Kata-kata Cinta

Kata-kata Cinta
Bab 67


__ADS_3

Menarik nafasnya kasar dan tajam sebelum layya melihat ke sekeliling kamar. Menoleh menatap rayyan lagi sebelum berniat mau melangkah keluar dari kamar namun di hentikan oleh suara rayyan.


Layya berniat tidak mau menoleh apalagi merespon ucapan rayyan namun hal tersebut tidak bisa menghentikan rasa tertariknya.


"mau jalan jalan...?...Pemandangan malam di sini indah, sayang jika di lewatkan".


Layya menoleh menatap rayyan lalu beralih ke jendela yang masih terbuka.


Ya. Pemandangan di luar dari tadi seperti meneriaki namanya, memintanya untuk menikmati tapi...Haruskah dengan pria ini?.


Layya menatap rayyan di depannya dan eughhh...


"apa kamu sadar kalau kamu belum pakai baju?...Untuk siapa kamu mau memperlihatkan tubuhmu itu?! ".


Rayyan menatap dirinya dari bawah hingga sampai perutnya. Ia tersenyum tipis.


"lupakan! ". sahut layya lagi ketika sudah mengetahui apa jawaban yang akan di jawab rayyan.


'tentu untuk wanita di depanku sekarang, istriku'. Aku yakin dia akan menggunakan setiap kesempatan untuk mengucap 1 kata itu.


"kamu sudah sangat memahamiku sayang...?". kekeh rayyan geli.


Layya memilih memutar matanya malas.


"aku akan menunggu di luar". Layya melangkah ke pintu namun lagi lagi langkahnya terhenti karna suara rayyan.


"kamu tidak mandi dulu? ".


Layya melihat ke dirinya sebelum menjawab.


"tidak, cepatlah pakai bajumu nanti ke buru tengah malam". Layya memutar knop pintu di depannya.


"jika soal baju ganti aku juga tidak bawa hanya ada yang di tubuh sama seperti kamu tapi paling tidak mandi dulu sebelum keluar biar fresh dan kita bisa menikmati indah malam di sini".


Layya mendesah malas.


"itu kamu, aku beda ray? Aku tidak bisa memakai baju yang sama setelah mandi, aku paling tidak bisa, sudahlah...Cepat pakai bajumu".


'benarkah? '. Rayyan menatap ke sekelilingnya. Hingga manik matanya berhenti pada suatu titik dan ide jail pun kembali muncul.


"sepertinya di lemari itu ada baju untuk wanita deh, mungkin kamu bisa pakai sementara ". Rayyan berkacak pinggang menunggu reaksi layya.


Layya yang hampir menutup pintu sontak membuka kembali. Melihat menatap rayyan lalu beralih menatap ke lamari besar yang ada di kamar tersebut.


Tanpa curiga. Layya melangkah mendekat ke sana. Membukanya se bisa ia lihat namun itu hanya sebentar sebelum mata layya membulat. Ia menggeram, membanting pintu lemari hingga terbuka lebar dan berbalik menatap rayyan yang sekarang sedang tertawa keras.


"a ha ha ha ha...". Tawa rayyan yang terus berlanjut bahkan dia tidak peduli dengan tatapan layya, yang seperti ingin menelannya hidup hidup.


Layya berkacak pinggang sedang nafasnya naik turun karna marah.


"brengsek! ". Umpat layya kasar sebelum melangkah keluar dari kamar dan membanting pintu.


Rayyan masih tetap tertawa dengan tangannya menekan perutnya sendiri yang sakit oleh tawanya sendiri.


"layya?...ha ha ha...". Tawa rayyan yang terus berlanjut. Bahkan tubuhnya sudah berjongkok menahan tawanya namun ia tidak bisa. Membayangkan wajah layya tadi saat melihat baju tersebut lalu...


Lagi lagi tawa rayyan meledak.


Di luar layya terus menerus mengumpat rayyan hingga merutuki rayyan agar tersedak dengan tawanya sendiri dan masuk rumah sakit di sini hingga beberapa minggu kemudian.


"rayyan brengsek! ". Umpat layya lagi dan ia melangkah ke sofa. Menduduki bokongnya disana.


Jangan harap ia akan berbicara dengan pria itu malam ini.

__ADS_1


Awalnya ia berpikir begitu namun bagian tubuhnya yang lain sama sekali tidak bisa ia ajak kerja sama contohnya...perutnya lapar sekarang.


Layya menatap ke pintu kamar. Berharap pria itu segera keluar dan mereka bisa membicarakan makan dulu sebelum keluar untuk jalan jalan.


Seharusnya aku bisa sendiri sih tidak perlu rayyan. Tapi hei...Ini negara orang dan ini yang pertama kali juga aku ke sini. Di tambah. Aku tidak ada uang se dolarpun. Pria itu membawaku kemari dan meninggalkan tasku begitu saja di sana.


Layya menghela nafas lemas. Yang bisa aku ikuti dan terpaksa harus aku percayai sekarang adalah pria itu. Rayyan.


Layya melihat ke sekelilingnya, berharap bisa mengurangi rasa laparnya untuk sebentar.


Kamar mewah dan ruang tamu yang luas.


Bisa aku pastikan rayyan menyewa kamar VIP di hotel ini. Terlihat dari kamar yang super mewah juga luas serta di bagian luar kamar juga sama luas dengan ruang tamu, sofa besar dan pantry.


Layya bangkit berdiri melangkah mendekat ke pantry. Membuka kulkas kecil di sana dan memilih meraih botol air putih dan menegaknya.


Entah kenapa dan bagaimana.


Kejadian tadi masih tergiang di kepalanya dan hatinya masih tidak tenang. Ciuman tadi. Ia yakin jika berlama lama dengan pria itu bukan akan ada pertama tapi akan ada kedua atau ketiga kalinya. Mengingat bagaimana pria itu selalu seenak jidatnya.


"hahhh...". Layya mendesah lelah. Sebisa mungkin, yang bisa aku lakukan adalah menjauh darinya atau menjaga jarak. Dan sialnya sekarang aku tidak bisa melakukan itu.


Pernikahan. Suami istri. Aku yakin rayyan akan menggunakan 2 kata tersebut untuk tindakannya jadi percuma jika aku protes dan adu mulut, yang ada hanyalah aku yang kelelahan dan mulutku berbusa.


Layya lagi lagi menghela nafas. Frustasi? Aku yakin itu yang akan terjadi padaku jika lama lama dengan rayyan.


Mengingat perceraiannya. Layya lagi lagi mendecak kesal.


Siapa yang harus ia salahkan di sini? Kelalaiannya hingga seperti sekarang? Kebodohannya hingga bisa di bohongi lagi?.


Layya bersandar di dinding pantry sedang di tangannya masih ada botol air. Matanya menatap kosong ke depan.


Bagaimana bisa seperti ini? Aku pikir semua sudah selesai. Hanya tinggal mengurus indentitasku yang seharusnya janda, yang nyatanya sekarang.


"lalat akan mati jika terkena helaan nafasmu! Apa yang kamu pikirkan? ".


Rayyan sudah mengenakan rapi bajunya. Setelan jas berwarna navi masih sama seperti tadi.


Layya yang tersadar dari lamunannya menoleh menatap rayyan.


"aku sedang berpikir apa aku akan di perkosa malam ini?! ". Ujar layya cuek sembari melangkah melewati rayyan menuju ke pintu keluar dari ruangan atau kamar hotel tersebut. Setelah meletakkan botol air putih ke meja pantry.


Rayyan meringis dengan jawaban layya sebelum mengikuti langkah layya dari belakang di sertai kekehan kejinya.


"kamu mau di perkosa?!".


Pertanyaan bodoh. Apa ada manusia di dunia ini yang mau di perkosa? Tidak mengertikah pria ini kata katanya tadi sindiran untuknya? Karna mencuri ciumannya meski hanya kecupan tapi tetap saja mencuri karna tanpa persetujuannya.


Layya memilih tidak menjawab, tetap melanjutkan aktifitasnya sekarang memakai high heelsnya. Entah kenapa hanya high heels ini yang setia menemaninya dan pertanyaannya kenapa tasnya tidak ikut juga? Dengan begitu ia tidak akan merepotkan pria ini. Apalagi harus mengikutinya terus.


Ckleck..


Layya membuka pintu.


Brakh...


"A...". pekik layya terkejut karna perbuatan rayyan.


Layya Tadi membuka pintu berniat mau cepat cepat keluar dan makan? Ia akan membicarakannya sambil berjalan ke lift. Namun yang terjadi. Ketika pintu yang sudah terbuka tiba tiba saja rayyan yang sudah ada di belakang layya kembali menutup pintu tersebut hingga membuat layya terkejut.


"apa yang kamu lakukan?! ". kesal layya tanpa berbalik menghadap melihat rayyan. Salah satunya karna jarak mereka sekarang sangat dekat. Ia tidak mau kejadian tadi terulang lagi dan ia yakin pria ini tidak akan membuang kesempatan untuk membuatnya kesal.


"aku benci di acuhkan layya? Kamu belum menjawabku". Rayyan menatap layya di bawahnya. Mengurung layya di antara kedua lengannya hingga membuat layya tidak bisa bergerak.

__ADS_1


'ayolah? '. Layya menjerit dalam hati.


"itu pertanyaan bodoh dan perlukah di jawab?! ".


Rayyan mengernyit.


"bodoh? Aku rasa tidak, karna apa?... ". Rayyan menurunkan wajahnya berbicara tepat di depan telinga layya.


"karna banyak wanita di luar sana mau aku menidurinnya! Dan banyak juga dari mereka yang menginginkan untuk di perkosa lalu...".


Layya menggeram tidak suka.


"aku tidak keduanya ray?... Lepaskan aku, aku lapar". Dan itu baru aku mau. Makan. Perutku sudah menjerit minta di isi.


Mendengar kata lapar seketika saja rayyan menjauhkan tubuhnya dari layya.


"baiklah, ayo kita makan". Ujarnya bersemangat.


Layya mengerutkan keningnya menoleh melihat rayyan di belakangnya.


'ada apa dengan pria ini? Tadi bukannya dia marah?! '. Tidak mau berpikir panjang dan malah membuat kepalanya sakit. Layya memilih memutar knop pintu hingga pintu di depannya terbuka dan ia keluar di ikuti rayyan di belakang.


"kita makan di hotel atau keluar? Semua terserah di mana maumu". Tanya rayyan sembari mengekori layya di belakang.


Layya berpikir sebentar sebelum menjawab.


"di hotel saja". Jawabnya setelah berpikir lama. Jika di luar maka akan membutuhkan waktu lama untuk pergi dan kembali. Di tambah...Sekarang ia lapar banget.


"baiklah, sesuai maumu! ". Keduanya masuk ke dalam lift.


Layya tidak sengaja saat melihat lift tertutup ia mendapati rayyan yang berdiri di belajangnya sedang senyum senyum sendiri.


Layya mengernyitkan keningnya.


'apa pria ini waras?... Tunggu...'. Layya sontak berbalik menghadap menatap rayyan.


Rayyan mengerjap beberapa kali karna tersentak kaget saat tiba tiba layya berbalik dan menatapnya. Tunggu...Tatapannya.


"tidak ada yang kamu rencanakan kan? ".


Rayyan menaikkan satu alisnya.


"rencanakan?...Maksudnya...?!".


"jangan menjawab dengan pertanyaan ray?! ".


"karna memang aku tidak tahu maksudmu layya? Rencakan apa?! ".


"aku tidak akan bertanya jika aku tahu".


"kamu terlalu berpikiran buruk tentangku layya?.. Tidak ada yang aku rencanakan!".


"berpikiran buruk? Itu jelas terpampang di setiap inci wajahmu, tidak perlu aku berpikir! Kamu memang yang terburuk". gumam layya di ujung kalimat.


Ting...


Pintu lift terbuka dan layya keluar pertama. Meninggalkan rayyan, yang mulutnya terbuka lebar tidak percaya dengan apa yang barusan dia dengar.


Menatap layya tajam. Mengejar langkah layya hingga sampai di samping layya.


"baiklah, jangan salahkan aku jika nanti malam aku melakukan hal buruk padamu, rasain tuh". Rutuk rayyan sembari melangkah dan bahkan melewati layya.


Layya sontak menghentikan langkahnya. sedang matanya menatap rayyan di depannya yang terus melangkah. Mulut layya terbuka dan hampir rahangnya jatuh mendengar rutukan rayyan.

__ADS_1


'lihat?... Pria itu tidak dapat di percaya'.


__ADS_2