku harus membereskan semua ini setelah seseorang melakukannya dan bukankah seharusnya aku lakukan saja apa yang aku mau? Lagian nanti aku juga yang membereskan! Aku tidak habis pikir bagaimana kamu bisa berpikir untuk kita berhenti di sini di saat orang orang di negeri ini mengenaliku layya? Jika aku tidak mengenalmu tentu aku akan berpikir kamu mau publik tahu kalau kita punya hubungan khusus layya?!".


Layya begitu ucapan rayyan habis meluncur dalam detik itu juga menghela nafas lelah sembari memutar matanya malas.


"jika aku tidak membicarakan ini sekarang dan di sini, lalu di mana? Aku keperusahaanmu? Jangan harap. Aku ke rumah mu dan bertanya ke Bu Imelda di mana kamu? Apa kamu gila. Atau... Aku ke tempat tinggalmu? Sayang sekali aku tidak tahu di mana dan aku juga tidak mau tahu. Sudah jelas sekarang Mr. Rayyan Andryatama?".


Rayyan memayunkan bibirnya sembari mengangguk angguk mengerti.


"dari tadi aku berpikir ini! Padahal kamu bisa menghubungi ku untuk menyuruhku berhenti saat di depan gerbang Imperial tadi atau... Mengatakan kalau kamu mau bicara dan tentu aku akan cari tempat yang bagus dan tentu bukan di sini, di tengah jalan. Dengan penonton seperti melihat satu pertunjukkan Opera jalanan". Rayyan mendecak.


"biar aku perjelas ya Mr. Rayyan Andryatama. Aku mengejarmu karna terpaksa dan harus. Menghubungi mu! Memang aku ada alasan apa untuk No mu ada padaku? Melihat wajah mu saja aku sudah mual apalagi No Handphone mu ada padaku, bisa bisa aku akan jijik melihat handphone ku sendiri!". Gumam layya di akhir kalimat.


Rayyan bersikap tenang tanpa sedikit pun terganggu dengan ucapan layya meski sesuatu di dalam sana meringis sakit. Rayyan memilih mengacuhkan dan entah mengapa ia biarkan saja.


"Tapi bukankah di saat seperti tadi kamu membutuhkan? Itulah gunanya menyimpan No satu sama lain layya?".


"aku tidak membutuhkan itu karna ini terakhir aku berurusan denganmu, Ingat ucapanku tadi baik baik rayyan! Satu orang lagi yang tahu, kamu akan tahu akibatnya! Minggir". Bentak Layya ke rayyan untuk menjauhkan tubuhnya dari dirinya.


Rayyan menuruti itu. Mundur selangkah sembari melipat tangan di depan dadanya.


"jika kamu mengkhawatirkan rose tidak bisa menutup mulut nya. Maka kamu tenang saja. Lagian rose hanya tahu itu saja tidak dengan Yusuf dan Maryam kan? Kamu terlalu panik".


"bukan khawatir dia membuka mulutnya rayyan brengsek tapi dia sudah menjadi klienku dan sialnya Minggu depan aku sudah bekerja padanya dan sialnya lagi kamu tahu? Rose tinggal di gedung apartemen yang sama denganku dan lebih sialnya? Dia sudah melihat Yusuf dan Maryam. Lalu seminggu yang lalu aku melihatnya ada di rumah mami kamu dan kamu tahu apa yang sedang rose lihat bahkan dia sampai mematung...? ". Layya berteriak marah membentak rayyan.


Rayyan tercengang. Jika ada wanita yang berani marah marah dan berteriak padanya itu adalah maminya dan yang kedua. Wanita ini.


Layya menggepal kedua telapak tangannya sedang dirinya mengerang marah.


"Dia sedang melihat foto kecilmu yang terpampang indah di ruang tengah bahkan sangat besar, aku yakin mamimu sengaja, karna waktu pertama aku ke sana gambar itu tidak ada".


Kedua mata rayyan seketika saja melebar bulat.


'serius? Rose ke rumah? kenapa aku tidak tahu? '.

__ADS_1


__ADS_2