
Bam...
Layya menutup pintu mobilnya sendiri dengan sedikit terburu buru sembari matanya melihat ke seseorang dan memanggil.
"pak Aldi?!"
Layya menghentikan langkah Aldi yang mau masuk ke gedung di depannya. Perusahaan tempat nya bekerja. Ia menoleh lalu berbalik melihat layya sedang di tangan kanannya terdapat satu tas tenteng berwarna hitam.
'desainer zunaira?'. batinnya.
Layya melangkah mendekat ke Aldi sedang mobilnya berhenti asal di tengah jalan keluar area perusahaan rayyan.
Tadi setelah mobilnya keluar dari basement dan menuju ke jalan keluar. Layya melihat Aldi yang mau masuk ke gedung imperial dengan terburu buru pun ia menghentikan mobil nya keluar dari sana dan memanggil Aldi sebelum jaraknya semakin jauh.
"ada yang bisa saya bantu bu Zunaira?!". tanya Aldi sopan begitu layya berada di hadapannya.
Layya menarik nafasnya sebelum berbicara. Ia menatap Aldi lekat+curiga.
"seingat ku mobilku terparkir di luar dan juga tas ku...". Layya menjeda ucapannya menatap Aldi meneliti.
Aldi mengedipkan matanya, mendengar seksama.
"berada di ruangan penyimpanan, siapa yang memindahkannya ke basement dan tasku sudah ada di dalam mobil". Tentu ia tahu itu perintah rayyan. Pertanyaannya siapa yang pria itu suruh.
Aldi tersenyum tipis sebelum menjawab.
"untuk mobil itu saya yang memindahkannya atas perintah Pak CEO lalu jika tas, itu...".
Layya menyatukan alisnya tidak sabar untuk mendengar sambungan ucapan Aldi.
"itu rose!".
Layya seketika memejamkan matanya sedang giginya merapat.
'pria itu benar benar!'.
"apa itu juga perintah dari rayyan? ... Tasnya!".
Aldi tidak menjawab karna merasa kebingungan. Ia menggaruk belakang kepalanya yang sama sekali tidak gatal. Jika bukan perintah dari atasannya bagaimana mungkin ia berani? Tapi menurut ia baca ekspresi wajah desainer Zunaira sekarang. Ia rasa ini tidak akan baik baik saja. Untuk CEO nya.
Layya mendesah yang seketika membuat Aldi tersentak terkejut.
Layya menyungging senyum tipis sebelum berucap.
"baiklah terima kasih pak Aldi! silakan lanjutkan pekerjaan anda, maaf saya menghentikan langkah anda". Senyum ramah layya.
Aldi mengeleng.
"tidak tidak apa apa, saya tidak terburu buru juga".
__ADS_1
"saya permisi!". Ujar layya lalu berbalik beranjak dari sana tanpa mendengar jawaban Aldi.
Layya melangkah mendekati mobilnya. Kedua tangan di kedua sisi tubuhnya terkepal erat begitu juga dengan giginya yang tertutup rapat. Manik matanya menatap tajam ke mobil nya namun tidak dengan pikirannya.
Cleck...
Layya membuka pintu mobilnya.
Klab..
Dan menutup kembali.
Layya tidak langsung membawa mobilnya begitu duduk di kursi di balik setir untuk keluar dari area perusahaan rayyan tapi malah menyadarkan punggungnya sejenak ke sandaran kursi sebelum dirinya mendesah.
Tin...Tin...
Layya sontak menoleh ke belakang saat mendengar suara klakson mobil yang memekakkan telinga di belakang mobil nya.
Satu alisnya naik ketika mengetahui mobil siapa itu. Rayyan.
Menggeram. Layya menghidupkan mobilnya lalu beranjak keluar dari sana. Awalnya layya berniat keluar dulu dari area perusahaan rayyan lalu ia akan menghampiri rayyan untuk bicara sejenak dengannya.
Namun itu hanyalah tinggal rencana layya. Karna apa?.
Karna begitu mobil layya keluar dari pintu gerbang perusahaan rayyan dalam sekejap itu juga mobil rayyan melaju kencang melewati+mendahului mobil layya hingga membuat layya yang mau keluar dari mobilnya dan mau menghampiri rayyan menganga bodoh.
"serius?!". Ucap layya lebih ke dirinya sendiri. Ia mendengus tidak percaya sebelum kembali melihat ke mobil rayyan yang masih terlihat punggungnya.
"bagaimana bisa pria itu melakukan sesuatu hal dan selanjutnya seperti tidak terjadi apapun?!". Gerutu layya kesal sembari terus melajukan mobilnya mengejar mobil rayyan dengan kecepatan di atas batas normal. Ia melewati bahkan menerobos beberapa mobil di hadapannya sedang matanya menatap tajam ke mobil rayyan.
Rayyan yang biasa melajukan mobilnya dengan kecepatan cepat selalu dan bahkan sekarang. Bagi rayyan. Ia hanya perlu cepat cepat pulang ke rumahnya. Mandi untuk menyegarkan tubuhnya namun yang paling penting ia harus mengganti pakaiannya. Tadi ia buru buru naik ke lantai kantornya karna ia kira ia bisa mandi dan berganti pakaian di sana namun seperti biasa sebelum mandi ia akan memeriksa pakaian ganti dulu. Baru setelahnya ia akan masuk ke dalam kamar mandi dan sialnya, begitu ia membuka lemari berdaun dua tersebut tidak ada satu pun baju gantinya dan ketika ia menghubungi Aldi dan bertanya. Aldi menjawab kalau semua sudah di bawa ke penthousenya dan atas perintahnya. Ah... Entah kapan ia memerintah. Ia bahkan tidak ingat dan tidak mungkin bagi Aldi bertindak jika tidak ada perintah dari nya.
Mendesah. Dan di sinilah ia sekarang. Menyetir mobil sendiri untuk pulang ke rumah. Padahal ia berencana akan pulang besok saja. Untuk menyapa atau melihat maminya sembari membicarakan hal pekerjaan dengan papi.
"hahhh...". Rayyan mendesah lagi. Kedua manik mata nya melihat ke spion di atas kepalanya dengan santai.
Rayyan mengerjapkan matanya saat melihat mobil merah yang sedikit jauh di belakangnya sedang melaju cepat belum lagi dengan suara klakson, yang ia yakin berasal dari mobil merah tersebut karna memotong dan mendahului mobil mobil lain.
Rayyan mengernyit merasa kenal dengan mobil merah tersebut dan pernah ia lihat.
'dimana?'. Rayyan membatin sembari berpikir. Ia kembali menoleh dan kali ini rayyan melihat ke plat mobil merah tersebut sedetik kemudian kepala rayyan sontak memutar ke belakang melihat ke mobil merah yang sekarang sudah tiba tepat di belakang mobilnya.
Rayyan kembali melihat ke depan setelah mengumpat.
Tin...Tin...
Suara klakson mobil layya.
Rayyan yang mendengar itu menggeram. Ia kembali melihat ke spion mobilnya sebelum kemudian melotot lebar.
__ADS_1
"apa wanita itu sudah gila?!". Umpat rayyan marah ke layya. Rahangnya terlihat mengeras saat melihat mobil layya yang kini sudah ada di samping mobilnya setelah tadi memotong mobil lain.
"wanita ini benar benar!". Rayyan menggeram di sela giginya yang tertutup rapat.
Tin...Tin...
Suara klakson mobil layya yang tidak ada hentinya menyuruh mobil rayyan untuk berhenti dan menepi.
Menggeram sekaligus kesal. Rayyan menekan pedal gas mobilnya melaju kencang dengan kecepatan di atas normal.
"jika berani dia mengejar lagi, aku benar benar akan memberinya pelajaran! lagian untuk apa dia mengikutiku? Ah...". Rayyan melihat ke spion mobilnya, yang tidak terlihat mobil layya lagi.
"bukankah sudah jelas? Memarahiku karna sudah memukul kekasih dan cinta pertamanya huh...Tidak terima eh?". Sambung rayyan kesal sebelum mendengus keji.
Tunggu...
Rayyan teringat saat di dalam pesawat tadi wanita itu diam bahkan enggan untuk melihatnya dan bahkan tidak berusaha untuk bicara dengannya apalagi untuk membujuknya.
'wanita itu memang berdarah dingin'. Entah kenapa ia merasa jengkel.
Manik mata rayyan melebar seketika saat ia melihat ke spion mobil yang ada di atas kepalanya.
Mobil merah layya dengan merek Mercedes-Benz sedang melaju cepat terkadang memotong dan melewati mobil lain. Suara klakson mobil nyaring terdengar di jalanan tersebut dengan hiruk pikuk keramaian mobil.
"apa dia sudah gila?!". Rayyan menggeram emosi.
Menggerakkan giginya. Rayyan memilih jalan ke samping kirinya dengan berbelok cepat saat merasa jarak mobil di belakangnya masih jauh.
Layya melakukan hal yang sama. Mengambil jalur kiri lalu sedetik kemudian ia kembali menekan pedal gas untuk memotong arah mobil rayyan.
Shhh...
Suara mobil layya ketika berada di samping mobil rayyan dan melewatinya sedetik kemudian terlihat kedua mata rayyan membulat sebelum tubuhnya terhayun ke depan. Rayyan menginjak pedal rem tiba tiba.
Kedua mata rayyan menatap tajam ke mobil layya yang berhenti di depan mobilnya. Ralat. Berhenti tiba tiba. Wanita itu menghentikan mobil tiba tiba begitu melewati mobilnya hingga membuatnya terkejut dan menginjak pedal rem.
Rayyan juga layya sama sama keluar dari mobil.
Rayyan yang ke luar dengan amarah yang memuncak sedang layya, di ambang batas kesabaran.
Rayyan membanting pintu mobil, melangkah cepat mendekat ke layya yang sudah keluar dari mobilnya. Rahangnya terlihat mengeras di sertai manik matanya yang menatap layya tajam berkilat marah.
Sampai di hadapan layya. Rayyan merenggut kedua bahu layya dengan kasar, bergeser ke samping dan membanting tubuh layya ke mobil di belakang layya hingga membuat punggung layya membentur mobil merah tersebut.
Suara ringisan layya bahkan tidak terdengar lagi di telinganya karna ia begitu geram dan marah ke wanita di depannya sekarang.
Entah kenapa saat melihat mobil layya melaju cepat bahkan memotong, menerobos, melewati dan terakhir ia lihat mobil layya menghindar dengan cepat saat mobil lain memotong jalan layya. Jantungnya di dalam sana sudah berpacu tidak tentu arah dan tidak cukup itu. Wanita ini dengan berani melewati mobilnya lalu sampai di depan berhenti tiba tiba.
Tidak tahukah wanita ini? Jika ia tidak bisa menghentikan mobilnya, menekan pedal rem tiba tiba? Dia bisa dalam bahaya? .
__ADS_1
'benar benar...'. Batin rayyan di sela gertakkan giginya.
"apa kau sudah gila huh...? Apa kamu mau mati...?!". Teriak rayyan tepat di hadapan wajah layya sedang matanya melotot marah.