
Pukul 9:05 waktu melbourne.
Setelah acara makan malam selesai. melayani keluarga bu imelda dan juga para tamu bu imelda, ia yang sebagai koki sementara supaya semua menikmati masakannya.
Setelah selesai layya meminta izin ke bu imelda untuk pamit pulang lagian tugasnya sudah selesai dan kedua anaknya masih tertidur lelap.
"tunggu layya? ". cegah imelda ke layya yang baru naik 2 anak tangga.
Layya membalik melihat bu imelda.
"ya bu? ada yang bisa layya bantu lagi?! ". tanya dengan wajah yang serius.
Imelda menggeleng.
"tidak bukan itu...itu...bagaimana kamu membawa keduanya pulang? keduanya tertidur lelap, kasihan di bangunin". imelda terlihat khawatir.
Layya tersenyum.
"aku akan menggendong mereka ke mobil bu, ibu tidak perlu khawatir".
Imelda tersentak.
'kenapa aku tidak berpikir ke sana? oh...tentu ini karna nafsuku yang mau layya dan kedua anaknya menginap di sini tapi tidak mungkin aku memaksa, bisa bisa layya tidak akan mau kemari lagi'.
"oh baiklah, rayyan akan membantumu! RAY...?". suara teriakan imelda dari arah tangga memanggil putranya rayyan yang sekarang belum selesai makan malamnya. di sana juga ada farhan yang sama sedang menikmati makanan di depannya.
Tadi juga ada bunda dan papi farhan dan juga adik perempuan pak tama dengan anak dan suaminya, yang sekarang mereka semua sudah pulang beberapa menit yang lalu.
Rayyan menghentikan makannya bangkit melangkah ke arah suara panggilan.
"tidak perlu bu? aku bisa sendiri". tolak layya cepat.
__ADS_1
Imelda berkacak pinggang menghela nafas menatap layya.
"bagaimana bisa kamu menggendong keduanya ke mobil? sudah, tidak perlu tidak enak, mana tuh anak lagi". imelda membalik melihat ke belakang.
Layya gelagapan.
"jika bisa mungkin asisten rumah ibu bisa bantu saya". layya memaksa senyum.
Imelda menggeleng di sertai lambaian tangannya kalau dia tidak setuju.
"ray juga akan mengantar kalian pulang".
Kedua bola mata layya sontak saja melebar.
"ya mi? ". jawab ray begitu sampai di samping imelda di ikuti farhan yang berdiri di samping rayyan dengan kedua bola matanya yang mematung menatap layya.
Farhan sama sekali tidak bisa mengalihkan pandangannya jika sudah melihat layya.
"kamu gendong anak layya ke mobil lalu antar mereka".
Rayyan dengan cepat menatap layya.
Farhan terlihat sumrigah.
"bagaimana kalau aku saja, biar aku yang antar". tawar farhan dengan senyumnya yang merekah.
Mata rayyan sontak menatap farhan dengan kedua alisnya yang menyatu.
"tidak tidak bisa, rayyan lebih aman! kamu berbahaya". Imelda menggeleng geleng tidak setuju.
Farhan yang tidak terima, menaikkan satu alisnya. sedangkan rayyan terlihat bingung melihat maminya.
__ADS_1
"mami? aku hanya mengantarnya lalu pulang! di mana bahayanya? ". farhan bersikeras.
"kamu tidak memiliki pacar atau tunangan, bagaimana jika suami nak layya mencurigai nak layya? tidak bisa! ". bantah imelda cepat.
Rayyan dan layya hanya melihat kedua orang di depannya dengan bingung.
Bagi layya. pria yang bernama farhan ini tidaklah bahaya baginya tapi untuk sekarang atau malam ini, yang lebih bahaya itu rayyan.
'putra ibu sendiri? ibu tahu kenapa? aku yakin rayyan sudah menyiapkan berbagai pertanyaan untuk dia tanyakan padanya dan ini? kesepatan untuknya ughhh...'.
Bagi rayyan yang bingung. kenapa ia tidak bahaya sedangkan farhan bahaya. ternyata tidak lama kebingungan rayyan terjawab di jawab tepat oleh farhan.
"jadi maksud mami...rayyan tidak bahaya karna sudah memiliki tunangan dan tidak apa jika suami layya melihat".
"semua orang di kota ini sudah sangat mengenali rayyan apalagi tunangan rayyan".
Farhan menelan ludah. dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Perkataan mami benar. tidak baik untuk rumah tangga layya meski ia hanya sekedar mau berteman. perasaannya...ia rasa harus di kubur dalam dalam.
"baiklah, semua sepakat! ayo? ah...ayo farhan biar mami tunjukkin pemandangan luar biasa padamu, mami yakin kamu akan terkejut". ucap imelda sembari menaiki tangga melewati rayyan dan layya.
Farhan yang ingin melihat kedua anak layya tentu saja langsung mengikuti langkah imelda yang baginya dan panggilan kesayangannya untuk wanita paruh baya tersebut adalah mami.
Layya menghela nafas frustrasi.
"tidak naik? ". seru rayyan begitu melewati layya.
Layya menatap punggung rayyan lalu berdecak kesal dan melangkah ikut naik ke atas ke lantai di mana kedua anaknya tertidur pulas.
__ADS_1