
Menarik nafas setelah mengibaskan rasa kesal dan marahnya ke rayyan. layya memilih melihat ke arah lain sebelum kembali melihat rayyan yang masih dengan kikikannya.
Lebih baik cepat cepat pergi dari karna terlalu lama dengan pria ini. bisa bisa aku mati kesal padanya. ughhh...ingin sekali aku menghajarnya sampai dia tidak tahu siapa namanya lagi. andaikan...
'Ahh...bersabarlah layya? hanya sebentar lagi dan setelah room meeting itu selesai kamu tidak akan berurusan dengannya lag...tunggu...bukankah aku baru menyetujui...hal gila?'. teriak layya dalam hati.
Layya menggetarkkan giginya. kenapa ia tidak terpikir itu?... jika mengizinkan pria ini bebas melihat kedua anaknya bukankah itu otomatis ia akan sering melihatnya? ...
Layya kembali melihat rayyan namun tatapannya mencari rencana untuk bisa membatalkan persetujuannya.
Layya tersentak saat teringat sesuatu. ia menyungging senyum keji dengan rencananya.
'iya...itu bisa jadi salah satu cara meski...sedikit berisiko namun cepat atau lambat reina juga pasti akan tahu'. layya terkekeh dalam hati.
"sudahlah! hentikan tawa brengsek mu itu ray? dan mana sepatuku?! ".
Rayyan membalik badan melihat layya setelah menghentikan tawanya.
"kamu pikir aku apa? bawa bawa sepatumu kemana pun aku pergi! ". ujar rayyan lalu melangkah ke pintu.
Layya menyatukan alisnya melihat rayyan sebelum mengikuti langkah rayyan.
Melewati ruang rose yang kosong. entah sekretaris pria ini ada di mana. bukan urusannya juga.
Keduanya sampai di depan lift. lift khusus untuk rayyan sendiri.
Ting...
Pintu lift terbuka.
Rayyan masuk pertama di susul layya setelahnya.
"kamu belum...".
"itu". tunjuk rayyan dengan dagunya ke sebelah high heels layya yang berada di sudut lift.
Layya melihat rayyan lalu kembali melihat high heelsnya.
"tunggu...saat tadi aku naik lift ini sama pak aldi...ini belum ad...". layya menghentikan ucapannya menoleh menatap rayyan curiga.
Layya melangkah berdiri di hadapan rayyan dengan kedua tangannya terlipat di dada.
"kamu tidak membawa bawa sepatuku kemana mana kamu pergi?! ". ejekan halus keluar dari mulut layya sembari menatap rayyan sinis.
Rayyan berdehem sembari mengalihkan matanya melihat ke atap lift dan ke segala arah asal tidak melihat layya di hadapannya.
Layya mendengus sinis. kembali berdiri di tempatnya tadi. membuka tas sampingnya mengelurkan satu high heelsnya di sana.
Ctak...
Layya meletakkan ke lantai di samping high heelsnya di sana lalu memakai keduanya. ia tersenyum sebentar ke high heelsnya karna masih bisa ia selamatkan.
Ting...
Pintu lift terbuka.
Layya keluar pertama melangkah di lobby tanpa berniat mau melihat ke belakang.
Rayyan berhenti sejenak di depan lift setelah tertutup dengan matanya menatap punggung layya sedangkan telinga kirinya tertempel benda tipis. ia sedang menghubungi seseorang.
"di mana?! ".
"..."
__ADS_1
"kami akan segera ke sana! ".
"..."
"love you to!". jawab rayyan lagi dengan sambungan telponnya sebelum mematikan panggilan dan melenggang pergi dari sana.
Di parkiran mobil rayyan yang mau melangkah ke mobilnya terhenti saat melihat layya yang siap siap masuk ke dalam mobilnya. rayyan kembali melanjutkan langkahnya hingga sampai di samping mobilnya. setelahnya ia membuka pintu bagian depan mobil dan masuk ke dalam. hari ini ia akan membawa sendiri mobilnya karna aldi sedang ia tugaskan untuk bertemu klien. seharusnya ia yang datang namun karna hari ini ada hal yang lebih penting dari projek kerja sama tersebut. jadinya ia menyuruh aldi untuk menghandlenya dan kerja aldi selalu terakui bisa mengatasi.
Tit...
Layya mengklakson rayyan saat sampai di samping mobil rayyan.
Rayyan membuka kaca mobilnya.
"dimana tempatnya?! ". yang juga membuka kaca mobil.
Layya kembali menutup kaca mobilnya dan melajukan mobilnya dari sana setelah mendapat jawaban dari rayyan.
'hanya makan siang!'. ujar layya dalam hati.
Beberapa menit kemudian.
Rayyan yang sampai duluan di restauran janjian mereka terpaksa menunggu layya di parkiran mobil. layya sudah sampai hanya saja layya sedang memarkirkan mobilnya.
"ayo?! ". ajak layya setelahnya ia melangkah duluan masuk ke dalam restauran.
Begitu melewati pintu restaurant kepala layya celingak celinguk mencari tempat duduk begitu juga dengan rayyan namun rayyan tidak mencari tempat duduk melainkan mencari keberadaan seseorang yang berada di sini dan sedang menunggu mereka.
"euhmm...anda pak andryatama ". tanya salah satu pelayan wanita di sana.
Layya sontak membalik badan melihat rayyan.
Rayyan mengangguk membenarkan.
Rayyan yang tahu itu kerja reina. segera mengikuti wanita pelayan tersebut di ikuti layya di sampingnya.
"ternyata kamu sudah mempersiapkan semuanya...bahkan sudah memesan meja, kamu luar biasa ray...?!".
Dengan wajah datar rayyan terus melangkah tidak peduli ucapan layya.
Di dekat jendela kaca dengan kursi sofa yang melingkar seperti meja yang di khususkan untuk pelanggan VIP terlihat reina yang berdiri begitu melihat rayyan dan layya. reina mengangkat tangannya melambai ke arah rayyan dan layya.
"ray? di sini? ". panggil reina dengan lambaian tangannya dan tidak lupa senyum cerah di wajahnya.
Rayyan melihat itu seketika dia tersenyum sembari melanjutkan langkahnya mendekat ke reina.
Layya yang juga melihat sontak menghentikan langkahnya. menatap reina lalu beralih menatap punggung rayyan yang melangkah ke arah reina.
'apa ini?...mereka sudah merencanakan ini? '. tanya layya dalam hati tidak percaya.
"mari bu?! ". ucap pelayan wanita tadi menyadarkan layya.
Layya mengangguk mengerti dan kembali melanjutkan langkahnya.
"apa...ini? ". tanya layya begitu sampai di depan dua sejoli yang sudah duduk berdekatan di hadapannya.
Rayyan malah bersikap cuek dengan meminta buku pesanan pada pelayan wanita tadi.
"kalian...sudah mengatur semuanya?! ". ini yang paling membuatnya tidak suka.
"oh itu... layya? duduklah dulu, baru setelahnya kita bicara".
Layya menarik nafasnya.
__ADS_1
"baiklah...mari kita dengarkan! kenapa kalian mau bertemu denganku". ucap layya setelah meletakkan tasnya ke sofa dan duduk di sampingnya.
"aku yang meminta rayyan untuk bertemu denganmu layya...? ini...masalah kedua anakmu dan rayyan...aku...sudah tahu, ray yang memberitahuku jadi...karna itu aku mau bertemu denganmu".
Layya menarik nafasnya. ia tahu cepat atau lambat reina akan tahu lalu...
"katakan ada apa?! ". tanya layya to the poin. menatap reina tanpa peduli rayyan di samping reina yang sedang menatap dirinya.
"ini...aku hanya...tidak mau membatasi atau menghalangi rayyan dalam menemui anaknya jadi...karna itu...aku mau bertemu denganmu".
"maksud kamu supaya aku tidak menjadikanmu sebagai alasan dalam rayyan menemui anaknya, maksudmu...kamu sudah tahu dan kamu mengizinkan kekasihmu menemui anak anaknya, begitu bukan?! ".
Reina terdiam karna itu benar. memang berat tapi...ia tidak mau melarang rayyan. sebagai seorang ayah...tentu dia merindukan anaknya.
Layya lagi lagi menarik nafasnya.
"layya ini...".
"kamu pintar juga ray? iya, tadinya aku berpikir begitu, dengan menggunakan reina persetujuanku denganmu tadi bisa di batalkan jika reina tidak mengizinkanmu tapi siapa yang sangka...seorang wanita mengizinkan kekasihnya menemui anak anaknya dari wanita lain bukankah itu hal gila dan bodoh?! ".
"layya? ". rayyan membentak layya tidak terima karna mengatai reina.
Layya mengacuhkan rayyan.
"tapi seperti yang kamu dengar tadi pak andryatama? aku sudah menyetujui jadi...sudah tidak ada yang perlu di bicarakan lagikan?... ". layya menatap reina dan rayyan bersamaan.
Meraih tasnya menyampir di bahunya.
"kalau begitu aku balik duluan, selamat menikmati makan siang kalian, saya permisi". ucap layya tajam.
"tidakkah kamu makan dulu layya? sudah lama kita tidak makan bareng? ".
Layya menghentikan gerakan kakinya menoleh menatap reina lalu ia menyungging senyum manis.
"mungkin lain kal...".
"layya...?". suara panggilan seorang pria dari belakang layya membuat ucapan layya terhenti dan layya menoleh melihat ke pria tersebut yang sudah berdiri di sampingnya.
Wajah layya yang tadinya penuh aura dingin dan tajam kini terlihat sumrigah dengan senyuman cerahnya yang menampakkan deretan gigi putihnya. dia nampak terlihat sangat senang dan bahagia melihat sosok pria tersebut.
"Gerard...? tunggu...kenapa kamu bisa ada di sini? kok tidak kasih tahu aku sih". kesal layya diujung kalimat.
Pria bernama Gerard tersebut terlihat mendesah lega sebelum terkekeh geli.
"syukurlah, aku pikir tadi bukan kamu, aku sempat ragu dan untuk itu...maafkan aku, perjalanan ini mendadak sekali so...bagaimana ke adaan dua jantungku? oh...jujur layya aku sangat merindukan mereka".
"mereka akan marah jika tahu kamu ada di sini dan tidak menemui mereka dan kamu tahu sendiri bagaimana mereka marah". mungkin kedua anaknya tidak akan tahu darinya dan mereka akan tahu dari ayrin.
Gerard memijit keningnya.
"itu sebuah penderitaan untukku layya?...aku di sini bertemu klien dan mungkin setelahnya aku harus ke dubai layya, beberapa waktu ini aku sibuk banget...". gerard menggeleng kepalanya frustasi.
Layya menatap itu iba. ia tahu tentu sangat tahu. ketika papanya masuk rumah sakit dan sekarang sedang masa perawatan. otomatis semua perihal perusahaan harus gerard handle dan mungkin selamanya.
"akan aku usahakan untuk menyempatkan ke sana layya meski 5 menit, aku sangat merindukan mereka".
Layya mengangguk mengerti.
"oh rendra juga ada di sini".
Layya membulatkan matanya. sedetik kemudian dia tersenyum ceria.
Mendengar nama yang sama sekali tidak asing bagi telinganya sontak rayyan membulatkan matanya. menaikkan pandangannya bukan menatap ke pria yang bernama gerard tersebut melainkan ke wajah layya ,yang terlihat sangat senang.
__ADS_1
Nafas rayyan sontak saja naik turun teringat akan pria rendra tersebut. ia sangat kenal sangat sangat kenal. menggepalkan buku tangannya di balik bawah meja dengan giginya bergemelatuk di dalam sana.