
Jam 6 kurang.
Layya memastikan sekali lagi waktu sore tersebut melihat jam tangan kecil di pergelangan tangannya.
Layya mempercepat langkahnya masuk ke dalam sebuah kafe yang berada seberang jalan dari perusahaan tempatnya bekerja. kata kak alex kafe tersebut adalah milik temannya jadi wajar kalau jam segini belum tutup karna kak alex mungkin.
"layya sini! ". panggil seseorang yang berada di sudut ruangan di sampingnya ada dinding kaca.
Layya mendekat ke sana dengan langkah sedikit ia percepat karna waktunya sudah hampir maghrib. ia harap tidak akan lama.
"kak alex sudah pesan? ". tanya layya ketika melihat satu milkshake di hadapan alex dan sudah terminum setengah.
Alex tertawa sumbar.
"ayolah layya, tidak mungkin aku menunggumu tanpa memesan apapun, bisa bisa aku di usir". canda alex lalu tertawa. layya ikut tertawa hambar.
Layya meletakkan tas sampingnya ke kursi di sampingnya lalu mendudukkan bokongnya di kursi satu lagi berhadapan dengan alex.
"mau minum apa? biar aku pesan". tanya alex menyerahkan buku menu ke layya.
"tidak perlu memesan, apa aku akan di usir?! ". canda layya.
"ha ha ha". alex tertawa ngakak.
"kita bisa mengira pesananku untuk penyewaan meja". keduanya kembali tertawa namun tawa layya tawa yang kecil.
"aku pesan air putih saja"
"diet eh...?".
"aku harus menyimpan perutku untuk makan malam di rumah".
Alex mengangguk mengerti namun jail membuat layya kembali tertawa.
Dulu, ia tidak sedekat ini dengan kak alex. hanya sesekali mereka berbicara itupun jika berpapasan atau sesuatu di pesan rayyan sama kak alex untuk menyampaikan padanya.
Alex kembali duduk setelah membawa air putih dalam satu nampan untuk layya.
Tak...
"selamat menikmati". ujar alex dengan senyum tampannya.
Ya, iya akui kak alex termasuk pria tampan meski tidak setampan rendra dan..rayyan.
Kak alex yang dari dulu selalu memakai kaca mata, rambut pirang terbelah tengah dan berkulit putih pucat layaknya para aktor korea namun kak alex bukan berdarah korea melainkan asli Australia. itu yang ia tahu dulu dari rayyan.
"euhmmm...". layya mau membuka suara namun terdiam saat alex melihatnya.
"tentu kamu mau bertanya apa yang mau aku bicarakan bukan?...dan apa, yang penting itu".
Layya tersenyum tipis mengiyakan.
"itu...".
__ADS_1
Layya mengedipkan matanya menanti.
Alex menarik nafasnya.
"begini saja! aku rasa langsung saja tidak masalah bukan? ".
Layya mengangguk mengiyakan lagi. bukankah itu yang penting.
"pertama aku minta maaf jika mengungkit lagi...". alex memiringkan kepalanya dengan ucapannya selanjutnya karna merasa itu mungkin akan menyakiti layya lagi. ia sungkan tapi ia harus.
"oh...tidak apa! aku sudah baik baik saja". ucap layya setelah tahu apa maksud dari ke engganan alex.
Alex membuka mulutnya mengerti lalu mengangguk.
"begini layya?... apa kamu tahu?... penyebab dari...kalian...bercerai...?!". alex menatap meneliti raut wajah layya, yang sepertinya sempat tersentak.
Meski layya bilang dia sudah baik baik saja namun jika di ungkit lagi tentu itu akan menyebabkan dia teringat kembali dan merasa teriris tentu saja ada.
Layya tertawa kecil setelah beberapa detik terdiam dan sontak membuat alex kebingungan.
"apa ada yang...lucu?! ". tanya alex merasa bodoh dan bingung.
"kak alex gimana sich...? kan kak alex yang lebih tahu jawabannya!". ujar layya sebelum meminum air putihnya sedikit.
Alex mengedipkan matanya. iya sih tapi...
"tidak! maksudku...selain hal itu...apa...kalian...pernah bertengkar atau...".
Alex terdiam sembari kedua manik matanya menatap layya.
"tapi entah kenapa aku merasa kalau rayyan yang terkhianati".
Layya tersentak dengan ucapan yang spontan keluar dari mulut alex.
Layya yang kebingungan mengerjap melihat ke samping tidak mengerti.
"apa maksud kak alex? kenapa sepertinya terdengar kalau aku yang mengkhianati rayyan? padahal jelas jelas rayyan...".
Alex mengangguk mengerti.
"aku tahu layya, karna itu aku minta maaf dan juga...karna itu aku minta bicara denganmu sebentar".
Layya semakin kebingungan di buat alex. apa maksudnya.
"aku tidak mengerti, lagian...itu sudah berlalu juga".
Alex mengangguk mantap.
"kamu benar, itu sudah berlalu tapi apa kamu tahu layya? sebuah luka jika kita simpan seberapa lamapun akan tetap membaru".
Layya menyatukan alisnya.
"maksud kak alex...aku menyakiti rayyan? ".
__ADS_1
"itu yang mau aku tanyakan! ".
Layya mengernyit tidak mengerti.
Alex menarik nafasnya.
"begini layya? aku percaya dan aku yakin 100% kalau kamu tidak menyakiti atau pun mengkhianati rayyan, tapi...maksudku...apa ada hal di masa lalu yang membuat rayyan salah paham hingga dia merasa di khianati olehmu?! ".
Layya menyatukan alisnya.
"mungkin ini tidak penting untukmu tapi...ini penting untukku layya?... kamu tahu...aku hampir gila beberapa hari ini dan...untung aku bertemu denganmu, tolong bantu aku". alex memohon tulus ke layya. karna ia hampir benar benar akan gila melihat sikap dan sifat rayyan akhir akhir ini. ia sudah seperti kakak kandungnya yang mengkhawatirkannya berlebihan. hhhhh...
Alex mendesah lelah.
Layya mengerjap beberapa kali mencoba berpikir ucapan alex namun tidak satupun masuk ke dalam otaknya.
"aku benar benar tidak mengerti maksud kak alex, karna di sini jelas jelas rayyan yang menyakitiku lalu kak alex bilang seperti aku yang menyakitinya, aku tidak mengerti". layya menggeleng kepalanya tidak mengerti maksud dari ucapan pria putih di depannya.
Alex menarik nafas.
"begini saja,...euhmmm...waktu kalian bersama maksud aku waktu kalian masih dalam ikatan pernikahan apa kamu masih dekat dengan rendra? ".
Layya sontak menganggukkan pertanyaan alex. ia tidak perlu bertanya bagaimana kak alex kenal rendra karna sebagai seorang manajer seorang model ternama saat itu rendra juga tentu di kenal kak alex karna waktu itu profesi rendra juga seorang model. Bahkan orang tua rendra memiliki agensi model dan juga berbagai perusahaan media sampai sekarang.
"dan rayyan tahu itu? ". alex bertanya sedikit terkejut.
"bukankah kak alex juga tahu? bahkan sebelum aku mengenal rayyan aku sudah dekat dengan rendra! ".
Alex mendesah lelah. sepertinya layya tidak mengerti maksudnya.
"maksud aku itu...kamu sudah menikah dengan rayyan namun kamu tetap berhubungan dengan rendra? dan rayyan tahu? ".
Layya mendesah lelah sembari menyandar punggungnya ke belakang.
"aku rasa itu bukan permasalahnnya kak alex? karna rayyan tidak mencintaiku, benar bukan? dan ya...aku masih berhubungan dengan rendra tapi itu hanya sebatas rendra dan aku, bisa di katakan teman? meski rendra lebih tua karna waktu itu...hatiku sudah berpindah ke rayyan dan rayyan tahu itu".
Alex sontak mematung.
"maksudmu rayyan tahu kamu masih dekat dengan rendra atau...".
"dua duanya dan ku rasa dia saat itu tidak mempermasalahkannya dan sekarang aku tahu jawabannya...dia tidak mencintaiku tentu tidak masalah untuknya, aku dulu sempat menjauhi rendra takut rayyan cemburu atau marah lalu...beberapa waktu...aku bicara dan dia tidak mempermasalahkan, jadi aku rasa bukan karna itu dan juga tidak ada hubungannya dengan rendra".
Alex terdiam menatap layya dengan berbagai pikiran dalam otaknya.
Iya jika itu benar layya? tapi bagaimana...jika semua itu...salah?.
"entahlah layya? aku rasa ini ada yang aneh...terutama dengan pria temperamental itu".
Layya mengedipkan matanya mendengarkan.
"ah... apa...akhir akhir ini kamu merasa kalau tingkah pria itu aneh? ..baik prilakunya atau pun...ucapannya padamu" .
Layya lagi lagi tersentak, apalagi mengingat pertemuan mereka terakhir.
__ADS_1